Bena

Bena
BAB 12A


__ADS_3

Ketika waktu istirahat telah tiba, aku dan Friska sudah berjalan menuju ke kantin sejak dua menit yang lalu.


Persoalan tadi pagi dengan Kak Syden..., aku rasaa aku tidak perlu menceritakannya dengan Friska. Tidak penting juga. Lagipula masalah tadi pagi hanya kebetulan saja aku bisa bertemu dengannya kembali. Hanya kebetulan. Jadi sangat tidak penting untuk diceritakan.


"Woii! Tunggu, Cil!" Aku tersentak mendengar panggilan itu. Sepertinya aku tahu pemilik suara itu. Jangan bilang kalau yang memanggilku adalah Kak Maven.


"Eh, Kak Maven." Friska sudah lebih dulu menyapanya. "Ngapain teriak-teriak, Kak?" tanya Friska seperti tidak tahu.


Padahal sudah sangat jelas bila Kak Maven itu memanggilku. Apa perlu aku berteriak untuk memberitahunya? Kurasa tidak. Buang-buang suara saja. Lagipula Kak Maven masih ngos-ngosan juga. Nanti kalau sudah tidak begitu, Friska akan tahu dengan sendirinya. Tanpa perlu ku beritahu tentunya.


Kak Maven kembali berdiri dengan tegak. "Lo tuh dipanggil nyahut kek. Jangan pura-pura nggak denger," cecarnya kesal.


"Oh..., dari tadi tuh Kak Maven manggil Nadisha. Pantes aja Nadisha berhenti jalan. Lagian Kak Maven manggil nama orang diganti-ganti. Salah sendiri kan," ucap Friska menyalahkan Kak Maven. Sementara Kak Maven tak terima begitu saja. "Eh, bocah. Bisa nggak jangan nyalahin orang terganteng di STANDAR setelah Bang Jin? Kasih gue air kek! Haus, nih."


Friska ingin muntah mendengarnya. Begitupun denganku. Bisa-bisanya Kak Maven berkata seperti itu. Sepede itu dirinya membanggakan diri sendiri setelah Kak Jin sudah lulus. Dulu saja ketika masih ada Kak Jin tidak Nampak sekali mukanya. Bahkan aku bertemu dengannya sangat jarang. Mungkin bisa dihitung berapa kali dalam setahun.


"Ish. Ke kantin bareng aja, Kak. Sekalian beli air," tawar Friska dengan menyengir.


Kelihatannya bila dengan Kak Maven, Friska bisa semudah itu berinteraksi. Tapi, bagaimana dengan Kak Syden?


"Tapi, biaya lo yang tanggung, ya?" Kak Maven menunjuk Friska. Tentu saja yang ditunjuk langsung menonjok bahu Kak Maven. "Nggak gue juga kali! Katanya orang terganteng di STANDAR. Tapi beli air aja harus gue yang bayar. Di mana harta kekayaan lo, Kak? Udah habis apa gimana?" ejek Friska.


Sepertinya mereka berdua nyambung.


Atau, jangan-jangan memang sudah kenal lama? Dan aku yang tidak tahu.


"Harta? Masihlah. Masih gue simpan untuk biaya hidup gue sama Nadisha nanti," jawabnya santai seperti di pantai sambil melemparkan senyuman kepadaku.


"Apa, sih! Jangan bawa-bawa gue, deh."


"Kalau nggak bawa lo nggak bakal jadi satu keluarga. Masa gue harus jadi Bapak sama Ibu."


"Itu sih urusan lo, Kak."


"Cieee Nadisha. Udah move on nih ceritanya?" Friska kembali menyahut. Aku pun mencubit lengannya. "Jangan ngelantur, deh."


Kak Maven menebar senyumnya. Mimpi apa aku semalam sampai harus bertemu dengannya sekarang. "Iyalah. Nadisha move on-nya sama gue. Nikahnya juga sama gue nanti. Iya nggak, Cil?" katanya dengan pede.


Aku mengerutkan keningku.


"Sepede itu?" tanyaku meragukan.


Kak Maven memang kebanyakan bermimpi.


"Iya, dong! Sava aja nyuruh gue jaga lo selama dia nggak ada di sini. Itu apa namanya kalau Sava memang dukung gue sama lo." Kak Maven kembali berbangga diri. Padahal hanya disuruh untuk menjagaku saja. Bukan tentang hal ini. Semua ini juga karena Kak Savalas hanya percaya kepada Kak Maven sebagai sahabatnya. Itu saja. Kak Maven-nya saja yang kegeeran tingkat dewa akan hal itu. terlalu banyak mengkhayal, sih.

