
Friska sudah berdiri di ambang pintu kelas.
Kelihatannya akan ada yang dia bicarakan padaku, maybe?
"Nad, ada yang mau gue omongin sama lo. Tapi nggak di sini. Di kantin aja, ya." Katanya ketika aku baru saja hendak menyapanya. Seperti apa yang telah aku duga tadi. Friska itu orangnya heboh. Tidak mungkin jika dia hanya berdiri di depan kelas tanpa siapapun di sampingnya. Apalagi sejak tadi raut wajahnya sangat serius.
"Oke."
Akhirnya kami menuju ke kantin. Aku tidak meletakkan tasku lebih dulu. Kelamaan. Lebih baik ku bawa saja sekalin di kantin. Pagi ini tumben, kantin STANDAR tak seramai biasanya.
Seperti biasa, aku dan Friska duduk di kantin nomor satu. Sudah jadi kebiasaan rasanya.
"Mau ngomong apa, Fris?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Mama lo punya kembaran nggak?"
What? Kembaran? Tante Ovia maksudnya?
"Tante Ovia, ya? Adik Mama," kataku. Seketika Friska menggeleng. "Bukan adik. Tapi Kakak Mama lo, Nad."
Aku terkekeh mendengarnya. Ku kira penting. Ternyata hanya membicarakan ini. Sangat sederhana.
"Mama gue nggak punya Kakak, Fris."
"Masa, sih? Tapi kelihatannya lebih mudaan Mama lo, deh."
"Apaan, sih?"
Friska sejenak menghela napasnya, ia meminum air mineral yang berada tak jauh darinya. Aku diam. Tak berkata apa lagi. Ya, memang mau ngomong apa. Aku saja belum mengerti dengan apa yang Friska maksud. Dia saja ngomongnya sedikit-sedikit. Membuatku sulit untuk memahaminya. Tapi, tak apa. Akan ku coba untuk memahaminya.
"Jadi ini, kemarin waktu kelompakan Sejarah gue kebagian sama Zelo. Lo inget kan?" Akupun mengangguk. "Di situ gue masuk dalam zona nggak aman tahu, nggak? Gue dan Zelo nggak ada yang paham Sejarah. Ya, udah. Gue akhirnya rIbut sama dia. Eh, ujungnya dia malah ngasih hape-nya ke gue untuk nyari semua jawaban di google. Nggak kampret kan itu namanya? Dikira gue nggak punya kouta apa." Ceritanya berujung curhat.
Aku hanya mengangguk-angguk. Mataku tak jauh-jauh darinya. "Entahlah, gue nggak tahu, ya. Kenapa pada saat itu gue punya pikiran untuk buka-buka isi hape-nya. Dan lo tahu nggak? Apa yang gue temukan? Astagaaa! Kaget gue tahunya," cecarnya berlanjut.
"Emang apaan?"
"Foto nyokap lo pakai baju nggak layak banget, Nad!" teriaknya tiba-tiba. Tanganku refleks langsung memukul lengannya dengan keras. "Bisa nggak sih jangan teriak-teriak?! Malu tahu kalau ada yang dengar," omelku.
Aku salah dengar tidak sih?
"Gue tuh kaget parah. Ya, maklum."
"Tapi nggak harus teriak, kan?" tanyaku cemberut. Ya, walaupun aku belum tahu itu benar atau tidak tapi kalau ada yang dengar kan aku yang malu nantinya. Apalagi di STANDAR sebuah kabar kecil bisa menjadi besar hanya dengan beberapa jam. Karena itu, banyak sekali anak-anak yang berbeasiswa tidak betah sekolah di sini. Ya, mungkin karena STANDAR masih menggunakan sistem kasta. Ah, semua cerita itu ku dapat dari Kakakku. Itu juga yang mejadi faktor keraguanku untuk sekolah di sini. Tidak ada yang tahu kalau aku ini adiknya Kak Savalas kecuali Zelo, Kak Vante, dan Kak Maven yang sudah tahu dari kecil.
Setidaknya jika ada yang tahu bila aku ini adik Kak Savalas, mungkin banyak sekali yang mendekatiku hanya untuk mencuri hati Kak Savalas. Ada untungnya sih. Tapi ada pula ruginya. Kak Savalas tak mau berangkat sekolah lagi bersamaku. Kalaupun bareng, pasti aku akan diturunkan di gerbang sekolah saja. Kamipun juga jarang bertemu bila di sekolah. Sekalinya bertemu, tingkah pun tak seperti kakak adik. Aku sebenarnya memiliki banyak pertanyaan untuk itu. Oh, iya. Aku hampir lupa. Hari ini aku harus mencari Kak Lesham. Harus ketemu.
Friska terkekeh. "Iya, iya, sori. Jadi lanjut nggak, nih?" tanyanya. Tentu saja aku ingin lanjut. Kan sejak tadi dia yang memulainya. Masa iya akan berhenti setengah cerita seperti ini. Bahkan bila ku pikir-pikir tidak ada setengah. Mungkin baru seperempat saja.
