
'' maaf pak, saya hanya menawar kandiri saja.?'' ujar Tiwi tersenyum lebar
'' tidak sopan kau,.?'' ketus Aldo kembali lagi ke tempat nya semula
sedang kan Tiwi jadi tersenyum kaku mendapat kan jawaban seperti itu, ia tidak tau, akan seketus itu Aldo menjawab permintaan nya
sedang kan Lala dan bik Tami sedari tadi melongo melihat apa yang terjadi di depan mata mereka berdua, terakhir Lala dan bik Tami pun saling pandang ke heranan
'' kok diam saja sih.. Han.?'' Aldo kembali lagi menarik tangan Hani ke arah kepala nya
membuat Hani tentu terkejut dan kembali lagi memijat kepala Aldo, ia masih menatap Tiwi dengan curiga,
'' mas, Hani capek.'' keluh hani menatap Aldo yang berada di pangkuan nya
'' sebentar lagi saja Han,?'' pinta Aldo pada Hani
'' tapi Hani capek mas,'' rengek Hani
namun tak membuat Aldo berpindah dari pangkuan Hani, ia malah betah berlama-lama di pangkuan Hani
'' aduh,, kepala papa nya.. kok di tendang sih.?'' Aldo mengusap perut Hani, yang mana bayi di dalam nya bergerak dengan aktip
'' kamu sih mas, di bilangin aku capek,,, gak mau dengerin sih.?'' ujar Hani merengut
'' tapi gak kepala papa juga nak, awas aja kamu, kalau nanti keluar, papa masuk kan ke karung.?'' ujar Aldo gemas melihat perut Hani
'' kayak apa aja main masuk kan ke karung, mas, mau Hani masuk kan ke karung,?'' ujar Hani menatap Aldo melotot
'' gak buat Han,?'' ucap Aldo seraya tersenyum lebar tanpa dosa sedikit pun pada Hani
'' sana jauh-jauh sih mas, bikin gedek aja.?'' Hani menatap Aldo malas
'' mau Deket kamu Han,?'' Aldo makin memeluk erat tubuh Hani
tak berapa lama, gangguan pun datang menghampiri Aldo, di mana kini baju kaos Aldo di tarik oleh kiano sambil menangis lepas
'' aduh,, apalagi sih ini.. kenapa begitu banyak sekali mengganggu.?'' Aldo pun berbalik badan menatap ke arah kiano yang sedang menangis
'' aduh adek.. papa nya lagi istirahat,, mari sama mbak saja.?'' Lala mencoba membujuk kiano yang masih menarik Aldo agar
__ADS_1
'' biar kan saja mbak, mungkin kiano hanya ingin bermain dengan saya,?" Aldo meraih kiano yang ada di bawah, menaruh nya di pangkuan nya
" basah baju nya mas,?" Hani menunjuk ke arah baju kiano yang basah
'' eh.. iya, ini basah karena apa.?'' Aldo membuka baju kiano langsung, Aldo tidak ingin anak nya nanti masuk angin karena baju basah
'' mbak Lala, tolong ambil kan kaus selinget dong.?'' pinta Hani pada Lala
'' baik mbak,.''
dengan cepat Lala pun beranjak mengambil kan baju untuk kiano, dengan tergesa-gesa Lala menghpiri Aldo, namun belum sampai di tujuan, Tiwi menghalangi nya
'' biar aku saja yang mengantar kan nya Lala.?'' pinta Tiwi mengadah kan tangan nya
'' tapi mbak, kiano kan memang tanggu jawab saya.?'' Lala menatap heran ke arah Tiwi
'' kamu ini, apa salah nya, saya yang mengantar kan nya, kamu? tinggal jangan kenan saja, kan? gak susah?'' Tiwi merebut paksa baju yang di tangan Lala dan membawa nya ke arah Aldo
'' ini baju nya mas,.''
