
Tian menghubungi Nick, dia memberitahukan apa yang terjadi pada asisten pribadinya itu.
Nick kaget dengan apa yang dialami oleh tuannya, dia yang sedang dalam perjalan pulang dari kantor menuju apartemen terpaksa memutar balik mobilnya.
Dia mengarahkan mobilnya menuju rumah sakit.
"Kok, bisa seperti ini?" tanya Nick kesal pada Tian.
Sejak dia mengajar, semua urusan perusahaan dibebankan pada dirinya, apalagi saat ini Tian harus melatih tim basket, sehingga pekerjaan Nick semakin menumpuk.
"Hei, Bro. Ini musibah," ujar Tian juga kesal pada Nick.
Melihat wajah kusut Nick, membuat Tian ikut kesal
"Cepat selesaikan administrasinya gue mau pulang sekarang juga," titah Tian pada Nick.
"Baiklah," lirih Nick.
Nick keluar dari ruangan itu lalu melangkah menuju resepsionis, dia pun menyelesaikan administrasi pengobatan Nick di rumah sakit itu.
Setelah itu, Nick membawa Tian pulang, tak banyak luka di tubuh Tian, hanya lecet di lengan dan dahinya.
Di saat kecelakaan itu terjadi, Tian melompat dari sepeda motornya, dan terjatuh ke aspal.
Setelah itu dia tak sadarkan diri, orang-orang yang berada di sana mengira Tian juga ikut tertabrak oleh mobil berkecepatan tinggi itu.
"Lu pulanglah, besok lu jemput gue untuk berangkat ke kantor," ujar Tian pada Nick saat mereka sudah sampai di mansion milik keluarga Atmaja.
Tian tahu, Nick saat ini benar-benar sibuk ulah dirinya yang kini lebih sibuk mengajar di sekolah terlebih dia saat ini harus fokus melatih tim basket yang akan mengikuti kompetisi tingkat nasional.
Dia tidak ingin membebani Nick dengan menyita waktunya berlama-lama berada di mansion miliknya.
Dengan senang hati Nick langsung masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya meninggalkan mansion keluarga Atmaja menuju apartemen miliknya.
Sesampai di apartemen, Nick langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rutinitasnya beberapa hari belakangan ini memang sangat padat, tugas CEO di Piramids Group secara tidak langsung jatuh ke pundaknya.
Usai membersihkan diri, Nick duduk santai di balkon kamarnya sambil memainkan ponselnya.
Seketika Nick teringat dengan gadis yang kini mulai masuk ke dalam hatinya.
Nick mencari kontak Wilona yang ada di ponselnya. Dengan ragu dia mencoba menekan tombol hijau untuk memanggil.
"Halo," ucap suara seorang gadis dari seberang sana.
"Ha-halo," lirih Nick gugup.
__ADS_1
Tiba-tiba dia bingung hendak membicarakan apa dengan gadis yang ada di seberang sana.
"Mhm, ini siapa?" tanya Laras pura-pura tidak mengenal.
Gadis itu sengaja tidak mengenali suara pria yang juga sudah mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir ini.
"Ka-kamu ti-tidak mengenal suaraku?" tanya Nick semakin bingung mencari topik pembicaraan dengan gadis itu.
"Hehe, ini Ar-arnold?" tanya Laras pada Nick.
"Mhm," gumam Nick sambil mengangguk.
"Apa kabar?" tanya Laras langsung.
Menanyakan kabar merupakan hal yang bisa membuka topik pembicaraan untuk selanjutnya.
"Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?" tanya Nick balik.
"Alhamdulillah, aku juga baik," jawab Laras.
"Lagi ngapain?" tanya Nick.
"Lagi belajar, Minggu depan aku akan mengikuti kompetisi," jawab Laras jujur.
Mereka pun mengobrol sejenak membahas berbagai hal kegiatan mereka beberapa hari terakhir.
"Iya, lain kali kita lanjutkan lagi," ujar Laras.
Mereka pun memutuskan panggilan tersebut, wajah Laras terlihat sumringah setelah mengobrol dengan Nick.
Hatinya mulai terpaut pada pria yang merupakan teman dunia Maya sahabatnya.
