Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 59


__ADS_3

"Aku tidak bisa meninggalkan Arumi dalam keadaan seperti ini Om, Tante," tolak Tian.


"Tian, Om sama Tante akan menjaga Arumi. Jika ada apa-apa, nanti om dan tante pasti menghubungimu," ujar Nyonya Moura membujuk Tian.


Nyonya Moura tidak ingin Tian sakit gara-gara memikirkan Arumi karena saat ini hubungan mereka masih berupa kekasih.


"Baiklah, Om. Aku akan pulang dulu," ujar Tian.


Akhirnya Tian pun mau mengikuti perkataan Nyonya Moura dan Tuan Arnold.


Tian pun berdiri dan melangkah keluar dari rumah sakit, Ridho telah pulang lebih awal. Dia yang akan memberitahukan berita yang dialami Arumi pada pihak sekolah.


Tian pulang ke rumahnya bersama supir keluarga Atmaja.


"Sayang, kamu kenapa baru sampai?" tanya Nyonya Sarah mengkhawatirkan putra semata wayangnya.


Sejak tadi Nyonya Sarah menunggu kedatangan putranya yang tak juga kunjung datang.


"Maaf, Ma. Tian baru saja menemani siswi yang mengalami kecelakaan," jawab Tian jujur.


"Lalu bagaimana dengan siswi itu?" tanya Nyonya Sarah.


"Dia kritis, Ma. Dia saat ini mengalami koma," jawab Tian apa adanya.


Tian tak bersemangat untuk menjawab pertanyaan dari Mamanya hingga akhirnya dia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.


Saat berada di dalam kamarnya, Tian langsung melangkah menuju kamar mandi, dia sudah tak sabar untuk membersihkan tubuhnya yang kini terasa sangat lengket.


Sementara itu, Nyonya Moura merebahkan kepalanya di dada bidang milik suaminya.


"Pi, apakah Papi masih ingat permintaan Arumi sebelum berangkat? Jangan-jangan itu permintaan Arum untuk terakhir kalinya, Pi, hiks," tangis Nyonya Moura kembali pecah.


Dia membayangkan hal-hal yang tidak diinginkannya.


"Hush, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, saat ini kita harus yakin bahwa Arumi bisa sembuh. Putri kita akan kembali kepada kita, jangan mikirin yang aneh-aneh," nasehat Tuan Arnold pada istrinya.


"Iya, Pi. mami hanya merasa takut untuk kehilangan Arumi, Pi," lirih Nyonya Moura.


"Tidak hanya kamu yang takut tapi juga takut kehilangan Arumi, walaupun kita jarang menjalani hari-hari bersamanya tapi Arumi adalah Putri kesayangan Papi," ujar Tian Arnold sedih.


"Mami harus kuat, kita harus kasih support pada putri kita," ujar Tuan Arnold menguatkan istrinya yang kini tengah rapuh.


"Mami, Papi," pekik Laras yang datang bersama kedua orang tuanya.


Laras langsung menghampiri kedua orang tua Arumi. Dia langsung berangkat ke rumah sakit saat mendapat kabar yang dialami oleh Arumi.


"Laras, hiks." Nyonya Moura pun menangis sesenggukan.


Dia memeluk tubuh sahabat putrinya.

__ADS_1


"Mana Arum, Mi?" tanya Laras.


Nyonya Moura pun mengajak Laras masuk ke dalam ruang rawat Arumi.


Laras menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Laras masih mengingat dengan jelas perpisahan mereka setelah mereka sampai di bandara.


Dia melangkah dengan pelan mendekati tubuh sahabatnya yang kini terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit.


"Arum, lu kenapa jadi begini? Rum, bangun, dong. Lu tega diemin gue, ayo dong Rum. Bangun, Rum." Laras mulai menangis.


Laras memegangi tangan Arumi dengan erat. Dia terus mengguncang tubuh Arumi yang masih saja terdiam.


Bunda Ranti ikut menangis melihat gadis yang selalu menemani putrinya.


Bunda Ranti memeluk Nyonya Moura memberi kekuatan pada Nyonya Moura agar tidak rapuh.


Laras terus mengajak Arumi berbicara, meskipun Arumi tak merespon sama sekali.


