Bena

Bena
BAB 7C


__ADS_3

Dunia ini Tuhan ciptakan bukan hanya untuk orang-orang baik saja. Melainkan menggabungkan antara keduanya. Entah yang awalnya baik akan tetap bisa kekeh menjadi baik sampai akhir nanti, ataukah malah tergoyahkan oleh yang tidak baik. Semua itu akan berujung pada diri sendiri. Orang lain tak bisa menjalankan diri orang lain. Yang bisa dijalankan hanyalah dirinya sendiri. Karena itu, jika kalian baik ataupun tidak, semua itu memang bergantung dengan diri kalian sendiri.


Aku?


Bukan hanya kadang-kadang saja aku menanyakan mengenai diriku sendiri. Bukan juga dengan orang lain. Melainkan dengan diriku sendiri.


Aku sadar, jika aku tak selamanya akan menjadi baik.


Aku juga tak selamanya akan melakukan hal-hal yang benar.


Nanti akan ada saat di mana aku melakukan kesalahan dan aku menjadi orang yang tidak baik. Hanya saja, waktunya yang belum datang. Meskipun begitu, aku bisa menolaknya. Semua tergantung pada diriku. Bila keteguhan diriku kuat, mungkin aku tak akan melakukan hal-hal itu.


Bukan hanya itu. Dari kecil, Papa dan Kak Savalas memang sudah overprotektif denganku. Jika Mama tidak terlalu. Karena Mama masih sering membebaskanku dan sangat jarang sekali bertanya-tanya kepadaku. Yang paling sering menanyakan tentangku adalah Kak Savalas. Kalau Papa? Jangan ditanya. Papa itu seperti seorang psikolog. Tanpa berceritapun, layaknya Papa sudah tahu. Dan sering sekali Papa mengingatkanku akan hal ini dan itu. Ku rasa bukan larangan. Tapi lebih ke aturan.


Sejak kecil aku selalu ikut dengan Mama dan Papa. Berbeda dengan Kak Savalas. Dulu ketika SD kami masih berada dalam satu rumah dan juga satu sekolah tentunya. Tapi, setelah SMP Kak Savalas tinggal di sebuah kompleks Anyar Putih bersama Tante Ovia, adiknya Mama. Sebenarnya Mama tidak ingin Kak Savalas tinggal bersama Tante Ovia, namun karena kenakalannya waktu SD membuat Papa ingin sekali memberi hukuman yang berat bagi Kak Savalas.


Karena suami Tante Ovia adalah seorang manager di sebuah perusahaan yang sangat terkenal, maka setiap kali suaminya keluar kota dia selalu ikut. Dan Kak Savalas selalu dipasrahkan kepada Tante Muditta---Mamanya Kak Maven. Kebetulan Tante Muditta adalah teman kuliahnya Mama, karena itu, akhirnya Kak Savalas dan Kak Maven sangat dekat sampai sekarang. Akupun juga tak heran akan hal itu, mereka berdua ada dalam satu kompleks. Yang mengurusinya pun juga sama.


Aku dulunya tak menyangka jika cara yang Papa pilih akan berhasil. Namun, kenyataannya memang begitu. Cara Papa berjalan dengan lancar. Dulu, Papa sering sekali memarahi Kak Savalas karena kenakalannya. Tapi sekarang, Papa sering sekali membangga-banggakan Kak Savalas. Meskipun begitu, hubungan Kak Savalas dan Papa tidak begitu dekat. Masih ada satu tembok yang berada di tengah-tengah mereka.


Namun, sekarang aku sudah senang. Akhirnya Kak Savalas berada dalam satu rumah lagi denganku. Ya, meskipun ujung-ujungnya dia sering sekali overprotektif kepadaku.


Anehnya, Kak Savalas itu mendukungku dengan Kak Vante. Tetapi saat Kak Vante berusaha untuk mengajaknya berbicara sulitnya minta ampun. Kak Savalas malah bersikap cuek.


Aku jadi bingung jika begini.


Oke, aku tidak peduli dengan semua itu. yang aku pedulikan sekarang adalah tentang hatiku yang sudah hancur. Kukira Kak Inggrid dan Kak Nehan memang benar-benar balikan. Namun ternyata, mereka bahkan tidak pernah putus sejak dulu. Itu artinya mereka masih memiliki hubungan, kan? Hubungan yang cukup lama dari kelas sepuluh sampai sebelas sekarang.


Ah, kenapa fakta ini baru ku ketahui sekarang?


