Benci Dan Cinta

Benci Dan Cinta
Bab 41.


__ADS_3

"Grandma aku boleh ke toilet ?"


"tentu saja sayang, mau grandma tunggu ?"


"tidak perlu grandma, pria sejati tidak membuat wanita nya menunggu" ucap Hanzel, Romanove melirik Jimmy begitupun sebaliknya. Mereka berdua menahan tawa dan mengeleng pelan kepala nya.


"Jimmy temani cucu ku, jangan biarkan ia lecet sedikit pun jika tidak ingin mati"


"baik madam" ucap nya lalu mengandeng tanggan Hanzel ke toilet.


Ceklek


Romanove tiba tepat di depan private room yang telah di sediahkan oleh sang adik Rania dan pintu di buka oleh dua pelayan.


"silahkan nyonya"


"maaf aku terlambat" Romanove santai lalu membuka kaca mata hitam dan menaruh tas nya di atas meja dan memperkenalkan diri ke arah Haider dan Alice.


"ROMANOVE" ucap nya tanpa berjabat tanggan.


"Haider" Haider menatap tajam ke arah Romanove.


"Alice" sambil tersenyum, Romanove hanya melirik nya lalu membuang arah pandang ke sang adik.


"senang bertemu dengan kalian" ucap nya menatap ke arah Rania dan Will.


"bagimana kabar mu kak ?" ucap Rania masih melihat kaka nya.


"aku baik, bagimana dengan mu gadis manja ?"


"aku sangat baik dan bahagia kutub es ku yang sangat dingin dan ketus" ucap Rania.


Ceklek...


"Grandma ?" ucap Hanzel dari arah pintu, semua nya melihat ke arah Hanzel dan lebih terkejutnya adalah Haider.


"Hanzel ?"


"oh ada uncle jelek dan bodoh yang baik hati tapi tidak tampan" ucap Hanzel membuat mereka tertawa sedangkan Romanove hanya tersenyum.


"ck bocah ini, selalu menghina ku, oke sabar sabar sabar Haider ini ujian" ia menarik nafas nya dan memhembuskan secara perlahan.


"boy kemari lah, tidak sopan berucap seperti itu pada uncle"


"maaf grandma" Romanove mengangkat tubuh kecil itu, lalu menperkenalkan Hanzel dan juga memperkenal kan ke empat orang yang duduk bersama mereka.


"aku ingat sekarang grandma, grandma itu orang yang sama di foto grandma kan ? apa dia adik yang begitu grandma sayangi ?" tanya Hanzel.


"tentu saja dia orang yang sama karena aku sangat menyayangi nya, aku rela melakukan apapun untuk dia bahkan membunuh sekalipun" ucap Romanuve membuat Rania tersenyum dan terharu menatap sang kakak.


"lalu aku dan Haziel, apa grandma sangat menyayangi kami seperti grandma itu ?" tanya Hanzel dan melihat lekat Romanove.


"tentu kalian juga akan aku lakukan hal yang sama karena aku sangat menyayangi kalian" ucap Romanove, Hanzel lalu mencium pipi Madam R dengan lembut.


"kak siapa ibu nya kenapa kau sangat menyayangi mereka ?" tanya Rania yang sudah penasaran dengan ibu Hanzel.


"kalian akan tahu dengan sendiri nya"


"bagimana kami tahu jika orang nya tidak ada di sini" ucap Will pelan karena ia takut jika Romanove akan memukulnya.

__ADS_1


"aku bahkan meluangkan waktu ku yang berharga untuk datang menunggu seseorang" ucap Haider. Romanove hanya diam menatap Will dan Haider, Will begitu ketakutan karena dulu ia hampir di bunuh oleh Romanove karena menyakiti Rania.


"tunggu lah beberapa menit, ini belum terlalu terlambat" ucap Alice dan menggengam erat tanggan Haider.


Heningg tanpa ada suara, mereka sibuk dengan pikiran sambil menatap Romanove yang terus mengelus lembut surai milik Hanzel.


"silahkan pesan makanan selagi kita menunggu anak mu kak"  ucap Rania memecahkan keheningan.


Setelah memesan Romanove juga memesan untuk Jasmine, selang beberapa saat mobil milik Jasmine telah tiba di depan restoran.


"restoran yang bagus, apa tidak ada pelanggan ?" Ujar Jasmine lalu melirik keseluruhan Restoran mewah tersebut dan langsung keluar dari mobil dan terburu buru kedalam.


"nona anda sudah sampai silahkan itu aku"


Jimmy menuntun Jasmine "itu tempat nya, madam R sedang menunggu bersama keluarga nya"


"terima kasih uncle, aku permisi" Jasmine berlalu terburu buru lalu kedua pelayan membuka kan pintu untuk nya.


Ceklekk


"maaf mom aku terlambat, ada sedikit kec\~


Deg Deg Deg


wanita yang begitu ia cinta, ia rindu dan sangat ingin ia temui berdiri tepat di depan mata nya.


"Jasmine ?" lirih Haider menatap lekat Jasmine, mata nya membulat tak kalah terkejut dengan kedua orang tuanya.


