
"Nggak mungkin."
Aku mengerutkan keningku. "Apanya yang nggak mungkin?" tanyaku.
"Jangankan buat Kak Vante percaya. Gue aja sebagai sahabat lo rasanya nggak bisa percaya tahu nggak." Friska sudah lebih dulu menyahut.
"Tapi gue serius. Gue nggak bercanda," belaku. Sesuai dengan rencana yang kemarin. Jika Kak Vante benar-benar menembakku, itu artinya aku harus mengakui Jastin sebagai pacarku. Lebih tepatnya pacar pura-pura. Ku rasa tak apa untuk sementara membohongi mereka asalkan semua permainan ini segera selesai. Lagipula aku akan langsung memutus Jastin jika sudah selesai. Jadi tidak masalah.
"Kenapa harus Jastin?" Kak Vante angkat suara sambil menatapku. Suaranya terdengar lebih serak. "Kenapa nggak Lesham aja? Gue lebih suka lo sama Lesham daripada Jastin," tambahnya.
Kenapa malah disangkut pautkan sama Kak Lesham, sih?
Bisa nggak ini antara aku dan Kak Vante saja? Jastin diikutkan nggak apa asal jangan ada orang lain lagi. Ini aku dalam fase ingin melupakan Kak Lesham. Melupakan segalanya tentangnya. Terutama senyumnya yang tak pernah lepas dari ingatanku. Senyum hangat itu masih terasa ada. Bahkan sampai saat ini. Saat di mana hanya aku yang masih mengingat tentangnya sementara yang ku ingat mungkin sudah lupa denganku.
"Kenapa Kakak harus nggak suka? Kan aku yang ngejalanin bukan Kakak," bantahku.
Aneh saja jika Kak Vante berkata sedemikian itu. Aku tahu jika Kak Lesham itu sahabatnya. Sahabat yang sangat dekat di banding dengan anak Stigma yang lain. Tapi itu tidak menjadikan dia memiliki hak untuk tidak menyukai Jastin. Mau aku memiliki hubungan dengan siapa pun bukan urusannya. Entah dia suka atau nggak, itu urusannya sendiri, bukan termasuk urusanku juga. Asal dia nggak mengadukan rasa tidak sukanya itu kepadaku.
"Gue sayang sama lo. Gue cuma mau lo itu punya pasangan yang baik. Kalau nggak sama gue, setidaknya bisa sama orang yang gue percaya," katanya tak henti memperhatikanku.
Aku meneguk ludahku setelah mendengar perkataannya tadi. Aku tidak salah dengar, kan? Kak Vante bilang sayang ke aku. Padahal semua ini hanya permainan. Tidak ada perasaan ataupun kata sayang didalamnya. Yang ada hanya ambisi dan ego untuk memenangkan permainan ini. Hanya itu saja yang ada di kepala anak-anak Stigma.
"Jangan bilang sayang kalau cuma bohong," tegasku.
"Drama lagi, deh. Gue tunggu di bawah aja, ya. Kalian selesain dulu masalahnya," lontar Friska pada akhirnya. Dia terlihat jengah melihatku dengan Kak Vante. Gadis itu mengambil sepotong kue tar yang tadi sudah ku potong, lalu mengambil sebotol air mineral dari meja yang berada di belakangnya. Friska memasang cengiran sambil mengangkat apa yang ada di tangannya, menunjukkan semua yang dibawa kepadaku dan Kak Vante.
Friska menurunkannya lagi dan tersenyum lebar. "Diambil, ya, daripada mubazir. Daaaah." Itulah yang dikatan Friska untuk yang terakhir kalinya dan bergegas pergi. Kini, sosoknya sudah menghilang dengan cepat.
Kak Vante berdehem, membuatku tak sengaja menoleh kepadanya. "Boleh dilanjut yang tadi?" tanyanya. Aku mengangguk tanpa mengeluarkan bantahan. "Gue jujur saat gue bilang sayang sama lo. Di hati gue ada nama lo. Nggak tahu sejak kapan," tuturnya.
Aku awalnya membulatkan mata dengan lebar, saking terkejut. Lalu kembali menormalkan mataku. Perkataan atau bisa disebut pernyataan Kak Vante barusan membuatku gugup. Aku susah sekali menetralkan detak jantungku. Sial! Kenapa aku jadi terbawa oleh perkataannya? Ingat, Nadisha. Ini hanya permainan. Oke. Aku akan bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Bullshit," cibirku. Aku nggak boleh keliatan baper sama perkataannya barusan.
Kak Vante mendadak serius. Tangan lembutnya memegang telapak tanganku, otomatis aku menatap matanya. Meminta penjelasan tentang apa yang sedang dilakukannya sekarang. Aku memberontak, berusaha melepaskan genggamannya. Namun, Kak Vante semakin menggenggamnya dengan erat seakan tak mau dilepas.
"Gue bener-bener sayang sama lo. Masa nggak keliatan, sih?"
"Apa, sih, Kak."
"Jangan pura-pura nggak ngerti, deh. Ini gue beneran sayang sama lo, Nadisha. Harus berapa kali sih gue bilang biar lo ngerti?"