Aku tidak memiliki jalan lain kecuali move on. Aku memang memiliki rasa yang besar kepada Kak Nehan. Tapi, aku sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menikung Kak Inggrid. Aku sama sekali tak memiliki keberanian untuk itu. Lagipula, Kak Savalas juga pernah bilang kepadaku untuk tidak mengejar cowok. Banyak sekali hal-hal yang mendukungku untuk mundur. Menghilangkan perasaanku kepada Kak Nehan dengan perlahan.


Iya, aku tak memiliki banyak pilihan.


Dengan berat hati, aku akan melupakan Kak Nehan.


Secara perlahan.


Dan tentunya, aku akan berusaha memahami Kak Vante.


Semoga ini memang jalan yang tepat.


____

__ADS_1


"Kak, ini beneran cuma berdua aja?" tanyaku bimbang.


"Memang kenapa? Takut? Kan gue udah pernah bilang sama lo. Jangan takut, Nadisha." Kak Jin tersenyum penuh arti kepadaku. Ini adalah hari kedua aku masuk ekstrakulikuler selama kurang lebih beberapa minggu aku telah absen. Ku kira akan ramai. Ternyata malah sepi. Ku kira juga, tadi Kak Jin tidak akan mendatangiku ke kelas. Namun ternyata malah iya. Perkataannya memang sesuai dengan tindakannya.


Tetap saja. Jika hanya berdua aku malah merasa semakin grogi.


Aku juga tidak tahu mengapa. Tapi dari dulu, setiap aku bersama Kak Jin berdua saja, jantungku langsung berdetak dengan cepat. Selalu saja begitu. Seakan aku sedang gugup ketika akan naik ke atas panggung. Bukan hanya itu, terkadang telapak tanganku sampai basah sendiri.


"Kalau mau ramai, ya, minggu depan lo masuk."


"Iya, Kak."


"Itu, ambil wortelnya."


Aku menunjuk wortel yang berada tak jauh dariku. "Itu, Kak?"


Kak Jin mengangguk. "Sebagai pemula, hal yang perlu lo lakukan cuma dua. Mengupas sama memotong. Kalau udah bisa itu, kita bisa lanjut tahap berikutnya." Sejenak Kak Jin meletakkan sebuah pisau di depanku sambil menyeriangiku. "Udah pernah ngupas sayuran sebelumnya?" tanyanya.


"Pernah kok," jawabku. Aku memang sudah bisa jika disuruh mengupas dan memotong. Yang tidak ku bisa hanya cara memasaknya agar menjadi makanan yang enak untuk dimakan.


Kak Jin mengambil wortel yang semula ada di tanganku.


"Ngupasnya jangan asal ngupas. Perlahan-lahan aja. Jangan tebal-tebal, Nad. Motongnya juga jangan besar-besar. Coba potong kecil-kecil," suruh Kak Jin sambil mencontohkanku. "Kayak gini caranya. Paham?"


"Ya, udah coba."


Aku tersenyum, lantas ku ambil lagi satu wortel untuk ku potong. Mataku hanya diam saja. Sementara tanganku hanya mengikuti tangan Kak Jin. Sebelumnya aku juga pernah memotong wortel. Ku rasa tak akan sesulit yang ku kira. Aku mulai mengupasnya. Perlahan dengan perlahan. Sesuai dengan apa yang Kak Jin katakan barusan.


"Lebih tipis lagi, Sha. Mubazir kalau lo motongnya tebal-tebal," tutur Kak Jin sambil memegang tanganku. Dia sekarang berada di belakangku. Kedua tangannya masing-masing memegang tanganku dengan cepat. Aku sangat terkejut. Aku tak bisa menolaknya. Sungguh, aku gugup sekarang. Wajah kami hampir tak ada jarak. Mungkin hanya sekitar lima sentimeter jaraknya. Jujur, aku belum terbiasa menatap mata cowok sedekat ini. Kejadian ini sudah dua kali terjadi padaku dengan Kak Jin. Entah itu sengaja atau tidak. Tapi tolong selamatkan jantungku sekarang.


Tangan kanan Kak Jin menggerakkan tanganku untuk mengupas wortel. Sementara tangan kiriku juga dipegang oleh Kak Jin. Harus bagaimana aku sekarang?


"Gue bukannya menganggap lo remeh dalam hal mengupas dan memotong. Tapi gue cuma mau membenarkan aja," katanya sambil menggerakkan tanganku. "Gue tahu kok, Kak," jawabku tanpa menoleh kepadanya.


Kak Jin semakin mempererat genggaman tangannya.


"Bagus deh kalau udah ngerti. Ya, udah. Kita mulai lagi dari awal, ya." Seketika aku refleks mengangguk.


