Bena

Bena
BAB 6A


__ADS_3

Dari beberapa sudut yang ada di rumah, tempat yang paling aku suka adalah kamar Kak Savalas. Aneh, bukan? Pasalnya setiap orang pasti sangat menyukai kamarnya sendiri. Terkecuali aku yang menyukai kamar kakakku. Sebenarnya, jika kamar Kak Savalas dibilang rapi sih tidak juga. Berantakan juga tidak terlalu. Cukup bersih dan rapi, meskipun ada beberapa benda yang berserakan. Namanya juga cowok. Aku rasa itu wajar.


Sepulang sekolah aku langsung merebahkan tubuhku di kamar Kak Savalas. Sedangkan dia berangkat lagi ke sekolah untuk latihan basket, katanya. Tapi aku tidak percaya jika dia beneran ikut dalam ekstrakulikuler basket. Karena kenyataannya, Kak Savalas lebih suka bermain sepak takraw daripada basket. Itu sudah dari kecil. Bahkan dulu ketika SD, Kak Savalas selalu bermain sepak takraw di rumah tetangganya yang kebetulan memang memiliki alatnya.


Seumuran pula.


Tapi, aneh saja jika sejak dulu ia menyukai sepak takraw dan sekarang malah beralih ke basket.


Tiba-tiba aku mendengar suara ponsel berbunyi. Akupun segera mengecek ponselku. Dan ternyata bukan ponselku yang berbunyi. Lantas itu ponsel siapa?


Aku segera bangkit dan mencari sumber suara itu. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah benda pipih berwarna hitam sedang menyala di ujung meja belajar. Aku segera mengambilnya tanpa berpikir panjang. Karena aku tahu, ponsel itu memang milik Kak Savalas. Memang siapa lagi selain ponselnya?


Mama?


Aku rasa tidak.


Memang untuk apa Mama meletakkan ponselnya di kamar Kak Savalas? Ah! Tidak masuk akal. Lagipula Mama bukan tipe orang yang kurang kerjaan seperti itu.


Kalau Papa?


Ya, jelas saja tidak!


Papa itu sibuk. Tidak mungkin ia meninggalkan ponselnya di sembarang tempat. Apalagi di kamar Kak Savalas.


Itu artinya memang benar bahwa ponsel itu milik Kak Savalas.


Dari dulu, aku tidak pernah meminjam ponsel milik Kak Savalas. Makanya aku sampai sekarang pun tidak tahu jenis ponselnya itu apa. Sebenarnya aku pernah memiliki keinginan untuk meminjamnya. Bukan untuk hal-hal penting. Aku hanya ingin melihat-lihat isinya saja. Namun, Kak Savalas sudah mengetahui motifku. Alhasil, aku tidak diizinkan untuk meminjam ponselnya.


Dia memang sepelit itu.


Raden calling...


Aku mengernyit ketika sebuah tulisan itu terukir di ponsel milik Kak Savalas. Pandanganku langsung tertuju pada kejadian beberapa hari yang lalu ketika aku dan Kak Jin sedang berada di kantin. Saat itu aku sedang dimarahi olehnya. Dikatakan cabe pula.


Setiap aku mendengar atau melihat nama Raden. Pasti orang yang selalu ku tuju adalah Kak Raden yang pernah berpacaran dengan Kak Jin itu. Kayaknya memang hanya Kak Raden itu yang ada di STANDAR. Ku rasa tidak ada yang namanya Raden selain dia.

__ADS_1


Dan, Kak Savalas menyimpan nomornya?


Ini adalah fakta terbaru bagiku. Sekian lama aku hidup dengan Kak Savalas, dia tidak pernah sekalipun mengurusi anak perempuan. Jangankan untuk menyimpan nomornya, bertegur sapa saja diabaikan.


Lalu apa hubungannya Kak Savalas dengan Kak Raden?


Belum sempat aku menerima panggilan dari Kak Raden, sambungannya pun sudah terputus. Ketika aku ingin membuka ponselnya, aku tidak bisa. Ponsel Kak Savalas memakai kunci. Aku sama sekali tidak tahu password-nya. Tapi aku tahu, siapa orang yang bisa ku tanya mengenai hal ini.


Aku segera mengeluarkan ponselku dan menelepon orang itu.


Tanpa menunggu lama, panggilanku pun sudah dijawab. "Haloo, bocil, tumben telepon. Ada apaan? Jangan bilang lagi kangen," sapanya langsung dengan panjang.


