
"NADISHAAA!!"
Teriakan Mama menggelegar di kamarku. Aku menoleh pada Mama sambil mengernyit. Tumben sekali Mama berteriak seheboh itu. Padahal tidak ada apa-apa. Ini juga hari Minggu. Aku tidak harus berangkat sekolah. Lalu apa yang sebenarnya membuat Mama berteriak? Perasaan aku tidak melakukan kesalahan. Lagipula sejak pagi tadi aku hanya berdiam diri di kamar.
"KENAPA NGGAK BILANG SAMA MAMA KALAU KAMU BALIKAN??" Mama langsung bersedekap dada setelah teriakan kedua. Sepertinya aku tahu siapa yang sudah membuat Mama heboh seperti ini. Pasti Kak Vante sudah datang ke rumahku. Padahal semalam aku sudah mengirim pesan padanya untuk ketemuan di taman Palazon saja. Tidak usah menjemputku segala yang akhirnya membuat Mama salah paham begini.
Mama kegirangan. "Calon mantu Mama makin cakep, ya? Tambah keliatan dewasa. Uwuuu banget, deh," timpal Mama lagi.
"Aku nggak balikan kok, Ma," jelasku.
"Ih, pamali ngomong begitu. Oh, iya. Kata Vante kalian mau ngedate, ya? Jangan-jangan kamu mau diajak balikan lagi." Mama kembali menggodaku. Ya ampun. Kak Vante itu kenapa orangnya jujur banget sih. Kenapa tidak berasalan apa begitu. Acara kumpul-kumpul atau apa kan bisa. Tidak perlu berkata yang sebenarnya pada Mama. "Terima aja kalau diajak balikan, Nad. Mama suka lho. Mama dukung seratus persen," lanjut Mama.
"Mama apaan, sih. Cuma jalan-jalan doang kok. Kak Vante aja yang ngelebih-lebihin," bantahku sambil menenteng tas slempang kecil yang dibelikan oleh Mama saat keluar kota bersama Papa. Aku pun langsung salim pada Mama. "Aku berangkat, ya, Ma."
"Terima aja ya kalau diajak balikan."
"Iya kalau nggak lupa."
"Masa lupa sih."
__ADS_1
"Iya, iya, Ma."
"Terima, ya?"
Rasanya aku ingin mengumpat saja bila yang berbicara denganku sekarang bukanlah orangtuaku. Lagian kenapa coba Mama yang pengin banget Kak Vante ngajak aku balikan. Padahal kan aku yang diajak, bukan Mama. Tapi rasa penginnya Mama itu melebihi rasa penginku. Apa karena lama tidak bertemu dengan Kak Vante jadinya begini? Atau jangan-jangan tadi saat Kak Vante bertemu Mama, dia mengatakan sesuatu yang aneh-aneh. Tidak heran juga jika Kak Vante benar-benar melakukannya.
"Nadisha terima, ya?"
"Hm." Aku cuma berdehem dan bergegas meninggalkan Mama. Jika lama-lama bersama Mama aku bisa ditanya-tanya itu terus. Terima ya? Terima. Pertanyaan yang memiliki jawaban pasti terselubung. Aku tidak heran juga. Jika Mama disatukan dengan Kak Vante rasanya langsung terdapat dua kepribadian menyebalkan yang hidup disekitarku. Mungkin sisi menyebalkannya itu dapat menular.
Selepas pergi dari Mama, aku langsung menemukan Kak Vante yang sudah duduk di kursi teras depan. Dia memakai kaos putih oversize yang dipadukan dengan celana jogger hitam dengan model yang berbeda saat dia menggunakan celana jogger juga di taman Palazon. Ku pikir Kak Vante ini tidak begitu menyukai celana yang pas di kakinya. Sepertinya dia lebih menyukai celana-celana yang longgar. Tak ketinggalan, dia memakai sepatu berwarna putih yang membuatnya semakin tampan. Ya, ku akui dia memang selalu tampan.
