Bena

Bena
BAB 20D


__ADS_3

"Apa kabar, Nad?"


"Baik, Kak." Aku menunduk tak berani menatap. "Kak Lesham sendiri gimana?" tanyaku.


"Jauh dari lo ngerasa beda aja. Tapi tetap baik kok. Walaupun nggak baik pun bakal diusahain biar baik." Dia tersenyum padaku. Sudah lama tak melihatnya tersenyum.


Lalu tatapanku mengarah pada Kak Syden.


"Gue baik," katanya tiba-tiba. Aku membelalakkan mataku melihatnya mengucapkan itu. Sumpah! Aku kaget. Aku bahkan belum bersuara sedikit pun tetapi dia sudah berkata begitu. Nyatanya bukan hanya aku saja yang terkejut, yang ada di sekitar kami pun sama juga.


Aku meringis. "Aku kan belum bilang apa-apa, Kak."


"Oh."


Sepertinya dia masih belum bisa menerima kehadiranku lagi. Matanya sejak tadi tak tertuju kepadaku. Aku jadi merasa tidak enak. Tapi semua itu tidak bertahan lama karena beberapa detik kemudian Kak Vante datang dengan menggandeng seseorang. Aku memperhatikan kehadirannya dengan orang lain itu, yang sialnya aku mengenal orang itu. Dia sedang melambaikan tangannya kepadaku. Sementara tangan kanannya masih tergenggam dengan erat bersama tangan Kak Vante.


Aku meneguk ludahku kasar. Ini kejutan seperti apa coba?


Aku memang tidak suka Kak Vante terus-terusan mendekatiku. Tetapi aku lebih tidak suka jika Kak Vante menggandengan cewek lain di depan mataku. Aku tidak masalah jika seandainya itu tidak terpampang nyata didepanku secara langsung. Apalagi melihat siapa yang digandeng membuatku heran sekaligus bertanya-tanya.


Sejak kapan?


"Ih, ada Kak Tavis juga ternyata. Aaa, gue jadi gugup." Orang itu langsung bersuara, membuat yang lainnya terkekeh.


Kak Tavis mengangguk-angguk dengan kekehannya. "Iya," jawabnya.


Aku masih berdiri dengan diam sambil memperhatikannya. Kak Vante menatap mataku. Dan tatapannya itu membuatku ingin menonjok wajahnya. Tadi dia datang kesini denganku. Setelah sampai disini dia meninggalkanku lalu menjemput orang lain. Aku saja yang dijemput duluan tidak digandeng seperti itu. Jangan kan digandeng, sejak dari rumah saja aku dicueki.


Ini perasaan apa coba? Rasanya gundah. Aku tiba-tiba tidak menyukai situasi ini. Please. Ini aku nggak lagi cemburu, kan? Ah tidak mungkin. Tidak ada ceritanya aku cemburu. Aku hanya merasa tidak suka saja dengan perbedaan perilaku Kak Vante padaku dan orang lain. Berbanding terbalik.


"Eh, Nadisha kok nggak bilang kalau datang juga? Kan kita bisa berangkat barengan. Iya, kan, Kak?" Orang itu---Friska---meminta pendapat Kak Vante. Sedangkan yang diminta pendapat hanya berdehem saja. Tuh, kan! Menyebalkan. Dia sama sekali tidak mau berbicara. Aku ini juga kenapa. Perasaanku jadi aneh melihat kedatangan Kak Vante yang menggandeng Friska.


Jikalau pun mereka memiliki hubungan, tidak ada urusannya denganku kan?


Kenapa aku cemas, sih!


"Mumpung semua udah hadir kita tunggu tamu spesialnya," ujar Kak Maven yang tiba-tiba nongol. Perasaan tadi mau beli kacang, tapi sekarang dia datang dengan tangan kosong. Dia tidak membawa apa-apa. Ku rasa izinnya membeli kacang hanyalah alibinya belaka. Namun, dia sebenarnya pergi kemana jika bukan ke warung?


Friska masih berada di samping Kak Vante meskipun genggaman itu sudah terlepas. Kak Lesham duduk di atas meja bar sambil memegang segelas air putih, aku berada di sampingnya, berdiri kaku. Sebelumnya aku ada disamping Kak Syden, namun aku mundur beberapa langkah setelah kehadiran Kak Vante. Sementara Kak Syden duduk bersama Kak Tavis di sofa yang ada tak jauh dari kami. Kak Nehan dan Kak Jin duduk di kursi bar. Lalu Jastin duduk di sofa pojok dekat komputer yang digunakan untuk bermain game.


"Tamu spesial?" Kak Tavis angkat suara mewakili apa yang ku batinkan. "Siapa, Den?"


Kak Syden terlihat jengah untuk menjawab pertanyaan Kak Tavis. "Bukan urusan lo."


"Tapi kan pengin tahu." Kak Tavis menoleh pada Kak Lesham dan aku. "Lo tahu siapa, Sham?" Akan tetapi pertanyaan itu hanya diabaikan oleh Kak Lesham. Dia mengedikkan kedua bahunya dengan sengaja. Lagipula mana mungkin Kak Lesham mau membocorkannya. Anak Stigma kan memang maunya terrahasiakan semuanya sebelum waktu pertunjukannya.

__ADS_1


"Kak, duduk disana yuk!" Friska menarik Kak Vante ke sebuah sofa yang letaknya ada di sampingku tepat. Dari semua sofa yang ada, kenapa harus yang disampingku? Harus banget pamer kemesraan didepanku? Friska juga kenapa tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Dia itu sebenarnya kenapa, sih? Kesannya aku seperti ditikung tahu. Ya, walaupun Kak Vante sudah menjadi mantanku.


