
"SOHEEE DATANG!!!"
Teriakan menggelegar itu memenuhi ruang kelasku. Tiba saat aku hendak pergi dari kelas tiba-tiba datang seseorang dengan membawa pasukannya sambil memasang wajah penuh amarah. Dia terlihat sedang mencari seseorang. Aku mengenalnya. Tidak. Mungkin hanya sebatas tahu nama dan siapa dia di STANDAR ini. Bukan hanya aku. Tapi seantero sekolah pun tahu dia siapa. Dia yang paling dihormati dan disegani, meskipun menurutku dia tidak pantas diperlakukan seperti itu layaknya bak puteri dari sebuah kerajaan.
"Eh, lo!" Sohee---dia menunjukku dengan jari telunjuknya sembari bersedekap dada. Perasaanku sudah mulai tidak enak. Dulu saat di Stig Cooking dia marah-marah kepadaku karena aku dekat dengan anak Stigma. Dia pikir aku yang berusaha mendekati anak Stigma satu persatu. Padahal yang terjadi sebenarnya malah sebaliknya. Anak Stigma yang satu-satu mendekatiku dengan sengaja.
Semua pasang mata melihatku. Tidak ada yang bisa ku jadikan pengaman karena Friska juga tidak masuk hari ini. Dia sedang mengunjungi Bibinya di Lampung, katanya sakit. Sebab itu sekarang aku sendirian di kelas. Tidak ada yang akan membelaku. Begitupun dengan diriku yang kemungkinan nggak akan berani untuk membantah. Entahlah. Jika Sohee memancingku berapi-api, mungkin aku bisa membantah nanti. Tergantung gimana Sohee memperlakukanku.
Aku menunjuk diriku sendiri untuk memastikan. "Aku?" tanyaku.
Meskipun sepertinya tadi tunjukan Sohee mengarah kepadaku, tetapi belum tentu itu ditujukan kepadaku. Ada banyak orang yang berdiri di samping kanan-kiriku. Siapa tahu aku yang kepedean sampai mengira akulah orang yang sedang dicarinya. Sebab itu, aku harus berpikiran positif. Lagipula aku tidak memiliki masalah dengan Sohee. Bahkan terakhir kali ketemu dengannya adalah setahun yang lalu di Stig Cooking.
"Iyalah! Siapa lagi! Disini yang namanya Nadisha cuma lo doang, kan?" Sohee memajukan tubuhnya dua langkah ke depan dengan emosi. Aku tidak marah dia berbicara ketus seperti itu. Malahan aku semakin penasaran dengannya. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi lho setelah yang di Stig Cooking. Masa iya nggak pernah ketemu tapi punya masalah? Ah, tapi yang nggak mungkin lagi adalah marah tiba-tiba tapi nggak ada alasannya.
"Iya memang cuma aku," jawabku berusaha biasa saja. "Emang kenapa?" Aku tidak boleh terlihat takut hanya karena begini saja. Toh belum tentu aku yang salah.
Sohee mengangguk-angguk sembari memperhatikanku lagi. Mulai dari atas sampai bawah. Lalu kembali lagi ke atas sambil memainkan rambutnya yang sedikit bergelombang itu. Sengaja memang dia meniru cara mewarnai rambutnya seperti Zelo dulu. Jika Zelo mewarnainya dengan warna ungu, pirang, dan hitam. Meskipun ada campuran warna lain lagi. Tapi tetap, warna ungu yang menjadi dominannya. Sedangkan sekarang Sohee mewarnai rambutnya seperti Zelo dengan dominan warna yang berbeda. Dia menggunakan warna hijau muda kebiru-biruan sebagai dominan.
Di STANDAR sendiri hukum mewarnai rambut itu sah-sah aja. Asalkan menggunakan pewarna yang alami. Ada staf khusus yang disediakan pihak sekolah hanya untuk memeriksa pewarna rambut yang digunakan siswa-siswinya. Walaupun begitu, aturan siswa yang mewarnai rambut harus menyisakan rambut aslinya yang tidak diwarnai. Aturan lainnya yaitu batas pewarnaan. Setiap siswa hanya boleh mewarnai rambut selama setengah tahun atau hanya enam bulan saja selama menjadi siswa STANDAR.
Sebab itu aku juga punya hak untuk mewarnai rambut. Tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk melakukannya.
"Nggak cantik-cantik banget. Masih cantikan gue ke mana-mana, sih," gumam Sohee memuji dirinya sendiri.
Aku tidak berniat meresponnya. Jika sudah urusan memuji diri, sulit sekali ditegur. Bukannya mendengarkan yang ada malah semakin membantah nantinya. Ya bayangkan saja kamu bilang dirimu itu lebih cantik daripada aku. Lalu aku bilang kamu biasa-biasa saja. Nggak cantik banget sampai bisa mengalahkan miss-miss dunia. Pasti kamu bakalan marah karena ucapanku, lebih tepatnya tersinggung.
