Bena

Bena
BAB 13C


__ADS_3

Orang-orang berlalu lalang di depanku. Hari ini sangat ramai sekali. Aku merasa heran sendiri. Ini bukan weekend, tapi ramainya sudah seperti weekend. Banyak yang sudah berbelanja. Sepertinya aku lebih tertarik untuk melihat orang-orang di sekitarku daripada harus ikut berbelanja.


"Ini tanggal merah. Wajar kalau rame." Aku menoleh. Ku pikir hanya setiap weekend saja pasar ini ramai. Karena banyak sekali anak-anak kecil yang libur sekolah. Biasanya mereka suka pergi ke pasar.


"Tadi Mama ngasih catatan, kan?"


Aku kembali menoleh dengan heran. Tadi aku mendengar dia mengatakan kata 'mama' di depanku. Ini itu yang dimaksud mamanya siapa? Aku atau dia?


"Mama mertua maksudnya," ralatnya saat aku masih menatapnya heran. Dia menyengir senang.


"Apa, sih, Kak! Jangan ngomong yang nggak-nggak, deh." Aku jengkel sendiri.


Tanggal merah ini memang rencananya aku, Mama, dan Papa akan menggunakan waktu luang ini untuk makan bersama. Intinya berkumpul di rumah sambil bersenang-senang. Kebetulan kemarin saat Kak Lesham mengantarku pulang, Mama menawarinya untuk ikut menghabiskan tanggal merah ini bersama.


Makanya sekarang aku dan Kak Lesham sedang berada di pasar. Mama yang memintaku untuk belanja beberapa sayuran. Katanya jika belanja di pasar pagi-pagi seperti ini sayurannya masih segar. Aku tidak tahu soal itu. Jadinya aku menurut saja untuk belanja di pasar.


Seumur-umur baru kali ini aku belanja di pasar tidak dengan Mamaku. Dengan Kak Lesham seperti ini aku tidak begitu yakin akan benar berbelanjanya. Secara kan Kak Lesham bukan anak Stig Cooking. Seharusnya aku ke pasar mengajak Kak Syden saja biar cepat selesai.


"Mulai dari mana, nih?" tanyanya. Aku mana tahu harus membeli apa. Biasanya juga Mama yang belanja dan aku hanya mengekorinya saja.


Aku menghela napas. "Nggak tahu, Kak. Gue nggak biasa belanja."


"Padahal lo cewek kan, ya? Harus bisa dong. Nantinya kan lo bakal jadi ibu rumah tangga juga." Kak Lesham malah menasehatiku. Aku juga tahu jika nantinya aku akan menjadi ibu rumah tangga. Secara kan memang kelaminku perempuan. Kalau aku laki-laki, aku akan jadi kepala rumah tangga.


Kak Lesham menggenggam tanganku. "Gue bantu, ayo."


"Eeh, emang Kakak ngerti?"


"Sedikit."


Dia tak lagi berdiri di sampingku. Cowok ini menarikku menuju ke pasar. Aku hanya mengikutinya saja. Ada sedikit keraguan padaku. Tapi melihat Kak Lesham yang juga temannya Kak Syden, mungkin dia tahulah sedikit-sedikit.


Yang ku bingungkan dari belanja hanya belinya berapa. Seumpama aku beli kunyit. Aku harus beli berapa?


Kalau jenis-jenis sayur aku tahu semuanya. Hanya saja aku sulit membedakan antara jahe, kunyit, dan yang sejenisnya. Aku hanya bisa membedakan setelah aku memotongnya. Jika tidak seperti itu aku tidak tahu yang ku pegang ini apa.


Kak Lesham mengajakku ke toko sayuran dahulu. Dia mengambil catatan yang semula ada di tangan kiriku.


"Bang, bayamnya tiga iket, ya. Terus brokolinya lima ribu aja. Ini kangkungnya baru diambil ya, Bang? Segar banget keliatannya," ujar Kak Lesham sendirinya. Aku hanya diam menatapnya heran.


Abang penjual mengangguk-angguk. "Iya, Mas. Baru diambil tadi jam lima pagi sama istri saya," kata Abang penjual.

__ADS_1


"Pagi banget. Nggak gelap apa, Bang?"


"Ya justru yang gelap itu enak, Mas."


"Ah, Abang bisa aja." Kak Lesham tertawa kecil. Aku tidak paham dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Lantas ku lihat Kak Lesham mengambik seikat kangkung yang masih segar. "Boleh, deh ini dua iket. Bawang merahnya sama bawang putihnya setengah. Terus cabai merahnya sekilo aja. Cabai rawitnya kasih sepuluh aja, ntar kepedasan. Sama ini daun bawang kayaknya enak." Mata Kak Lesham masih tidak berhenti memperhatikan sayuran di depannya. "Kentangnya setengah aja. Seledrinya sepaket aja sama wortel kol, kayak mau buat sup biasanya. Terus apa lagi, ya?"


