Bena

Bena
BAB 6B


__ADS_3

Aku masih penasaran dengan hubungan Kak Savalas dan Kak Raden. Jika mereka hanya teman, mana mungkin Kakakku menyimpan nomornya. Kak Savalas bukan tipe orang yang suka menyimpan nomor orang bila itu tidak penting baginya. Sekarang, aku jadi ingin tahu. Siapa sebenarnya Kak Raden itu sehingga nomornya bisa disimpan oleh Kakakku. Aku harus mengetahui itu.


Ponsel Kak Savalas masih ku pegang. Akupun hanya sibuk berguling-guling di atas kasur sambil mencoba mengarang angka-angka password yang telah Kak Maven beritahu tadi. Namun tetap saja. Berkali-kali aku mencoba hasilnya selalu gagal. Apa mungkin angka yang aku masukkan tadi kelebihan?


Atau kekurangan?


Sembari berpikir aku hanya bisa menatap langit-langit dinding. Aku bingung harus bagaimana lagi. Aku ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Jika aku tidak segera tahu, rasa ini bukannya akan menghilang malah akan semakin meningkat. Selain Kak Maven, sudah tidak ada lagi yang bisa ku tanya mengenai Kak Savalas. Aku belum mengenal teman-temannya. Sejak dulu, Kak Savalas tidak pernah mengajak teman-temannya ke rumah. Karena itu. Selain Kak Maven aku tidak tahu siapa saja yang menjadi teman Kak Savalas.


Ponselku tiba-tiba bergetar. Ternyata ada satu pesan yang masuk kepadaku. Ku lihat, nomornya tidak ku simpan, tanpa berpikir panjang ataupun menduga aku langsung membukanya.


Sore, pacar


Pesan itu..., aku kira aku tahu siapa pengirimnya.


Siapa lagi orang yang mengakuiku sebagai pacarnya selain Kak Vante? Orang itu memang benar-benar menyebalkan.


Aku tidak peduli dengan pesannya. Aku juga tidak peduli dari mana dia mendapat nomorku. Mungkin, memang dari Kak Lesham. Hanya dia yang mengetahui nomorku. Lagipula mereka juga terlihat dekat. Aku memilih untuk tidak membalas pesannya. Ku letakkan ponselku di sampingku.


Lagi, lagi Kak Vante mengirimiku pesan.


Aku jengah.


Kalau nggak dibales gue ke rumah lo lagi, ya?


Aku bingung. Kalimat itu sebenarnya memberitahu, mengancam agar aku membalas pesannya atau sekadar bertanya?


Jika ada tanda tanya, aku rasa itu memang pertanyaan.


Dengan malas aku mengetikkan balasan untuk Kak Vante daripada dia harus datang ke rumahku. Yang ada nanti dia malah melakukan hal-hal yang aneh. Di luar dugaanku malah.


Ada apa, sih? Belum satu menit aku mengirimkan balasan, dia sudah membalasnya dengan cepat. Kangen


Kak Vante memang ambigu. Aku tak paham maksudnya.


Kangen siapa?


Kangen kamu


Gue nggak


I miss you, too


Terserah!


Besok, gue jemput sekolah, ya?


Nggak usah


IYA


GUE UDAH IJIN NYOKAP LO

__ADS_1


KATANYA BOLEH


Akhirnya, perdebatanku dengan Kak Vante berakhir dengan buruk. Dia tidak mau mengalah. Sukanya memang memaksaku saja. Tak ada pilihan lain, jika Mama sudah mengizinkan Kak Vante aku rasa aku tidak bisa menolaknya. Dia memang sangat pintar untuk membuatku menurutinya. Tiba-tiba ponselku berdering lagi. Aku menghela napas panjang. Ku duga ini yang meneleponku adalah Kak Vante. Tanpa melihat nama kontak yang meneleponku, aku langsung mengangkatnya dengan terpaksa. "Apa lagi sih, Kak? Kalau mau jemput ya udah besok jemput. Mama udah ngizinin, kan? Ya, udah. Gue juga udah ngerti, kok! Nggak usah diingetin lagi. Kakak pikir gue pikun?" Aku langsung menjawabnya dengan ketus.


"Bukan. Gue pikir lo Nadisha."


Ya, Tuhan! Suara ini..., aku membulatkan mataku lebar-lebar.


