
"aku melihat nya"
"siapa ?"
"Jasmine" Petter terdiam, ia melirik wajah Alice yang tampak sedih karena Haider tak melihat keberadaan nya sama sekali.
"nona Alice kau mau minum sesuatu biar aku ambilkan"
"terima kasih tuan Petter, aku hanya ingin wine saat ini" Petter berjalan ke arah tempan minum lalu mengambil segelas wine namun pandangan nya terkunci saat melihat sosok Jasmine yang jarak nya jauh dari tempat mereka duduk bersama.
"Jasmine ?" Petter menaruh gelas wine lalu bejalan ke arah Jasmine, namun sosok yang ia lihat seakan lenyap seketika.
"Tuan Petter" Laura menyapa Petter namun tak mendapatkan respon.
"maaf apa ada yang bisa saya bantu ?" ucap Laura.
"Maaf dan tidak perlu, aku melihat seseorang dan ingin menemui nya tapi ia sudah tidak ada" Petter melirik ke arah depan namun sosok yang ia cari telah lenyap.
"siapa yang anda cari, mungkin aku bisa membantu"
"ah lupakan saja" Petter pergi meninggalkan Laura, ia mengambil beberapa minuman untuk di antarkan ke tempat Haider.
Alice dan Haider sedang berbincang, meskipun terlihat kaku dan Haider yang sangan dingin membuat suasana semakin mencekam di tengah padat dan bising nya suasana itu.
"ini minum nya" Petter menyerahkan minuman ke arah Alice.
"Peter dimana lain nya ?"
"seperti biasa sibuk bersama kekasihnya"
alunan musik terus berbunyi hingga suasana menjadi tenang, beberapa pasangan mulai bergandengan dan memeriahkan suasana dansa bersama kekasih mereka.
"ingin berdansa dengan ku ?" tawar Alice.
"aku tidak bisa berdansa"
"maka aku akan mengajarinya kepadamu" ucap Alice lalu menarik tanggan Haider untuk berdansa bersama.
Jasmine berdiri sambil melihat ke arah Haider yang sedang berdansa, meskipun kaku namun seorang wanit terus membimbing nya dengan baik.
"kau tetap kaku bahkan hingga sekarang" ucap Jasmine menginggat mereka pernah berlatih dansa bersama.
Pelan dan penuh kesabaran Haider akhirnya menguasai dan cepat mempelajari gerakan kaki untuk berdansa.
__ADS_1
"jangan terlalu kaku" ucap Alice dan Haider tersenyum.
"kau mirip seseorang saat melatih ku berdansa" ucap Haider mengingat Jasmine dan tersenyum.
"mereka tampak bahagia" lirih pelan Jasmine.
"benarkah ? apa dia orang special untuk mu ?" ucap Alice.
"hmmm masa lalu ku"
"lalu bagimana dengan masa depan mu ?" ucap Alice menatap lekat Haider dengan penuh harapan.
"masa depan ? aku akan menata dengan baik mulai sekarang, mungkin berat tapi aku akan mencoba" ucap Haider menatap wajah Alice.
"kau harus banyak tersenyum" ucap Alice dan lagu dansa berakhir.
.............
"kau temani Alice aku harus keluar, ada yang harus aku urus" ucap Haider lalu meninggalkan Petter dan Alice.
"bertahan lah Alice kau akan mendapatkan nya" batin Alice.
Sedangkan Jasmine yang berniat menghindari Haider dan Petter malah melihat Dixie, Stefen, Boby, Harry dan Matt sedang berjalan ke arah nya, ia tanpa pikir langsung berbelok menuju lantai atas dimana tempat itu ada satu ruangan milik Haider yang pernah ia habis kan waktu bercinta dengan pria yang ia cintai dulu.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, password belum di ganti oleh Haider selama enam tahun, Jasmine masuk kedalam dan menghidupkan penerang ruangan, aneh nya ruangan itu seperti sudah di siapkan dengan sangat baik, tersediah tempat tidur, lemari, sofa dan juga meja kecil dengan lampu hias untuk penerang.
"Haider kau mau kemana ?" tanya Dixie.
"bukan urusan mu" ia berjalan meninggalkan teman teman nya menuju ruangan yang telah ia suruh Alex bersih kan, lalu Alex di suruh menjaga Alice dari kejahuan.
