
satu air mata lolos begitu saja, Haider kembali ke kamar tanpa melihat Jasmine yang terus terisak.
"aku harus mencari cara, jika sudah begini aku lebih memilih pergi, mental ku dan nyawa adik ku lebih penting" ucap Jasmine berlalu ke kamar nya.
Brakk
Jasmine menutup pintu nya dengan kuat hingga Haider bahkan bisa mendegar keras nya pintu kamar Jasmine.
"fokus Jasmine kau harus fokus menata hidup, oke pertama dari biaya rumah sakit Jay, lalu untuk biaya kuliah aku tidak perlu khawatir karena aku mendaptkan beasiswa prestasi,tapi jika Haider bisa mencabut beasiswa maka aku harus menghitung pengeluaran nya juga lalu untuk biaya sehari hari ku, sepertinya cukup" ucapnya lalu tersenyum.
Jasmine selesai membersihkan diri lalu melihat pantulan diri di cermin.
"ingat Jasmine kau harus kuat, ada Jay yang harus kamu jaga, jika kali ini kamu di hancurkan karena cinta maka berjuanglah bangkit untuk Jay, kau diberikan kepercayaan untuk menjaga Jay karena kamu mampu, sekalipun melukai fisik dan hati" Jasmine tersenyum.
Di sebuah mansion seorang sedang menerima telfon dengan orang suruhannya.
"bagus pantau terus jika ada sedikit celah kalian harus bertindak, kalian sudah siap kan seseorang di rumah sakit ? ..... bagus, pantau terus jika sesuatu terjadi dia orang pertama yang harus kalian selamatkan"
...ππππ...
seperti biasa setiap pagi Jasmine akan terbangun dan memasak untu Haider meskipun tak sehangat dulu namun ia tetap memasak, beberapa kali ia memasak namun Haider tidak menyentuh dan membuang makanan tersebut hal itu membuat Jasmine sedikit kecewa dan sakit hati atas perlakuakan Haider, bahkan sampai detik ini Haider masih memeprlakukan nya seperti itu.
"apa aku terlihat begitu menjijikan dimata mu?" tanya Jasmine menatap sandu ke arah Haider.
"tentu saja rasa jijik mu bahkan tak bisa aku gambarkan" jawab ketus milik Haider.
"dua hari batas terakhir mu untuk meninggalkan apartemen ini" ucap Haider membuat Jasmine terdiam.
"akan aku usahakan" Jasmine berjalan melewati Haider namun....
"usahakan untuk tidak mengemis padaku, dan satu lagi, jangan harap beasiswa mu di teruskan" ancam Haider membuat langkah Jasmine terhenti
Deg
Jasmine merasakan sakit lagi dan lagi. Saat di kampus Jasmine masih di mendapatkan aksi bully dari fans fanatik dari kaum shipper Haider dan Dixie, bahkan kekerasan fisik pun dilakukan, dan di sinilah Jasmine dengan segala luka di wajah karena ulah mahasiswa di kampus nya.
Jasmine di kunci dalam gudang, mengirim chat dan menelfon ke Mike namun nomor nya tak aktif, ia ingin menelfon Jeslyn namun takut hal berbahaya lainnya menimpa Jeslyn.
ia berusaha menelfon Haider namun Haider hanya mengabaikan panggilan Jasmine, ini yang kesekian kali nya ia menlfon.
"kenapa terus menganggu ku ? aku sibuk jangan menlfon lagi"
"ahh baby cepat ahh" suara ******* terdengar dari dalam panggilan Haider, hal itu membuat Jsmine sangat terpukul, Haider sengaja membuatnya mendengar kan suara ******* seorang ******.
__ADS_1
Haider mematikan telfon sepihak tanpa membiarkan Jasmine berbicara.
"kau menghianatiku, maka aku akan membalas lebih kejam dari perbuatan mu"
tut tut tut
Jasmine memukul dadanya yang begitu sakit, rasa nya tidak ada harapan lagi, lalu ia melihat satu nomor yang belum di hubunginya yaitu Petter.
"Hallo Jasmine ?"
"hallo Petter, apa aku menganggu mu?"
"tidak kau tidak menganggu ku"
"kau baik baik saja ? suara mu sedikit berbeda"
"bagaimana jika aku tidak baik baik saja ?" suara isakan Jasmine begitu memilukan di telinga Petter laki laki itu sangat panik.
