
Nick menunduk, dia mengerti apa yang dimaksud oleh ayah dari wanita yang dicintainya itu.
"Saya mengerti, Om. Saya akan berusaha menjaga Laras dengan baik, dan akan berusaha membahagiakannya semampu saya," ujar Nick membalas ucapan Ayah Rudi.
Rudi tersenyum.
"Kalau begitu jangan panggil, Om. Panggil saja Ayah," ujar Ayah Rudi.
Laras yang mendengar ucapan itu dari ruang keluarga merasa kedua orang tuanya setuju dengan hubungannya dan Nick.
Laras senang mendapat lampu hijau dari ayahnya.
"Baik, Yah. Kalau begitu saya pamit pulang, karena sudah mulai larut," ujar Nick pada Ayah Rudi.
Laras dan ibunya pun ikut bergabung saat Nick hendak berpamitan.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan," ujar Ayah Rudi.
Nick pun berdiri lalu dia melangkah menuju mobilnya. Kedua orang tua Laras memilih masuk lebih dahulu setelah mengantar Nick hingga pintu rumah.
Sementara itu Laras mengantar Nick hingga ke mobilnya.
"Laras," lirih Nick sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Mhm," gumam Laras.
"Kedua orang tuamu sudah memberi jawaban atas pertanyaanku tadi, aku hanya tinggal menunggu jawaban darimu," ujar Nick.
Laras tersenyum, lalu dia mengangguk sambil menundukkan kepalanya.
Dia pun menerima pernyataan Nick tadi dan mereka pun resmi berpacaran.
"Benarkah? Kamu menerimaku?" tanya Nick memastikan.
"Iya," lirih Laras menahan malu.
Kini pipinya sudah berubah warna menjadi merah karena menahan malu pada pria yang kini sudah menjadi kekasihnya.
Perjalanan cinta Nick dan Laras pun dimulai, mereka kini sudah merasa saling terikat antara satu sama lain.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu, ya," ujar Nick.
Nick pun masuk ke dalam mobil.
Dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah Laras dengan hati yang berbunga-bunga.
__ADS_1
Nick semakin senang karena sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Laras.
****
Keberangkatan peserta kompetisi menuju Korea Selatan tinggal beberapa hari lagi, Arumi dan Laras semakin gigih belajar tambahan.
Belajar tambahan di luar sekolah terpaksa dihentikan untuk sementara waktu, mereka setiap hari belajar tambahan dengan Pak Ridho di sekolah.
Begitu juga dengan tim basket, mereka semakin gigih berlatih untuk mengikuti kompetisi di Korea Selatan nantinya.
Waktu Tian semakin tersita dengan kegiatan sekolah.
"Tian, bagaimana dengan perusahaan?" tanya Farhan pada putranya di saat mereka baru saja menyelesaikan makan malam.
"Mhm, perusahaan aman, Pa," jawab Tian.
"Kamu yakin, Tian? Papa perhatikan kamu terlalu sibuk dengan kegiatanmu di sekolah," ujar Farhan mengingatkan Tian dengan tanggung jawabnya terhadap perusahaan.
"Pa, kondisi perusahaan baik-baik saja, aku masih melaksanakan kewajibanku di perusahaan," ujar Tian menanggapi ucapan sang papa.
"Papa tahu, tapi apakah kamu tidak kasihan dengan Nick yang terpaksa menyelesaikan tugas-tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab kamu," ujar Farhan lagi.
"Pa, aku hanya meminta Nick untuk tetap mengendalikan apa pun yang ada di kantor saat aku berada di luar perusahaan," ujar Tian.
Sedangkan di luar jam mengajarnya, dia datang ke kantor hanya di pagi hari, setelah istirahat siang dia sudah tak lagi berada di kantor.
Sesuai kesepakatan mereka sebelumnya, Tian mengajar hanya 2 hari dan selebihnya dia akan fokus pada perusahaan yang dikelolanya.
"Papa tahu, sekarang kamu sangat sibuk dengan kegiatanmu di sekolah," ujar Farhan.