Mau dibilang berkali-kali atau bahkan sampai seribu kali pun aku tidak peduli. Awalnya sudah dimulai dengan kebohongan. Tidak benar-benar tulus. Lalu untuk apa mendengarnya jika sekadar permainan belaka? Ujungnya aku yang jadi bahan permainan. Cukup sekali aku terjebak. Aku enggan mengulanginya lagi.
"Kak Vante, gue udah tahu."
"Sejak kapan?"
"Sejak kemarin."
"Kalau tahu kenapa malah pacaran sama Jastin? Gimana, sih?"
"Terus?"
"Gue tahu semua ini cuma permainan, Kak. Jadi tolong. Jangan ganggu gue lagi. Jangan bohongin diri Kakak dengan bilang sayang ke gue. Please. Gue punya harga diri, Kak. Gue nggak semurahan itu sampai bisa dimainan kayak gini," jelasku panjang supaya Kak Vante tidak banyak bertanya lagi. Aku sudah tahu. Jadi Kak Vante tidak perlu berpura-pura lagi denganku. Tidak ada yang harus ditutupin.
Kak Vante terlihat tak percaya dengan ucapanku. Dia mengerutkan kening sambil menggelengkan kepalanya. "Nad, lo---"
Aku langsung memotong ucapannya sebelum dia membela dirinya. "Gue tahu gue ini mirip Panditha, Kak. Tapi satu yang perlu Kak Vante tahu. Panditha ya Panditha. Sampai kapanpun akan tetap Panditha. Gue bukan Panditha yang bisa kalian sama-samain. Gue Nadisha. Yang sampai kapanpun akan tetap jadi Nadisha. Kalian nggak bisa samain seseorang cuma karena punya wajah yang mirip."
Aku sudah terlalu panjang berceramah sepertinya. Ya, bagaimana lagi. Aku ingin membela diriku. Ini bukan sesuatu yang salah, kan?
"Nad, gue bis---"
__ADS_1
"Kenapa nggak ngejar Panditha aja? Kenapa Kakak harus ngejar gue?" sahutku kembali memotong.
Kak Vante menatap ke arah lain. Setelah aku bertanya seperti itu kepadanya, dia terlihat sedih. Bukan sedih karena rahasianya terbongkar olehku. Kesedihan yang muncul di matanya seperti kesedihan yang mendalam. Kesedihan yang berhubungan dengan hati, perasaan, dan juga rasa. Aku tidak tahu mengapa aku bisa menyimpulkan seperti itu.
"Kalau gue bisa, gue pasti udah ngejar dia," jawabnya pelan. Terdengar seperti bisikan malah.
Kak Vante semakin aneh.
"Kenapa bisa bilang nggak bisa?" Aku memajukan tubuhku. Menyamakan posisiku dengannya. Kak Vante masih tidak melihatku. Aku tidak tahu kenapa dia jadi aneh sekarang. Seperti ada rahasia lagi yang tersembunyi didalam sana.
"Karena dia udah pergi."
"Ya disusul aja ke mana dia perginya," saranku.
Dia menggeleng. "Nggak bisa," ucapnya. Ini sudah yang kedua kalinya dia bilang tidak bisa. Memangnya Panditha itu pergi ke negara mana, sih, sampai nggak ada yang bisa nyusulin dia?
"Kenapa nggak bisa? Dia pergi ke mana memang? Jauh banget kayaknya." Ya memang sejauh apa begitu lho sampai tidak bisa disusul. Kan lebih baik mengejar Panditha yang sudah pasti karena suka dari hati bukan suka karena permainan. Daripada menjalin hubungan tanpa perasaan kan lebih baik memperjuangkan perasaan yang telah lama ada. Meskipun sudah usang, tapi tidak menutup kemungkinan jika bisa kembali bersama.
Kak Vante mendengus. Dia menggaruk tengkuknya yang keliatannya tidak gatal. Kemudian menutup mata sejenak, entah sedang membayangkan apa aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya dia masih memiliki sesuatu yang lain. Tiba-tiba dia membuka matanya lagi sambil tersenyum kepadaku. Sejak tadi aku masih memperhatikan gerak-geriknya. Termasuk yang sekarang, aku ketahuan sedang memandanginya. Aku pun segera mengalihkan pandangan sebelum Kak Vante kegeeran.
"Ganteng banget, ya, sampai diliatin terus?" Dia tertawa kecil. "Susah sih emang jadi orang ganteng. Suka dilirik sana-sini. Jadi bingung harus pilih yang mana," kelakarnya.
Masih sempat-sempatnya bercanda di saat aku mulai menantikan jawabannya yang misterius itu. Jarang sekali Kak Vante sudi membicarakan perihal ini. Apalagi yang berhubungan dengannya, Stigma, dan yang tak kalah penting adalah tentang Panditha yang masih membingungkan. Sekalipun, sosok Panditha itu membuat semuanya jadi rumit juga.
"Kak Vante, ih. Serius dong. Panditha pergi ke mana sampai nggak ada yang bisa nyusul dia?"
"Nggak tahu."
"Kok nggak tahu?"
"Karena cuma Tuhan yang tahu."
__ADS_1
"Maksud Kakak apa, sih? Gue nggak paham," aduku heran.
"Panditha udah lama meninggal. Itu kenapa gue ataupun yang lain nggak bisa ngejar dia lagi," kata Kak Vante sangat pelan