Mereka pun larut dalam kesedihan yang mendalam karena tidak tega membiarkan Arumi terus berjuang melawan rasa sakit yang kini dihadapinya.


****


Satu minggu telah berlalu, keadaan Arumi masih seperti itu. selama satu minggu ini ti an membawa segala pekerjaannya ke rumah sakit agar dia dapat menyelesaikan pekerjaannya sambil menunggui Arumi.


Sedangkan Laras, setiap pulang sekolah dia mampir di rumah sakit.


Setiap kali Laras datang, dia selalu mengulangi pelajaran serta menjelaskan pelajaran yang didapatnya di sekolah.


Laras yakin, dengan apa yang dilakukannya saat ini dapat membantu Arumi untuk sadar.


Selama Arumi dirawat, Nyonya Moura pun memilih untuk tetap berada di rumah sakit meskipun tuan Arnold masih terpaksa pergi sesekali bertemu dengan rekan bisnisnya.


"Om," lirih Tian.


"Mhm," gumam Tian.


"Melihat kondisi Arumi yang sejak awal tidak ada perkembangan sama sekali, bagaimana kalau kita pindahkan Arumi ke rumah sakit yang ada di Singapura." Tian memberi usulan kepada kedua orang tua Arumi.


Tuan Arnold dan nyonya Moura saling melempar pandangan.


"Benar, Pi. selama ini aku ingin membicarakan hal ini pada kalian," tutur Laras jujur.


Laras sependapat dengan apa yang diusulkan oleh Tian pada kedua orang tua Arumi.


Nyonya Moura dan Tuan Arnold pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tian.


"Lalu bagaimana caranya?" tanya Tuan Arnold pada Tian.

__ADS_1


"Aku akan mengurus segala hal yang dibutuhkan oleh Arumi,"ujar Tian menawarkan bantuan.


Setelah itu Tian pun bersiap untuk menyelesaikan segala urusan Arumi yang ada di rumah sakit tersebut.


Tian juga langsung menghubungi Nick, meminta bantuan Nick untuk menyelesaikan berbagai hal agar Arumi mendapatkan perawatan yang lebih baik dari pada di Jakarta.


Seperti biasa Nick langsung menyelesaikan berbagai urusan yang diperlukan oleh Arumi.


Setelah itu, Arumi pun dipindahkan ke rumah sakit ternama di Singapura.


Selama Arumi berada di Singapura, Nyonya Moura yang selalu mendampinginya.


Sesekali Tian datang untuk menjenguk Arumi.


Satu Minggu Arumi dirawat di Singapura. Otak Arumi bekerja dengan pesat, sehingga mulai banyak perkembangan yang dialami oleh Arumi.


"Ma-mi," lirih Arumi saat dia baru saja mulai membuka perlahan matanya .


Nyonya Moura langsung berlari menghampiri Arumi saat mendengar putrinya mulai berbicara.


"Arum, kamu sudah sadar, Nak?" lirih Moura.


Nyonya Moura senang melihat putrinya sudah sadar setelah dua Minggu tak sadarkan diri .


Nyonya Moura langsung menghampiri Arumi, Nyonya Moura juga tidak lupa memanggil dokter agar dokter dapat memeriksa keadaannya saat ini.


Tak berapa lama setelah itu dokter pun masuk ke dalam ruang rawat Arumi.


Dokter dan perawat mulai memeriksa keadaan Arumi saat ini.


Dokter memeriksa Arumi secara detail agar mereka dapat menganalisa bagaimana keadaan pasien saat ini.


Arumi bangun dari posisi berbaringnya secara perlahan. Dia merasa ada yang aneh pada tubuhnya bagian bawah.


"Mi, mami. Kakiku kenapa?" tanya Arumi yang merasa aneh pada kakinya.


"Ke-kenapa, Sayang," tanya Nyonya Moura sambil menoleh pada dokter meminta penjelasan.


Sang dokter pun kembali memeriksa keadaan Arumi. Tak berapa lama setelah itu, dokter dapat menyimpulkan apa yang terjadi.


"Nyonya," panggi dokter Setelah dia memeriksa Arumi.


Nyonya Moura menghampiri dokter.


"Saat ini, Arumi mengalami lumpuh, akibat benturan keras," jelas dokter.


"Tidak," pekik Arumi tak percaya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2