
"mereka tidak melihat kita" ucap nya mencium gemas Jasmine lalu membawa nya ke arah lantai dua dan membuka pintu kamar lalu menutup menggunakan kakinya.
"kamar mu sangat besar, bahkan tiga kali kamar di apartemen" Kekaguman Jasmine saat melihat kamar milik Haider yang begitu mewah bahkan terlihat sangat rapi dan berkelas.
"itulah kenapa aku tak ingin disini, terlalu besar untuk ku" Haider membawa Jasmine ke arah tempat tidur, di bating tubuh wanita yang sudah memporak poranda hatinya selama sebulan.
Niat awal hanya ingin bermain main, pada akhirnya ia sendiri terjebak dengan permainan nya. "hmmm benar juga, bahkan kau memiliki ruang belajar tersendiri" ucap Jasmine yang melihat seluruh isi kamar Haider.
"tapi aku akan sangat nyaman disini kalau kau mau tinggal bersama" sambil memeluk Jasmine dan menyatukan kening mereka lalu mel***t bibir Jasmine, ciuman yang awalnya biasa saja lama kelamahan menjadi ciuman yang menuntut lebih.
"kau tidak sabaran sekali" ucap Jasmine menahan tubuh Haider, ia melihat wajah tampan Haider lalu melihat lekat mata Haider yang penuh kabut ga***h, ia tahu kemauan Haider seperti apa, Jasmine tersenyum dan mengangguk pelan dan tersenyum.
"kau cepat memahami ku" ucap Haider tersenyum dan mereka pun berakhir di atas ranjang dengan pergelutan panas mereka.
...🍁🍁🍁🍁...
Rania berjalan di ikuti oleh bodyguard nya, setelah melakukan arisan kecil kecilan Rania berniat membelika beberapa hadiah untuk Jasmine dan putra semata wayang, ia membeli beberapa pakaian, perhiasan dan juga memesan makanan untuk Haider, makanan kesukaan sang anak yang jarang pulang ke rumah.
"semua sudah selesai saatnya pulang"
Rania menelfon sang suami untuk memberikan semua rincian kegiatan sehari hari, dan setiap hari ia akan melapor lantaran Will sangat posesif dengan nya dan dalam tiga jam sekali Will akan menelfon Rania.
Meskipun Rania tahu beberapa orang suruhan Will diam diam mengikuti dan selalu melapor semua kegiatan nya namun sang istri selalu berniat untuk melaporkan kegiatan nya kepada sang suami.
"lebih baik aku ke perusahan" gumam Rania.
"Carl kita ke perusahan suamiku"
"Baik nyonya"
__ADS_1
Setelah menginjak kaki di perusahan, beberapa staff dan pegawai yang melihat sang nyonya langsung berbaris rapi menyambut kedatangan nya, mereka memberikan senyum tulus dan membungkuk badan.
Wanita yang tak muda lagi namun masih terlihat sangat cantik itu berjalan dengan senyuman dan melirik beberapa staff dan pegawai, saat di tengah tengah ia berjalan, ia melirik seorang karyawan yang mengunakan rok sangat mini.
Rania berhenti, berjalan kearah nya, menatap wanita itu dan menepuk pundak nya pelan, wanita yang berdiri di depan nya terlihat ketakutan dan gugup.
"kau tahu dimana letak kesalahan mu ?" tanya Rania dengan wajah khas dingin nya.
"tidak nyonya"
"TIDAk ? apa peraturan perusahan kurang jelas ?" ucap nya lagi sambil mendekat ke arah sang wanita, beberapa karyawa saling melirik dan gugup sedangkan gadis itu sudah ketakutan jika ia dipecat.
"rok mu terlalu pendek, baju mu terlalu ketat, dan kenapa kancing baju mu seperti ini ? apa kau ingin menjual belahan dada mu ?"
"tidak nyonya, say\~"
"ganti style mu yang murahan itu jika tidak ingin di pecat" ucapnya lalu pergi ke arah lift.
"benarkah ? El lihat, apa aku sudah tampan ? wanita ku harus melihat ku dalam kondisi tampan" ucap Will lalu merapikan pakaian dan juga rambut, ia memakai parfume mahal yang selalu ia siap ketika sang istri ingin menemuinya, agar terkesan tampan dan tetap wangi.
"anda selalu terlihat tampan dan berkharisma tuan" ucap Samuel.
Pintu di buka nampak seorang wanita cantik yang tak muda lagi, namun tetap terlihat cantik dan postur tubuh bak gitar spanyol, ia berjalan mendekat dan membuka kaca mata hitam lalu duduk di pangkuan sang suami, satu tanggan nya ia lingkari ke leher suami dan satunya fokus merabah dada Will sang suami.
Will melirik ke arah Samuel memberikan kode padanya agar ia pergi, Samuel yang mengetahui hal itu langsung undur diri keluar.
"sayang kau tidak ingin pulang melihat anak mu ? dia bahkan berani membawa kekasihnya ke rumah, bahkan mereka baru kenalan baru baru ini"
"apa kau takut ?" ucap Will, satu tanggan nya sudah menelusuri lekuk tubuh sang istri.
__ADS_1
"tentu saja, bagimana jika wanita itu hanya ingin harta anak ku, bagimana jika dia kelak menipu dan membuat anak ku terluka ?"
"mom jangan berpikir sejauh itu, wanita itu tidak seperti wanita lain"
"kau mengenalnya ? oh my god kau tidak menyelidiki nya kan ? itu ilegal"
"tentu aku melakukan nya, aku tidak peduli, aku ingin putraku dengan wanita baik baik" ucap Will lalu menbelai rambut sang istri.
"berikan data nya sayang aku juga ingin membacanya" ucap Will
"berjanji kau tidak akan memarahi Haider"
"aku tidak akan marah"
"lalu dimana dia ? apa di rumah ?"
"kau ini tidak pernah muda saja, kata asisten rumah mereka di kamar Haider" ucap Rania dan tertawa. "kau dan dia tidak jauh berbeda" ucap Rania lagi.
"lalu apa kita harus melakukan nya juga ? ruangan ku kosong" ucap Will, Rania hanya tersenyum dan membuka kancing suaminya.
"apa boleh ?" goda Rania ia tahu jika suaminya selalu menginginkan dirinya.
"apa aku pernah menolak ?" ucapnya lalu membawa Rani ala bridal style dan membawa nya ke kamar yang ada di ruangan Will, mereka pun berakhir dengan percintaan panas di perusahan W.corp
Setelah pergelutan panas, Rania tertidur pulas sedangkan Will langsung bergegas membersihkan diri dan menganti pakaian baru, mereka akan mengadakan rapat bulanan untuk melihat perkembangan hasil dari semua cabang anak perusahan.
Selesai dengan meeting, Will bergegas menemui sang istri, dilihat nya wanita yang tak muda lagi namun tetap mempertahan kan kecantikan nya sedang duduk manis bermain dengan ponsel di tanggan dan sesekali tersenyum.
Menyadari sang suami telah selesai dengan meeting nya Rania berbalik dan berjalan ke arah Will lalu mengecup singkat bibir nya.
__ADS_1
"aku akan pulang dua jam lagi, usahakan menahan mereka agar aku bisa berkenalan langsung dengan wanita itu" ucap Will kepada Rania.
"baik sayang aku akan menunggu mu dirumah dengan lingerie baru ku" ucap Rania menggoda suaminya, Will hanya mengelengkan kepala dan tersenyum.