
"Lo nggak lupa sama dia, kan?"
"Iya, nggak. Emang kenapa sama cewek itu? Kita lagi bahas gue loh, Kak. Bukan kalian, Stigma sama si Panditha itu."
"Ya karena itu gue mau jelasin."
"Ya, udah."
"Panditha itu punya Ibu."
"Semua orang juga punya kali." Zelo tidak berhenti menyahut. Aku rasa dia memang nggak seharusnya diajak ngomong denganku. Maksudku, biar dia bicara berdua saja dengan Kak Jin supaya nggak terlalu ngegas. Kalau ada aku sepertinya dia emosi melulu. Mungkin dia punya dendam yang belum terselesaikan denganku. Ya salah satunya masalah perusak keluarganya itu.
"Zel, please."
"Iyaaa."
"Ibunya Panditha itu kerja di tempat malam---"
"Murahan banget, sih. Buah tuh jatuh nggak jauh dari pohonnya. Pasti si Panditha itu juga godain Stigma, kan? Kakak gue juga kena, kan? Emang sialan tuh cewek. Untung udah mati," sahut Zelo cepat dan banyak berceloteh. Di ujung sini aku hanya bisa menghela napas.
"Omongan lo nggak bisa disaring dulu, ya?" tanya Kak Jin sambil geleng-geleng. Ya memang sih omongannya Zelo terlalu kasar dan menyebalkan. "Kalau nanti lo masih ngoceh, gue terpaksa iket mulut lo."
"Ih, habisnya Kak Jin kalau cerita di jeda-jeda. Gue kan gemes," bantahnya.
"Sabar aja," tambahku. Zelo pun langsung menampakkan wajah tidak suka. "Apa lo," titahnya.
"Kalian ngerasa nggak sih kalau Panditha itu mirip sama Nadisha, Ibu mereka pun bisa mirip juga? Pernah kebayang nggak?" Kali ini Kak Jin bertanya pada kami. Aku sejenak berpikir. Ah! Pertanyaan Kak Jin itu sedikit ada benarnya. Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu selama ini? Bisa jadi Ibunya Panditha itu mirip dengan Mamaku. Siapa tahu, kan?
Zelo menopang dagu. "Iya juga, sih."
"Jadi, apa Kak Jin mau bilang kalau yang Zelo curigai di foto nggak layak itu bukan Mama gue tapi Ibunya Panditha?"
Aku spontan bertanya seperti itu. Entah ketebak bagaimana tadi. Setelah Kak Jin cerita jika Ibunya Panditha itu bekerja di tempat malam, mungkin saja yang merusak rumah tangga orangtua Zelo adalah Ibunya Panditha. Lagipula difoto yang tidak layak itu wanitanya memang kelihatan lebih tua dari Mamaku.
"Iya," jawab Kak Jin.
"Apa buktinya?" Zelo masih enggan percaya. Wajar juga, dia belum pernah melihat secara langsung wajah Ibunya Panditha. Jadi aku tidak menyalahkannya. Akupun juga baru kepikiran sekarang.
Kak Jin mengeluarkan ponselnya. Dia membuka aplikasi whatsapp-nya. Lalu jari jemarinya bergerak mencari tulisan Thata disana. Kemudian memyentuhnya dan terbukalah ruang pesannya. Pesan antara Kak Jin dengan Panditha yang mungkin sudah lama sekali dan belum Kak Jin hapus.
Kak Jin menyecroll-nya ke atas hingga sampai pada sebuah foto.
Lo tau gak sih, Jin? Ini itu target nyokap gue bulan depan. Gue makin benci sama nyokap gue. Gue pengin nyusul Bang Seff aja daripada ngeliat keluarga orang lain yang dirusak Ibu. Sakit liatnya. Orang2 jadi mandang gue murahan karena tingkah Ibu gue. Gue malu Jin.
Dibawah foto itu terdapat pesan dari Panditha seperti itu. Aku membacanya dalam hati. Aku melihat dengan jelas jika yang ada difoto itu adalah ayahnya Zelo. Aku tidak salah orang. Melihat pesan dan foto itu aku menjadi lega karena Zelo sudah tahu kebenarannya dan dia tidak akan lagi menyalahkan Mamaku.
"Masih belum percaya?" Kak Jin melihat Zelo yang masih mengamati foto itu. Lalu Kak Jin beralih kepadaku. Aku diam sembari menatap balik tatapannya itu. "Gue sahabatan sama Panditha. Dia selalu curhat sama gue," jelas Kak Jin.
Aku mengernyit. "Bukannya Kak Jin suka sama dia?"
__ADS_1
"Pernah," katanya.
"Gue tebak, lo kejebak friendzone? Iya, kan?" Kali ini Zelo yang bertanya dengan penuh semangat.
Kak Jin hanya terkekeh. "Mana ada," elaknya. "Gue cuma suka doang. Kalau sayangnya nggak ke dia."
"Terus sayangnya ke siapa, dong? Jangan bilang ke gue, ya, Kak." Zelo sudah berkepedean tingkat dewa. Disini aku hanya diam. Aku ini seperti orang ketiga dari Zelo dan Kak Jin. Sejak tadi mereka berdua saling mengobrol sampai aku seperti tidak dianggap. Diam sembari memperhatikan.
Tangan kokoh Kak Jin memegang lenganku. Sontak mataku membulat sempurna. Aku spechless, tidak bisa berkata. Bahkan meneguk ludah pun rasanya susah. Ini sejak tadi mereka berdua ngobrol dan tiba-tiba Kak Jin memegang lenganku, dia tersenyum---manis, lalu tangannya turun menuju telapak tanganku. Perlahan ada sesuatu yang lembut memegang telapak tanganku. Kini, Kak Jin menggenggam tanganku.
