Bena

Bena
BAB 17B


__ADS_3

Seusai acara tiup lilin dan memotong kue, aku dan Friska duduk dipinggir pagar pembatas sambil menikmati pemandangan kota. Sementara Kak Vante sendiri sedang izin ke toilet sebentar. Memang acara ini hanya Kak Vante dan Friska yang mempersiapkan. Aku tidak tahu mengapa Friska bisa berinteraksi dengan Kak Vante diam-diam dibelakangku. Tanpa ku ketahui pula. Lagian, masih sempat-sempatnya Kak Vante ingat hari ulang tahunku. Padahal aku sendiri sudah lupa.


Kak Vante juga sudah memiliki kehidupan baru. Terdapat banyak orang-orang baru yang hadir di hidupnya. Aku ini hanya orang lama yang seharusnya tidak perlu diingat tanggal lahirnya. Tapi sedikit aneh, sih. Sesuai yang aku duga beberapa hari yang lalu. Kak Vante kembali ke hidupku. Dia tidak benar-benar pergi. Nyatanya hanya berselang setahun dia kembali lagi padaku.


"Mikirin Kak Vante, ya?" Friska menyenggol lengan tanganku sambil menaikturunkan dua alisnya.


Aku menggeleng. "Nggak," elakku. Ya, mana mungkin aku menjawab dengan jujur. Nanti yang ada aku malah diketawakan oleh Friska. Malu-maluin saja. Dikiranya aku masih berharap sama orang yang sudah bisa ku sebut sebagai mantan. Padahal dulu hubunganku dengan Kak Vante terbilang cukup singkat dan tidak berkesan. Berbeda dengan hubunganku dan Kak Lesham yang memiliki kesan begitu banyak meskipun tanpa status yang jelas.


"Nggak pengin balikan aja?"


"Ngomong apa, sih." Ini malah aneh dua kali. Aku tidak mungkin balikan dengan Kak Vante.


"Kak Vante makin glowing lho. Liat aja tadi mukanya kinclong begitu. Gue tebak Kak Vante rajin pakai skincare."


"Ngapain ngomongin dia, sih? Kayak nggak ada cowok lain aja."


"Emang nggak, kan?"


"Bukan nggak, tapi belum."


Friska hanya tertawa kecil. Entah sedang meledekku atau memang humornya rendah sekali sampai mudah untuk tertawa. Dia geleng-geleng kepala seraya menyeruput jus apelnya masih dengan senyum yang aneh. Aku pikir, Friska pasti sedang menganggapku ini berharap pada Kak Vante yang kembali hadir di hidupku. Lagipula pikiran Friska itu banyak negatifnya. Jadi tidak salah kalau aku bisa menyimpulkan seperti itu.


"Oh, iya. Hubungan orangtua lo masih baik-baik aja, kan?" Aku mencari topik baru.


"Masih kok. Kan tadi udah dibilang cuma bercandaan. Eh, tapi ya gue itu masih penasaran tahu nggak sama kasus waktu itu. Masa iya Mama lo nggak punya kembaran, sih?" tanya Friska lagi dengan terheran-heran. Jangan kan Friska, aku sendiri pun ikut heran sekaligus penasaran. Jika mengingat foto waktu dulu itu memang mirip dengan Mamaku. Tapi ada yang membedakan sedikit. Difoto itu orangnya terlihat lebih tua daripada Mama dan memiliki tahi lalat di pipi bagian kanan. Sedangkan Mamaku sendiri sama sekali tidak punya tahi lalat di bagian wajahnya.


Tiba-tiba aku teringat dengan cerita Kak Tavis dulu tentang aku dan Panditha yang dibilang mirip. Kalau aku dan Panditha itu benar mirip adanya, mungkin tidak sih jika Ibu kami juga mirip? Atau ini hanya secara tak sengaja kami terlahir mirip namun Ibunya yang berbeda? Soalnya aku pernah mendengar omongan orang jika setiap manusia yang hidup di bumi ini memiliki tujuh kembaran yang tersebar luas di bumi. Tentunya akan beda ayah dan beda ibu meskipun wajahnya mirip.


Apa mungkin aku termasuk yang kembar tujuh itu?


"Fris, lo pernah denger nggak ada orang namanya 'Panditha'?"


"Pernah," jawabnya dengan mantap. "Setahu gue itu cewek pernah direbutin sama anak Stigma. Tapi udah lama, sih. Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu," lanjutnya.

