Bena

Bena
BAB 4C


__ADS_3

Setengah jam lagi gue sampai di rumah lo.


Aku membulatkan mataku selebar mungkin ketika membaca pesan itu. Aku baru sadar jika malam ini memang malam minggu. Apalagi Kak Lesham sudah mengajakku kemarin. Namun, dengan bodohnya aku tidak menolaknya. Aku hanya membaca pesannya tanpa ku balas. Dan sekarang Kak Lesham menyimpulkan bahwa aku mau.


Sejujurnya aku malas untuk bertemu siapapun sekarang. Tapi karena kasus Kak Vante tadi sore, aku jadi ingin berusaha mendapat informasi yang lebih dari Kak Lesham.


Ketahuilah, tadi sore itu adalah sesuatu yang memberatkan bagiku. Untuk mengusir Kak Vante dari rumahku saja sulit sekali. Apalagi Kak Savalas belum pulang tadi. Jadi aku tidak bisa meminta bantuannya. Sementara Mama? Yang ada nanti aku diledekin. Akhirnya aku beralasan kalau aku besok ada ulangan. Jadi aku harus belajar. Barulah Kak Vante pulang.


Sebelum aku beralasan kalau besok aku ada ulangan, dia susah sekali disuruh pulang. Aku sudah bilang kalau ini udah hampir malam. Jadi dia harus pulang. Nanti kalau ada tetangga yang tahu tidak baik. Tapi dia malah membantahku dan bilang begini 'bukannya nggak apa-apa kalau gue nginep di rumah pacar gue sendiri?'. Tolonglah. Ucapannya yang tentang pacar-pacar itu sama sekali tidak aku urus. Aku hanya menganggap itu bercanda.


Tadi, sudah enam alasan yang aku katakan pada Kak Vante hingga aku bingung harus mencari alasan apa lagi. Kalau aku langsung mengusirnya, nanti yang ada Mama ikut campur karena Kak Vante pasti berkata yang tidak-tidak ke Mama kalau Mama tahu aku mengusir Kak Vante.


Alasan pertama yang sudah dibantah itu. Kalau alasan kedua itu sebenarnya aku hanya bilang kalau aku mau mandi. Aku berharap jika dia akan paham maksudku. Tapi boro-boro paham. Dia saja malah menyahut yang tidak-tidak seperti ini 'mau mandi, ya? Perlu gue temenin nggak?'. Aku rasanya ingin langsung memukulnya habis-habisan. Alasan ketiga dan seterusnya ku pikir tidak usah aku katakan, nanti yang ada kalian tahu yang tidak-tidak.


Sudah!


Lupakan Kak Vante.


Aku sudah muak.


Dan sekarang aku bergegas untuk siap-siap. Aku sudah mandi lima belas menit yang lalu. Aku juga sudah terlanjur memakai piyama karena ku pikir aku tidak akan ke mana-mana lagi. Namun ternyata, aku malah melupakan janjiku dengan Kak Lesham. Aku langsung menuju ke lemari untuk mengganti pakaianku. Aku tidak berpikir untuk tampil cantik di depan Kak Lesham. Lagipula dia tidak mengatakan untuk apa aku diajak keluar jam tujuh malam. Jadi tidak masalah bila aku memakai pakaian sehari-hari.


Aku hanya memakai celana jogger model korea warna hitam. Ku balut dengan kaos tumbler pendek berwarna kuning yang ukurannya sedikit kebesaran. Aku memasukkan kaosku ke celana. Kemudian, aku memakai sepatu converse warna kuning juga. Entahlah. Aku memang sedang menyukai warna kuning akhir-akhir ini. Rambut pendek sebahuku tidak aku apa-apakan. Aku hanya menyisirnya saja agar terlihat lebih rapi lalu ke gerai saja.


Ponselku yang semula diam tiba-tiba bergetar. Ada satu pesan masuk. Oh, iya. Kalau pada umumnya anak-anak remaja sering mendiamkan ponselnya, aku malah lebih suka membuat mode getar daripada diam.


Gue udah sampai


Membaca itu, aku langsung tersenyum dan bergegas menuju ke bawah. Sesampainya di ruang keluarga, aku langsung menemui Mama dan Kak Savalas yang sedang asyik bercanda gurau.

__ADS_1


"Ma, Nadisha pergi dulu, ya?" pamitku sambil menyalami Mama.


Mama mengerutkan kening. "Malam-malam begini mau ke mana, Nad? Kalau Papa tahu kamu bisa dimarahin loh."


"Tumben banget. Lo mau ngapain?" Kak Savalas ikut menimbrung.


"Nggak lama kok, Ma. Aku cuma mau jalan-jalan aja sama teman aku. Dia udah di---" belum selesai aku berbicara, suara ketukan pintu membuat aku, Mama, dan Kak Savalas menoleh langsung ke arah pintu.


Mama langsung bangkit dari tempat duduknya.


"Biar Mama aja yang buka."


Ketika aku ingin mengikuti Mama dari belakang, Kak Savalas malah menarik tanganku. "Lo utang banyak cerita ke gue, Sha. Besok pulang sekolah gue tunggu di kamar gue," ucapnya.


"Iya, iya."


"Iyain aja terus kalau ada cowok yang deketin lo. Masuk aja ke jurang sekalian. Biar Mama-Papa nangisin lo setiap hari."