__ADS_1


"Cuma jaga doang. Kakak aja yang geer habis," ucapku merendahkan. Kak Maven kalau tidak diingatkan pada dunia bisa-bisa akan selalu bermimpi seperti ini.


Friska angkat suara lagi. "Kak Savalas dukung perasaan gue juga nggak, Kak?" tanyanya antusias.


"Perasaan lo sama siapa?"


"Sama Kak Savalas, dong."


Kak Maven tertawa.


"Malah ketawa, sih!" Friska merasa jengkel lama-lama. Sedangkan Kak Maven masih tertawa tanpa sebuah alasan. "Kurang-kurangin nonton drama, deh. Kayaknya hidup lo kebanyakan ngayal," katanya tiba-tiba. Friska sontak saja langsung menonjok bahu Kak Maven untuk yang kedua kalinya. Tapi yang ini jauh lebih keras hingga Kak Maven meringis nyeri. Salah sendiri dia malah membangunkan macan yang sedang tidur.


Setelah berdebat panjang, akhirnya kami bertiga menuju ke kantin. Kak Maven berjalan di tengah-tengah antara aku dan Friska. Gayanya sudah seperti selebritis saja. Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan heran. Sempat-sempatnya aku juga melirik Friska dengan pasrah. Sementara Friska masih saja mengoceh dengan Kak Maven. Layaknya Friska lupa akan aku. Dia bukannya mengajakku untuk berjalan sejajar dengannya malah banyak bertanya dengan Kak Maven yang otaknya memang agak miring sedikit.


Aku seakan menjadi obat nyamuk dadakan.


Mereka berdua sama-sama membahas Kak Savalas. Friska yang memaksa Kak Maven untuk terus menjawab pertanyaannya. Bila tidak, Friska akan kembali menonjok Kak Maven. Mungkin karena tonjokan terakhirnya tadi menimbulkan rasa yang cukup nyeri, akhirnya Kak Maven menurut saja. Ku rasa Kak Maven sedang menghindari tonjokan ala Friska.


Tiba-tiba tanganku di tarik seseorang dari belakang. Lebih tepatnya langsung digenggam. Orang itu mengembangkan senyumnya kepadaku. Aku sudah tak begitu histeris dengan kehadirannya. Bila nanti aku ingin tahu banyak hal tentang masa lalu barulah aku akan mencarinya lagi dan membawa Friska mungkin. Supaya Kak Lesham mau mengatakan yang sejujurnya padaku. Apalagi setelah ku pikir-pikir tonjokannya Friska lumayan mempan sekali untuk dijadikan sebagai tameng.


Kak Maven dan Friska masih berjalan. Sepertinya mereka berdua tak menyadari bila aku tak lagi berjalan bersama mereka. Aku berhenti beberapa langkah dari mereka dengan Kak Lesham yang tak pernah lupa untuk menebarkan senyuman itu.


"Ketemu lagi, Nad." Katanya membuka obrolan baru di antara kami. Aku hanya mengangguk saja. Tanpa sepatah kata yang ingin aku ungkapkan kepadanya.


Diam. Hening sesaat. Pikiranku seakan kembali pada masa laluku. Semuanya sudah selesai. Sudah berakhir. Dan hari-hariku berjalan baik-baik saja selama ini. Tanpa ada kata Stigma yang keluar dari mulutku maupun ku dengar. Tidak ada kata itu lagi. Kak Lesham juga sudah bukan orang yang bisa ku jadikan sebagai sumber jawaban dari semua pertanyaanku. Kian waktu berlalu seakan semuanya terhapus begitu saja dari memoriku. Aku sudah melepasnya. Seharusnya perasaan jengkelku dengan Kak Lesham juga begitu. Seharusnya aku juga melepas semua yang ku kecewakan pada Kak Lesham.


Bukan lagi seharusnya.


Bila aku sudah berusaha untuk melepas semuanya. Itu artinya aku juga harus melepas semua yang ku tidak suka dengan Kak Lesham. Hidup itu adil. Apa aku tidak adil dengan Kak Lesham?


Karena kenyataannya aku masih menyimpan rasa marahku dengan Kak Lesham. Sampai sekarang.


"I'm okay." Kak Lesham kembali bersuara. Terjebak dalam keheningan seperti ini memang membuatku jadi kaku sendiri. Tidak biasa-biasanya aku dan Kak Lesham saling canggung seperti ini. Selayaknya aku memang harus melepas semua itu. aku harus memperbaiki semuanya dengan Kak Lesham yang sampai sekarang masih belum ku perbaiki. Aslinya Kak Lesham itu orang baik. Dia pasti punya alasan tertentu kenapa dia bersikap seperti itu. Aku terlalu sering menyalahkan sampai aku lupa intropeksi diri bila aku juga banyak kesalahan.


