
Memang benar, ya? Dari sekian banyak mata pelajaran, hanya matematika yang sulit untuk ditaklukkan kecuali jika kita memang bersungguh-sungguh sekali untuk menaklukkannya. Tapi, aku hanya sekadar ingin mengerjakan tugas. Tak lebih dari itu. Namun, tetap saja ilmunya tidak juga terserap oleh pikiranku.
Aku heran. Kenapa di luar sana banyak sekali orang yang pintar matematika. Aku juga heran. Kenapa ada orang yang menciptakan ilmu ini. Jadinya, sekarang aku yang kebingungan.
"Nadisha," panggil Kak Savalas. Akupun menoleh ke sumber suara. Ternyata Kak Savalas sedang berdiri di ambang pintu kamarku. Dia baru saja pulang dari latihan basket.
"Apa?" tanyaku tidak bersemangat.
Kak Savalas mulai melangkah mendekatiku sambil bertanya. "Lo ngapain nanya password hape gue ke Maven? Kurang kerjaan banget."
Dasar Kak Maven si biang ember!
Harusnya aku menyumpal mulutnya yang ember itu dengan uang. Atau hanya sekadar mengajaknya apa. Yang penting dia tidak sejujur ini cerita sama Kak Savalas. Kak Maven membuatku malu saja. Sekarang aku harus jawab apa? Gengsi kalau aku jujur.
Kenapa harus bilang ke Kak Savalas segala, sih?!
"Ya..., terserah gue, dong. Memang kenapa? Nggak boleh? Sepribadi itu ya, hape-nya?" tanyaku kembali. Aku sudah ketahuan. Aku juga tidak bisa menutupinya lagi. Ya sudah.
"Bukan masalah pribadi atau nggak. Tapi itu namanya nggak sopan."
Aku menutup bukuku. "Gue tahu kalau itu nggak sopan. Tapi kalau ada yang telepon, terus gue mau ngangkat nggak masalah, kan? Siapa tahu aja penting," balasku masih tidak mau disalahkan. Aku melihat Kak Savalas yang masih tidak suka dengan kelakuanku. Memang kenapa? Apa aku salah? Aku rasa tidak. Lagipula aku juga gagal untuk membuka ponselnya.
Kak Savalas tak menjawabku. Dia malah diam.
"Kak Raden itu siapanya Kakak?" tanyaku to-the-point. Aku sudah tidak sabar jika harus menunggunya untuk berbicara.
"Bukan siapa-siapa."
"Nggak mungkin. Kakak aja nggak pernah nyimpan nomor orang yang nggak penting buat Kakak. Kalau Kakak nyimpan nomor Kak Raden, itu artinya Kak Raden penting 'kan buat Kakak? Oh, iya. Kak Raden yang Kakak simpan nomornya bukan Kak Raden geng Seesaw, kan? Jawab, Kak!" Sungguh, aku memang sangat cerewet sekarang. Salahkan saja Kak Savalas. Dia selalu ingin tahu tentang aku, tapi aku sama sekali tak diperbolehkan untuk tahu tentang dia. Itu namanya tidak adil. Jika dia ingin tahu tentang aku. Harusnya aku juga diizinkan untuk tahu tentangnya. Aku rasa dalam persaudaraan itu harus ada hubungan timbal baliknya. Bukan hanya sekadar status saudara saja tanpa tahu apa-apa mengenai satu sama lain.
__ADS_1
Jika dibilang aku tidak boleh tahu apapun karena umurku yang tidak sesuai, aku tetap akan menentangnya.
Itu bukanlah hal yang bisa dijadikan alasan.
"Udahlah. Lo urusin aja tugas lo. Nggak usah urusin Kakak," ujar Kak Savalas menyelimpang. "Ya, kalau begitu Kakak nggak usah ngurusin urusan gue juga. Nggak usah ngatur-ngatur untuk nggak dekat sama cowok. Itu baru impas. Kakak nggak ngurusin gue, gue juga nggak ngurusin Kakak," tuturku.
Kak Savalas menggelengkan kepalanya. "Kalau itu nggak bisa. Lo itu masih jadi tanggung jawab gue, Sha."
"Kakak juga jadi tanggung jawab Nadisha."
"Lo masih kecil. Belum cukup umur untuk punya tanggung jawab."
"Emang umur mempengaruhi?"