"Zelo punya note khusus di hape-nya. Karena gue kepo, akhirnya gue buka note itu. dan ketemu lah sama foto wanita yang mirip banget sama Nyokap lo. Tapi lebih tuaan wanita itu, sih. Gue nganggepnya itu Kakak Nyokap lo, deh. Mau lihat nggak?" Akupun mengangguk saja. Tak menanggapi apapnn. Sementara Friska masih mengeluarkan benda pipih itu dari saku bajunya. Ku edarkan pandanganku ke arah lain. Berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan kami. Jari jemariku tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk meja. Aku sangat kepikiran dengan ucapan Friska barusan. Masa iya, Mamaku..., ah! Tidak mungkin. Mama saja jarang sekali keluar. Aku kan sejak kecil selalu bersama Mama. Dan aku tidak pernah melihat Mama keluar rumah dengan pakaian yang tidak layak. Semuanya biasa saja seperti Mama pada umumnya. Mama juga selalu mengajakku keluar. Hampir sering malahan. Mama keluar rumah tanpaku hanya dalam acara tertentu. Misalnya, rapat keluarga ataupun acara yang memang sudah formal.
__ADS_1
Segera ku alihkan pikiran burukku tentang Mama. Aku yakin bukan Mama yang Friska lihat di ponsel Zelo.
"Nih, lihat." Friska memberikan benda pipih berwarna hitam itu kepadaku. Aku seketika membulatkan mataku lebar-lebar saat melihatnya. Benar-benar di luar dugaan. Wajahnya mirip sekali dengan Mama. Hanya saja memang terlihat lebih tua dari Mama. Pakaiannnya. Seharusnya tidak perlu memakai pakaian lagi jika sudah seperti ini. Sangat tidak layak untuk dilihat. Apa benar ini Mamaku?
Harus ku tanyakan kepada siapa foto ini?
Tidak mungkin jika aku bertanya kepada Mama.
Foto ini benar-benar mirip Mama. Lagipula Mama tak punya kembaran lagi. Apalagi seorang Kakak. Sejak dulu yang ku tahu hanya Tante Ovia saja. Sekarang aku harus percaya kepada siapa? Mama? Atau foto ini? Sebentar..., lalu apa hubungannya dengan Zelo?
"Apa gue bilang. Mirip kan?"
Aku menoleh, mengiakan ucapan Friska. Karena kenyatannya memang mirip sekali dengan Mama. Tentu kalau aku bertanya kepada Kak Savalas, apa akan dijawab? Rasanya tidak mungkin. Aku tidak yakin jika Kak Savalas akan menjawabnya. Kalau Papa? Jangan. Papa sibuk bekerja. Aku tidak mau menambah beban pikirannya. Tidak ada jalan lain selain bertanya kepada Zelo.
Aku mengembalikan ponsel Friska. "Gue itu nggak pernah bohong. Tapi, gue heran deh. Kenapa Zelo nyimpen foto begituan, ya? Keluarga kalian ada masalah?" Friska menatapku penuh pertanyaan. Aku tak bisa menjawab. Aku hanya tersenyum saja. "Kirim ke gue, ya," kataku selanjutnya.
Mumpung masih pagi. Aku akan mencari Zelo sekarang sebelum nanti Zelo disibukkan dengan tugas-tugasnya. Itu akan lebih membebaninya.
Ku dorong kursi ke belakang dan beranjak berdiri. Lantas aku langsung membalikkan badan. Namun, Friska menahan tanganku. "Lo mau ke mana, Nad? Pembahasan kita belum selesai."
"Ada urusan keluarga. Lo jangan lupa kirim fotonya, ya. Gue pergi dulu. Makasih," ucapku mencari alasan. Aku langsung menepis lengannya dan segera pergi meninggalkan kantin.
Mataku beralih ke kanan kiri. Tapi masih belum juga menemukan Zelo. Dengan pikiran buruk yang bergelut di pikiranku aku tetap mencari Zelo. Kini rasa penasaranku teramat banyak. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku harus menyelesaiakan satu permasalahanku ini. Setelah itu, aku akan menyelesaikan masalahku dengan anak Stigma. Jika bukan ku mulai hari ini. Aku akan selamanya terdiam dengan berbagai rasa penasaran dan pertanyaan yang selalu muncul.
Setidaknya, aku harus mendapat jawaban.
"Nad."
"Nadisha!" teriak seseorang itu lagi. Aku hanya mengabaikannya. Aku hanya akan meresponnya kembali jika yang memanggilku itu Zelo. Aku hanya ingin bertemu dia sekarang. Dengan menghela napas, aku melanjutkan kembali langkahku. Ku arahkan diriku ke perpustakaan. Biasanya anak-anak Olimpiade akan berkumpul di perpustakaan pagi harinya. Semoga saja begitu.