dengan tersenyum lebar, tiwi memberikan baju kiano ke tangan Aldo, membuat Aldo mengambil nya begitu saja
'' terima kasi mbak Tiwi.'' ucap Hani, sedang kan Aldo hanya diam saja membuat Tiwi melirik kesal ke arah Aldo
malam pun tiba kini Aldo berbaring lelah di atas ranjang mereka, kelelahan Aldo membuat ia gampang tertidur pulas, sedang kan Hani karena hormon kehamilan nya yang semakin tua, ia tidak dapat .memejam kan mata walau hanya sekejap
***
'' bangun mas, sudah pagi.?'' Hana membangun kan Aldo pagi ini
'' bentar Han,, mas, masih mengantuk.?'' Aldo berbalik badan, memunggungi Hani
'' ya.. sudah, kalau tidak mau bangun, biar Hani bangun sendiri saja.?'' Hani bangkit dan berjalan ke kamar mandi melakukan rutinitas pagi
sedang kan di sisi lain, Tiwi kini memulai rencana nya untuk mencelakai Hani, ia kini melirik ke arah dapur, di mana kini Dewi tengah sibuk memasak,
'' bagus lah, mereka sedang sibuk, aku bisa melakukan rencana ku.?'' Tiwi masih melirik ke arah dua orang yang tengah sibuk membuat sarapan pagi
Tiwi berjalan perlahan ke arah kamar Aldo dan Hani, sedang kan Lala kini tengah sibuk mengurusi tiga k,
__ADS_1
'' cocok sekali, tidak ada yang melihat ku.?'' Tiwi celingukan ke kana dan ke kiri, untuk memastikan ia aman dari semua orang
ia pun langsung menyiram lantai dengan minyak, tepat di depan pintu kamar Hani, setelah itu, Tiwi pergi meninggal kan kamar tersebut setelah misi nya selesai
'' semoga tidak ada yang tau,, lihat saja, sebentar lagi, aku yang akan berkuasa di rumah ini.'' ujar nya tertawa pelan
'' hei.. mbak, kenapa senyum-senyum sendiri di situ,?' ketepatan Lala keluar kamar dan melihat Tiwi tersenyum tepat di depan pintu kamar mereka
'' kepo kamu,?''
Tiwi mengabai kan teguran Lala pada nya, ia berjalan ke arah dalam kamar, dan melakukan aktifitas nya untuk menghilangkan jejak
sedang kan Hani, selesai mandi dan berganti baju, ia pun hendak keluar dari dalam kamar, Hani akan membantu seperti biasa kesibukan yang ada di dapur
'' mas.. bangun, Hani mau ke dapur nih.?'' Hani mencoba membangun kan sekali lagi Aldo
'' mas.. masih ngantuk Han, bentar lagi ya..?'' nego Aldo lagi, sambil menarik tangan Hani dan memeluk nya
'' iiihhh lepas mas, Hani mau keluar,, kenapa di pegangin begini.?'' protes Hani
'' temani mas saja sayang.?'' pinta Aldo masi dengan mata terpejam
'' lepas mas, Hani tidak mau menemani mas,, Hani capek tiduran terus.?'' ujar hani
'' sebentar saja sayang, mas masih mengantuk, mas, tidak bisa membuka mata, rasa nya berat sekali.?''
'' tidak bisa buka mata kok, bisa berbicara, lancar pula itu.?'' sungut Hani menarik tangan nya yang di dekap Aldo
'' ya.. sudah, kalau kamu mau ke dapur pergi saja..?'' Aldo berkata dengan nada pelan,
entah kenapa, sejak semalam Aldo merasakan mata nya sangat berat, ingin rasa nya ia tertidur sampai puas, tidak ada yang mengganggu
'' ya.. sudah, kalau mas tidak mau bangun, Hani mau ke dapur jangan di larang.?'' Hani berjalan ke arah pintu, ia ingin sekedar membantu walau tidak bisa banyak
ketika membuka pintu, dengan santai nya Hani berjalan ke luar dan akan melangkah, namun sayang, baru beberapa langkah kaki nya sudah
aaaakkk maassss
...****************...
__ADS_1
jangan lupa like'komen hadiah vote nya ya
terima kasih