
"Lo nge-prank gue, ya?" tanyaku.
Mana mungkin Mama punya waktu untuk selingkuh. Aku bisa meyakinkan bahwa Mama jarang sekali keluar. Apalagi akhir-akhir ini Papa sering kali mengajak Mama keluar. Tentu Mama keluarnya sama Papa. Bukan keluar bersama lelaki lain. Kalaupun Mama keluar tanpa Papa, biasanya juga mengajak aku. Oke. Sampai di sini aku tidak percaya dengan penuturan Friska.
"Gue nggak main-main, Nad. Tapi ...." Friska menggantungkan ucapannya. Aku semakin dibuat penasaran olehnya. Serius. Masalah yang datang kepadaku jika membawa-bawa nama Mama itu nggak masuk akal. Nggak mungkin. Aku tahu Mamaku seperti apa. Meskipun Friska sahabatku, tetap saja aku belum bisa mempercayai penuturannya tentang Mamaku. Berbeda jika yang dia maksud orang lain. Orang yang tidak ku kenal. Kemungkinan aku bisa sedikit percaya kepadanya.
Semakin lama Friska semakin diam. Bibirnya terkunci secara tiba-tiba. Pandangannya menatap lurus ke depan. Sepertinya ada yang tidak beres. "Tapi kenapa, Fris? Kok lo malah diam aja," tambahku dengan menyenggol lengannya.
"Mukanya memang mirip sama Mama lo. Tapi gue keingat sama kasus Zelo dulu," jawabnya semakin kemana-mana. Aku sama sekali tidak mengerti. Lagi pula apa hubungannya selingkuhan Papanya Friska dengan Mamaku dan juga Zelo?
Aku berdehem. "Zelo udah lama pergi. Masalahnya juga udah dibawa pergi sama dia. Jadi semua ini nggak ada hubungannya sama dia, Fris."
"Tapi kan masalahnya belum selesai, Nad," bantah Friska lagi.
"Iya, gue tahu. Tapi semuanya udah berlalu. Setahun lho. Udah nggak ada lagi, kan?"
"Bukan itu, Nad. Gue cuma mikir kalau selingkuhan Papa gue itu orang yang mirip sama Mama lo," ungkapnya. Aku meneguk ludahku dengan kasar ketika mendengar ucapannya.
Aku memiringkan kepalaku heran. "Maksud lo wanita yang dianggap Zelo sebagai Mama gue? Yang disebut pe**ko* itu?"
"Nah, itu benar. Makanya gue mau nginap di rumah lo. Gue pengin buktiin itu."
Mau membuktikan? Serius. Mamaku itu tidak salah. Masa iya Friska tidak percaya kepadaku? Apa dia akan sama seperti Zelo dulu? Menganggap bahwa Mamaku lah yang telah menghancurkan kebahagiaan mereka? Aku bahkan telah lama menutup masalah itu. Tapi kini Friska kembali mengungkitnya dan menghubungkan dengan masalah pribadinya. Sama seperti Zelo dulu.
"Lo nggak percaya sama Mama gue?"
"Eh, nggak. Bukan begitu, Nad. Gue cuma nggg---"
"Lo nggak percaya."
"Nadisha nggak begitu," elaknya.
Aku bangkit. "Fris, masalah ini itu udah lama gue lupain. Lo nggak seharusnya mengungkit kembali. Mama gue nggak semurahan itu. Di dunia ini ada banyak kemungkinan. Termasuk kalau ada orang yang mukanya mirip sama Mama gue," kataku.
Aku bisa menerima jika orang lain menjelek-jelelkkanku, menghinaku, ataupun menganggapku seperti apapun. Asal jangan bawa-bawa Mamaku. Aku sudah lama melupakan perihal Zelo. Kini, rasa sakit itu kembali datang kepadaku. Tentu dengan orang yang hampir sama dengan kasus yang juga mirip. Dengan seorang sahabat dan kasus yang berhubungan dengan orangtua.
"Gue sarapan dulu," izinku. Tanpa menunggu persetujuan Friska, aku pun pergi dari UKS. Mataku berair. Aku ingin menangis. Rasanya susah untuk menahannya. Tetapi ini di sekolah. Aku takut jika nanti ada banyak siswa-siswi yang menganggapku yang tidak-tidak. Lagi pula aku juga tidak terbiasa menangis di sekolah. Bahkan aku selalu menahan hal itu agar tak pernah ku lakukan. Meskipun hanya sekali.