Ini suara Kak Jin. Aku masih ingat betul. Astaga, apa yang telah aku katakan padanya tadi? Marah-marah pula. Apa aku terkesan galak di pikirannya?


"Nadisha, lo mau gue jemput sekolah?"


Bolehkah aku mati sekarang?


____


"Kok diam?" tanya Kak Jin mengulangi. Seketika aku langsung tersadar akan lamunanku.


Aduh! Kenapa Kak Jin malah salah penafsiran seperti ini, sih?


Semua ini gara-gara Kak Vante.


Aku akan memarahinya nanti!


Namun, sebelum ku jawab Kak Jin sudah lebih dulu tertawa kecil di ujung sana. Aku hanya termangu mendengarnya. Aku rasa tidak ada hal yang lucu. Lalu kenapa dia tertawa?


"Udah. Gue bercanda kok, Nad," ungkap Kak Jin yang membuatku langsung merasa lega. "Vante mau antar jemput lo, ya? Wajar, sih. Lo kan pacarnya," lanjutnya kemudian.


Aku ini bukan pacar Kak Vante!


Harus berapa kali aku bilang, coba?


"Gue bukan pacar Kak Vante, Kak," tegasku kepada Kak Jin. "Oh, iya, tujuan Kak Jin nelepon gue apa?" Seketika aku langsung mengalihkan topik pembicaraan.


Kak Jin tak langsung menjawab. Dia menjeda pembicaraan kami.


"Lo serius sama Stig Cooking, nggak?" tanyanya.


"Serius kok, Kak."


"Kalau serius kenapa nggak pernah masuk?"


"Ya, itu eng---gue, eemm...," Aku lagi, lagi, bingung. Sudah beberapa minggu ini aku tidak masuk ekstrakulikuler memasak. Terakhir aku masuk itu pada saat pendaftaran. Itupun aku hanya menemui Kak Syden saja. Bermasalah pula. "Kalau lo takut sama Syden, gue yang akan ngebimbing lo," kata Kak Jin memotong pembicaraanku yang tidak jelas.


"Bukan takut kok, Kak. Gue yang kelupaan," jawabku membela diri. Kalau aku jawab iya, nanti yang ada kalau Kak Syden tahu dia bisa marah. Nanti ujung-ujungnya aku yang diceramahi. Yang tidak punya tata karma ini lah, itulah. Entahlah, kalau berada di dekatnya aku jadi selalu memiliki banyak kesalahan. Seolah-olah hari itu aku sedang diberi banyak masalah.


Omong-omong soal Kak Syden, aku sudah lama tidak pernah melihatnya. Mungkin karena aku jarang sekali ke kantin. Makanya aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tapi tidak masalah. Aku merasa jauh lebih baik jika tidak bertemu dengan Kak Syden daripada harus bertemu. Selain Kak Syden, aku juga sudah lama tidak pernah bertemu dengan Kak Nehan. Sangat lama.


Terkadang aku sempat mengeluh. Aku juga sempat mempertanyakan perasaanku ini. Apa memang perasaanku ini hanya sebatas kagum saja? Apa begitu? Apa benar yang Zelo katakan jika aku harus melupakan perasaanku kepada Kak Nehan? Lagipula, minggu lalu kata Friska ada rumor kalau Kak Nehan dan Kak Inggrid yang berstatus pernah pacaran itu katanya balikan. Jika sudah begitu. Apa aku masih berhak untuk mengejarnya. Rasanya, jika berhak atau tidak aku rasa aku masih berhak. Tapi yang membuatku selalu pesimis adalah Kak Nehan sendiri. Dia tidak pernah muncul di hadapanku.


Mencarinya saja sangat susah.

__ADS_1


Apalagi mengejar cintanya.


Tidak hanya itu, beberapa minggu ini Jastin sering sekali bolos sekolah. Hampir dua minggu ini dia selalu alfa. Tidak ada satupun surat pengantar yang datang. Aku juga tidak tahu dia ke mana. Apa mungkin jika dia bolos? Ah, aku rasa tidak. Mana mungkin dia bolos selama itu. Aku ingin sekali bertanya dengannya. Tapi tak ada satupun orang yang memiliki nomor ponselnya kecuali Zelo.


