
"Bagaimana, Bro. Betah dengan profesi ini?" tanya Ridho memulai pembicaraan.
"Mhm," gumam Tian.
Dia sendiri belum terlalu menikmati profesinya sebagai seorang guru, tapi dia merasa nyaman dengan profesinya.
"Mhm, cuma itu doang?" tanya Ridho.
"Gue nyaman menjalani hari-hari di sekolah, tapi gue belum menikmatinya," tutur Tian jujur.
"Oh, itu wajar. Lagian lu masih satu bulan jadi guru, anak-anak di sini tidak senakal anak-anak di SMA Pertiwi," ujar Ridho.
"Hah? Siswa siswi SMA Pertiwi?" tanya Tian seketika.
Tian belum mengerti tentang dunia persekongkolan yang ada di ibu kota.
"SMA Pertiwi itu, banyak anak-anak bandel. Tidak hanya laki-laki yang nakal, perempuannya lebih parah," ujar Ridho memberitahukan sekolah paling anjlok di ibu kota.
"Maksud lu apa, Bro?" tanya Tian mulai tertarik membahas tentang salah satu SMA yang terdekat dari SMA Cendikia.
Ridho pun menceritakan berbagai kenakalan yang sering dilakukan oleh siswa-siswi di SMA Pertiwi.
Ridho juga menceritakan berbagai kasus yang melibatkan siswa-siswi di sana.
Tian teringat bahwa wanita dunia mayanya berasal dari sekolah itu.
"Jangan-jangan, wanita yang sering berkomunikasi denganku, bukanlah wanita baik-baik," gumam Tian di dalam hati
Dia mulai waspada, dia teringat alasan dia menjadi guru adalah mencari jodoh.
"Jangan-jangan wanita itu termasuk salah satu anak nakal dan dia hanya mempermainkan diriku, ya ampun, kenapa gue jadi bodoh seperti ini? Masih banyak wanita yang nyata di dunia ini kenapa harus berhubungan dengan wanita dari dunia Maya?" Tian merutuki kebodohannya.
Dia hanya bermonolog di dalam hatinya.
Tian memang seorang pria yang cerdas, kemampuan sebagai seorang CEO tidak diragukan lagi, tapi dalam masalah cinta, dia sama sekali tidak memiliki pengalaman.
Wanita idaman Tian adalah seorang wanita sederhana memiliki hati yang mulia, bergaul dengan siapa pun tanpa membeda-bedakan dari segi kekayaan.
Entah kapan dia akan menemukan wanita seperti itu, Tian mulai sadar. Dia akan menghapus rasa bahagia sesaat yang dirasakannya pada gadis dunia mayanya.
"Untung gue belum terlalu dalam jatuh hati pada wanita itu," gumam Tian di dalam hati.
"Bro, hei." Ridho melambaikan tangannya di depan wajah Tian.
__ADS_1
"Eh," lirih Tian tersadar dari lamunannya.
"Ada apa?" tanya Ridho heran.
"Tidak ada apa-apa," jawab Tian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mhm, oh iya. Gue dengar-dengar, lu sempat menghukum Arumi dan Laras saat pelajaran olahraga, apa itu benar?" tanya Ridho memastikan gosip yang beredar di kalangan siswa dan guru-guru di SMA Cendikia.
"Mhm, emangnya kenapa?" tanya Tian.
Bukannya dia menjawab pertanyaan dari sahabatnya, dia justru balik bertanya.
"Mhm, ada beberapa guru dan siswa merasa perbuatan lu sudah sangat keterlaluan," ujar Ridho mengingatkan sahabatnya.
Ridho takut sahabatnya itu bertindak tidak sesuai dengan sistem pendidikan yang tengah berjalan karena Tian bukanlah seorang yang berasal dari dunia kependidikan.
"Oh, begitu, ya."Tian mengangguk.
"Sebagai sahabat, lu harus hati-hati dalam memberi hukuman pada siswa, terlebih siswi yang lu hukum adalah siswi teladan. Mereka adalah siswi berprestasi di sekolah ini." Ridho memberitahu siapa Arumi dan Laras.
"Benarkah? Aku tak percaya," lirih Tian mengejek.