Sepertinya hubunganku dengan Friska sedikit renggang sekarang. Sama seperti hubunganku dulu dengan Zelo. Aku pergi meninggalkan Friska bukan karena tidak memiliki belas kasih. Aku hanya tidak ingin marah kepadanya. Emosiku perlahan naik bila mengingat masalah dulu. Selama ini aku tidak pernah marah kepada Friska. Karena itu, sekarang aku tidak ingin menyulut emosinya juga. Aku masih ingin mempertahankan hubungan ini.
Aku tidak ingin kehilangan orang baik untuk yang keempat kalinya.
Zelo.
__ADS_1
Kak Vante.
Kak Lesham.
Cukup mereka bertiga saja. Jangan lagi ditambah dengan Friska.
____
"Eh, eh, Jas---ssttt." Aku tersentak ketika Jastin menarikku mendekat padanya sewaktu Bu Ida masuk kelas XII IPS 4. Iya. Sekarang aku bukan lagi anak SMA yang baru. Aku sudah menginjak kelas akhir di SMA. Sebentar lagi. Tinggal menghitung hari dan aku akan lulus.
"Duduk sini," ujar Jastin sambil menepuk meja yang ada di sampingnya.
Aku masih berdiri, mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Tadi aku sudah melihat papan pengumuman dan aku masuk di kelas XII IPS 4. Sekarang sudah benar. Aku ada di ruang kelas XII IPS 4. Tapi masih ada yang kurang. Perasaan Friska itu sekelas denganku. Apa mungkin aku yang kepedean karena tidak sempat bertanya atau pun melihat nama Friska juga tadi.
"Dedek Nanad, Bu Ida udah masuk. Duduk, ya." Jastin masih memaksaku. Tapi memang tidak ada pilihan. Semua tempat duduk sudah penuh. Hanya ada satu yang kosong. Tepat di samping Jastin. Ah, masa iya aku harus sebangku dengannya?
"Ya, udah kalau nggak mau duduk disini. Sana duduk di samping Bu Ida aja," timpal Jastin.
Aku pun langsung duduk di sampingnya. Tidak ada pilihan, kan? Daripada aku sama sekali tidak mendapat tempat duduk. Lebih baik dengan Jastin pun tak apa. Aku masih sempat menggerutu. Tadi pagi kan aku niatnya ingin mengecek daftar nama kelas yang sudah diacak lagi. Setiap tahunnya di STANDAR selalu diacak untuk kelas masing-masing siswa. Intinya tidak ada yang berada di kelas A selama tiga tahun berturut-turut.
Ini yang aku takutkan. Aku tidak sekelas dengan Friska. Jika begini akan sulit untuk menyelesaikan masalahku dengannya. Padahal tadinya ku pikir dia sekelas denganku. Tentu ada kemungkinan jika dia sudah mencarikanku tempat duduk. Yang otomatis sebangku dengannya. Jika sudah terlanjur begini, dia bagaimana sekarang, ya? Apa masih baik-baik saja?
"Friska beneran nggak sekelas sama kita?" tanyaku pada Jastin yang sudah sok sibuk dengan alat tulisnya.
Jastin melirikku. "Penginnya, sih, begitu biar lo sebangku sama gue," jawabnya.
Aku jadi pusing sendiri. Sebenarnya Friska itu ada denganku tidak, sih?
"Lo bohongin gue, ya?" Aku menatapnya.
"Maunya gimana?"
"Jangan ngeselin, deh."
"Iya, Sayang, nggak lagi."
"Bisa nggak panggilnya nggak usah begitu? Nggak enak didengernya," imbuhku.
Tapi Jastin hanyalah Jastin. Dia tidak akan mengindahkan ucapanku. Cowok ini memang seharusnya tidak ku kenal. Dulunya kalau tahu dia setidak waras ini, aku tidak akan mau mengenalnya. Percuma. Lagian juga tidak penting. Dia selalu saja membuatku jengkel sama seperti anak Stigma lainnya. Iya, bahkan hampir semua anak Stigma kecuali Kak Jin. Hanya itu.