"Haider ?" Batin Jasmine.


Tubuh Jasmine terpaku, ia melirik ke arah tanggan Haider yang di genggam oleh wanita lain.


"Ereine apa yang kau lakukan sayang ? kemari lah" ucap Madam R membuat Jasmine tersadar dan langsung duduk di samping madam R.


Kedua orang tua Haider saling menatap dan terkejut bahkan sama dengan Haider, pria itu terlihat syok, ia menarik tanggan nya saat Jasmine melirik ke arah nya, Alice tampak binggung suasana di dalam semakin cangguh, mom Rania yang cerewet bahkan hanya berdiam diri.


"momy" panggil Hanzel membuat mereka menatap kearah Jasmine dan Hanzel bergantian.


"biar momy ambilkan untuk mu, dan pindah lah ke pangkuan momy, grandma tidak nyaman jika seperti itu" ucap Jasmine lalu memindahkan Hanzel di pangkuan lalu mulai mengambil makanan untuk anak nya.


"tidak mungkin, dia hanya milik ku dan tidak boleh ada yang memilikinya selain aku"  batin Haider.


"ayo kita makan lalu melanjutkan pembicaraan yang ingin kalian bahas" ucap madam R.


"sayang kau ingin ini ?" ucap Alice tiba tiba karena sedari tadi ia melihat Jaoder hanya fokus menatap gadis itu tanpa melihat ke arahnya.


"hmm" jawab nya singkat belum melepaskan pandangan mata nya dari Jasmine yang sedang menyuapi Hanzel.


"anak ku memang cantik cano, jadi jangan terlalu memperhatikan nya, kau akan jatuh cinta padanya" ucap madam R membuat Rania terbatuk.


"dia anak mu dan nama nya Ereine ? bukan Jasmine ?" tanya Haider, sedangkan Jasmine mulai merasa gugup namun ia tetap mengontrol rasa panik nya dengan cepat.


"Jasmine Ereine De Romanove" ucap madam R.


"aku kira Jasmine Murk istri ku" ucap Haider membuat beberapa orang langsung terbatuk


uhukk uhukkk uhuukkk


"sayang pelan pelan" ucap Will sambil memberikan air ke arah Rania.

__ADS_1


"kau juga" ucap Rania memberikan minum ke arah Will dan Alice juga meninum minuman nya.


"istri ? yang benar saja. dia memang gila" batin Jasmine. ia mulai memberikan makan pada Hanzel.


Tatapan Haider belum terahlikan dari Jasmine sedikit pun, merasah risih ditatap oleh Haider akhir nya Jasmine undur diri.


"mom aku keluar untuk memberikan makan pada Hanzel" ucap nya.


"cepat lah kau juga haru makan" ucap Romanove.


"kenapa kalian tidak makan ? ayo makan bersama" ucap madam R kepada mereka berempat yang tak makan lagi.


"selera makan ku sudah hilang" ucap Haider


"eh cano mau kemana kamu sayang ?"


"tentu saja menyusul istri ku"


"tapi dia buk\~"


"mom aku tahu itu dia istri ku"


"tap\~


"biarkan saja dan jangan ikut campur Rania" ucap madam R. Haider lalu berjalan keluar mengikuti Jasmine.


"ikut aku" ucap nya sambil menarik tanggan Haider.


"kau apa yang kau lakukan" sentak Jasmine berusaha melepaskan diri dari Haider.


"aku bilang ikut yah ikut"


"momy huaaaa uncle jahat uncle jelek jahat" Hanzel menangis dan memukul kaki Haider.


"aku hanya meminjam momy mu sebentar" ucap nya dengan wajah datar


"tidak. tidak mau, kau menyakiti momy ku" dengan kasar Haider menolak Hanzel.


Plakkk


"kau ! dasar manusia tidak tahu sopan santun bahakn dengan anak kecil saja kau sangat kasar" ucap nya lalu memeluk Hanzel.


"Alex" ia memberikan isyarat kepada Alex agar membawa Hanzel.


"Kau apa yang kau lakukan, kembalikan putra ku, kembalikan" ucap Jasmien ketika dua orang bodyguard memisahkan mereka.


"momy tolong mom, mereka memisahkan ku dari Hanzel" suara putus asa Jasmine begitu menyanyat hati sambil memangil sang madam R.


"kakak, Haider memisahkan mereka" ucap Rania.


"kau cukup diam tanpa harus ikut campur" ucap nya penuh penekanan kepada sang adik Rania, namun di dalam hatinya begitu terluka mendengar suara pilu milik Jasmine dan Hanzel.


"kak kau yakin baik baik saja ?" Rania bisa melihat wajah Romanove berubah sandu.


"aku baik baik saja"


"tapi nyatanya tidak kak aku bisa melihat nya, hati mu sangat sakit melihat nya menangis bukan"


"ini cara ku satu satu nya mempertemukan mereka dan menolong cucu ku" ucap Romanove.

__ADS_1


Will dan Rania mengerutkan kening, sedangkan Alice hanya dia dan mencerna apa yang sedang terjadi.


"momy" lirih Hanzel sebelum ia tertidur.


__ADS_2