
Haider pergi ke bar, tanpa memperdulikan Jasmine yang sedang pingsan dan kesakitan, disana ia menghabiskan waktu nya dengan minuman dan ditemani beberapa ******, ia hanya menangis dan terus meminum alkohol yang di pesan.
...Drt drt drt ...
...Alex memanggil.......
^^^•hmm^^^
•dia sudah sekarat tuan
^^^•kenapa tidak di habisi sekalian ?^^^
•tap\~
^^^•buat seolah kecelakaan^^^
•baik tuan.
^^^•tarik semua bodyguard dan juga perawat yang menjaga Jay, biar aku yang akan membalas perbuatan nya^^^
...Tut tut tut...
"Jasmine kau salah karena bermain di belakang ku, kau salah karena menghianati ku, kau akan menderita di tanggan ku" ucap Haider yang terus meminum minuman nya dan beberapa ****** mulai merenggek di samping nya.
Haider yang begitu terbakar cemburu dan merasa di hianati oleh Jasmine tanpa berpikir panjang menyuruh orang untuk membunuh Abigail, bahkan ia tidak memberikan kesempatan untuk Jasmine menjelaskan.
Dixie terus mengirim video dan foto ciuman Jasmine bersama Abigail, membuat Haider makin terbakar dan terus membuat nya membenci Jasmine,membuat Haider hilang kendali dan memanfaatkan situasi untuk memperburuk hubungan Jasmine dan Haider hingga Haider sendiri lupa fakta terpenting adalah menanyakan kebenaran dari permainan yang di ciptakan oleh Dixie.
Sedangkan Dixie terus tertawa bahagia dan asik berdansa di kamar nya, menikmati penderitaan Jasmine, tak lupa ia juga dengan bahagia membayar teman angkata Jasmine untuk terus membully Jasmine jika memiliki kesempatan disaat bertemu Jasmine.
"hahahhahah..... hahahahhaha...... semua nya sempurna dan aku sangat suka" ia tertawa dan meneguk wine lalu berputar putar mengikuti alunan musik.
"Kau hanya milik ku selamanya, aku akan menyikirkan siapapun tanpa harus menyentuhnya tapi menggunakan kemarahan mu sayang" ucap nya lalu mencium foto kecil Haider.
Keesokan harinya Haider pulang dengan raut wajah datar, ia bahkan tak menyapa Jasmine, hadis itu selalu berbicara kepadanya, berniat untuk menjelaskan semua yang terjadi namun ia tak diberikan kesempatan untuk berbicara, Haider membuat Jasmine terasingkan, bahkan sifat nya sangat dingin.
"Haider kau harus dengar penjelasan ku"
"penjelasan ? apa yang aku lihat kurang jelas" Haider melihat ke arah Jasmine yang sedang berdiri di depan nya.
"mulai besok kau akan tidur di kamar bawah, aku tidak ingin sekamar dengan wanita murahan sepertimu"
"tapi aku ti\~
"kau hanya ****** dan pemuas naf*u ku, jangan melewati batas, kau tidak berbeda jauh dengan wanita murahan di luar sana"
Deg
__ADS_1
Air mata Jasmine lolos begitu saja, hati nya begitu sakit mendengar ucapan Haider.
"kau hanya mainan ku disaat aku bosan dan merindukan dia" Bisik Haider.
"apa itu Dixie ?"
"tidak perlu kau tahu dan sadar akan posisi mu, kau hanya sampah dimataku" Jasmine terpaku tubuhnya terguncang, pria dengan mulut pedas itu pergi meninggalkan nya, lalu Haider menerima telfon dari Alex tangan kanan nya.
"sudah kau bereskan ?"
"bagus buang mayatnya dan urus dengan baik"
"berikan aku satu ****** yang se*si"
Haider berbalik melihat Jasmine lalu ia berjalan melewati Jasmine yang menangis di depannya, ia berjalan kearah dapur lalu masuk ke kamar tanpa menghiraukan Jasmine yang masih di posisi nya dan terus menghapus cairan bening.
Brakk
pintu di tutup dengan kasar.
Hari hari Jasmine dipenuhi dengan air mata dan sakit hati, Haider terus membawa wanita lain ke apartemen untuk memuaskan hasratnya, waktu Jasmine ke rumah sakit pun Haider akan membawa wanita, bahkan mengurung ****** itu di apartemen nya, keesokan hari saat ia pulang dari rumah sakit ia mendapati sosok Dixie di dalam apartemen Haider, mereka tampak begitu serasi dan saling menyayangi, bahkan Haider tak menganggap keberadaan Jasmine di kehidupannya lagi.
Hal itu bahkan berlanjut hingga di kampus nya, foto Jasmine tersebar, ia di cap sebagai wanita perusak hubungan Haider dan Dixie, bahkan ia di bully, saat Jeslyn dan Mike ingin mendekat dan membantu gadis itu menolak, takut jika mereka juga terkena imbasnya.