"Benar, mereka selalu mengharumkan nama sekolah di setiap kompetisi Sains," ujar Ridho.
Mereka terus asyik mengobrol berbagai hal tentang sekolah yang belum diketahui oleh Tian, tanpa mereka sadari waktu sudah sore.
"Udah sore, Bro. Ayo, balik," ajak Tian saat melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 15.20.
"Yuk," sahut Ridho.
Mereka pun berdiri dan melangkah keluar kantin, keadaan kantin mulai sepi karena para siswa sudah kembali ke rumah masing-masing.
Tian dan Ridho melangkah menuju parkiran, Ridho menaiki scooter miliknya sedangkan Tian menaiki sepeda motor bebek miliknya.
"Gue duluan, Bro," ujar Ridho sebelum meninggalkan Tian yang sedang meng-engkol motor bebeknya.
"Sip," sahut Tian.
Tian pun mulai melajukan sepeda motornya meninggalkan sekolah. Saat di pertengahan jalan Tian melihat sebuah mobil terparkir di pinggir jalan, lihat mobil itu dalam kondisi ban bocor. Dia melihat sepintas dua orang wanita berdiri di depan mobil tersebut.
Tiba-tiba naluri kemanusiaannya muncul begitu saja, Tian pun memarkirkan sepeda motornya tepat di belakang mobil.
"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tawar Tian pada dua gadis itu.
__ADS_1
Dua wanita itu membalikkan tubuh saat mendengar suara seorang pria menawarkan bantuan, mereka melihat Tian berdiri di samping mobil.
"Alhamdulillah," seru Arumi senang.
Saat dia melihat pria yang ingin membantunya adalah pria yang sangat dibencinya, kebahagiaannya sirna sekejap mata.
"Lu," ujar Arumi dengan ada sinis.
"Sorry gue nggak jadi bantuin kalian, gue tidak sudi membantu cewek pencuri seperti lu," ujar Tian.
Membalikkan badan lalu dia kembali melangkah ke sepeda motornya. Dia hendak melajukan sepeda motor meninggalkan Arumi dan Laras yang dalam kesusahan.
"Gue juga tidak sudi menerima bantuan dari cowok sombong seperti lu, cowok yang tidak punya hati nurani," ujar Arumi menatap tajam pada Tian.
Tian mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Arumi, iya turun dari sepeda motor lalu melangkah menghampiri gadis tengil yang sudah mengganggu hidupnya.
"Apa lu bilang, gue tidak punya hati nurani?" Tian tidak terima dengan ucapan Arumi.
"Iya, lu cowok pengecut yang hanya berani sama cewek, lu cowok yang cuma mengandalkan kekuasaan untuk membalaskan dendam lu, lu cowok pengecut yang berani mengancam cewek," bentak Arumi meluapkan kebenciannya pada pria sombong yang sudah mengusik hari-harinya.
"Hei, jaga ucapan lu!" ancam Tian sambil mengacungkan telunjuknya tepat di depan wajah Arumi.
"Dasar cowok pengecut beraninya cuma mengancam," ledek Arumi.
Arumi tak lagi memandang Tian sebagai gurunya. Di matanya, Tian merupakan pria yang tidak memiliki hati.
Saat Arumi dan Tian tengah berdebat, sebuah mobil sedan mewah ikut parkir di seberang jalan, seorang pria yang kira-kira berumur 50 tahun datang menghampiri Arumi.
"Maaf, Nona. Saya terlambat datang," ujar pak Dudung, sopir kepercayaan keluarga Arnold.
Arumi menoleh pada pria paruh baya yang datang untuknya.
Seketika perdebatan di antara Arumi dan Tian berhenti.
"Eh, iya, Pak," lirih Arumi sopan pada pria yang seumuran dengan papinya.
"Nona, silakan pakai mobil yang saya bawa. Mobil Nona biar saya yang mengurusnya," ujar Pak Dudung pada Arumi.
Pak Dudung menyodorkan kunci mobil pada majikannya setelah itu Arumi pun melangkah menuju mobil yang dibawa Pak Dudung, Laras mengikuti langkah sahabatnya.
Mereka meninggalkan Tian begitu saja, sedikitpun mereka tidak memperdulikan amarah Tian yang masih membara.
Bersambung...
__ADS_1