Benci Dan Cinta

Benci Dan Cinta
Bab 43.


__ADS_3

"sialan berani sekali dia membuat cucu ku seperti ini" Romanove keluar dari ruang pivate di ikuti oleh Jimmy, Rania dan Will.


"Jim apa yang terjadi kenapa kaka sangat marah"


"apa Haider melakukan sesuatu pada Jasmine ?" tanya Will


"ini lebih dari apa yang kalian pikirkan ?" ucap santai Jimmy


"oh God kaka bisa marah pada Haider" ucap Rania frustasi membayangkan sang kaka menampar wajah putra semata wayang nya.


"tidak seperti yang ana bayangkan" ucap Jim


"lalu ?" tanya Rania dan Will bersamaan namun Jimmy tidak mengubrisnya.


Romanove berjalan dengan cepat dan mata nya menangkap satu sosok yang sedang dalam masa incaran nya.


"Akhhhh" rintihan kesakitan dari mulut Alex.


bugkh


Alex merasa dunia nya seakan rubtuh ketika sebuah tendangan mengenai junior nya secara tiba tiba lalu ia terjatuh ketika kaki nya di injak lagi oleh Romanove menggunakan highhils nya sedangkan Rania dan Will menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Romanove.


"itu terlihat mengerikan" ucap Jimmy yang merasa ngilu di sekujur tubuhnya.


"seharusnya aku tak ikut menyaksikan penderitaan Alex" ucap Will.


"kak jangan seperti itu, kasian junior nya, bagimana ia akan mendapatkan keturunan" ucap Rania merasa kasian dengan Alex.


"kau berani sekali membekap mulut cucu ku, kau tahu aku membiarkan mu karena kau orang terdekat Cano, jika tidak aku akan menghabisi mu"


"oh yah satu lagi, Grace mengatakan pada ku bahwa kau dan Cano pernah ke rumah sakit dan membentak cucuku, bersyukur waktu itu aku tak di sana lebih tepat nya, karena jika saat itu aku melihat nya sendiri, maka kaki mu hanya tinggal satu" ucap nya lalu berjalan kembali.


Romanove dan Jimmy kembali ke ruang private di ikuti oleh Rania dan Will sedangkan Alex masih terlihat menahan rasa sakit nya, namun ia berusaha untuk bangun dan berjalan ke toilet memeriksa junior nya.


.......


Haider masuk ke ruang privasi tepatnya di lantai dua, karena ia tak ingin kedua orang tuang nya mendengar pertengkaran antara Jasmine dan dirinya.


Haider duduk manis menunggu Jasmine yang jalan nya sangat lelet bagaikan siput.

__ADS_1


"ck lama sekali" ucap nya yang tak sabar melihat Jasmine masuk ke ruang private.


"kenapa harus lantai dua dari semua ruangan private di dibawah" gumam Jasmine sambil berjalan ke arah ruangan yang sudah di masuki oleh Haider.


Jasmine membuka pintu dan masuk tanpa melirik Haider, ia berjalan dengan santai nya tanpa melihat jika Haider sedari tadi hanya menatap nya penuh arti.


Satu senyuman terukir di wajah Haider saat Jasmine meletakkan bokong di kursi yang tepat berhadapan dengan Haider.


"jadi apa yang ingin anda bicara kan tuan ?" ucap Jasmine dan menatap tajam Haider.


"jangan terlalu formal pada ku, sekuat apapun kamu berusaha menghindari ku, sekuat itu aku akan terus mendekat dan mendapatkan mu lagi" ucap Haider dan membalas tatapan mata Jasmine.


"lalu kau ingin aku bagimana tuan ? saya hanya bertanya soal arah pembicaraan anda yang membawa saya ke dalam ruangan ini, jika anda tidak berbicara hal penting lagi saya akan pergi, ada sesuatu yang lebih penting daripada membahas hal yang tidak penting bersama anda" ucap Jasmine, saat hendak pergi Haider langsung membuat nya terpaku.


"pergi lah jika ingin anak mu tetap menderita" ancam Haider.


"Haziel" batin Jasmine ia teringat akan anak perempuan nya, namun Haider tak mengingat soal adik Hanzel karena pikiran nya masih dipenuhi dengan kejadian yang baru saja ia alami dan ia lihat.


Jasmine wanita yang sangat ia rindukan bahkan membuat nya menjadi pria gila dan dingin selama enam tahun muncul kembali membawa anak yang bahkan ia tak tahu siapa ayah nya.


apa Jasmine menikah dengan Anak madam R kaka dari ibu nya ?


"langsung saja Haider, kau ingin bertanya apa padaku ? aku akan menjawab mu tapi harus dengan satu syarat" ucap Jasmine, Haider tersenyum wanita di depan nya jelas Jasmine wanita nya yang sangat ia rindukan, bahkan mereka belum berkenalan tapi Jasmine menyebut nama nya 'Haider'.


