
Akhir-akhir ini lagu Senorita sedang booming-booming-nya. Dan Friska membawakan lagu itu dengan gitarnya. Dia cukup mahir memainkan alat musik yang satu itu. Kebetulan Friska tampil di bagian belakang dan setelah Friska selesai bernyanyi, acarapun selesai. Gemuruh riuh tepuk tangan dipersembahkan terakhir untuk Friska.
"Untuk Kak Jin sebagai perwakilan dari kelas duabelas silahkan mempersembahkan sebuah kenangan," ucap pembawa acara tiba-tiba. Aku melongo mendengarnya. Memang Kak Jin akan membawakan apa? Ku pikir acaranya sudah selesai dan waktunya untuk pulang.
Tepuk tangan kembali bergemuruh riuh ketika Kak Jin yang duduk di bangku depan itu berdiri. Hanya berdiri. Belum naik ke atas panggung. Tapi tepuk tangannya sudah sekeras ini. Karena samping kananku ikut bertepuk tangan, akhirnya aku juga melakukannya.
Mataku tertuju kepada Kak Jin yang mulai berjalan menuju ke atas panggung. Dia duduk di bangku yang telah di sediakan. Seseorang perwakilan dari OSIS menyerahkan sebuah gitar kepada Kak Jin. Mataku tak berhenti untuk tetap melihatnya. Ku pikir, ini adalah akhir dari semua kenanganku bersama Kak Jin. Setelah ini kami akan jarang sekali bertemu. Bahkan hampir tidak pernah meskipun dia bersekolah di Indonesia.
Kak Jin mengetuk stand mic-nya untuk mengetes.
"Sebelumnya, maaf bila suara saya sedikit menganggu pendengaran teman-teman sekalian," ujarnya sambil tersenyum.
Bukan apa-apa, setelah Kak Jin berkata seperti itu teriakan dari adik kelasnya semakin melengking. Benar-benar seperti artis saja dia. Telingaku saja rasanya sampai nyeri mendengar teman sampingku berteriak juga. Kebetulan, di barisan bangku depan bagian kanan itu tempatnya Ibu Bapak guru, orang-orang penting dan juga orang tua murid. Sementara bagian depan yang kiri adalah tempat untuk anak-anak yang hendak lulus. Lalu di bagian kanan yang belakang adalah tempat untuk anak kelas sebelas dan yang kiri bagian belakang untuk kelas sepuluh.
Kami belum mendapatkan raport. Jadi kami semua masih berada pada kelas sepuluh dan sebelas. Mungkin setelah acara kelulusan ini aku baru mendapat raport kenaikan kelas.
Kak Jin mulai memetik senar gitarnya perlahan. Gerakannya sungguh indah. Aku tak sengaja menyunggikan senyuman untuknya.
*Saat Ku Sendiri,kulihat photo dan video
Bersamamu yang tlah lama kusimpan
Hancur hati ini melihat semua gambar diri
Yang tak bisa, ku ulang kembali
Kuingin saat ini, engkau ada di sini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi*
Kenapa dia menyanyikan lagi ini? Ah, lagu ini liriknya benar-benar menyentuh hatiku. Entah kenapa setiap mendengar lagu ini aku seolah ingin menangis saja. Kak Jin! Lagu yang kau bawakan membuatku terbawa perasaan saja. Aku jadi mengingat hal-hal yang sudah lama ku lupakan.
*Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini Hanya Rindu*
Sama Kak. Akupun juga rindu masa-masa yang dulu. Di saat semuanya masih baik-baik saja. Dan tidak ada yang pergi meninggalkanku. Masa di mana ada banyak orang yang mengetahuiku sementara aku tidak tahu siapapun.
*Hooo
Kuingin saat ini, engkau ada di sini
Tertawa bersamaku, seperti dulu lagi
__ADS_1
Walau hanya sebentar, Tuhan tolong kabulkanlah
Bukannya diri ini tak terima kenyataan
Hati ini Hanya Rindu*
Gemuruh tepuk tangan pun kembali terdengar setelah Kak Jin menyanyikan lagi Hanya Rindu-Andmesh meskipun hanya penggalannya saja. Tapi cukup menyentuh. Apalagi suaranya yang lembut itu. kini teman sampingku tak lagi berteriak. Dia malah meneteskan air matanya. Ah, ternyata ada yang lebih terbawa perasaan daripada aku.
"Kak Jin kenapa udah lulus, sih? Belum juga jadi pacarnya, huaa," gumamnya menjadi-jadi. "Eh, lo." Cewek itu menunjukku dan berhenti menangis.
"Gue?" tanyaku memastikan.
"Iyalah. Siapa lagi emang?" Dia mulai sewot lagi. Aku terjebak sekarang. "Lo pacarnya Kak Vante, kan?" tanyanya.
Aku menggeleng dengan cepat.
"Bohong!" tudingnya.
"Bukan, maksud gue itu, engg—nggak gitu."
"Terus apa?"
"Mantan," balasku cepat.
Tiba-tiba matanya berbinar. "Seriusan mantan? Yeayy!! Alhamdulillah masih ada kesempatan." Cewek ini histeris sendiri. "Eh, lo pakai cara apa sih kok bisa pacaran sama dia? Bagi tips dong," pintanya sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
"Jangan pelit, nanti kuburan lo sempit."
"Gue nggak tahu."
"Issh bilang aja nggak mau ngasih tahu! Dasar pelit."
