Bena

Bena
BAB 19C


__ADS_3

"Lo kenapa, sih? Mendadak jadi nggak setuju. Padahal dulu semangat banget. Kesambet Jastin lo, ya?" Kak Vante berusaha bergurau didepanku dan menganggap apa yang aku ucapkan itu tidak serius. Padahal aku sangat serius. Aku ingin dia pergi dari kehidupanku dan memulai kehidupan baru tanpaku. Bukan hanya dia saja, tetapi semua anak Stigma. Aku ingin mereka menjauh dariku.


"Gue serius sama yang tadi, Kak. Kakak bisa cari cewek lain yang lebih dari gue."


"Gue maunya cuma lo, Kadal."


"Kak, please."


"Lo dihasut siapa sih sebenarnya? Kenapa tiba-tiba begini coba?"


"Semua ini nggak ada hubungannya sama siapapun. Ini hanya antara gue dan Kakak."


"Bullshit."


Bagaimana coba caranya membuat dia menjauh? Bahkan sepertinya dia selalu berpikiran hal-hal yang baik dan berusaha membuang semua pikiran negatifnya. Itu hal yang bagus. Tapi tidak dengan masalah yang sedang aku tangani dengannya. Tentang perasaannya yang terus saja menggangguku. Bukan sekali duakali. Beberapa kali dia selalu mengatakan itu.


"Ka---" Belum selesai ku ucapkan, Kak Vante sudah memotongnya lebih dulu. "Gue kurang apa coba? Ganteng? Gue udah sangat ganteng, Nad. Gue juga udah mulai berubah jadi lebih dewasa demi lo. Gue udah nggak kekanak-kanakan lagi. Coba sebutin apa kurangnya gue ini," ungkapnya lumayan panjang sekali. Padahal aku sama sekali tidak ingin bertanya tentang kelebihan maupun kekurangannya.


"Kak Vante berubah demi gue?" tanyaku.


"Iyalah!"


Aku tersenyum. Ada baiknya juga dia menjadi lebih baik karena berubah. Lebih dewasa. Bila disuruh memilih, pasti aku akan mengatakan bila aku menyukai Kak Vante yang sekarang daripada yang dulu. Meskipun sisi menyebalkannya masih ada. Walaupun hanya beberapa. Tetapi dia yang sekarang itu sudah lebih baik dari sebelumnya. Sayangnya, aku tidak menyukai alasannya untuk berubah.


Apa tadi katanya? Karena aku, kan? Berarti jika tidak ada aku lagi, dia akan kembali ke dirinya yang dulu?


"Nadisha bangga Kak Vante berubah jadi lebih baik," kataku lembut.


Dia terlihat senang. "Ya harus dong!"


"Tapi, gue nggak suka dengan alasan Kak Vante berubah."


"Maksud lo?" Dia sama sekali nggak mengerti maksudku, kah? Sungguh memalukan. Masa begitu saja tidak tahu.


"Ada baiknya Kakak berubah demi diri Kakak sendiri. Bukan karena gue," tuturku. Lalu aku menghela napas sejenak. Membiarkan dirinya memahami maksud perkataanku yang sebenarnya tidak begitu rumit lho. Cuma memang Kak Vante saja yang tidak paham. Dia itu sebenarnya memang tidak paham atau pura-pura tidak paham, sih? Raut mukanya meragukan.


Kak Vante meringis. "Demi lo juga demi gue, demi kita maksudnya."

__ADS_1


Tidak ada kata 'kita' untuk aku dan Kak Vante. Rasanya tidak akan pernah ada. Entah sekarang, nanti, ataupun di masa depan. Masa yang akan datang. Jika Kak Vante bukan anggota dari anak Stigma, mungkin aku akan memberinya kesempatan untuk benar-benar serius denganku. Tapi ini bukan fakta yang seperti itu. Masalahnya semua, atau hampir dari anak Stigma mendekatiku. Jika aku menerima salah satunya, masalah baru pasti akan terjadi.


"Tolong lupain kata serius itu buat gue, Kak. Hubungan kita selesai sampai disini aja."


"Jangan gitu dongggg."


"Dulu Kakak pernah bilang pengin pergi dari kehidupan Nadisha, kan? Terus kenapa Kakak balik lagi?"


"Karena gue nggak mau menyesal untuk yang kesekiankalinya. Gue bener-bener pengin serius sama lo, Nadisha." Kak Vante masih tetap teguh pada pendiriannya. Aku semakin jengah berurusan masalah ini dengannya. "Gue nggak bisa, Kak."


"Kenapa nggak? Kita bisa mulai dari awal."


"Kak Vante kenapa maksa banget, sih? Emang Kakak nggak pernah diajarin orangtua supaya nggak maksa kemauan orang lain? Orangtua Kakak kemana, sih?"


"Jangan lupa weekend nanti," kata Kak Vante serak. Lantas membalikkan badannya dan meninggalkanku di taman Palazon.