"Udah ah! Lo fokus belajar aja. Kakak mau ke kamar," tegasnya hendak pergi dari kamarku. Akupun langsung menarik lengan tangannya, membuat Kak Savalas mau tidak mau memang harus berhenti melangkah. Dia menoleh kepadaku.
Aku menarik napasku panjang. "Jelasin dulu hubungan Kakak sama Kak Raden," pintaku.
"Kan udah gue bilang. Gue nggak ada hubungan apa-apa."
"Dibalik kata nggak ada apa-apa, biasanya ada apa-apa. Kalau Kakak nggak mau ngasih tahu juga nggak apa-apa. Nanti biar Nadisha yang tanya ke Papa." Aku menatapnya masam. Selalu aja aku yang disuruh jujur. Aku yang selalu diintrogasi. Aku yang selalu merasa was-was. Semuanya aku dan hanya aku.
Lalu kapan dia? Kapan aku mengintrogasinya? Kapan aku mendapat kejujurannya?
"Ya, udah."
"Kok ya udah, sih, Kak?"
"Memang mau dijawab apa? Kalau lo mau tanya ke Papa ya udah tinggal nanya. Kenapa ngasih tahu gue segala?" Kak Savalas masih tetap teguh pendiriannya. Dia tampak acuh kepadaku. Kak Savalas datang kepadaku. Tapi perlakuannya seperti aku yang datang kepadanya.
__ADS_1
Akupun menghela napas panjang.
"Oke, oke. Nggak masalah kalau Kakak nggak mau jawab pertanyaan itu. Tapi gue masih ada satu pertanyaan lagi."
"Apa?"
Aku bangkit dari tempat dudukku dan menatap Kakakku lekat-lekat. Sementara Kak Savalas hanya bersikap biasa saja. Seolah dia sudah tahu dengan apa yang akan aku tanyakan. "Kenapa password hape Kakak ada kata 'Stigma'? Dan siapa itu Ditha?"
Kak Savalas tertawa kecil. "Se-kepo itu, ya?"
"Ih! Jawab aja kenapa, sih, Kak?!"
"Males. Mending jadiin satu sama pertanyaan tadi, terus tanyain ke Papa. Kalau masih belum dapat jawaban, coba tanya ke Mama. Kalau masih belum juga, itu artinya lo nggak boleh kepo sama urusan orang dewasa." Seketika aku langsung mengercutkan bibirku. Benar-benar menyebalkan. Kenapa sih? Apa coba susahnya menjawab? Takut kalau aku ini ember? Ku rasa, selain pelit meminjami barang, Kak Savalas juga pelit untuk membagi sedikit akan kisahnya.
Kak Savalas mencubit pipiku sebelah kiri. "Nggak usah sok sedih. Ganti baju, gih! Kita ke Supermarket. Kakak tunggu di teras sepuluh menit lagi."
Sebenarnya aku ingin marah.
Tapi, setelah mendengar kata 'Supermarket' aku langsung bahagia. Bagiku, tidak ada hal yang membahagiakan selain membeli camilan yang banyak untuk persediaan. Apalagi dibayarin Kak Savalas. Ini adalah hal yang membahagiakan.
Jarang-jarang Kak Savalas mau membayarkan aku untuk membeli camilan. Terakhir kali aku ditraktir olehnya adalah saat Kak Savalas mendapat uang dari Bibi di Surabaya. Itupun karena Mama yang menyuruh Kak Savalas untuk berbagi denganku. Itu artinya memang Kak Savalas bukan membayariku dari hatinya. Melainkan hanya dari paksaan.
Tapo tak apa. Aku tidak memikirkan itu. Yang penting aku dapat sesuatu yang gratis sudah membuatku senang. Apalagi dalam jumlah yang banyak. Mama saja jarang sekali mengisi kulkas dengan minuman atau camilan. Karena itu aku terbilang cukup kekurangan makanan ringan. Mama sudah aku suruh untuk beli saat Mama sedang belanja bulanan. Tapi ujungnya Mama selalu lupa. Sampai aku jengah dan bosan sendiri mengingatkannya.
Sekarang, aku tidak harus memikirkan banyak pertanyaan. Aku butuh istirahat sejenak dengan merefreshkan otak. Tidak masalah aku melupakan pertanyaan-pertanyaan itu sekarang.
Nanti jika ada waktu, aku akan menanyakannya lagi.
Aku tidak akan lupa.
__ADS_1