"Mhm, maaf, Pa. Aku dipercaya kepala sekolah untuk melatih tim basket yang akan bertanding di Korea Selatan beberapa hari lagi, setelah kompetisi ini berakhir aku akan kembali fokus di perusahaan, Tian janji, Pa." Tian mengakui kesibukannya di sekolah pada papanya.
"Sayang, kami mengerti dengan kesibukanmu, tapi kamu juga harus memikirkan kesehatanmu," ujar Nyonya Sarah.
Sarah melihat putranya kini siang malam sibuk dengan pekerjaan. Tian terpaksa menyelesaikan berkas-berkas penting di malam hari sebelum tidur karena di siang hari dia selalu berada di sekolah.
"Iya, Ma." Tian mengangguk.
"Baiklah, hingga kompetisi itu selesai. Setelah semuanya selesai papa tidak izinkan kamu mencurahkan perhatianmu pada sekolah. Kamu harus lebih memprioritaskan perusahaan," ancam Farhan.
"Baik, Pa." Tian mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan wanita yang kamu cari? Apakah kamu sudah menemukannya?" tanya Farhan menagih alasan Tian untuk mengajar waktu itu.
"Mhm, maaf, Pa. Aku sudah menemukannya, tapi aku sedang berusaha mendekatinya," jawab Tian.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Farhan antusias.
"Papa tenang saja, ya. Jika aku sudah mendapatkan hatinya, aku akan bawa gadis itu ke hadapan Mama dan papa," ujar Tian.
Nyonya Sarah dan Tuan Farhan mengangguk penuh harap. Mereka sudah tidak sabar untuk melihat putra semata wayang mereka menikah karena mereka ingin cepat-cepat menimang seorang cucu penerus keluarga Atmaja.
Angan-angan Tian tertuju pada gadis yang sempat dibencinya dan kini mulai menarik perhatiannya. Rasa kagum kini mulai tumbuh di hatinya.
Melihat kepribadian Arumi, rasa benci itu berubah menjadi cinta. Bahkan dia mulai menyesali apa yang sudah dilakukannya pada gadis itu.
"Pa, Ma. Aku ke kamar dulu, masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan," ujar Tian izin duluan meninggalkan ruang makan.
"Ya udah, kamu juga jaga kesehatan ya, Nak," ujar Sarah memberi nasehat pada putranya.
"Iya, Ma," jawab Tian.
Dia pun berdiri lalu melangkah menuju kamarnya.
Dia mulai berkutat dengan laporan-laporan yang harus diperiksanya.
"Mami, satu Minggu lagi Arum mau berangkat ke Korea. Mami do'akan Arum, ya," pinta Arumi pada sang mami sebelum dia terlelap.
Malam ini Arumi merasa sangat merindukan maminya, dia meminta wanita yang sudah melahirkannya untuk menemaninya tidur.
Dengan senang hati Nyonya Moura mengabulkan permintaan sang putri, Tuan Arnold juga ikut menemani putri semata wayang mereka.
Arumi saat ini tengah berbaring di antara keduanya.
"Pi, Arum mau satu Minggu ini tidur bersama kalian, Arum sangat merindukan mami dan papi," pinta Arum.
Tuan Arnold menatap sang istri, Nyonya Moura menitikkan air matanya mendengar permintaan sederhana dari sang putri.
"Iya, Sayang. Minggu ini papi akan cancel semua pertemuan yang diadakan di luar kota. Mami sama Papi akan menemani kamu di sini sebelum kamu berangkat ke Korea," ujar Tian Arnold.
Dia tidak sanggup menolak permintaan putrinya yang selama ini tidak pernah meminta apa pun.
"Benarkah?" tanya Arumi dengan mata berbinar.
"Iya, Sayang." Tuan Arnold memeluk putrinya.
Nyonya Moura mengelus lembut puncak kepala sang putri, hingga Arumi mulai tertidur dengan lelap.
Tuan Arnold dan Nyonya Moura mendekap putri kecil mereka yang kini sudah mulai tumbuh dewasa.
Bersambung...
__ADS_1