
...🍁🍁🍁🍁...
"bagimana hari ini ?" tanya Haider dan membenamkan wajah Jasmien menjadikan dada bidang jadi sandaran.
"semuanya baik baik saja" Jasmine membenarkan posisi duduk dan memeluk Haider sesekali jemari mereka saling bertautan.
"bagimana kondisi Jay, apa ada kemajuan"
"kata dokter efek ia tidak ingin bangun karena ia masih asik dengan dunia nya, ia sempat melihat ayah dan ibu tak sadarkan diri, bahkan saat ambulance menjemput, ia masih melihat mereka berlumuran darah, karena takut kehilangan membuat alam bawah sadarnya berkerja dan menekan dirinya untuk tidak banggun, kenyataan akan rasa takut kehilangan membuatnya lebih memilih bersama kedua orang tua kami di alam bawah sadar"
"kau harus banyak mengajaknya untuk berbicara"
"aku sudah melakukan setiap kali aku menjengguk dia, bahkan aku sempat marah karena dia tidak ingin bangun"
"yang sabar, dia akan terbangun jika sudah waktunya"
"apa kau akan meninggalkan ku ?" Jasmine menatap Haider
"tentu saja tidak akan pernah" ucap tulus dari Haider.
"bagimana jika aku membuat kesalahan, apa kau akan marah ?" tanya nya lagi.
"semua tergantung kesalahan seperti apa yang akan kau buat" ucapnya lalu mengecup kening Jasmine.
"apa kau akan menyakiti ku ?"
"kenapa bertanya seperi itu?"
"aku hanya ingin bertanya"
"aku tidak akan pernah menyakitimu, aku akan selalu melindungimu, ayo berjanji untuk membuat kenangan indah lebih banyak dan tertawa bersama"
"apa kau tidak ingin menangis bersama ku?" tanya Jasmine.
"kenapa harus menangis jika tertawa bisa melupakan segala masalah"
"tapi kenyataan nya lebih banyak tertawa lebih banyak menutupi luka" ucap Jasmine.
"kalau begitu mari tertawa bersama dan menangis bersama" ucap Haider dan mengecup kening Jasmine.
"tuan muda kita sudah sampai di mansion pertama" ucap sopir yang ditugas kan Haider mengantar mereka dari rumah sakit.
"hari ini kau harus menemui momy" ucap Haider lalu membawa Jasmine keluar dari mobil.
__ADS_1
"apa ? kenapa tidak bilang dari tadi ?" Jasmine melihat rumah mewah bak istana dengan penjagaan ketat.
"memangnya kenapa ?" ucap Haider sambil merapikan rambut Jasmine.
"astaga Haider setidaknya aku membeli sesuatu untuk momy mu" ucap nya dengan kecewa.
"tidak perlu"
"tapi aku malu"
"tidak perlu malu"
"ihss kau ini, selalu saja begitu, kaku dan tidak romantis" mencubit perut Haider.
"mungkin aku tidak romantis seperti lelaki lain, tapi aku bisa membuatmu menjerit kenikmatan" bisik Haider membuat Jasmine malu dan menutup wajahnya.
Haider tersenyum bahagia lalu mengandeng tanggan Jasmine untuk memperkenalkan kepada sang momy.
"Jangan takut momy tidak akan memakan mu"
"ini pertama kalinya untuk ku jadi wajar jika aku sedikit takut" Haider adalah laki laki pertama dan juga pacar pertamanya, dan untuk menemui orangtua Haider tentu Jasmine tidak pernah berpikir sampai disitu, sehingga hal ini membuatnya sedikit gugup.
"siang mom" sapa Haider lalu mencium pipi kiri dan kanan milik ibunya.
"seperti yang momy lihat" ucapnya sambil tersenyum.
"mom ada seseorang yang harus aku kenalkan padamu" Ucap Haider tertahan ketika sosok Jasmine tak ada di belakangnya.
"siapa yang ingin kau kenalkan cano ?"
"kekasih ku mom" Haider berjalan keluar mansion dan menemukan Jasmine yang terlihat gugup.
"baby are you okey ?" Jasmine mengangguk.
"ayo masuk bersama, momy tidak akan memarahi mu atau mencelakai mu" ucap Haider menggengam kuat tanggan Jasmine, gadis itu lekat memandang wajah Haider.
"ada aku, kau aman dan jangan takut" ucapnya dengan tulus membuat Jasmine melihat matanya penuh keyakinan dan tersenyum.
Mereka bergandengan tanggan dan masuk ke dalam mansion, di sana sudah ada momy Haider yang sedang duduk dan asik memakan cake di temani wine.