Kak Nehan pun juga sama. Ikut menyebalkan juga. Eh, tapi tunggu. Kak Nehan mendadak hadir di depanku setahun yang lalu dengan lagak yang aneh. Begitupun dengan Kak Vante yang tiba-tiba menyapaku di toko alat masak sewaktu aku menemani Kak Syden belanja peralatan untuk Stig Cooking. Ini bukan kebetulan sepertinya. Kak Nehan saja sudah berubah sikapnya. Sudah tidak dingin kepadaku. Kak Vante pun, sudah lebih waras.
Entahlah. Jika membahas masalah itu lagi-lagi aku hanya dibuat pusing. Kak Vante pernah bilang jika dia akan pergi. Tapi sepertinya dia muncul lagi di hadapanku. Ya, meskipun kejadian itu sudah satu tahun yang lalu. Ah, kenapa tiba-tiba malah memikirkan cowok itu, sih? Kurang kerjaan sekali diriku ini.
__ADS_1
"Permisi, Bu. Maaf saya terlambat." Aku mendongak ketika suara itu mulai terdengar. Suara itu sangat ku kenal. Tidak salah lagi. Friska.
Bu Ida menoleh kepada Friska. "Ya, sudah tidak apa. Tapi lain kali jangan diulangi, ya. Kali ini saya toleransi."
"Baik, Bu. Makasih."
Friska berjalan. Ya, Tuhan. Friska benar-benar sekelas denganku. Tapi sekarang aku malah duduk sebangku dengan Jastin. Lagi pula kenapa aku langsung percaya dengan Jastin, sih? Padahal dia ahlinya membuatku jengkel.
"Mm, Bu." Friska kembali membalikkan badan menghadap Bu Ida.
"Iya, Fris. Kenapa?"
"Bangkunya udah penuh, Bu. Saya duduk di mana, ya?" tanya Friska.
Bu Ida mengedarkan pandangan. Lalu berhenti di depanku dan Jastin. Aku semakin gugup dibuat oleh beliau.
"Jastin," panggil Bu Ida.
"Iya, Bu."
"Kamu ambil kursi sama meja di ruang TU. Biar Friska sebangku sama Nadisha," perintah Bu Ida.
"Eh, nggak bisa begitu dong, Bu. Saya kan udah datang pagi biar bisa nyari tempat buat saya sama Nanad. Masa sekarang harus pisah," gerutunya.
Bu Ida berdehem. "Jangan manja! Biasanya juga sekolah di rumah. Nggak ada temannya. Jadi sekarang biarin Friska sama Nadisha."
"Ah, elah."
"Atau mau lari keliling lap---"
"Terima kasih, Bu, sebelumnya. Tapi saya lebih suka ambil kursi sama meja. Permisi," sahutnya lebih dulu memotong ucapan Bu Ida. Seperkian detik Jastin langsung beranjak dari kursinya sambil menenteng tas ranselnya. Memasukkan buku dan pulpen secara asal ke dalam tasnya. Lantas melangkah dengan malas.
Jastin berhenti sejenak di samping Friska. Dia menyengir. "Friska cantik banget pagi ini," katanya lantang.
Seantero kelas langsung riuh dibuatnya. Aku menghela napas. Sepertinya masih sama. Jastin belum berubah juga.
"Cantiklah, gue kan cewek." Friska menimpalinya, lantas kembali melangkah mendekat ke arahku. Sebaliknya, Jastin langsung pergi begitu saja sebelum Bu Ida memergokinya sedang mengobrol. Belum sampai di tempat duduk Jastin, si Friska menepuk bahu Damira---cewek yang semula duduk di depan Jastin. "Ada apa?" tanyanya pada Friska.
Dagu Friska menunjuk ke arahku. Memberi Damira isyarat untuk pindah tempat denganku. Ku lihat, Damira menggeleng awalnya. Namun Friska kembali berkata. "Cuma beberapa hari aja. V oke?"
Alhasil Damira mengangguk dan menuruti apa yang Friska mau. Aku menenggelamkan kepalaku. Friska masih marah kepadaku. Buktinya dia enggan untuk duduk sebangku denganku. Ya ampun. Apa masalahku dengan Zelo akan terulang lagi sekarang dengan Friska?
A/N:
__ADS_1
Rajin up akan dimulai tanggal 15 Mei, ya