Aku hanya mematung. Kak Lesham persis seperti ibu-ibu.


"Apa yang kurang ya, Nad?" Dia menoleh kepadaku sambil bertanya. Aku menunjuk catatan yang ada di tangannya. "Kan dicatatan ada, Kak," kataku.


"Nggak keinget."


Dia langsung kembali lagi fokus pada apa yang harus dibeli. Aku hanya diam saja memperhatikannya. Dia berbicara banyak mengenai ini itu dengan si Abang penjual. Ternyata bukan hanya denganku ataupun dengan Mama. Memang dari sana Kak Lesham sudah pandai bergaul dengan siapa saja.


Ku lihat sesekali dia dan Abang penjual tertawa. Aku tidak paham dengan apa yang dibicarakan. Namun, aku suka melihatnya tersenyum seperti itu. Aku jadi merasa tenang.


"Pacarnya, Mas?" Abang penjual menunjuk sambil tersenyum.


Aku menggeleng.


"Baru calon, Bang. Doain, ya." Kak Lesham menjawabnya sambil melihatku. Dia tersenyum lagi.


"Buru-buru tembak, Mas, sebelum keduluan sama yang lain. Mbaknya cantik soalnya."


"Waah kalau gitu harus gercep. Nggak boleh disia-siain."


"Abang mau?" Aku ditarik oleh Kak Lesham agar lebih dekat dengannya. "Apaan, sih," tuturku jengkel.


Si Abang penjual menggeleng. "Aah, nggak. Saya udah punya istri, Mas. Kalau belum mah saya mau."


"Tuh kan ternyata lo laris juga."


___


Aku berbelanja banyak dengan Kak Lesham pagi ini. Ada tiga kresek merah besar yang kami bawa. Aku pikir yang ada dicatatan Mama tidak sebanyak ini. Tapi apa boleh buat. Kak Lesham sudah membelinya. Pakai uangnya sendiri malah.


"Kalau nggak mau diganti setengahan deh, oke?" Aku masih membujuknya untuk membagi pembayaran semua belanjaan ini. Tapi di dalam mobil ini dia masih menggeleng. "Nggak ada setengah-setengah. Kan nanti gue juga ikut makan," katanya.


"Tapi nggak sebanding sama apa yang Kakak makan. Gue jadi nggak enak."


"Kalau nggak enak traktir gue aja besok pulang sekolah. Gimana?" Dia menyeriangiku. "Oke," jawabku.

__ADS_1


Tidak apalah. Daripada aku sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk semua belanjaan ini. Aku malah semakin tidak enak nanti.


"Serius deh. Ini itu kayak belanja bulanan tahu, nggak. Banyak banget. Emang Mama nulisnya segitu, ya?" tanyaku masih penasaran.


Kak Lesham terkekeh. Dia menghentikan mobilnya karena lampu merah.


"Nggak, sih."


Aku terkejut mendengarnya. Tuh, kan! Memang Mama tidak akan menyuruhku untuk belanja sebanyak ini. Aku sudah curiga sejak tadi.


"Kak, ini semua buat apa?"


"Biar lo nggak perlu belanja bulanan."


"Ini nguras kantong banget loh, Kak."


"Biasa aja."


Ya ampun! Biasa saja katanya? Dia itu sebenarnya anak siapa, sih? Serasa uangnya banyak sekali. Atau memang jatah uang sakunya perbulan bisa sampai puluhan juta?


Anak sultan mungkin.


"Nggak usah kaget gitu kali mukanya," ujar Kak Lesham sambil tertawa.


Aku langsung menatap lurus ke depan. Dia ini memang selalu membuatku terkejut. Beruntung aku bukan tipikal seperti Friska yang apa-apa bisa teriak.


"Limapuluh juta perbulan," katanya. Aku mengernyit bingung. Ini apa, ya? Aku tidak mengerti. "Uang saku gue. Jadi lo nggak perlu ribet buat ganti," lanjutnya.


Beneran anak sultan. Baru dua bulan saja sekolah dia sudah bisa membeli mobil. Bayangkan jika dalam setahun. Limapuluh juta dikali duabelas. Astaga..., enam ratus juta dalam setahunnya. Omong-omong, itu uang atau daun, sih? Kayak mudah banget dapatnya.


"Itu beneran, Kak?"


Kak Lesham meletakkan ponselnya di depan. "Apaan?"


"Limapuluh."


"Kalau gue bilang dua kali lipatnya percaya?" Dia menyeriangiku.


Aku bernapas dulu sebentar. Dua kali lipat artinya seratus juga. Kalau dalam setahunnya bisa sampai---ya ampun. Aku tidak bisa membayangkannya. Kalau jatah uang sakunya sudah sebanyak itu rasanya dia tidak akan pernah hidup dalam kekurangan.


Kak Lesham menepuk bahuku. "Nggak, bercanda."

__ADS_1


Aku pikir serius. Tapi beruntung lah. Jika sampai serius aku sulit membayangkannya.


__ADS_2