Benci Dan Cinta

Benci Dan Cinta
benci dan cinta 69


__ADS_3

" kenapa Kiara, menangis sedari tadi sih.. kemana si Hani, kanapa ia membiar kan Kiara menangis..? Kesal ana mendengar suara tangisan Kiara namun tak kunjung ada yang mendiam kan Kiara


Dengan tergesa-gesa Ana pun menaiki tangga menuju kamar Hani, sebenar nya ana letih jika ia harus turun naik ke atas kamar Hani, dulu kamar ana berada di atas juga, tapi setelah paktor usia ini, ia memilih pindah kebawah untuk menghindari turun naik tangga


Ana pun membuka pintu kamar Hani yang tak pernah di kunci tersebut, Hani memang sengaja tidak pernah mau mengunci pintu kamar dari dalam, sebelum dan sesudah ia mengasuh Kiara pun tetap sama, kebiasaan Hani yaitu adalah, ketika ia sudah tertidur dan akan susah untuk membangun kan nya


" Ya.. ampun, Hani... Bangun, pusing mama, kebiasaan mu tidak bisa di ubah, kalau sudah tertidur mau badai apa pun yang datang tak akan membuat mu bangun...? Omel ana ketika ia sudah ada di dalam kamar Hani, dan mengangkat tubuh Kiara


Ana pun lalu menggoyang kan tubuh Hani, agar Hani mau terbangun, kebiasaan buruk Hani selalu susah bangun kalau sudah tertidur pulas


" Hani.. lihat Kiara menangis, kenapa kau biarkan... Hani bangun...? Ana masih mencoba membangun kan Hani


Setelah berapa menit, ana pun berhasil membangun kan Hani dari tidur pulas nya, dengan wajah kaget dan bingung


" Lihat Kiara menangis sampai merah begini seluruh wajah nya, kamu itu ya... Tidur siang pun tetap sama, susah untuk bangun. Padahal Kiara menangis sangat kencang sekali..? Ana tak habis pikir dengan Hani yang susah di bangun kan


" Maaf ma...? Hanya itu lah yang keluar dari mulut Hani, karena nyawa nya belum terkumpul semua


" Haduh... Ini baru anak angkat, kalau nanti kamu memiliki anak kandung sendiri lebih dari satu, entah lah... Apalagi jauh dari mama, bagai mana nanti kamu mengurus anak mu...? Mama ana masih saja mengomel,


" Hani ngantuk banget ma, capek juga, tadi malem Hani gak bisa tidur... Gara-gara Kiara menangis terus dan demam tinggi...? Ucap Hani ketika ia sudah pulih kesadaran nya


" Kan bisa di titip kan dengan mbak Tia, kalau kamu mau tidur siang...? Ucap mama ana


" Tadi Mbak Tia nya lagi belanja ma, jadi terpaksa hani bawa ke kamar, sedang kan mama masih di kamar sedang beristirahat juga...? Jelas Hani

__ADS_1


Yang mana membuat mama ana terdiam, ana pun tak lagi berkata, ia lalu membawa Kiara keluar dari kamar Hani dan membawa nya ke bawah


" Kiara Kenapa ma, Hani kemana..? Tanya Alan ketika melihat sang istri membawa Kiara turun


" Badan nya kurang sehat pa, mungkin ada yang pegel ini, maka nya nangis terus dari tadi malam...? Ana pun duduk di dekat Alan sambil mengelus punggung Kiara


" Coba suruh tukang urut kemari ma, agar Kiara nya di urut, mungkin ada yang sakit...? Alan melihat ke arah Kiara dengan tersenyum


" Nanti lah pa... Biar Dion aja mama suruh jemput nya...? Ujar ana, ia masih mendekap Kiara, agar Kiara tidak menangis terus menerus


Alan pun mencoba membantu ana untuk menenangkan Kiara, kini mereka mencoba membuat Kiara lupa akan sakit nya


" Mana Kiara ma..? Ternyata Hani tidak tertidur kembali, melainkan ia mandi agar mata nya tidak mengantuk Kembali


" Kiara ini, sedang tertidur, kenapa kamu sudah bangun, apa kamu tidak tidur kembali...? Tanya mama ana ketika melihat Hani turun ke bawah


Hani pun ikut bergabung dengan mama papa nya, ia duduk di dekat mama nya yang sedang membekap Kiara di dada ana


" Mama mau pindah kan Kiara terlebih dahulu ke kamar mama...? Ujar ana dan berlalu dari duduk nya menuju ke kamar ana


Sedang kan Alan kini ia pokus membuka email nya, ia kini bekerja melalui email karena di kota B tidak ada lagi yang memantau di sana, sedang kan Hani sudah di boyong kembali kerumah sejak kejadian di mana Dion dan Dina di sekap


" Papa mau ke ruang kerja ma...? Pamit Alan ketika ana sudah duduk kembali bersama Hani


" Iya pa...? Saut singkat mama ana

__ADS_1


" Mah... Mama apa gak capek, pulang balik ke kota E dan kota A...? Tanya Hani dan ia pun membaringkan tubuh nya dan berbantal kan paha ana


" Sebenar nya ya... Capek, tapi mau bagai mana lagi, kondisi Aldo belum juga pulih, Aldo masih koma, dan belum tau akan kapan bangun nya, atau tidak bangun sama sekali..? ana menghela nafas berat ketika mengingat kondisi Aldo yang terakhir kali


" Kenapa mama berbicara seperti itu....? Heran Hani


" Ya... Setiap saat, Aldo kadang kejang, dan tak berapa lama setelah kejang nya berhenti, Aldo selalu memanggil mu, dokter sudah menyaran kan, agar semua alat bantu di tubuh Aldo di cabut saja, namun Tante Ella menolak nya, ia belum terima kalau Aldo sudah tiada...? Ucap mama ana


" Sudah separah itu ma, apakah belum juga sadar, Hani pikir. Semalam Dion hanya bercanda saja...? Hani kini terduduk mendengar penjelasan mama ana


" Iya, bahkan Tante Ella berpuluh Kali meminta mama agar membujuk mu, namun mama tau sikap anak mama yang susah dan keras kepala, mama hanya mengiyakan saja, dan terakhir kali, mama menghubungi Dion, agar Dion bisa membujuk mu, tapi hasil nya tetap sama, kamu selalu menolak..? Ujar ana sambil menata anak nya


" Hani kira hanya akal-akalan saja ma, karena Hani tidak mau Aldo mengejar Hani terlalu jauh, Hani masih kecewa pada Aldo..? Ucap Hani sendu


Hani masih teringat perihal Aldo yang telah memakai nya habis-habisan dan mencelanya setiap saat,


namun saat itu Hani tidak pernah mengambil pusing atas apa yang di ucap kan oleh Aldo, karena cinta nya terhadap Aldo ia sampai lupa apa namanya harga diri


namun sekarang hal itu, berputar kembali kepada Aldo, memang Hani tidak pernah memaki Aldo,


tapi Hani selalu menolak keras usaha Aldo, Hani seolah mengunci mati hati nya untuk Aldo


entah lah, mungkin hari ini begini, entah hari esok, kadang kala hati bisa berubah-ubah tidak sesuai dengan apa yang kita ingin kan


" mama yakin, kamu tidak sekejam yang mama lihat...? ana mencoba membuat anak nya tidak terlalu egois

__ADS_1


" mama kira Hani kejam, tidak lah, hanya saja Hani masih kecewa pada Aldo ma.. perkataan nya selalu saja berputar di ingatan ku, tidak pernah mau pergi...? ucap Hani sambil bertopang dagu


__ADS_2