Aku hendak meminta nomor Jastin ke Zelo. Tapi akhir-akhir ini Zelo disibukkan dengan persiapan Olimpiade Sains. Jadi, dia jarang sekali berada di kelas. Hari-hariku ini selalu ditemani Friska karena Zelo memang tidak bisa menemaniku.


Memang iya, ya?


Akhir-akhir ini aku merasa aku ditinggalkan banyak orang. Padahal baru kemarin aku merasa kalau aku punya banyak kenalan. Tapi sekarang, kenalanku perlahan pergi menghilang. Aku juga heran sendiri. Kak Lesham yang dulunya sering mengirimkan pesan kepadaku tapi sekarang sangat jarang. Kak Syden yang suka mengomentariku, sekarang aku sangat jarang bertemu dengannya. Padahal, biasanya dia selalu muncul tanpa ku duga meskipun tidak harus di kantin. Jastin yang biasanya menganggu Zelo juga ikut tidak ada. Tanpa kabar yang jelas pula.


Kak Maven yang dulunya sering mampir di rumahku yang sekadar untuk bertemu Kak Savalas pun, sekarang juga sudah tidak pernah.


Sebenarnya pada ke mana, sih, orang-orang?


Kalau ada mereka semua aku kesal sendiri. Seakan aku memiliki banyak masalah hari itu. Tapi sekarang, tanpa mereka hidupku seakan hampa sekali. Sangat menyebalkan, bukan? Ketika orang itu ada kita merasa tidak senang, tapi saat mereka tidak ada, kita jauh lebih tidak senang. Itulah yang sedang aku rasakan sekarang.


Lalu, baru kemarin aku bertemu lagi dengan Kak Jin, Kak Lesham, dan Kak Vante. Bersamaan. Lalu, ke mana yang lainnya?


Apa aku harus bertanya kepada Kak Jin?


Dia kan anggota Stigma juga. Pasti dia tahu ke mana perginya beberapa anggotanya itu, bukan?


Tapi..., aku punya kendala.


Setiap berinteraksi dengan Kak Jin aku tidak bisa sebiasa mungkin. Terkadang, malah nyali pemberaniku hilang dengan sendirinya. Niat awal yang ingin ini dan itu jadi gagal hanya gara-gara rasa penakutku. Padahal jika dipikir-pikir, Kak Jin adalah satu-satunyaa orang yang ramah kepadaku. Aneh bukan jika aku takut padanya? Justru yang harus aku takuti adalah Kak Syden yang suka asal ngomong dan Kak Vante yang suka ngaku-ngaku. Seenak dirinya sendiri lagi. Bahkan tanpa memikirkan bagaimana perasaanku.


"Kalau lupa gue ingetin. Setiap hari Rabu masuk ekstra."


"Eh, iya, iya, Kak."


"Kalau masih lupa, setiap hari Rabu gue bakal jemput lo di kelas," ujar Kak Jin langsung. Entah itu serius atau tidak. Tapi aku terkejut mendengarnya. Apa kata orang jika aku ditungguin Kak Jin di depan kelas saat hari Rabu? Ah! Sungguh. Aku tidak bisa berpikir lagi nantinya. Pasti Kak Raden akan melabrakku lagi seperti waktu itu di kantin.


"Nggak usah, Kak," tolakku.


Kak Jin tertawa kecil lagi.


"Takut Vante marah?"


"Bukan."


"Takut ketemu gue?"


"Bukan, Kak."


"Apa takut jantungan di dekat gue?"


"Apa sih, Kak."


Kak Jin lagi dan lagi tertawa. "Nggak usah takut, Nadisha. Telepon ini bakal jadi teleponan yang terakhir. Stig Cooking setahun ini juga bakal jadi Stig Cooking gue dan lo yang terakhir. Nanti kalau gue udah lulus, lo tetap harus masuk ekstra meskipun Syden yang ngajar. Gue nggak bakal telepon lo lagi setelah ini. Jadi...," Kak Jin menggantungkan kalimatnya. Membuatku mati penasaran di sini. Aku menggigit kukuku sembari menunggu Kak Jin melanjutkan kalimatnya. Aku harap apa yang akan dia katakan nanti, tidak seburuk dengan apa yang aku bayangkan sekarang.


"..., jangan takut, Nadisha."

__ADS_1


__ADS_2