
Malam ini aku membaringkan tubuhku di sofa. Sejenak menenangkan pikiranku mumpung keadaan rumah masih sepi. Tentu pikiranku yang tidak pernah sepi. Selalu memikirkan cowok-cowok yang memang sering hadir dalam duniaku akhir-akhir ini. Tak lupa juga karena Zelo yang berubah.
"Kok diem aja? Ada masalah? Cerita sama Mama," ujar Mama membuyarkan lamunanku. Aku hanya meringis saja. Bingung. Aku harus jujur atau tidak. Ini sungguh tidak baik.
Aku menggeleng pelan.
Ku putuskan, aku memang harus bohong sekarang.
Maafkan Nadisha, Ma.
"Eng-ngg..., enggak kok, Ma. Hehe, itu..., Zelo akhir-akhir ini memang sibuk belajar buat olimpiade. Memangnya dia nggak cerita sama Mama?" Mama hanya menggeleng. "Mungkin Zelo lupa karena saking sibuknya, Ma." Tambahku.
Benar-benar, ya!
Aku harus bohong kepada Mama.
Habisnya aku sudah bingung aku harus melakukan apa selain berbohong. Aku tidak bisa menebak reaksi Mama nanti. Maka dari itu, aku tak berani mengambil resiko. Lebih baik aku ambil yang sudah pasti-pasti saja. Aku terpaksa harus berbohong. Kukira, itu sudah sesuatu yang baik. Ya, meskipun nanti aku tak tahu akhirnya akan bagaimana. Selagi aku tidak bisa memikirkan hal untuk masa sekarang, aku tidak akan memikirkan hal tentang masa depan. Itulah aku. Kenyataannya aku memang begini adanya.
"Mungkin begitu," timpal Mama menyetujui.
Aku menghela napas lega akhirnya. Ku keluarkan senyum terpaksaanku. Setelah ku pikir-pikir, ada banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Bahkan terhitung semenjak aku mulai masuk di STANDAR. Entah mengapa, semua hal yang datang kepadaku rasanya memiliki hubungan dengan Stigma. Aku juga tak tahu kenapa. Tetapi perasaanku selalu mengatakan begitu. Makanya, sudah lama sekali aku ingin tahu apa itu Stigma. Tujuannya?
Dan..., siapa itu Panditha?
Mengapa dia selalu dikaitkan denganku?
Apa sebelumnya aku pernah mengenalnya?
Ku rasa tidak.
Dan yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan dibenakku adalah, siapa kedelapan anggota Stigma yang sudah keluar setahun yang lalu?
Ah, kalau disebutkan semua mungkin sudah puluhan pertanyaan yang keluar dari mulutku. Tapi, aku sama sekali tidak mendapat jawaban yang sesuai. Dulu, Kak Lesham bisa memberiku jawaban yang lumayan. Meskipun tak membuatku puas, akan tetapi aku cukup paham maksudnya. Sekarang, apa kabar dengannya?
Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.
Semua ini karena memang takdir, atau memang Kak Lesham yang menjauhiku?
__ADS_1
Ada banyak sekali argumenku.
Tapi aku berharap jika semua ini hanya takdir.
"Nadisha."
Aku menoleh.
"Iya, Ma. Kenapa?" tanyaku.
Mama hanya tersenyum. Ia lantas mengelus rambutku pelan dengan penuh ketulusan. "Pacar kamu baik. Mama senang kamu bisa pilih pacar kayak Vante. Mama berharap, semoga hubungan kalian bisa sampai di tingkat yang lebih tinggi nantinya."
"Kenapa Mama bisa bilang begitu?"
Kak Vante baik? Dari mananya?
"Kemarin Mama dibantuin dia bawa belanjaan. Dia juga sering nanyain kamu lewat Mama. Biasanya kalau udah jam sembilan malam dia suka telepon Mama. Nanyain, kamu udah tidur belum. Mama suka dia perhatian sama kamu. Bukan hanya sekadar nanyain udah makan atau belum, tapi juga pola tidur kamu. Dia selalu ngirim susu sama buah-buahan ke rumah. Katanya biar kamu sehat terus. Mama pengennya, Vante itu jadi pacar kamu yang pertama dan terakhir." Cerita Mama panjang sekali. Ternyata, Kak Vante sebaik itu di belakangku. Tapi kenapa dia selalu terlihat menyebalkan ketika bersamaku?