"mom dia kekasih ku" Momy Haider terkejut anak semata wayang nya baru kali ini membawa seorang wanita ke mansion mereka.
"hallo Aunty, nama aku Jasmine" ucapnya sambil membungkukan badan dan mengikuti arah langkah Haider.
__ADS_1
Momy Haider hanya menatap Jasmine tanpa membalas, ia melihat dari ujung kepala hingga kaki Jasmine dengan raut wajah tak terbaca.
"Rania momy Haider" balasan nya beberapa menit setelah menelisik Jasmine, ucapnya dingin lalu melirik kearah Haider sedangkan yang di tatap hanya tersenyum.
"anak nakal" gerutuk Rania dalam hati.
"sudah berapa lama kalian saling mengenal ?" to the point Rania langsung bertanya dan menatap tajam ke arah Jasmine.
"dua minggu lagi tepat dua bulan nyonya" ucap Jasmine mendapat tatapan dari Haider dan Rania.
"Nyonya ? jangan memangilku nyonya, kau tidak berkerja dengan ku, panggil aku momy sama seperti Haider" ucap Rania dengan wajah datar masih menikmati wine nya.
"dan kau anak nakal, bilang pada kekasih mu agar memangil ku momy agar lebih mengakrab kan diri, bukan begitu sayang ?" tanya nya ke arah Jasmine yang tampak terkejut lalu langsung memberikan senyuman manis.
"sayang kau tidak ingin shopping ?" tanya Rania kepada Jasmine.
"maaf, tapi aku tidak terlalu suka hal seperti itu mom" Rania terkejut mendengar tutur kata dari Jasmine, ini pertama kali nya Haider membawa wanita yang sifat nya bertolak belakang dengan wanita lain yang selalu mendekatnya karena harta dan ingin mencari pamor.
"kau tidak bercanda kan ?" tanya Rania dengan raut wajah terkejut.
"tentu saja tidak mom" Haider membalas.
"oke, kalau begitu kalian habiskan waktu bersama karena momy harus pergi arisan bersama teman dan shopping" ucap Rania lalu meninggalkan mereka berdua.
"apa momy mu hobi shopping ?" Haider menganggu "lebih tepatnya hobi menghamburkan uang" Haider tersenyum dan tertawa mengingat sang momy yang akan membeli hal hal tidak berguna dan membuat ayah nya kesal.
"apa dady mu tidak marah ? setidaknya jangan terlalu menghamburkan uang maksudku" Haider terkeke mendengar perkataan Jasmine.
"justru dady yang memulai, dady mengatakan kepada momy untuk menghabiskan uang, jika ingin sesuatu langsung beli, jika bosan dan mau jalan jalan tinggal menghubungi dady, semua akan selesai dalam beberapa menit, tapi akhirnya dady menyesal karena momy akan membeli sesuatu yang tidak berguna" ucap nya mengingat momy dan dady yang sering bertengkar bahkan dia sempat mengelengkan kepala melihat belanjaan sang momy tak kalah jauh dengan ekspresi dady.
"Haider, seharus nya kita tidak bersama, kau dan aku bagaikan langit dan bumi, status kita benar benar berbeda" batin Jasmine sambil melihat Haider, mereka saling menatap.
Haider menarik Jasmine dan merangkul tubuhnya "jangan berpikir seperti itu, harga kekayaan tidak selama nya membuat ku bahagia jika harus berpisah dengan orang yang ku cintai"
"karena kebahagiaan tidak selamanya bida di beli, tidak selamanya orang yang memiliki uang selalu bahagia, mereka dapat memebeli apapun untuk kepuasan diri mereka namun ada satu titik membuat mereka kesepian di waktu yang bersamaan" ucap Haider lagi sambil mengecup kening Jasmine.
Mereka bercerita, membagi kisah masa kecil bahkan mereka tertawa bersama, beberapa pelayan melirik ke arah Haider dan Jasmine yang tertawa bersama karena ini pertama kali tuan muda membawa seorang wanita dan pertama kalinya Haider tertawa lepas dan sangat bahagia.
"kau ingin melihat kamar ku ?" tanya Haider dan tersenyum penuh arti, Jasmine menyadari hal itu dan langsung mengeleng pelan.
Haider dengan cepat mengangkat tubuh Jasmine ala bridal style. "aku tidak menerima penolakan jika kau lupa" bisik nya lalu tersenyum penuh arti.
"Haider apa yang kau lakukan ? turunkan aku, mereka melihat kita" Jasmine tak enak melihat beberapa pelayan mansion menatap ke arah mereka dengan wajah terkejut.
__ADS_1