Mungkin bila aku dekat dengan Kak Syden, aku akan tahu semua kesalahanku.


Memang hanya dengan dia aku bisa sadar akan diriku sendiri.


"Gue juga baik, Kak." Tidak ada salahnya bukan bila aku memulainya dari sekarang? Lebih cepat akan jauh lebih baik. "Apa lo masih marah sama gue? Maybe, you need a time to forget it. I always ready if you want i go," tanya Kak Lesham dengan senyum yang berubah jadi sendu. Aku tidak suka senyuman yang seperti ini.


Kak Lesham orang yang baik. Tidak selayaknya aku masih menyimpan rasa marah kepadanya.


Padahal aku sangat rindu ketika ia mengirimkan pesan kepadaku. Meskipun pesannya tidak jelas. Tapi entah mengapa aku menyukai semua pesan yang dia kirimkan. Semuanya mengandung arti. Aku sering sekali bermain tebak-tebakan dengan pikiranku hanya karena ucapan Kak Lesham. Semua itu sebenarnya bukan suatu beban untukku. Seharusnya begitu.


"Gue nggak butuh Kakak pergi," balasku dengan menatap matanya. Kak Lesham mengernyitkan alisnya penuh tanda tanya. "Semuanya udah selesai. Kita bisa mulai kehidupan baru sekarang." Seenggaknya, aku harus belajar untuk tidak mengecewakan orang lain.

__ADS_1


Dulu, aku terlalu egois karena diriku sendiri.


Sekarang aku harus belajar menghargai.


"Dalam hari-hari gue, gue selalu nunggu lo untuk mengatakan hal ini. Gue seneng dengernya." Kak Lesham menghilangkan senyuman sendunya. Kini di hadapanku hanya ada Kak Lesham dengan senyuman malaikat. Dia mengacak-acak rambutku sesuka hati. Dan aku tidak ingin menolak perlakuan itu.


Entah kenapa...,


Aku nyaman.


"Kalau lo udah begini, itu artinya lo udah nggak punya hak buat larang gue untuk chat lo setiap hari." Kak Lesham kembali seperti dulu. "Kak Lesham juga nggak punya hak untuk nyuruh gue bales chat Kakak," ujarku bercanda.


"Gampang, gue tinggal dateng aja ke rumah lo."


"Ngapain?" tanyaku, senang.


"Ngapelin calon pacar," jawabnya enteng.


Aku ini kenapa?


Rasanya aku ingin selalu tersenyum ketika berada di dekat Kak Lesham. Nyatanya, aku benar-benar sulit mengatur diriku sendiri sekarang.


"Cuma calon nggak bakal jadi kenyataan."


"Setidaknya, gue punya harapan meskipun nggak jadi nyata."


"Kata-kata Kakak terlalu ba---"


Kalimatku belum selesai ku ucapkan, dan Kak Maven sudah lebih dulu berteriak. "WOII BOCIL! NGAPAIN LO SAMA LESHAM? KATANYA MAU KE KANTIN."


Kak Maven dan Friska menyusulku. "NADISHAA!! GUE LAPER! AYO KE KANTIN!" Friska ikut berteriak.


Padahal mereka bisa ke kantin lebih dulu dan nantinya aku menyusul. Ini itu perkara yang sangat mudah. Tapi mereka malah menyulitkannya saja.


"Kak, gue ke kantin dulu, ya." Aku pamit dengan Kak Lesham sebelum Kak Maven dan Friska banyak berkata-kata. "Gue nggak diajak, nih?" tanya Kak Lesham.


"Ya, udah ayo."


"Lain kali aja. Gue lebih suka berdua daripada berempat," katanya lantas pergi dari hadapanku. "Jangan lupa cek hape," peringatnya sambil berhenti sejenak. Aku hanya mengangguk lantas menyuruhnya untuk segera pergi.


Kak Maven dan Friska datang menghampiriku dengan wajah kesal. Pasalnya mereka mau ke kantin saja harus ada aku. Makanya jadi terkendala seperti ini. Aku juga tidak menyalahkan mereka. Hanya saja, merekanya sendiri yang ribet.


"Ngapain ketemu dia segala, sih?" Friska langsung menyemburku dengan pertanyaannya itu. Ya memang kenapa bila aku bertemu dengannya? Tidak sengaja pula. "Bocil, dari tadi itu bakso kantin udah teriak-teriak minta gue makan. Lo nggak pengertian banget, sih," tambah Kak Maven.


Apa semuanya menyalahkanku?

__ADS_1


Dasar.


"Sori, sori. Udah yuk!" ajakku sambil merangkul Friska. Sementara Kak Maven malah mengercutkan bibirnya. "Gue nggak dirangkul juga?" ujarnya.


__ADS_2