"apa maksudmu Jasmine, kau dimana ?"
"aku di kurung di gedung B, kampus kita lantai lima"
"apa ? astaga ini sudah jam satu malam kenapa tidak mengatakan dari tadi, kau sudah makan ? aku akan menjemput mu"
tok tok tok
suara seseorang mengetuk pintu gudang, Jasmine membuka mata nya karena sudah merasa kantuk.
"Jasmine ?" panggil Petter dan berusaha membuka pintu.
"Petter ? apa itu kau ?" tanya Jasmine
"ini aku, bersabar lah aku akan membuka pintunya" ucap Petter lalu mencari sesuatu yang bisa membuka pintu namun tak dapat menemukan apapun.
"menjauh dari pintu" ucap Petter, ia bersiap untuk mendobrak pintu gudang.
brukkk brukk brukk
prakkk.....
Pintu terbuka petter menyalahkan lampu ruangan, ia terkejut melihat tubuh Jasmine yang begitu acak acakan, mata sembab dan tubuh yang di ikat dengan tali, kursi yang ia duduki terjatuh dengan tubuhnya.
"Jasmine, kau baik baik saja ?" Petter membangun kan Jasmine, ia menghapus buliran cairan beningΒ yang terus membasahi pipi Jasmine, lalu membelai lembut rambut Jasmine lalu melepaskan tali di pergelangan tanggan dan kaki.
__ADS_1
"mana yang sakit ? mau ke rumah sakit ?" Jasmine menggeleng.
"aku lapar" ucapnya dengan lirih.
"ayo kita cari makan" Petter mengangkat tubuh Jasmine karena kondisi nya yang sangat lemah.
"apa kau dan Haider sudah putus ? dia sudah kembali bersama Dixie ?" tanya Petter.
"entah lah aku tidak tahu" ucap Jasmine.
"kau sangat ringan Jasmine, belakangan ini apa kau makan dengan teratur"
"akh makan teratur Petter" ucap nya berbohong.
"jika teratur maka tidak akan seringan ini" ucap Petter yang tahu bahwa Jasmine membohongi dirinya.
Setelah selesai makan, Petter mulai mendengarkan cerita yang sebenarnya dari Jasmine, Petter percaya kalau Dixie sudah menjebak Jasmine bersama Abigail, bahkan Abigail hilang di telan bumi, Petter mengepalkan kedua tanggan nya.
"lalu bagimana kau menelfon ku ?"
"aku menggunkan dagu untuk mencari nomor mu" ucapnya sambil tersenyum.
"mau tambah ? akan aku pesan" ucap Petter lalu mengusap lembut surai hitam milik Jasmine.
"tidak usah aku sudah merepotkan mu"
"kau tidak pernah merepotkan ku, sesekali lebih merepotkan ku ada baiknya juga bukan" ucap nya lalu mengambil tisu membersihkan mulut Jasmine.
"ayo ke rumah sakit, kita bersihkan luka mu" ucap Petter sambil menatap lekat wajah Jasmine, ia sangat merasa iba dengan kehidupan Jasmine yang harus berurusan dengan Haider lalu Dixie dan fans nya yang gila.
"tidak apa apa, ini akan sembuh dengan sendirinya" ucap Jasmine dengan wajah sandu nya.
Petter melihat Jasmine dan membuang nafas nya secara kasar, lalu ia berpindah posisi duduk di samping Jasmine dan memeluknya erat.
"baiklah jika itu mau mu, aku tidak bisa memaksa mu terus" suara isakan Jasmine mulai terdengar, beberapa orang melirik kearah mereka namun Petter tetap diam memeluk Jasmine, ia tahu Jasmine sekarang hanya membutuhkan seseorang untuk menjadi sandaran dan tempat ia mencurahkan isi hatinya.
Petter melepaskan Jasmine di rumah nya, ke esokan Hari ia akan ke rumah sakit untuk melihat Jay untuk tugas atau mata kuliah dia akan mendapatkan materi dari Jeslyn dan Dom.
Dua hari berlalu Jasmine tak masuk kampus ia lebih banyak di rumah sakit dan jarang di apartemen. Hari ini ada ujian yang harus ia ikuti, setelah selesai jam kuliah ia berniat untuk kembali rumah sakit namun ia di hadang oleh orang suruhan Dixie dan mereka mulai menyiksa nya.
Lagi dan lagi ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"dasar ******"
__ADS_1
Plakk