Manusia memang begitu, ya?
Di saat butuh saja baiknya kebangetan. Giliran udah tidak butuh keluar deh sifat aslinya.
Setelah Kak Jin tampil, aku bergegas keluar dari tempat itu. Aku tidak betah jika harus bersama dengan teman sampingku tadi yang mudah sekali berteriak. Aku bahkan tak mengenalnya. Tapi dia sudah mengenaliku. Bertanya soal Kak Vante pula. Aku jengkel mendengarnya. Telingaku sampai sakit mendengarnya berteriak beberapa kali. Wajar bila yang diteriaki itu seumpama seorang artis. Lah ini hanya sekadar Kakak kelas saja tampil sebagai sebuah kenangan.
Namun, suara Kak Jin memang bagus.
Aku menyukainya.
_____
"Udah lama nunggu ya, Kak? Sori," ucapku di hadapan Kak Jin yang sudah ada lebih dulu di depan kantor. Tadinya aku ingin datang ke sini lebih cepat. Tetapi lagi, lagi, Friska menghalangiku. Dia memintaku untuk memfotokan dirinya dengan Kak Savalas. Dan ketika aku hendak pergi malah banyak cewek-cewek yang datang dan memintaku untuk memfoto mereka juga.
__ADS_1
"Nggak masalah," tanggapnya santai.
Aku kikuk sekarang.
"Oh, iya. Tadi pagi mau ngomong apa?"
"Eh, tadi ya?" Aku malah balik bertanya. Kak Jin hanya berdehem saja. Tapi matanya mengunciku. Aku tersenyum malu-malu. Ini kenapa aku jadi begini, sih? Perasaan tadi masih normal. "Nggak mau ngomong apa-apa sih."
"Oh, ya?"
"Iya. Btw, graduation ya, Kak. Semoga ke depannya Kakak bisa mencapai tujuan Kakak," kataku sambil mengembangkan senyum. Sejujurnya aku masih malu sekarang. Jantungku saja tidak mau bekerja sama denganku.
Kak Jin mengelus puncak rambutku dengan senyuman. "Thanks. Lo juga, jangan sampai bolos ekskul lagi. Jangan sampai gue denger dari Syden kalau lo bolos," katanya menasihati. Aku hanya merespon dengan anggukan.
Tiba-tiba aku teringat dengan gelang jam itu. Aku pun segera membuka sling bag-ku untuk mengambil sebuah kotak berwarna pink yang terdapat gelang jam di dalamnya. Aku menyodorkan kotak itu kepada Kak Jin. "Ini gelang jam. Kembaran sama gue, Kak. Ini gue kasih ke Kakak sebagai tanda terima kasih atas ilmunya. Gue harap Kakak mau terima gelang ini," ucapku langsung sebelum Kak Jin bertanya.
Dia mengambil kotak itu dari tanganku. "Apapun itu nggak akan gue tolak, Nad."
Aku senang mendengarnya.
"Lo tunggu di sini sebentar," ujarnya dan Kak Jin pun bergegas pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu di mau ke mana. Bahkan aku belum selesai berbicara. Tapi ya sudahlah. Akan ku tunggu saja di sini sampai dia kembali.
Detik per detik mulai berganti. Dan Kak Jin dengan cepat datang kembali menghampiriku sambil membawa kemeja kotak-kotak warna hitam dan kuning itu di lengannya. Aku sangat familiar dengan kemeja itu. Dulu Kak Jin sering memakainya di acara-acara yang di selenggarakan oleh OSIS. Bahkan sebagai anak OSIS, Kak Jin sering sekali tidak memakai jas yang telah disediakan. Ia lebih suka memakai kemeja kuningnya itu dan biasanya juga tidak memakai apapun. Hanya seragam saja. Aku juga tidak tahu mengapa Kak Jin tidak suka memakai jas OSIS.
Bukan hanya dalam acara tertentu. Terkadang pun Kak Jin juga memakainya di sekolah.
Dia menyerahkan kemeja miliknya itu kepadaku. "Ambil, sebagai kenangan. Gue nggak punya hadiah untuk lo."
"Eh, itu kan kemeja Kakak. Nggak apa-apa kok kalau nggak punya hadiah. Gue juga nggak berharap kalau Kakak bakal balas hadiah gue," ujarku menolak. Yang benar saja aku mengambil kemejanya itu yang bisa dibilang sebagai kemeja kesayangan?
"Tapi gue berharap bisa ngasih sesuatu untuk lo. Udah ambil aja. Apa perlu gue pakein?"
"Nggak usah, Kak."
Aku mengambil kemeja itu dengan cepat sebelum Kak Jin memakaikannya kepadaku. "M-makasih, Kak."
Dia hanya mengangguk.
Jujur, mendapat kemejanya ini adalah sesuatu yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Bagaimana bisa aku mendapat kemejanya? Bila begini bagaimana aku bisa melupakannya.
"Gue harus pergi sekarang. Jaga diri baik-baik. See you in future." Kak Jin memelukku.
"See you too, Kak Jin."
Ini bukan mimpi ataupun khayalan. Ini adalah hal yang nyata. Kak Jin benar-benar akan pergi. Itu artinya, sebuah kehidupan baru akan aku mulai kembali. Aku akan selalu siap kapan pun itu. Karena ini hidupku. Dan seratus persen dari hidupku adalah tanggung jawabku sendiri.
__ADS_1
Sendiri.