Jasmine yang sadar jika seseorang akan datang, ia langsung mencari cara agar bisa bersembunyi, ia membuka lemati tersebut, melihat isi nya pas untuk ia bersembunyi.
Ceklek
Pintu di buka oleh Haider, Jasmine refleks menutup mulut nya, ia melihat Haider masuk lewat bilik pintu lemari tempat ia bersembunyi, pria itu mematikan lampu lalu berjalan kearah meja menyalahkan lampu hias untuk membaca surat kedua milik Jasmine, suasana kamar begitu gelap, hanya lampu hias yang sedikit menerangi ruangan namun hanya untuk meja.
...🌺ini surat kedua dan terakhir ku🌺...
Hari berlalu begitu cepat, aku bahkan tidak sadar dengan perasaan ku yang kian hari bertambah cinta untuk mu.
Haider ku tidak memberikan kesempatan aku untuk menjelaskan apa yang terjadi, dia marah dan sangat cemburu, dia bahkan melukai ku, dia mengingkari janjinya.
__ADS_1
Hari hari berlalu dengan penuh luka, rasa sakit dan setiap malam aku menangis, menangis seorang diri tanpa sandaran.
Dia menghapus keberadaan ku sepenuh nya, tatapan mata yang penuh kasih sayang berganti dengan tatapan menjijikan, aku sangat terluka setiap kali melihat mata mu.
Aku sangat merindukan tatapan hangat yang selalu kamu berikan saat melihat ke arah ku bukan tatapan Jijik. aku begitu terluka bahkan hatiku sangat sakit saat kau membawa wanita lain ke dalam kamar, menghabis kan waktu diatas ranjang tanpa memperdulikan perasaan ku.
Setiap malam aku menangis jika mendegar suara dari arah kamar mu, aku dapat melihat apa yang kalian lakukan, karena kau sengaja tidak menutup pintu kamar sepenuhnya.
Sepanjang hari aku memikirkan mu ?
Tapi yang aku dapatkan hanya luka.
Kau mematahkan hati ku untuk pertama kali.
Bagimana bisa kau sekejam itu padaku ? pada hati ku ?
Apa kau tahu bagimana aku akhir akhir ini ?
Aku bahkan tak bisa menelap apapun, fakta bahwa aku lebih hancur saat melihat semua perlakuan mu pada ku berubah.
Terlalu mencintai mu hingga membuat ku sakit dan begitu hancur. Rasa nya seperti hatiku akan berhenti.
Aku selalu berusah kuat di depan mu tapi kau selalu berusaha menyakitiku, aku berusaha tak ingin terlihat memiliki rasa sakit di depan mu, meskipun terasa sesak dan mencekik diri ku sendiri.
aku menyerah, aku ingin menghapus semua tentang mu, aku ingin menghilang, merelakan dan membuang semua nya, bagiku kita sudah berakhir.
Jika ini hanya mimpi, biarkan aku bangun.
...🥀🥀🥀...
"maafkan aku, maaf" lirih Haider, ia menangis hingga tertidur dan memeluk surat Jasmine, kepala nya di letakan di atas meja.
Jasmine menahan suara isakan nya, perlahan ia membuka pintu almari, berjalan menuju tempat Haider tertidur, ia menarik satu bangku lalu duduk di samping Haider, menaruh kepala di atas mejah, wajah mereka berhadapan dengan begitu berdekatan.
Jasmine menghapus buliran bening milik Haider yang terus berjatuhan, sedangkan air mata nya juga terus berjatuhan.
"maafkan aku" ucap nya tanggan nya menekan kuat dada yang kian sesak.
Haider merasa ada yang menyentuh rambut nya, tanggan lembut yang mengelus kepala saat ia tertidur, kebiasaan yang dilakukan Jasmine. Mata Haider tebuka, ia melihat sosok wanita yang begitu ia cintai di hadapan nya, air mata mereka kembali lolos dengan sendirinya di saat yang bersamaan.
"maaf kan aku, jangan tinggalkan aku" satu tanggan Haider terulur menghapus buliran air mata Jasmine.
"jika ini mimpi biarkan aku terus tertidur agar bisa melihatmu" ucapnya lirih
__ADS_1