Begitu juga dengan Nick, rasa penat dan letihnya hilang begitu saja setelah dia mengobrol sebentar dengan gadis dunia Maya tuannya.
Posisinya sebagai tokoh pengganti dalam pertemuan antara Arnold dan Wilona menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya.
Sifat Laras yang ceria dan ramah menarik perhatian Nick, selama ini dia bergaul dengan perempuan belum ada yang memiliki sifat seperti Laras sehingga dengan mudah Laras mulai mengisi hatinya.
Nick pun melangkah masuk, dinginnya malam membuat Nick memilih untuk beranjak tidur dan memimpikan sosok gadis yang disukainya.
****
Bel sekolah sudah berbunyi, Arumi baru saja memarkirkan sepeda motornya diperkiraan sekolah.
Dia langsung berlari menuju kelas karena dia takut terlambat.
"Rum, kenapa akhir-akhir ini, lu suka terlambat, sih?" tanya Laras pada sahabatnya yang baru saja masuk kelas dengan napas tak beraturan.
__ADS_1
"Jalanan kota sering macet," jawab Arumi santai.
"Makanya berangkatnya lebih awal Rum," ujar Laras menasehati sahabatnya.
"Iya, iya. Besok gue coba berangkat lebih awal," ujar Arumi.
"Ehem." Ridho berdehem saat dia baru saja dia sudah duduk di kursi guru.
Dia sengaja berdehem untuk mengalihkan perhatian siswa yang masih ribut.
Di depan kelas sudah berdiri seorang siswa baru, penampilannya terlihat santai. Postur tubuhnya atletis dengan rambut sedikit acak-acakan membuat siswa baru itu memiliki daya tarik yang berbeda dari siswa tampan lainnya yang ada di sekolah itu.
Bunga dan siswi lainnya menatap kagum pada siswa baru yang masih diam berdiri di depan kelas.
"Selamat pagi, Anak-anak," seru Pak Ridho membuka pertemuan kali ini.
"Pagi, Pak," sahut anak-anak serentak.
Semua siswa terlihat antusias dalam pelajaran Fisika kali ini karena mereka melihat sosok yang memukau tengah berada di depan kelas.
"Baiklah, anak-anak bapak sekalian, pagi ini kita kedatangan teman baru. Dia berasal dari pulau seberang, yaitu kota Padang Sidempuan Sumatera Utara," ujar Pak Ridho memperkenalkan siswa baru yang ikut bersamanya.
"Wah, jauh banget, Pak. Kok bisa terdampar di ibukota, Pak?" celetuk Bunga antusias.
"Kalau masalah itu, kalian tanya langsung pada yang bersangkutan." Pak Ridho juga tidak tahu alasan siswa barunya pindah ke ibukota.
"Betrand, silakan kamu memperkenalkan dirimu," titah Pak Ridho pada sang siswa baru.
"Baik, Pak. Terima kasih," ucap siswa baru yang dipanggil Betrand oleh Pak Ridho.
"Selamat pagi teman-teman, perkenalkan nama saya Betrand, saya berasal dari daerah Padang Sidempuan Sumatera Utara. Kami pindah ke ibu kota karena orang tua saya dipindah tugaskan ke sini," jelas Betrand pada semua teman-teman barunya.
"Oh." Bunga membulatkan mulutnya mengerti.
"Untuk perkenalan lebih lanjut bisa di luar jam pelajaran," ujar Ridho memotong pembicaraan Betrand.
"Ya, benar," sahut Betrand.
"Laras, kamu bisa pindah duduk ke samping Aldo? Biar Betrand duduk di samping Arumi," ujar Pak Ridho pada Laras.
"Tapi, Pak," bantah Arumi.
"Untuk sementara waktu saja, Kepala sekolah memerintahkan Betrand duduk dengan kamu agar dia bisa mengejar ketinggalan pelajaran nantinya," ujar Pak Ridho meminta Arumi memahami situasi Betrand saat ini.
"Ya sudah, Pak." Arumi menghela napas.
"Ya udah, deh, Rum. Tidak sebangku bukan berarti persahabatan kita putus," ledek Laras yang tahu temannya tidak suka duduk dengan siswa baru itu.
__ADS_1
Bersambung...