
Jika membunuh orang itu tidak dosa, mungkin aku sudah melakukannya sekarang.
"Mau langsung pulang apa jalan-jalan dulu?" tanya Kak Vante yang sejak tadi tak ada henti-hentinya memegang tanganku. Sudah beberapa kali aku berusaha melepaskan tangannya. Namun selalu saja gagal. Kekuatannya tak sebanding denganku. "Emm, jalan-jalan dulu kali, ya? Iya, jalan-jalan dulu."
Aku tak habis pikir dengannya.
Dia yang bertanya, dia pula yang menjawab.
Marvellous memang.
"Kak, gue mau langsung pulang aja."
"Kan belum jalan-jalan. Lo itu pacar gue, setidaknya sebagai pacar lo harus pernah jalan-jalan sama gue. Itu hukumnya wajib." Aku mengernyit. Wajib dari mana coba? Tidak ada dalil ataupun orang cerdas yang mengatakan seperti. Kak Vante memang suka mengada-ada.
"Iya, terserah Kakak. Tapi lain kali, ya. Sekarang pulang dulu aja."
"Lo kenapa, sih?"
"Kenapa apanya? Gue nggak apa-apa kok."
"Dibalik kata nggak ada apa-apa pasti ada apa-apa. Udah deh ngaku. Lo pikir gue nggak ngerti kamus cewek itu gimana?" Kak Vante tetap kekeh ingin tahu. Perkataannya memang selalu membuatku terheran-heran. Aku tak bisa berpikir dengan Kak Savalas. Bisa-bisanya dia membiarkan aku menjalin hubungan tidak jelas ini dengan orang yang tak jelas pula. Kalau tingkah lakunya kalem, ramah, baik, murah senyum, aku tak masalah. Sedangkan ini? Jangan kan kalem. Apa-apa saja suka memaksa orang lain. Mau orang yang dipaksa itu setuju atau tidak, dia tetap memaksa sampai orang yang dipaksa mau. Benar-benar keras. Jauh dari kata kalem.
Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal. Kak Vante benar-benar harus dimusnahkan jika aku memang ingin hidup bahagia.
"Kak Vante nggak punya hak untuk tahu," kataku sambil menoleh ke arah lain. Sementara Kak Vante langsung menarik tubuhku untuk menghadapnya. "Gue punya hak itu," ucapnya serius.
Melihatnya seperti itu malah membuatku ingin tertawa saja.
Selama aku mengenalnya, aku tak pernah melihat Kak Vante berbicara dan menatapku dengan serius. Baru kali ini. Ah, aku benar-benar bingung. Aku ini sebenarnya pacar Kak Vante bukan, sih? Kalau iya, kenapa rasanya tidak. Aku bingung dengan diriku sendiri. Apa iya aku memang harus menganggapnya sebagai pacarku?
Kak Nehan sudah menjadi milik orang lain.
Sudah lama pula.
Tidak mungkin jika aku menjadi pelakor, kan?
Aku masih sayang diriku sendiri.
Meskipun Kak Vante menyebalkan, namun dia memiliki sisi baik. Dia begitu perhatian kepadaku. Ya, walau terkadang cara penyampainnya cukup membuatku naik darah. Tapi, setelah ku pikir-pikir dia memang baik. Kak Vante peduli padaku. Dia selalu ada saat aku membutuhkan orang lain.
Apa mungkin aku memang harus mencobanya?
Mencoba berpacaran dengan Kak Vante.
Aku tidak memiliki harapan lain selain Kak Vante. Mungkin jika Kak Lesham masih mengirimiku pesan dan sering bertemu di sekolah, bisa jadi aku memilihnya. Dari awal kami bertemu, aku sudah tertarik padanya. Walaupun awalnya hanya sekadar tertarik saja. Tingkahnya selalu saja membuatku penasaran dengan Kak Lesham lebih dalam. Seolah aku ingin tahu banyak hal tentangnya. Bahkan bukan hanya tentang Kak Lesham saja. Tetapi juga mengenai Stigma. Gara-gara Kak Lesham, aku semakin ingin tahu akan Stigma yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya untukku.
__ADS_1
Jujur, aku rindu Kak Lesham.
Aku ingin sekali mencarinya. Tapi aku takut dikira yang tidak-tidak. Begitu banyak hal negatif yang menempel di pikiranku.
Selain Kak Lesham, tidak ada orang lain lagi yang ingin ku ketahui lebih dalam. Sebenarnya Kak Jin cukup sempurna. Tapi, aku tidak memiliki keberanian. Apalagi Kak Raden masih saja mengincar Kak Jin. Jika aku ikut-ikut mengincarnya, nanti yang ada aku malah terkena masalah. Tidak-tidak! Itu sangat buruk,
Okelah.
Layaknya aku memang harus mencoba.
Ada pepatah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Karena itu, akan ku coba mengenal Kak Vante lebih jauh. Siapa tahu dia memang benar-benar pengobat rasaku untuk Kak Nehan. Lagipula, tak ada salahnya kan mencoba?
"Hak sebagai apa?" tanyaku.
"Ya, sebagai pacar, dong."
Kak Vante mengacak-acak puncak rambutku.
"Masalah nggak akan kelar kalau dipendam sendiri. Sebagai pacar gue mau bantu lo," tambah Kak Vante yang saat itu juga melemparkan senyumannya kepadaku. "Jadikan pacar lo ini sebagai obat dari semua masalah lo."
Aku ikut mengulum senyum. Aku juga tidak tahu kenapa. Melihat Kak Vante yang tersenyum kepadaku, aku refleks ikut tersenyum. Seakan senyumannya itu adalah candu.