Kak Lesham turun dari meja bar. Dia merangkulku. "Mau duduk dimana?" tanyanya. Aku mengedipkan mataku beberapa kali saking kagetnya. "Gue temenin," tambahnya.


Hatiku jadi semakin kacau!


Tadi gundah gara-gara Kak Vante. Sekarang berbunga-bunga karena rasa peduli Kak Lesham padaku. Aku jadi tidak tahu sebenarnya hatiku ini untuk siapa. Setiap ada Kak Vante, Kak Lesham, dan Kak Jin hatiku selalu nggak benar. Aku juga tidak mungkin menyukai ketiganya. Lalu untuk siapa rasa sukaku ini?


"Kok diem?" Aku menggeleng, rasanya pengin musnah saja aku. "Tersera---" ucapanku sudah terpotong duluan oleh Kak Lesham. "Jangan bilang terserah lagi."


"Kenapa?"


"Gue takut hati gue goyah. Dengan terserah, itu artinya lo membebaskan apa yang mau gue lakuin." Dia menatapku lekat. "Lo nggak mau gue dekat sama lo, kan?"


"Sham, inget," ujar Kak Nehan.


Aku semakin ingin diam saja.


"Iya, Bang. Gue nggak lagi usaha, kok. Gue cuma mastiin aja," bantah Kak Lesham.


Aku rasa perbincangan mereka itu pasti mengarah pada permainan itu.


"Pacar gue itu, Sham! Jangan dirangkul sembarangan. Izin dulu sama pacarnya," tutur Jastin yang datang menghampiriku. Dia mendorong Kak Lesham. "Ssstt minggir! Pada nggak tahu diri banget, sih. Udah ada yang punya masih aja dideketin. Nggak takut dosa lo pada?"


"Belagu lo," cicit Kak Lesham.


"Tuh, kan. Tamunya udah dateng!" seru Kak Maven.


"Lo nggak salah, Ven?"


"Ngapain ada dia coba."


"Lo ngapain kesini, hah?! Nggak puas bikin Nadisha sakit hati?" Friska yang tadinya sibuk dengan Kak Vante langsung bangkit.


"Lo juga datang?! Ih, apa sih! Kok ada mereka berdua?"


Kak Jin mendorong kursinya. "Kalian ikut gue ke balkon. Gue tunggu," ucap Kak Jin menunjuk aku dan tamu spesial itu.


"Ini ada apa sih? Kok gue nggak ngerti," celutuk Kak Tavis. Aku mulai melangkah ke balkon duluan. "Nggak usah ngerti," jawab Kak Syden cepat.


Friska mendekatiku, dia menarik lenganku. "Nad, jangan deh. Gue ikut, ya? Perasaan gue nggak enak, nih," ujarnya. Aku melepas tangannya dengan gelengan. "Nggak usah," kataku singkat lalu meninggalkannya.


"Lo kepo banget, sih, Fris. Apa-apa pengin ikut," sahut Jastin.


"Kurang kerjaan emang." Kak Maven ikut berkomentar.

__ADS_1


"Gemes deh sama mulut kalian."


"Sini peluk," lanjut Kak Maven.


"Ogaaaahh!"


Aku mulai meninggalkan keberisikan itu. Di balkon Kak Jin sudah duduk di kursi yang telah ku duduki dengan Kak Tavis tadi. Aku duduk di sampingnya. Lalu orang yang disebut tamu itu datang, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Dia duduk di samping kanan Kak Jin sementara aku di samping kiri Kak Jin. Ya, Kak Jin menjadi penengahnya.


"Ada yang mau gue lurusin tentang kalian," suara Kak Jin mulai terdengar serius. Aku bahkan tidak bisa mendengarnya bernapas. Maksudku hembusan napasnya tak ku dengar karena terlalu kaku.


"Lurusin apa, sih, Kak? Antara gue sama dia itu udah kelar," bantah tamu itu. Sepertinya dia muak berada di balkon ini denganku. Aku pun sebenarnya juga muak. Tetapi aku juga kangen. Sudah lama dia pergi dan baru kembali sekarang.


"Zelo, diam dulu ya. Sampai gue selesai cerita jangan ada yang bicara. Bisa?"


"Iya, Kak." Aku menyetujuinya.


Kak Jin menoleh ke kanan. "Zelo gimana?"


"Iya, iya, terserah. Tapi jangan panjang-panjang ceritanya. Gue udah muak, Kak."


"Iya."


Aku menghela napas sejenak.


"Sebenarnya kalian udah salah paham."


"Salah paham gimana?" Zelo menyahut lagi. Kak Jin pun menatapnya sedikit tajam karena sudah berbicara.


"Iya, iya, gue diem nih. Puas?"


Kak Jin kembali fokus dan terlihat serius. Aku beberapa kali meliriknya, namun hanya sebentar.


"Orang yang udah bikin keluarga lo hancur itu bukan Mamanya Nadisha," kata Kak Jin dengan pelan. "Selama ini lo nggak ngerti dan lo salah mengartikan."


Zelo mengernyit. "Maksud Kak Jin apa, sih?"


Aku semakin bingung. Bagaimana bisa Kak Jin mengetahui masalah ini? Ini kan sudah lama sekali.


"Ada satu hal yang nggak lo ngerti. Dan satu hal itu bikin persahabatan lo sama Nadisha selesai."


"Apa satu hal itu?"


Zelo mulai penasaran sama sepertiku yang sejak tadi hanya diam menunggu Zelo bersuara mewakili pertanyaanku.


"Latar belakang Panditha."

__ADS_1


_____


Ada yang punya platfrom baca lain selain NT/MT?


__ADS_2