__ADS_1


Sebentar. Dulu kata Kak Savalas orang bernama Panditha itu hanyalah berita di televisi tentang pelecehan seksual. Lalu kata Kak Tavis, Panditha itu mirip sekali denganku. Malahan pernah jadi bahan rebutan anak Stigma. Ah! Apa jangan-jangan anak Stigma mendekatiku hanya karena wajahku yang mirip dengan Panditha?


Bisa jadi.


"Sekarang Panditha itu dimana?"


"Mana gue tahu. Mendingan lo tanya sama Kak Vante yang tahu lebih tentang dia. Soalnya sejak dua atau tiga tahun yang lalu nama Panditha itu udah nggak ada kabarnya lagi," jelas Friska.


Iya, juga. Tapi masalahnya apa Kak Vante mau membagi informasi denganku?


Jastin?


Ku rasa dia orang yang cocok untuk ku tanya-tanya.


"Lo pernah ketemu sama dia?"


"Dia siapa?"


"Panditha."


"Biar ada pembicaraan," kilahku.


Oh, ya. Ini sudah beberapa bulan lebih Kak Syden tidak bertemu denganku. Apa mungkin Kak Tavis sudah menjadi pacar Kak Syden? Semoga saja sudah. Begitupun dengan Ovdiar dan Kak Lesham. Aku berharap mereka sudah bersatu. Semuanya akan selesai jika masing-masing dari anak Stigma memiliki pasangan. Aku tidak perlu marah karena sudah mereka permainkan. Lagipula salahku sendiri bisa dengan mudahnya dijadikan bahan permainan. Lucu.


"Eumm, Nad."


"Apa?"


"Kak Savalas nggak ada rencana buat ke Indonesia gitu?"


"Ngapain? Kuliahnya juga belum selesai,"  lontarku.


Friska menyengir. "Gue itu udah kangen berat sama dia, hehehe."

__ADS_1


"Lo seriusan mau jadiin Kak Sava penggantinya Ge---"


"Jangan sebut nama, ih. Udah muak dengernya. Tapi, ya, Kak Sava tuh baik kok. Imut, lucu, manis, ganteng, pinter...," ucapannya menggantung karena Friska melirikku. Aku menatapnya tajam. Seakan apa yang akan dilanjutkannya nanti tidak sesuai dengan harapanku. "Awas ntar matanya copot baru tahu rasa," ingatnya.


Seketika aku memalingkan wajahku ke arah lain.


Suara drum tiba-tiba terdengar dengan keras. Aku menoleh bersamaan dengan Friska tanpa sengaja. Dia mengangkat dagunya padaku meminta penjelasan. Memang apa yang bisa aku jelaskan? Aku bahkan tidak tahu apa-apa. Aku sama seperti Friska yang terkejut dengan suara drum itu. Ketika aku dan Friska sibuk mengernyit, ponselku berdering. Ada sepenggal pesan yang masuk.


Berdiri dan senyum.


Pesan itu dari nomor yang tak ku simpan. Aku tidak tahu siapa yang mengirimnya. Atau jangan-jangan ini kerjaan Kak Vante?


"Kadal." Kak Vante memanggilku sambil tersenyum lebar. Dia berjalan mendekat ke arahku sambil membawa sebuket bunga mawar biru yang sulit sekali ku temukan. Dia berhenti tepat didepanku. "Gue nggak mau basa-basi," katanya.


"Terus?"


"Mau nggak jadi pacar gue lagi?" tanyanya tiba-tiba. "Gue tahu ini tiba-tiba dan nggak romantis. Tapi otak gue lagi nggak mood untuk diajak mikir gimana biar gue bisa romantis sama lo."


Seperti dugaan kemarin.


"AAAKH, TERIMA!" Friska berteriak kencang dengan heboh di sampingku. Padahal aku yang ditembak. Tapi malah dia yang histeris kesenangan.


Dengan tenang aku menghela napasku. Lalu mendongak, menatap mata Kak Vante lembut. "Maaf, Kak. Nggak bisa," tolakku.


"Why?"


"Gue udah punya pacar."


"WHAT?!" pekik Friska terkejut. Ah, aku lupa memberi tahunya soal ini.


Ku lihat raut muka Kak Vante lesu. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Mungkin enggan menatapku karena marah? Atau emosi gara-gara gagal. Dia terlihat kecewa dengan jawabanku. Tak lama dia kembali memperhatikanku sembari bertanya. "Siapa orangnya?"


"Jastin."

__ADS_1


____


[Semoga terhibur]


__ADS_2