Selanjutnya aku banyak belajar tentang memasak dengan Kak Jin. Meskipun aku sudah beberapa kali melakukan kesalahan, tapi dia sama sekali tak memarahiku. Jangan kan marah, sikapnya saja seolah aku sudah bisa dalam semua hal. Bahkan senyumannya pun juga tak tertinggal. Sikapnya sangat ramah kepadaku. Sampai-sampai muncul di pikiranku jika Kak Jin ini jauh lebih cocok dengan Kak Inggrid, daripada Kak Inggrid dengan Kak Nehan. Ah, tapi aku tak boleh berpikiran seperti itu lagi. Dengan segera ku hempaskan jauh-jauh pikiran itu. Sungguh hal yang buruk.


Pasti aku masih terbawa perasaan gara-gara ucapan Kak Inggrid tadi pagi.


Sekarang sudah sangat sore. Iya, sudah hampir jam enam. Dan aku masih berada di ruang Stig Cooking. Tapi aku hanya sedang duduk di depan. Sedangkan Kak Jin masih membersihkan ruangan dalam yang sudah berantakan gara-gara aku. Tadinya aku ingin membantu. Tapi Kak Jin melarangku. Dia menyuruhku duduk di luar sementara dia yang membersihkannya. Aku merasa tidak enak hati sebenarnya. Namun, Kak Jin sudah memaksaku untuk tetap duduk saja. Ya, sudah akhirnya aku menurut saja meskipun aku masih sempat meliriknya kadang-kadang.

__ADS_1


Kak Jin memang baik.


Berbeda dengan Kak Vante.


Oh, iya. Sepulang sekolah tadi Kak Vante mengirimiku pesan agar aku pulang sekolah dengannya. Awalnya aku menolak karena aku harus masuk di ekstrakulikulerku. Dan Kak Vante malah tetap kekeh untuk menungguku sambil bermain basket. Sebenarnya dia sudah ku suruh pulang. Tapi percuma. Dia tetap teguh pada pendiriannya untuk mengantarku pulang.


"Udah sore, mau gue anter pulang?" tawar Kak Jin yang baru saja keluar dari Stig Cooking. Aku yang semula duduk langsung beranjak berdiri. Mataku hanya berkedip saja. Tapi..., ini adalah sebuah ide yang bagus agar aku tak pulang bersama Kak Vante yang sungguh menyebalkan itu.


"Gimana?"


"***---" Sebelum aku selesai berkata, tiba-tiba ada Kak Vante datang dan langsung memotong ucapanku. "Nggak boleh! Nadisha harus pulang sama pacarnya."


Kak Vante langsung memegang lengan tanganku. Perlahan turun dan langsung menggenggam telapak tanganku dengan erat.


"Ayo pulang," ajaknya.


"Tapi, Kak. Gue mau pulang sama Kak Jin," ujarku.


Kak Vante mengernyit. "Pacar lo 'kan gue. Ya, udah pulang bareng gue."


"Kalau nggak mau jangan dipaksa, Van." Akhirnya Kak Jin angkat bicara juga. "Abang juga jangan nyari kesempatan disaat dia nggak mau pulang bareng gue," seragah Kak Vante.


Lho, tadi Kak Vante memanggil Kak Jin dengan sebutan 'Abang' kan? Mereka saudaraan apa gimana? Tapi kok tidak ada mirip-miripnya, sih?


"Ya, udah, Nad. Pulang bareng pacar lo aja, ya. Kalau ada apa-apa hubungin gue," kata Kak Jin pasrah.


"Abang nih, ya! Udah dibilang jangan nyari kesempatan, masih aja nawarin jadi satpam," cecar Kak Vante.


Aku bingung.


Aku harus pulang dengan siapa?


Kenapa mereka berdua malah berantem, sih?


"Gue pulang sendiri aja kalau gitu," jawabku.


"Janggaaannn, pacaaarrrr!" teriak Kak Vante menggelegar. Orang ini memang tidak tahu malu. Beruntung saat ini sekolah sedang sepi. Jika tidak, pasti sudah banyak yang ilfeel dengan kelakuannya barusan yang norak.


"Ya, habis Kak Vante ribut mulu, sih!"


"Pulang bareng bertiga aja gimana?" tawar Kak Jin.


"Idiih! Apaan. Daripada bertiga mending gue pulang jalan kaki aja," ujar Kak Vante, memutar bola mata jengah. Akupun langsung melepaskan genggaman tangannya. "Ya, udah kalau mau jalan kaki silahkan," balas Kak Jin sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ya, udah, ayo! Bareng-bareng. Katanya bertiga."


__ADS_2