"Malam, Tante."


Sudah aku tebak bahwa itu adalah suara Kak Lesham. Dia memang tidak pernah ingkar dengan ucapannya. Aku pun mendatanginya setelah Kak Savalas selesai berbicara denganku. Perlu ku ketahui bahwa aku memang harus tahu apa maksud dan tujuan Kak Savalas selalu membawa-bawa jurang kepadaku. Sampai sekarang pun aku tidak mengerti dengan tujuannya yang absurd itu.


"Eh, malam juga. Kamu siapa, ya?" tanya Mama penasaran. Aku langsung menyahut sebelum Kak Lesham berbicara yang sejujurnya kepada Mama. Nanti yang ada aku tidak mendapat izin untuk keluar rumah. "Dia Kakak kelas aku, Ma. Namanya Kak Lesham. Niatnya malam ini kita mau bahas Stig Cooking sambil jalan-jalan buat nyari bahan-bahan yang pakai besok."


Maafkan aku, Ma.


Akhirnya aku berbohong juga jadinya. Ku lihat Kak Lesham sedikit ragu dengan perkataanku. Namun selanjutnya dia melupakan itu dan tersenyum kepada Mama sambil menyalami Mama. "Iya, Tan. Saya minta izin untuk ngajak Nadisha nyari bahan-bahan buat praktek."


"Oh, satu ektrakulikuler ternyata."

__ADS_1


Aku mengangguk membenarkan perkataan Mama walaupun sebenarnya itu adalah kebohongan yang besar. Karena ini pertama kalinya aku berbohong hanya demi keluar bersama seorang cowok yang berstatus Kakak kelas. Jika bukan karena keanehan yang ku alami beberapa minggu ini, aku tidak akan melakukan hal ini. Jujur saja, aku gugup sekarang. Seperti seorang maling yang takut ketahuan. Begitulah keadaanku sekarang sekiranya.


"Ya, udah. Tapi pulangnya jangan melebihi jam sembilan, ya." Mama mengelus punggungku. Aku menghela napas lega. Beruntungnya aku malam ini. Meskipun waktu yang Mama berikan hanya dua jam, aku harap aku akan mendapatkan informasi yang lebih daripada sebelumnya.


Setelah mendapat izin dari Mama, aku dan Kak Lesham langsung bergegas pergi. Kukira Kak Lesham akan membawa motor. Tapi ternyata tidak. Soalnya yang ku ketahui Kak Lesham sering sekali memakai motor. Bahkan setahuku dia selalu memakai motor ke sekolah tanpa terkecuali. Meskipun sedang hujan, dia juga masih memakai motor merahnya itu. Tumben sekali jika malam ini dia menjemputku menggunakan mobil berwarna hitam.


"Kita mau ke mana, Kak?" tanyaku di dalam mobil. Sementara Kak Lesham mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya secara perlahan. Kak Lesham tak langsung menjawab pertanyaanku. Dia malah tersenyum kepadaku. Bila sudah begini aku sudah tahu bila Kak Lesham memang tidak mau menjawab pertanyaanku atau mungkin malah ingin menggodaku.


Kak Lesham memberikanku sebotol air mineral.


"Buat apa, Kak?" tanyaku bingung. Aku tidak mengerti dengan kelakuannya. Aku sedang tidak haus. Lalu untuk apa dia memberikan aku minuman?


"Katanya minum air itu baik untuk kesehatan," jawab Kak Lesham yang masih terfokus dengan kendaraannya. "Gue mau lo tetap sehat sampai pulang nanti," lanjutnya tanpa menatapku.


Sudah aku katakan beberapa kali jika Kak Lesham itu selalu memiliki arti dibalik perkatannya. Jika begini terus, aku merasa sedang berbicara dengan orang asing yang ku tak tahu bahasanya.


Aku meletakkan air itu di depanku.


"Kenapa nggak diminum?"


"Gue nggak lagi haus, Kak."


"Gue nggak nyuruh lo minum kalau lo lagi haus. Gue nyuruh lo minum air itu sekarang. Mau lo haus atau nggak tetap aja minum." Kak Lesham menyuruhku untuk meminum air ini. Padahal aku tidak mau. Kenapa sekarang dia suka mengaturku?


Aku mengernyit. "Ini air apa, sih? Kenapa gue harus minum ini? Dan kenapa lo maksa banget?"


Kak Lesham mengulurkan tangannya kepadaku. "Sini gue bukain." Dia mengalihkan topik pembicaraan.


"Kak!"

__ADS_1


"Ya elah, gue bercanda kali. Kalau lo nggak mau minum ya udah. Tapi lo harus tahu, kalau lo butuh fisik yang sehat sebelum mewawancarai gue nanti," kata Kak Lesham yang membuatku langsung mengernyitkan keningku lagi. Kenapa aku bisa lupa coba jika Kak Lesham itu bisa membaca perasaanku. Atau mungkin ucapannya memang sesuai dengan apa yang aku batinkan. Ternyata, berurusan dengan Kak Lesham yang mengetahui apapun lebih sulit daripada berurusan dengan Kak Vante. Meskipun menyebalkan, tetapi Kak Vante tidak bisa membaca pikiranku. Jadi, aku masih aman kalau aku sedang merutukinya di dalam batin.


__ADS_2