Bena

Bena
BAB 11A [Second Time]


__ADS_3

Setahun yang lalu, masih ada satu cowok yang selalu menemani hari-hariku meskipun dia menyebalkan. Banyak sekali tingkahnya yang selalu membuatku terkejut. Entah mengapa aku selalu menyimpan kekesalan yang mendalam dengannya. Tapi berbeda dengan Mama. Entah dengan apa, Mama bisa menyukainya begitu dalam. Apa itu karena sikapnya atau memang dia mengunakan cara apapun. Namun, semuanya sudah berakhir bagiku. Semua itu hanya kenangan sekarang. Manis. Itulah yang bisa aku katakana bila aku membayangkan hal-hal yang terjadi satu tahun yang lalu.


Dulu, selagi ada dia, aku hanya merasa semuanya biasa saja. Hanya kehidupan yang terjadi pada remaja pada umumnya. Tapi setelah dia tiada. Pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas, semuanya mulai terasa hampa. Di saat dia tak lagi ada, aku baru merasakannya betapa pentingnya dia di hidupku untuk memberiku warna-warna kehidupan.


Tidak masalah. Semua itu sudah berlalu. Semenjak kejadian setahun yang lalu, aku sudah mulai terbiasa dengan semua yang ada. Aku menjalani hari-hariku dengan baik. Pergi sekolah sendirian. Terkadang juga bareng Kak Savalas kalau tidak ya dengan Friska. Aku lebih banyak menghabiskan waktu istirahatku di perpustakaan hanya untuk sekadar mencari buku baru. Namun tak ku baca. Setiap hari Rabu aku selalu masuk ekstrkulikuler Stig Cooking. Bertemu dengan Kak Jin setiap hari. Hanya ada kami berdua. Tanpa siapapun. Kak Jin memang sengaja mencari hari di mana hari itu memang sedang sepi-sepinya agar dia bisa mengajariku lebih baik. Itu katanya.


Kak Jin juga menepati ucapannya dulu. Ketika dia meneleponku untuk yang pertama kalinya dan juga terakhir kalinya. Setelah itu, Kak Jin benar-benar tak meneleponku maupun mengirim pesan kepadaku sampai saat ini. Dia memang cowok yang baik. Mampu menepati ucapannya sendiri. Aku jadi merasa kasihan dengan Kak Raden. Bila benar dia adalah mantan dari Kak Jin, aku sangat menyayangkannya. Bagaimana bisa dia menyia-nyiakan orang seperti itu.


Sekarang aku banyak sekali memuji Kak Jin. Wajar saja karena aku sering menghabiskan waktu-waktuku dengannya. Selama dengan Kak Jin, kami sama sekali tak membahas mengenai hal-hal yang sudah berakhir. Bahkan kata Stigma tak pernah keluar dari mulut kami. Menurutku itu adalah hal yang baik. Setidaknya aku memiliki kemajuan untuk melupakan semuanya. Aku juga sudah jarang sekali bertemu dengan Kak Lesham, Kak Syden, Kak Vante, Kak Nehan, Kak Maven, dan juga Jastin. Padahal aku dan Jasti satu kelas. Memang dia sering sekali bolos.


Selama aku menghabiskan sisa waktu setahunku menjadi kelas sepuluh, aku sudah sering mengabaikan hal-hal yang berhubungan dengan Stigma. Aku benar-benar berusaha untuk melupakan semuanya. Kata Kak Savalas lebih baik dilupakan daripada harus diingat. Friskapun juga mendukung argumen itu. Dua minggu yang lalu aku dikejutkan dengan beredarnya kabar bahwa Friska putus dengan Gensa. Aku awalnya tidak percaya karena hubungan mereka terlihat adem-adem saja. Tapi setelah ku konfirmasi dengan Friska, ternyata semua itu benar adanya. Alasannya karena Gensa lebih memilih untuk balikan dengan mantannya waktu SMP dulu. daripada Friska sakit hati, ia akhirnya memilih untuk menyudahi semuanya.


Banyak hal yang terjadi selama ini.


Sejenak aku mengembuskan napasku. Menghirup segera udara yang sangat sejuk ini. Dadaku terasa sangat tenang sekarang.