Tatapanku kini beralih padaku yang hanya memakai rok pendek berwiru yang berwarna maroon dengan atasan kaos putih yang aku padukan dengan jaket jeans berwarna pink. Astaga. Penampilanku sekarang terlalu mencolok. Kenapa juga tadi aku mengambil pakaian dengan warna yang sangat cerah coba. Kenapa tidak memakai baju dengan warna yang kusam saja supaya aku tidak terlihat mencolok seperti ini.
"Gue ganti baju sebentar, ya, Kak. I-inii terlalu mencolok," kataku.
"Gue pilihin."
"Eh," ucapku kaget. Kak Vante langsung berdiri dan masuk ke rumahku tanpa meminta izin padaku. Dia juga tidak tersenyum padaku. Entah mengapa dia kelihatan dingin di mataku sekarang. Aku jadi tidak percaya jika yang di rumahku ini adalah Kak Vante. Pasalnya dia kelihatan berubah sekali setelah dari taman Palazon waktu itu.
__ADS_1
Apa aku menyinggung perasaannya dengan perkataanku?
Ku rasa sebagiannya mungkin benar.
Aku terus mengikuti Kak Vante dari belakang. Dia berjalan menuju kamarku. Seolah dia sudah terbiasa datang ke rumahku sehingga tahu dimana letak kamarku. Selama berjalan pun Kak Vante hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Biasanya dia itu sudah bawelnya kebangetan yang ngomong inilah, itulah, atau apalah. Pokoknya tidak bisa diam. Dan sekarang, dia seolah sudah berubah drastis dalam dua hari.
Kak Vante sampai di kamarku. Dia melangkah menuju lemariku yang letaknya tidak jauh dari meja belajarku. Tangannya mulai bergerak untuk membuka lemariku. Saat aku tahu kemana tangannya itu akan bergerak, aku langsung menahan tangannya itu bergerak. Dia menoleh seolah meminta penjelasan. Aku paham maksud tatapannya itu.
"Isinya daleman, Kak." Aku menjelaskannya dengan terpaksa menutupi rasa maluku. Tidak seharusnya membahas masalah dalaman ini. Tapi jika tidak ku katakan yang sebenarnya pasti tidak akan percaya. Lagipula ini Mama kemana, sih? Kok nggak kelihatan. Padahal tadi suka muncul tiba-tiba.
Tangan Kak Vante ditarik olehnya sehingga peganganku lepas. Dia masih diam tak bersuara dan ekspresinya pun masih datar. Lalu tangannya beranjak pada pintu lemari yang kedua. Aku tidak begitu mempedulikannya. Daripada melihatnya memilih baju, lebih baik aku duduk bersantai di kasur. Aku duduk sambil melihat gerak-geriknya. Ini adalah pertama kalinya aku berada di dalam kamar berdua dengan cowok selain Kak Savalas. Jika dulu aku bersama dengan Kak Lesham di balkon kamar, bukan di kamar. Rasanya sekarang aku jadi nggak tenang.
Tak lama Kak Vante melemparkan beberapa helai pakaian padaku. Lalu dia berjalan menuju ke balkon kamarku. Ih, sok datar sekali. Dia bahkan tidak mengatakan sesuatu padaku. Namun dengan seenaknya langsung pergi sesuka hati. Sejenak aku melihat pakaian yang Kak Vante lemparkan padaku. Lumayan juga. Aku menyukai pilihannya itu.
Rok pendek berwarna putih yang dipadukan dengan kemeja vintage hitam pendek. Lalu aku memakai sneekers berwarna hitam. Ku lihat sejenak diriku di depan cermin. Lumayan. Eh, tapi tunggu. Bukannya jika aku memakai ini dan berjalan bersama dengan Kak Vante nanti dikira sedang couple warna hitam putih, ya? Wah, ternyata ada udang dibalik batu. Namun tidak bisa ku elak jika baju yang dipilihkannya ini bagus.
"Perfect." Tiba-tiba Kak Vante sudah berdiri di sampingku. Lantas di segera menjauh dariku. "Kak," panggilku. Dia tidak menoleh ataupun membalikkan badan. Dia hanya sekadar berhenti melangkah. "Makasih," ujarku.
Kak Vante pun kembali melanjutkan langkahnya. Sepertinya dia memang benar-benar sudah berubah.
__ADS_1
_____
Ada yang tau Vante kenapa?