Pantas saja, akhir-akhir ini banyak sekali buah-buahan di rumah.
"Aku belum ada pikiran sampai ke sana, Ma. Kata Kak Savalas jalanin aja dulu. Kalau memang udah takdir juga nggak bakal ke mana nantinya," jawabku. Sementara Mama hanya menggangguk setuju. "Iya, nggak apa-apa. Mama hanya sekadar ngomong aja biar kamu tahu bagaimana Vante di belakang kamu."
"Iya, Ma."
Baru saja aku hendak bangkir dan pergi ke kamar, tapi berderingnya ponsel Mama membuatku tak jadi ke kamar. Mama menyuruhku untuk tetap berdiam di tempatku sekarang. Sementara Mama mengambil ponselnya yang tergeletak di meja depan. Aku menghela napas panjang.
Tak lama setelah itu, Mama datang sambil menyodorkan ponselnya kepadaku. Seketika membuatku mengernyit. "Mama speaker aja, ya?" Mama tak jadi memberikan ponselnya kepadaku.
Ia segera duduk di sampingku.
Jari telunjuk Mama menunjuk jam dinding yang terletak di depan kami. "Jam sembilan." Lalu Mama tertawa kecil sambil menyenggol bahuku. Aku bisa membaca dengan jelas siapa yang sedang menelepon Mama sekarang. Panjang umur memang. Baru saja aku dan Mama membicarakannya, dan sekarang sudah menelepon saja. Entah mengapa, aku mengembangkan senyumku seketika.
Aku tidak tahu mengapa.
Semua itu terjadi spontan.
"Halo, Van. Mau nanyain Nadisha, ya?" sapa Mama membuka pembicaraan. Mama benar-benar membesarkan volumenya. Sehingga aku bisa mendengar suara tawa dari ujung sana. "Tante bisa aja. Tapi memang iya sih, Tan."
__ADS_1
"Tante sampai hafal."
"Bagus dong, Tan. Biar ada kegiatan baru. Tapi kalau seumpama menganggu, Tante bilang aja." Kak Vante sangat ramah sekali. Berbeda dengan kenyataannya. Dia ini memang bermuka dua. Di sampingku saja menyebalkan. Sedang bersama Mama, ya ampun! Halus banget.
Mama menyenggolku sambil senyum-senyum.
"Nggak kok. Tante malah senang kalau ada yang perhatian sama Nadisha lebih dari Tante. Itu artinya kamu memang benar-benar serius sama Nadisha." Mama menimpali. Sungguh. Mama pandai sekali membuatku malu. Meskipun aku tidak memiliki perasaan kepada Kak Vante, tapi aku cukup malu dibuatnya. Baru beberapa minggu setelah aku mengiakan ajakan Kak Vante untuk pacaran tapi Mama sudah meresponnya dengan baik.
Kak Vante kembali tertawa kecil. "Hahaha, ya nggaklah, Tan. Tante kalau ngomong suka dibanyakin. Sebesar-besarnya Vante perhatian sama Nadisha, tetap aja yang paling besar perhatiannya itu Tante."
"Ya, sudah terserah kamu."
"Oh, iya. Nadisha-nya udah tidur belum, Tan?" tanya Kak Vante.
"Su---" Dengan keceplosan aku ikut menyahut. Memotong ucapan Mama yang belum selesai. "Belum. Kenapa memang?"
"Oh, ceritanya lagi curhat-curhatan, ya? Pantes aja belum tidur."
"Terserah gue dong."
"Ya memang terserah. Emang ada yang larang?"
"Kenapa nanya balik?"
"Kan udah dibilang nggak ada yang larang."
"Ya, udah. Jangan telepon lagi. Nggak penting banget. Ngabisin pulsa tahu," kataku kelepasan. Ini kenapa aku kesannya terganggu. Padahal aku senang lho jika dia menanyakan tentangku kepada Mama.
"Pulsa nggak seberapa buat gue. Selagi lo baik-baik aja, gue senang. Udah jam sembilan lebih. Sana tidur! Nggak baik buat cewek tidur kemaleman," kata Kak Vante memerintah.
Di sampingku, Mama hanya diam. Seolah sedang menyaksikan aku dan Kak Vante sedang berpacaran.
"Tapi, Kak---"
"Udah! Nggak usah bantah sama calon masa depan."
Sontak aku speechless karenanya. Kenapa bisa?
__ADS_1