"kau menyebut nama ku Jasmine"


"untuk apa aku terus berbohong ? sedangkan ada nyawa yang harus aku selamatkan"


"kau memangil nama ku demi Hanzel ? apa kau yakin aku akan menyakiti nya ?"


"ini bukan soal Hanzel tapi soal Haziel saudara kembar Hanzel" ucap Jasmine, ia meramas ujung baju nya dengan kuat dibalik meja duduk nya karena rasa gugup saat melihat wajah Haider yang tampak binggung.


"lalu apa hubungan nya dengan ku ?" tanya Haider.


"ap dia akan menolak untuk menolong Haziel ? aku harus mencari cara lain" batin Jasmine.


"kau ingin bertanya tentang ku ? maka bertanya lah, Hanzel akan mencari ku jika ia sudah sadar" ucap Jasmine.


"kemari lah" ucap Haider.

__ADS_1


"aku akan tetap di posisi ku" ucap Jasmine menolak permintaan Haider.


"baiklah aku akan mendekat mu dan aku tidak menerima menolak mu" ucap Haider lalu berjalan dan menarik kursinya lalu duduk di samping Jasmine.


"seperti ini lebih baik" ucap nya dan menarik kuat kursi milik Jasmine hingga posisinya sangat berdekatan.


"kau selalu mencari kesempatan dalam kesempitan" ucap Jasmine dan Haider hanya tersenyum.


Deg "sial kenapa sangat manis saat tersenyum" batin Jasmine sambil menatap wajah Haider.


"karena ini yang aku inginkan" ucap santai Haider, Haider menatap Jasmine dengan wajah sandu nya "kau tahu seberapa menderita ku saat kau menghilang ? bahkan saat penemuan mayat dengan identitas mu ?" mata Haider berkaca-kaca.


"apa kau tahu seberapa menderitanya aku saat kau mengabaikan ku? apa kau tahu bagimana rasa nya di pukul dan di jatuhkan berkali kali ? apa kau tahu bagimana hari hari ku disaat semua nya harus di awali dengan air mata dan penyiksaan ?" Haider terdiam air mata dan Jasmine lolos begitu saja.


"kau bahkan membunuh ku dengan setiap berkataan dan perlakuan mu berulang kali, jangan merasah seolah kau paling menderita karena aku adalah korban dari keegoisan mu"


"maaf kan aku, ak\~aku terlalu cemburu hingga akal sehat ku di tutup oleh keegoisan ku yang hanya ingin memiliki mu hingga membuat ku bodoh dan mengabaikan mu" ucap Haider dalam isakan nya.


"kau tidak membiarkan aku menjelaskan apapun, bahkan kau tidak tahu jika aku selalu di siksa, mendapatkan kekerasan secara fisik dari orang orang yang aku tidak kenali, tidak ada yang menolong ku, tidak ada yang membela ku, semua seolah olah melihat tanpa terjadi apa apa, bahkan saat aku menlefon mu untuk menolong ku tapi kau sedang berduaan dengan wanita lain, apa kau tahu jika aku di siksa saat aku sedang hamil anak mu ?"


Deg


cairan bening terus membasahi pipi Jasmine, tubuh nya bergetar kuat, sedangkan Haider hanya terpaku dan terus menangis saat Jasmine mengatakan bagimana penderitaan yang harus ia lewati seorang diri tanpa adanya sandaran dari orang terdekatnya bahkan Haider yang terus mengabaikan nya.


"apa kau hamil saat itu ? tapi bagimana mungkin kau selalu meminum pill yang aku berikan" ucap Haider yang masih tak percaya.


"aku juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi, awal nya aku tidak sadar akan kehamilan ku, namun suatu hari aku membuat kesalahan yang membuat momy memarahi ku dan disitu lah aku mengetahui fakta bahwa aku sedang hamil dan janin ku berusia lima minggu dan sangat lemah" ucap Jasmine seketika Haider menatap nya dengan wajah yang mengukir senyum indah milik Haider.


Drt drt drt


Ponsel Jasmine bergetar menandakan ada panggilan masuk namun mereka tak menyadari hal itu.


"jadi Hanzel dan Haziel adalah anak ku ?" ucap Haider untuk memastikan fakta tentang anak Jasmine.


"tentu saja anak mu, apa kau pikir aku berhubungan dengan pria lain selain diri mu ? aku tidak akan memaksa mu jika kau menolak mereka yapi tolong selamat kan Haziel dia membutuhkan tran\~" ucap Jasmine terpotong saat ponsel nya terus berdering.


Drt drt drt


Mom Grace memanggil....

__ADS_1


"ha\~"


__ADS_2