Hari ini adalah hari kelulusan Kak Jin, Kak Savalas, dan Kak Nehan. Perpisahan kali ini sangat heboh. Banyak dari anak-anak kelas sepuluh dan sebelas yang ingin mempersembahkan sesuatu. Terutama anak-anak cewek. Kata Friska mereka hanya ingin menampilkan sesuatu itu untuk Kak Jin saja. Bukan untuk seluruh kelas duabelas yang hendak lulus.


Aku tidak ikut menampilkan sesuatu. Aku tidak memiliki kemampuan khusus. Jadi, aku pikir aku hanya datang saja dan memberi ucapan selamat. Sementara Friska, dia akan menyanyi. Itupun katanya. Spesial ia persembahkan untuk kakakku, Kak Savalas. Aku juga awalnya terkejut dengan perkatannya. Tapi ya sudahlah. Setidaknya dalam beberapa detik itu ia bisa melupakan kenangannya dengan Gensa.


Jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Aku masih berada di dalam kamar. Lebih tepatnya berada di depan cermin. Sejenak aku tersenyum. Lucu sekali aku memakai kebaya ini yang dipadu dengan sepatu converse putih karena bajuku berwarna putih dan rok kebayaku batik-batik hitam. Sementara rambutku hanya ku gerai saja. Begitupun dengan riasan di wajahku yang hanyaku ku poles tipis-tipis.


Semalam aku juga sudah menyiapkan hadiah untuk Kak Jin sebagai kenangan sekaligus ucapan terima kasih atas bantuannya selama ini di Stig Cooking. Dia banyak mengajarkanku tentang caranya memasak yang baik. Ilmunya benar-benar bermanfaat. Aku jadi lebih sering membantu Mamaku di dapur akhir-akhir ini. Kata Kak Jin, aku juga harus mempraktekkannya di rumah agar aku semakin mahir. Ku kira, gelang jam yang ku beli kembaran denganku itu sudah cukup baik bila ku kadokan. Aku berharap semoga Kak Jin menyukai hadiah yang ku berikan.


"Sha, lo mau sampai kapan senyum-senyum di depan cermin? Udah agak miring ya isi kepala lo?" Kak Savalas tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu kamarku hingga membuatku terkejut. Hampir saja aku melemparkan gelang jam yang tengah ku pegang.


Aku menoleh. "Ngapain ke sini sih, Kak? Bentar lagi gue juga turun," ujarku asal sambil meletakkan gelang jam itu ke wadahnya kembali.


"Ya, lo ditunggu lama banget," cecarnya.

__ADS_1


"Iya, Kak. Bentar ini lho," ucapku dengan mengembangkan senyum. Kak Savalas hanya menggeleng saja. "Buruan lelet! Gelang jamnya jangan disenyumin mulu."


"Iya, iya, bawel."


Kak Savalas akhirnya pergi juga. Aku pun segera memasukkan gelang jam itu ke dalam sling bag. Dan yang satunya aku pakai sekarang. Lalu aku bergegas turun ke bawah.


Karena Mama sedang menjemput Papa di kantor, jadi aku hanya berangkat berdua bersama Kak Savalas. Hari ini Kak Savalas juga akan pergi. Maksudku, kami sudah tak satu sekolah lagi. Tadi malam, Kak Savalas bilang bila ia akan melanjutkan pendidikannya di Korea. Lebih tepatnya di Korea Advanced Institute of Science and Technology atau di singkat KAIST pada jurusan manajemen. Aku tak heran dengan pilihan Kak Savalas. Otaknya saja tak bisa ku tandingi.


"Jangan lama-lama ketemu Jin," ujar Kak Savalas tiba-tiba. Aku agak heran mendengarnya. Selalu saja begini. Kak Savalas selalu membatasiku. Beruntung, dia tidak akan bersamaku lagi setelah ini. Tapi, setiap kali melihat Kak Savalas yang sudah sampai pada titik ini aku mulai bingung. Bagaimana dengan nasibku ke depannya. Aku tak bisa berharap bila aku bisa menjangkau Kak Savalas. Jangankan untuk melewati Kak Savalas, menyandinginya saja itu sangatlah sulit. Ah, aku begitu takut untuk membayangkan masa depanku. Lucu sekali.