"Adik pacar cantik kalau lagi senyum."
"Nadisha," panggil Mama yang sedang mencuci piring di dapur. Sedangkan aku masih sarapan di meja. Kebetulan Kak Savalas sedang menginap di rumah Kak Maven, dan kebetulan juga Papa masih bersiap-siap di kamar jadi..., sekarang hanya tinggal aku dan Mama. Rumah seakan sepi tanpa adu mulutku dengan Kak Savalas. Aku juga semalam bingung harus bercerita kepada siapa akan masalahku dengan Zelo. Kak Vante juga sudah tahu. Aku sudah menceritakannya kemarin waktu dia mengantarku pulang. Namun, Kak Vante tidak memberiku saran apapun. Dia hanya menyuruhku untuk menjaga kesehatanku dan katanya dia akan membantuku untuk berbaikan dengan Zelo. Entah kapan dan dengan apa.
"Iya, Ma."
"Pacar kamu itu kelihatannya kenal akrab dengan Sava, ya?"
Kak Vante kenal akrab dengan Kak Savalas?
Apa iya?
"Nadisha nggak tahu, Ma. Memang kenapa?"
"Nggak apa-apa. Coba deh kamu cari tahu. Mama itu udah lama nggak dengar Kakak kamu cerita. Siapa tahu aja dia udah punya pacar diam-diam." Ah, ya! Perkataan Mama barusan mengingatkan aku kepada Kak Raden yang menelepon Kak Savalas. Apa aku coba tanyakan ke Mama?
Siapa tahu saja Mama mengenal Kak Raden.
"Oke, deh. Oh, iya. Mama kenal sama Kak Raden nggak? Ehm, atau mungkin Kak Savalas pernah cerita ke Mama." Aku menyelesaikan sarapanku lantas pergi menghampiri Mama. Aku ingin mendengar perkataan Mama lebih dekat. "Raden, ya? Kalau nggak salah dulu itu pernah diajak ke rumah. Sempat di kenalin juga sama Mama. Kamu waktu itu kayaknya lagi kemah. Makanya nggak tahu."
Pernah diajak ke rumah?
Dikenalin sama Mama?
__ADS_1
Memang Kak Raden itu siapa?
Aku jadi tambah bingung.
"Dikenalin sebagai apa, Ma?" tanyaku lagi. Sungguh, kenapa aku baru tahu sekarang. Dan kenapa tidak ada yang cerita kepadaku akan hal itu. Selama ini Kak Savalas selalu ingin tahu tentang aku. Giliran aku yang ingin tahu tentangnya malah dilarang.
Mama diam sebentar. Sembari berpikir. Mungkin Mama sudah agak lupa dengan kejadian waktu itu.
"Kalau nggak salah sebagai pacar. Entahlah, Mama udah lupa. Itu kejadiannya udah dulu banget. Waktu kamu masih SMP." Kata Mama jelas. Aku termangu mendengarnya.
Kak Savalas sudah pernah berpacaran.
Dan aku baru tahu sekarang?
Adik macam apa aku ini!
Dan mengapa aku tidak diberi tahu?
Selama ini aku selalu menganggap bahwa Kak Savalas belum pernah berpacaran. Namun ternyata sudah. Dengan Kak Raden pula. Apa Kak Savalas tidak memprihatinkan sikap Kak Raden yang kasar?
Mengapa dari sekian banyak cewek, malah Kak Raden yang Kak Savalas pacari.
Sampai sekarang, apa mereka masih menjalin hubungan?
Atau sudah menjadi mantan?
Ku harap memang sudah putus.
"Nadisha," Mama menyudahi cuciannya. Ia menatapku lekat-lekat. "Iya," jawabku penuh penasaran.
"Kamu kenapa nggak jogging lagi sama pacar kamu? Padahal bagus lho buat kesehatan kamu. Mama suka. Lagipula, kamu kan jarang olahraga. Ada baiknya kamu lanjutin jogging-nya." Mama mengelus rambutku pelan. Aku hanya meringis. Ternyata Mama sudah menyukai Kak Vante lebih jauh dari yang ku kira. Aneh. Kak Vante mampu membuat Mama menyukainya dengan segala hal yang dilakukannya. "Ehmm, iya, deh. Lain kali Nadisha ajak Kak Vante jogging lagi," ujarku mengiakan saja.
Mama tertawa kecil. "Sekarang kamu kan diantar jemput sama dia. Kalau pulang sekolah jangan langsung pulang. Ajak makan dulu."
Mama perhatian sekali.
Aku hanya mengangguk saja. Menurutku itu adalah jalan yang baik.
"Inget sekali lagi ya, Nad. Mama sama Papa memang mengizinkan kamu pacaran. Tapi jangan digunakan untuk main-main. Kamu itu satu-satunya anak perempuan Mama, jadi, jangan pernah ngecewain Mama. Nadisha, Mama sayang kamu." Mama langsung memelukku erat. Kehangatan tiba-tiba menjalar di seluruh tubuhku. Nyaman sekali rasanya hingga aku tidak ingin pelukan ini dilepaskan. "Nadisha juga sayang Mama," tambahku pelan.
"Ngomong-ngomong, Zelo udah lama nggak ada kabar, ya? Dia sibuk apa gimana? Kok udah nggak pernah telepon Mama lagi," ucap Mama lagi yang seketika membuatku tersentak.
Benar kan apa yang aku bayangkan kemarin.
Mama pasti akan tahu.
__ADS_1