Dia itu kenapa, sih?


Ketika aku hendak pulang, sebuah pesan kembali masuk pada ponselku. Aku menggeser layar pada ponselku. Kini, aku langsung membaca pesan dari Kak Vante. Siapa lagi yang mengirimiku pesan selain dia jika isinya menjawab pertanyaanku yang tadi? Meskipun proses wawancaraku dengan Kak Vante belum selesai, tetapi aku sudah paham. Ku rasa sudah cukup. Yang belum terjawabkan rasanya tidak perlu ku ketahui. Sesuai dengan yang tadi Kak Vante katakan padaku. Jika aku tahu siapa maka aku akan semakin kecewa pada siapa itu. Daripada aku banyak kecewa dengan orang lain, lebih baik ini ku jadikan yang terakhir saja untuk mencari tahu sesuatu yang tidak seharusnya ku cari tahu.


Aku terpatung membaca itu. Percaya tidak percaya, tapi hatiku berkata bahwa apa yang Kak Vante beritahukan padaku tidaklah berbohong. Pelan-pelan, hatiku percaya dengan pesannya. Tetapi ini seperti tidak mungkin. Namun, aku teringat kembali dengan keanehan-keanehan yang terdahulu.


Keanehan pertama;


"Sha, lo kalau diajak kenalan sama cowok jangan mau," cetus Kak Savalas yang baru saja muncul. Memang hanya dia satu-satunya orang yang memanggilku dengan 'Sha' sendiri. Tapi tak apa. Mungkin itu termasuk dalam nama kesayangan.


"Emang kenapa?" tanyaku bingung.


Kak Savalas hanya menggeleng. "Nggak apa-apa. Pokoknya inget pesan Kakak. Jangan mau diajak kenalan sama cowok."


Keanehan kedua;


Motor Kak Savalas berhenti di depan gerbang STANDAR. Ini bukan karena bensinnya habis, kan? Soalnya tadi pagi Papa sudah mengisi bensin Kak Savalas sampai tumpah-tumpah.


"Kok berhenti sih, Kak?" tanyaku. Aku melihat Kak Savalas sedang memperhatikan sekelilingnya.


Lalu dia menoleh ke belakang. "Kakak nganternya sampai disini aja biar lo olahraga sedikit. Pulang sekolah tunggu Kakak di halte."

__ADS_1


"Kenapa harus di halte? Gue kan nggak mau naik angkutan umum, Kak," tolakku.


"Kalau lo nurut sama gue itu akan lebih baik. Udah. Sana masuk," suruhnya.


Keanehan ketiga;


"Lo lupa sama pesan gue?"


Kak Savalas membuka suara dengan melontarkan pertanyaan kepadaku. Aku yang tadinya sedang serius mengupas buah apel, kini aku mendongak untuk menatapnya. Aku tak langsung menjawabnya. Maksud pertanyaan Kak Savalas itu mengenai cowok. Aku masih ingat betul pesannya. Tapi aku sengaja tidak melakukannya karena alasannya tidak jelas.


"Inget, kok."


"Kenapa nggak dilakuin?"


"Ya, aneh aja gitu."


"Kalau aneh kenapa dulu bilang mau melakukan?"


"Aku pikir cuma bercanda."


"Kakak serius, Sha." Kak Savalas menatap iris mataku tajam. Aku takut. Iya. Belum pernah aku ditatap setajam ini. Apalagi karena hal yang menurutku sepele. "Kakak cuma pengen kamu baik-baik aja meskipun kamu udah membuka jurang."


Keanehan keempat;


Aku mengingat-ngingatnya. Aku sama sekali tidak meminjamkannya kepada siapapun. "Nggak, kok. Tapi waktu itu ada satu kejadian dimana Jastin itu lagi godain Zelo di depan gue. Eh, nggak sengaja hape gue jatuh gara-gara mereka berdua. Anehnya, hape gue nggak kenapa-napa. Malahan Jastin yang ngambil hape gue dari bawah. Nggak mungkin 'kan kalau dia yang ngirim pesan itu? Orang kejadiannya cepat kok. Ngetik itu juga nggak secepat itu. Makanya, gue sama sekali nggak curiga sama Jastin."


"Ada kemungkinankalau Jastin yang ngirim pesan itu." Kak Savalas yakin sepenuhnya. "Hanya diayang bisa melakukan apapun tanpa terkecuali," tambahnya dengan intonasi rendah.


Keanehan kelima;


"Biar Mama aja yang buka."


Ketika aku ingin mengikuti Mama dari belakang, Kak Savalas malah menarik tanganku. "Lo utang banyak cerita ke gue, Sha. Besok pulang sekolah gue tunggu di kamar gue," ucapnya.


"Iya, iya."


"Iyain aja terus kalau ada cowok yang deketin lo. Masuk aja ke jurang sekalian. Biar Mama-Papa nangisin lo setiap hari."

__ADS_1


__ADS_2