Ketika aku hendak masuk ke perpustakaan, tak sengaja Kak Nehan baru saja keluar dari sana. Aku berhenti melangkah, begitupun dengannya. Aku segera menundukkan kepalaku. Malu. Itulah yang ku rasakan sekarang. Entah mengapa, bertemu Kak Nehan malah membuatku malu bukannya senang. Akupun juga tak tahu mengapa. Mungkin karena Kak Inggrid.
Sekian detik Kak Nehan masih diam. Dia berdiri di depanku sambil memegang dua buku yang cukup tebal. Melihatnya saja membuatku menghela napas yang panjang.
Ingat, Nadisha!
Zelo.
Akupun langsung mendongak. Menatap matanya. Ini pertama kalinya kami bertatapan setelah sekian lama. Aku jadi merindukannya. Tuh, kan! Terbawa lagi aku. Ingat, Nad! Ingat tujuan.
"Ehm, di dalam ada Zelo nggak, Kak?" tanyaku mengawali pembicaraan. Dengan diam seperti tadi malah akan membuatku berharap lebih banyak. "Nyari Zelo ternyata. Bukan nyari saya, ya?" tanya Kak Nehan yang entah itu sengaja atau tidak.
Mataku hanya berkedip-kedip saja. Seolah apa yang Kak Nehan katakana barusan adalah mimpi. Aneh sekali.
Kak Nehan tertawa kecil.
Sungguh manis.
"Zelo ada kok," lanjutnya. Aku mengangguk-angguk sambil menyunggingkan senyumku yang paling kikuk. "O-oke, makasih, Kak."
__ADS_1
"Jangan masuk dulu."
Aku tak jadi melangkah. Membeku dalam tempat ini sekarang. Ku paksakan wajahku untuk menoleh kepada Kak Nehan. Jujur. Ini cukup sulit bagiku. Apalagi aku selalu teringat kesan pertama kalinya aku bertemu dengannya di STANDAR.
*Dengan riang aku melangkahkan kakiku menuju ke barisan depan. Aku berjalan sambil membenarkan gelang jamku hingga aku menabrak seseorang. Seketika aku langsung menatap orang itu. Ya, Tuhan, kenapa masalah selalu datang kepadaku?
Melihat siapa orang yang telah kutabrak itu..., jantungku rasanya sudah jatuh ke usus.
Dan sekarang,
tamatlah riwayatku.
Aku terus meyakinkan diriku bahwa aku harus menjaga image. Aku tidak boleh kelihatan bodoh.
"Maaf, Kak. Gue nggak sengaja," ucapku lancar. Meskipun sebelumnya sempat aku latih di dalam hati hingga lancer seperti itu. Kau tahu? Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu dengannya. Dan sekarang akhirnya kami bertemu kembali. Aku merasa agak canggung. Ketahuilah, dia sudah banyak berubah sekarang. Boleh aku katakana bahwa dia semakin ganteng dan keren. Model rambutnya tidak pernah berubah dari dulu. Apalagi aroma parfumnya. Aku masih ingat betul ketika waktu SMP dia juga memakai parfum yang sedang kuhirup sekarang.
Kak Nehan aku rindu*!
Iya, orang yang telah ku tabrak adalah Kak Nehan. Orang yang ku sukai sejak SMP sampai sekarang.
*Kak Nehan menatap sekelilingnya kemudian menatap mataku dan berkata. "Ya," jawaban yang sangat singkat.
Aku tidak peduli jika dia menjawab singkat.
Mendengar dia berbicara saja rasanya aku ingin pingsan. Sumpah! Kenapa aku jadi senorak ini, sih?
Ingat, Nadisha! Ingat!
Aku masih terdiam dan menatap Kak Nehan. Dia hendak pergi, tetapi aku memegang lengan tangannya agar dia tidak jadi pergi. Kak Nehan mengernyit. "Lepas," ucapnya.
Aku melepas tangannya sambil mengercutkan bibirku. "Jangan pergi dulu, Kak. Gue mau nanya sesuatu. Kak Nehan ingat gue, nggak?"
"Nggak."
Kak Nehan langsung pergi setelah menjawab pertanyaanku. Seakan-akan dia hanya menjawab dengan seenaknya tanpa berpikir. Apa Kak Nehan sudah lupa denganku?
Atau memang sengaja melupakanku*?
Pertemuan pertama setelah dua tahun tidak bertemu memberikan kesan yang buruk bagiku. Aku sangat kecewa.
Itu adalah kesan yang buruk bagiku.
"Kenapa, Kak?" tanyaku.
Kak Nehan memegang bahuku seraya berkata. "Zelo lagi nggak bersahabat. Jadi, hati-hati." Setelah mengucapkan itu Kak Nehan langsung pergi. Aneh.
Aku tak lagi senang mendengarnya berbicara padaku. Apalagi Kak Nehan memberiku perhatian. Ini kan yang aku tunggu-tunggu dari dulu? Tapi kenapa rasanya sudah berbeda?
Apa mungkin aku sudah move on?
__ADS_1
Kalau iya, dengan siapa?