"lihat tampang polos nya"
"pura pura luga tapi aslinya monster"
"dia seharusnya sadar diri"
"Haider hanya membuatnya sebagai wanita ******"
"dia yang membuat Dixie dan Haider putus"
"aku ingin tau seberapa mahal ia menjual se****kangnya"
"pasti mahal karena Haider menidurinya"
Cacian dan hinaan terus berdatangan bahkan tak sekali beberapa senior melakukan bully, pernah sekali Jasmine di sekap kedalam kamar mandi rusak selama beberapa jam hingga Jeslyn dan Mike berusaha mengeluarkan nya.
"hai are you oke" tanya Jeslyn langsung meneluk tubub teman nya.
"I'm not fine" ucap nya di dalam isakan Jeslyn.
"ayo kita keluar, kau harus di obati"
saat keluar mereka tak sengaja berpaspasan dengan Haider dan Dixie, Dixie tersenyum kemenangan dan Haider tersenyum memberikan tatapan menjijikan kepada Jasmine.
__ADS_1
"biar aku obati" Jelsyn dengan cekatan membersihkan luka lebam di dahi dan bibir Jasmine yang terobek.
"aww pelan pelan Jes" Jeslyn membersihkan dengan secara pelan pelan di bagian bibir, Jeslyn melihat lekat tubuh Jasmine yang terdapat banyak lebab di tubuh putih yang sering dijadikan sasaran empuk oleh beberapa mahasiswa yang tak menyukainya.
"Hai kenapa menangis" ucap Jasmien yang meliat tubub Jeslyn bergetar.
"maafkan aku, aku tidak bisa melindungi mu" Mereka berdua saling menguatkan, menangis bersama, bahkan sedikit terkekeh karena candaan Mike.
"Mike thanks" ucap Jeslyn tiba tiba
"for ?"
"senyuman dari Jasmine" ucap Jeslyn dan Mike tersenyum "dia juga teman ku"
Saat pulang Jasmine sempatkan diri melihat Jay, gadis itu bersyukur karena Haider tidak mencabut biaya pengobatan adiknya.
"cepat bangun biar aku terlepas dari mereka, aku lelah melalui semua ini" ucap nya sambil menghapus buliran air mata yang terus berjatuhan.
"kau tahu dia bahkan tidak mempercayai ku"
"dia berubah menjadi seorang monster dan terus menyakiti ku dengar kalimat nya yang sangat kasar, apa aku begitu murahan ? apa aku begitu kotor ? dia orang pertama yang menyentuh ku, tanpa tahu masalah dia terus memberikan kata kata jahat, jika merasa jijik kenapa selama satu bulan lebih dia memperlakukan ku sangat baik ?"
"dari awal aku sehatusnya tidak menggunakan perasaan ku untuk berharap lebih, lihat kami hanya saling menyakiti pada akhirnya" ucap Jasmine di sela isakan nya ia terus memukul dada dan menangis sepuas nya.
Jasmine keluar dan melihat jika bodyguard Haider tak berjaga di depan pintu, bahkan perawat yang menjaga Jay pun tak datang untuk menjaga nya lagi.
"dia pasti sudah menarik semua orang yang di bayarnya untuk menjaga Jay" gumam Haider.
Setelah pulang Jasmine berusaha untuk masuk ke apartemen Haider namun pasword apartemen telah di ganti oleh Haider, Gadis itu menahan lapar dan ia duduk menunggu Haider, karena sudah berkali kali ia menekan bell namun tak mendapatkan respon, nomor Haider tak bisa dihubungi dan Jasmien memutuskan untuk menunggu.
Satu jam kemudian Haider dan Dixie keluar dari lift dan Dixie masih bergelut manja di lengan Haider.
"banggun ******" ucap Dixie menendang kaki Jasmine yang sempat tertidur di depan pintu menunggu Haider.
"maaf" ucap Jasmine namun mereka tak membalas langsung membuka pintu lalu berjalan masuk dan Haider membalikkan tubuhnya ke arah Dixie lalu mereka saling berciuman ke arah kamar dan tentu saja hal itu di lihat oleh Jasmine.
"sabar Jasmine, semua demi Jay" ucapnya lalu berjalan masuk ke arah kamar.
Sudah satu jam Jasmine mengurung diri di kamar, namun ia merasa lapar hingga ia memutuskan ke dapur untuk mencari makan.
"sampai kapan kau akan menumpang di rumah ku ?" suara Haider mengagetkan nya.
"aku akan keluar secepatnya"
"saat kau keluar semua pengobatan adik mu tidak akan aku tanggung" ucap Haider.
"lebih cepat lebih baik aku tak ingin terkontaminasi virus dari mu, kau tahu bukan bahkan kau sudah aku anggap seperti sampah"
__ADS_1
Deg
satu air mata lolos begitu saja, Haider kembali ke kamar tanpa melihat Jasmine yang terus terisak.