"Eh, Nad!" Sohee kembali memanggilku.
__ADS_1
"Iya?"
"Lo sadar kan diri lo itu nggak cantik?"
Daripada dia emosi, lebih baik aku mengiakan saja segala ucapannya. Aku enggan memilki masalah. "Iya," balasku.
"Bagus." Dia mengangguk-angguk. "Terus kenapa masih berani pacaran sama Jastin? Lo nggak tahu, ya, kalau Jastin itu calon pacar gue?"
"Maksudnya?" Aku sama sekali tidak mengerti. Bahkan aku tidak memberitahu siapapun bahwa aku kemarin mengakui Jastin sebagai pacarku. Lagipula cuma sebagai pacar pura-pura. Tidak lebih. Hanya Kak Vante dan Friska saja yang tahu. Kak Vante tidak mungkin memberitahu Sohee soal ini. Kurang kerjaan. Sementara Friska? Kan dia lagi tidak masuk sekolah.
Lalu tahu dari mana si Sohee ini?
Heran. Apa-apa dia tahu. Jangan-jangan dia juga tahu tentang aku dan Kak Vante kemarin di Kafe Sendy Buana.
"Lo tuh, ya! Udah ngrebut Jastin dari gue, masih aja pura-pura nggak tahu!"
"Aku beneran nggak paham maksud kamu," ucapku membantah.
"Aku nggak pacaran sama dia."
"Nggak usah bohong!"
"Seriusan."
"Munafik lo, ah!"
Lah, semakin emosi dia. Aku kan sudah bilang yang sebenarnya. Aku tidak pacaran. Soal yang kemarin saja aku belum bilang ke Jastin kalau aku sudah menjalankan rencananya. Baru saja aku hendak menyusulnya di kantin untuk memberi tahunya. Tapi sayang. Nyatanya jalan memang nggak semulus itu. Selalu saja ada jalan yang masih berantakan.
__ADS_1
"Gue mau lo putusin Jastin sekarang!" Sohee memaksa. Baru saja hendak pura-pura pacaran dengan Jastin. Eh, tahunya ada yang bucin banget sama dia. Kalau begini ceritanya aku nggak mungkin mau nerima rencananya itu. Masih ada cowok lain dari anak Stigma yang ku kenal. Tidak harus dengan Jastin juga masih bisa. Yah, lebih baik begitu daripada aku harus berurusan dengan Sohee yang satu ini.
"Aku tuh nggak pacaran, Hee. Apa sih yang mau diputusin? Orang nggak ada hubungan apa-apa," jelasku.
"Mau punya kek, nggak kek, itu nggak penting buat gue!"
Katanya nggak penting. Tapi sampai emosi minta aku untuk mutusin Jastin yang notabene-nya si Jastin belum tahu apa-apa. Hendak ku beritahu tapi sudah lebih dulu ditahan Sohee di kelas.
"Kok diam sih!" Dia menyentakku.
"Memang aku harus jawab apa? Percuma, kan, kalau aku ngomong juga nggak kamu dengerin," timpalku.
Sohee menghela napasnya. "Gue punya hak untuk nggak percaya sama lo kali," sarkasnya.
"Aku juga punya hak untuk nggak merespon kamu."
"Ah! Terserah, deh! Pokoknya gue nggak mau tahu. Lo harus putusin Jastin hari ini juga. Kalau sampai besok lo belum putus sama dia...," ucapannya berhenti. Lebih tepatnya dia memberi jeda sebentar lalu melanjutkannya lagi. "Gue nggak akan segan-segan buat lo menderita di sekolah ini."
Kami masih ditonton banyak orang. Ini seperti adegan seorang cewek yang melabrak cewek lain karena diselingkuhin sama pacarnya sendiri. Aku itu seperti orang ketiga didalam hubungan Sohee dan Jastin. Seperti itu kesannya bila dilihat orang lain. Padahal sebenarnya ini cuma salah paham dan salah berita. Aku dianggap berpacaran dengan Jastin, itulah masalahnya.
"Udahlah. Ngomong sama orang yang sok polos bikin gerah aja," ujar Sohee lagi sambil mengipasi tubuhnya dengan tangan kanannya. "Kuy, kantin! Gue yang traktir," serunya seperti sultan.
"Woiii, kantin wooiiii!"
"Gratisan kuy kantin!"
"Mumpung ada yang traktir, sikaaatt."
__ADS_1
"Buruaaann!!"
Semua orang yang berada di sekitarku berhamburan keluar menuju ke kantin. Begitupun dengan si sultan yang sudah jalan lebih dulu menuju ke kantin dengan memamerkan pesonanya. Kalau kata 'traktir' sudah muncul, siapa yang bisa menolak?