Padahal baru sampai tahap melanjutkan pendidikan. Belum sampai pada tahap memilih pasangan.


Begitu merumitkan.


"Oh, iya. Kak Jin mau ngelanjutin ke mana?" tanyaku. Aku cukup penasaran untuk mengetahuinya. "Pasti ke luar negeri juga, ya?"


Kak Savalas malah tertawa.


"Karena nggak mungkin kalau gue nanya sama orangnya langsung," jelasku. "Kak Nehan juga ke mana?" Aku kembali bertanya.


Kak Nehan, Kak Jin, dan Kak Savalas adalah orang yang cukup pintar. Pasti mereka akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi sama seperti Kak Savalas. Meskipun aku tidak tahu akan ke mana mereka nanti. Tapi, aku hanya bisa berharap semoga mereka selalu bahagia di manapun mereka berada.


"Kepo banget sih lo."


"Nggak dosa juga."


"Iya, iya. Setahu gue, Nehan bakal ngelanjutin ke Los Angeles di bidang seni atau apalah yang berhubungan sama seni. Kalau Jin, kayaknya dia ke akuntansi. Orangnya suka ngitung duit kalau lo belum tahu." Kak Savalas menjelaskannya dengan ogah-ogahan. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Tapi, apa benar Kak Nehan hanya melanjutkan di bidang seni? Ku kira ia akan ke bidang apa begitu. Kedokteran misalnya. "Akuntansi di mana?"


"Indonesia."

__ADS_1


Aku mengangguk-angguk. Tadinya aku pikir ke luar negeri. Ternyata hanya di Indonesia saja.


Mobil Kak Savalas mulai memasuki halaman STANDAR. Banyak sekali anak-anak yang sudah heboh. Aku hanya bisa memandangi mereka dari dalam. Kak Savalas memasukkan mobilnya di parkiran yang paling depan. Kami sama sekali tak berbicara setelah melihat kehebohan yang ada. Benar-benar seperti acara Prom Night atau hanya sekedar acara Kebudayaan saja. Mataku melihat ke sana ke mari. Tapi aku masih belum melihat Friska.


Malahan yang ku lihat adalah Kak Raden.


"Kakak pernah ada hubungan sama Kak Raden?" tanyaku tiba-tiba mumpung sedang ingat. Aku selalu lupa akan menanyakan hal ini.


"Hubungan apa?"


"Ya, mana gue tahu. Dulu Mama pernah bilang kalau Kakak pernah bawa Kak Raden pulang dan dikenalin sebagai pacar."


Kak Savalas malah terkekeh. "Cuma tantangan aja."


What?


"Kenapa? Kaget lo?" Kak Savalas menatapku main-main sambil tertawa. "Perlu lo inget, sampai sekarang nggak ada satupun cewek yang ngebuat gue tertarik."


Memang benar, sih. Padahal jika Kak Savalas ingin punya pacar, ia akan mudah mendapatkannya. Bagaimana tidak? Setiap harinya selalu ada yang memberi Kak Savalas surat, cokelat, atau apalah itu. Awalnya aku tidak percaya. Tapi setelah Kak Maven memberiku foto-foto hadiah itu, akupun mulai percaya. Ternyata Kakakku tidak kalah dengan anak-anak Stigma. Hahaha, setidaknya aku bangga memiliki Kakak yang laku keras di sekolah.


Omong-omong soal tantangan, aku jadi penasaran. Sebenarnya tantangan apa yang diikuti Kak Savalas.


"Tantangan sama siapa?"


"Temen sekelas."


Oh, aku sekedar mengangguk saja.


"Nggak usah mikir terlalu jauh. Tuh, Friska udah nungguin lo di bawah pohon." Ah, bagaimana bisa Kak Savalas tahu? Aku yang sejak tadi mencari saja tidak ketemu. Benar-benar ajaib.

__ADS_1


"Tapi..., temen lo itu imut juga, ya?"


"Hah?" Aku melongo mendengarnya. Ini baru pertama kalinya Kak Savalas memuji seorang cewek di depanku langsung.


__ADS_2