"Pemilik telapak tangan ini yang gue sayang," kata Kak Jin. Aku langsung terbatuk mendengarnya. Berbeda dariku, Zelo tampak biasa saja. Dia malah menatapku aneh. Aku tidak bisa membaca ekspresinya. Ingin bilang ketus, tapi tidak seketus yang sebenarnya.
Zelo menopang pipinya. "Pantes aja dibelain sampai nyuruh gue dateng kesini. Ternyata ada udang dibalik batu," celutuknya.
"Ya nggaklah. Gue cuma pengin kalian damai lagi."
"Meskipun gue tahu yang sebenarnya, gue belum bisa baikan sama dia." Jarinya menunjuk diriku. "Nggak tahu kenapa, belum bisa aja."
"Karena Vante?" tanya Kak Jin.
Zelo tertawa. "Buat apa? Gue udah nyuri first kiss-nya dia, kan? Itu udah lebih dari cukup."
"Yakin kalau lo first kiss-nya?"
"Kenapa nggak?"
"Maksud lo, Kak?"
"Thata, Panditha, dia first kiss-nya Vante. Lo cuma yang kedua."
Itu serius? Aku tidak menyangka jika selama ini Kak Vante sering sekali berciuman. Sudah dua. Meskipun dua terkesan sedikit tetapi dia masih SMA. Seharusnya dia nggak pantas melakukan itu. Semakin aku mengetahui fakta lain tentangnya, aku semakin ingin tak mengenalnya. Aku ingin dia benar-benar pergi sangat jauh. Jauh sejauh-jauhnya.
Zelo tak banyak kata. Dia bangkit dan langsung pergi begitu saja. Tanpa mengucapkan sepatah kata. Sepertinya dia benar-benar kecewa.
"Jadi gimana?" Kak Jin balik menatapku.
"Apa?" Aku bingung. Sama sekali tidak mengerti.
"Lo pilih siapa?"
Memilih apa?
"Setidaknya lo pilih satu daripada lo terus terganggu."
"Kak...," ucapku ragu.
Kak Jin mengodeku untuk membalikkan badan. Aku mengernyit. Ini maksudnya apa? Saat aku membalikkan badan, aku langsung terlonjak kaget. Didepanku sudah ada Kak Vante, Kak Lesham, Kak Maven, Jastin, Kak Syden, dan Kak Nehan. Kini lengkap menjadi tujuh dengan keberadaan Kak Jin disampingku.
"Siapa yang mau lo jadiin pacar, Nad?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Kak Lesham.
__ADS_1
Jastin yang berdiri sambil bersedekap dada pun ikut menyahut. "Pacar, pacar. Dia tuh pacar gue!"
"Diem lo!" timpal Kak Syden.
"Diem, diem. Faktanya tuh emang pacar gue. Iya kan, Nad?"
Aku diam.
"Pilih aja," suruh Kak Jin lagi.
Aku harus memilih siapa?
Kak Jin yang selalu membuatku olahraga jantung? Ah! Nggak mungkin.
Kak Vante yang menyebalkan itu? Tiba-tiba aku enggan dengannya. Setelah melihat kedatangannya kesini dengan Friska tanpa sepengetahuanku yang katanya Friska suka dengan Kak Savalas, kini malah duluan sama Kak Vante. Terus tadi malah berdua-duaan pula. Aku kan jengkel. Ditambah mengetahui first kiss-nya. Aku semakin kesel.
Kak Lesham yang terlalu murah senyum? Seharusnya aku pengin memilih dia. Tetapi aku teringat Ovdiar---sepupunya Kak Tavis. Aku ingat Ovdiar menyukai Kak Lesham. Lagipula aku sudah berjanji tidak akan mengecewakan Kak Tavis. Aku nggak bisa mengingkarinya.
Jastin yang otaknya licik minta ampun? Tapi cewek simpanannya banyak lho. Ada Sohee juga. Ini hanya akan menguji emosiku saja jika harus memiliki hubungan dengannya.
Kak Syden yang dinginnya super? Yang ini nggak bisa. Ada Kak Tavis.
Kak Nehan yang jarang sekali berinteraksi denganku? Tetapi dia memang cinta pertamaku. Dulu. Sekarang sudah perlahan menghilang perasaannya. Semenjak ada Kak Inggrid, aku memilih untuk mundur saja. Aku dan Kak Inggrid bagaikan batu dengan berlian.
Kak Maven yang aneh? Ogah.
"Gue nggak bisa milih," jawabku segera mungkin. Mereka bertujuh tidak ada yang bisa kupilih.
"Harus ada!" Kak Maven berkacak pinggang sambil melototiku. "Kan gue udah dipercaya Sava. Mending lo pilih gue aja, deh."
"Nggak usah pamer!" sahut Kak Vante.
"Ngomong aja," tambah Kak Nehan.
Kak Lesham ikut mengangguk. "Nggak usah takut."
Kak Syden berdehem. Membuat semua suasana semakin hening. "Nggak milih nggak bisa pulang," katanya lebih ke ancaman.
Serius, deh. Ini cewek-cewek pada kemana?
Tolong dong!
Andai ada kamera tersembunyi, pasti aku sudah angkat tangan.
"Siapa?" tanya mereka serempak seperti paduan suara.
Aku takut. Harus memilih siapa. Tapi mungkin hanya ada satu orang yang bisa ku andalkan. Mungkin aku harus memilih dia sekarang. "Kak Jin," ucapku tanpa ragu.
__ADS_1