"Iiih, Kak! Jangan bercanda, deh. Gue lagi pengen serius, nih," balasku sedikit ketus. Aku jengkel dengan kata-katanya barusan. Sebenarnya antara benar dan salah jika aku menghubunginya. Benarnya, karena aku ingin bertanya tentang password. Sebab yang aku tahu, hanya dialah yang sangat dekat dengan Kak Savalas. Selain dia, aku tidak tahu. Kalau salahnya, dia itu orangnya suka bercanda. Sulit sekali jika diajak serius.


Terdengar suara tawa di ujung sana. "Jangan serius dulu, Nadisha. Kakak belum siap ngelamarnya. Tabungan Kakak juga baru limabelas ribu. Itu aja udah tabungan dari kelas sepuluh," jawabnya semakin ngawur. Ini orang kenapa tidak bisa berpikir yang positif, sih?


Aku jadi geram sendiri.


"Kak! Gue nggak nanya soal itu, astaganagaaa!" Aku menggelengkan kepalaku heran. "Terus mau nanya soal apa? Soal persiapan nikah kita? Santai aja kali, Nad. Kakak nggak bakal ngasih kamu yang kelas bawah, kok. Kakak bakal ngadain pestanya mewaaaaahhh banget. Iya, mewah, mepet sawah." (Dekat sawah) Katanya masih berlanjut dengan selingan tawa di setiap jeda kalimat yang dia ucapkan.


"Kalau masih bercanda gue matiin, nih."


"Eh, jangaaannn! Gimana, sih? Begitu aja ngambek."


"Ya, habis Kak Maven nyebelin."


"Kalau nggak nyebelin nggak gue, dong?"


"Matiin aja, nih, ya!"


"Jangaannnn! Dasar cewek. Mau apa, sih, sebenarnya?"


Aku menyelipkan satu anak rambutku ke belakang agar tak menganggu lagi. "Mau nanya aja. Kak Maven tahu nggak password hape-nya Kak Savalas?"


"Ya, tahulah. Memang kenapa, sih? Sava ngasih hape-nya ke lo? Tumben tuh anak baik," sahutnya di ujung sana. "Tinggal jawab aja apa susahnya sih, Kak?" tanyaku gergetan sendiri.

__ADS_1


"Nggak ada susahnya, sih. Eh, tapi kok lo aneh, sih? Kakak sendiri lo nggak tahu password hape-nya. Ya, udah. Gue juga nggak peduli, sih. Gue kasih tahu tapi cuma sekali. Gue nggak mau mengulang lagi. Ngerti, kan?" Lama-lama Kak Maven suka mengegas. Andai saja aku sedang tidak dalam keadaan butuh, aku tidak akan membiarkan waktuku terbuang sia-sia hanya untuk mendengarkan ocehan Kak Maven yang sangat tidak berguna itu. "Iya, ngerti," jawabku asal.


Kak Maven berdehem di ujung sana. Aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Stigmadhita571934," ucapnya dengan cepat.


Apa tadi? Aku tidak salah dengar?


Ada kata Stigma di dalamnya?


Selain itu ada kata 'Ditha'.


Ya, Tuhan. Password macam apa ini? Kenapa susah sekali?


Aku masih ingat awalannya. Tapi sekarang aku sudah lupa akan angka-angkanya. Kak Maven juga. Dia memang sengaja berbicara cepat agar aku tidak mendengarnya dengan jelas. Menyebalkan memang.


"Eh, apaan tadi, Kak?" tanyaku mengulangi.


"Kan udah gue bilang, gue cuma ngomong sekali. Kuping kamu budek, ya? Coba deh kasih betadin. Siapa tahu sembuh."


Bodoamat, Kak! Bodoamat!


"Ulang sekali ya? Gue lupa, Kak."


"Gue juga lupa."


"Kak, please!"


"Nadisha, ketika kita punya telinga jangan dianggurin aja. Jangan dipajang di etalase toko. Dibenerin di bengkel kalau rusak. Oke?" Kak Maven masih berceloteh tak penting. Kadang aku heran. Otaknya terbuat dari apa, sih?


"Nadisha, tolong! Jangan cuekin Abang."


Terserah, Kak.


Akupun mematikan sambungan telepon secara sepihak.

__ADS_1


Kau memang menguras emosiku saja.


__ADS_2