
Kerangka besi itu jatuh tak jauh dari posisi mereka.
"Arum!" pekik Laras panik.
Nick dan Laras berlari menghampiri kedua sahabat mereka.
Tian menatap dalam pada wajah wanita yang kini menindih tubuhnya.
Mereka saling beradu pandang menyelami rasa cinta yang membuat mereka hanyut dalam lautan cinta.
"Aduh, berat," lirih Tian meringis kesakitan di bagian punggungnya.
Arumi tersadar dari tatapan cinta yang diberikan oleh Tian.
Perlahan Arumi pun turun dari tubuh Tian lalu dia berbaring tepat di samping Tian.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa," gumam Arumi.
"Arum, gimana keadaan lu?" tanya Laras khawatir.
Laras menghampiri Arumi dan menantu Arumi untuk berdiri, begitu juga dengan Nick dia membantu Tian untuk berdiri.
"Rum, tongkat lu. Tongkat lu patah," lirih Laras khawatir.
Laras melihat dengan jelas Arumi berlari dengan kedua kakinya tanpa bantuan tongkat.
Arumi menunduk dia memperhatikan kakinya yang kini berdiri kokoh tanpa bantuan tongkat.
"Ka-kaki- ku, a-aku sudah bisa berjalan," lirih Arumi senang.
Dia mencoba melangkahkan kakinya secara perlahan, dan benar saat ini dia sudah bisa berjalan seperti biasa.
"Arum!" pekik Laras ikut bahagia.
Mereka saling berpelukan.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah," ucap Arumi penuh syukur.
Tian juga memperhatikan wanita yang dicintainya kini berjalan tanpa bantuan tongkat.
Pemuda itu tersenyum lalu dia pun mendekati Arumi.
"Selamat ya, Rum. Kamu sudah bisa berjalan kembali," ujar Tian.
Arumi melepaskan pelukannya dari tubuh sang sahabat, setelah itu dia pun berpindah ke dalam pelukan pria yang sangat dicintainya.
Arumi senang, dalam musibah yang akan menimpa pria yang paling dicintainya, dia mendapatkan keberkahan karena dia diberi kesempatan lagi oleh Tuhan untuk bisa berjalan seperti manusia normal.
"Maaf, Tuan. Pekerja kami benar-benar ceroboh," ujar sang mandor menghampiri Tian.
Dia sangat menyesal dengan apa yang baru saja terjadi.
Tian menatap marah pada sang mandor.
"Apakah saya harus memecat pekerja yang baru saja melakukan kesalahan?" ujar sang mandor lagi.
Dia takut, Tian akan membatalkan kerja sama dengan pihaknya, untuk itu dia memilih untuk langsung meminta maaf.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Mungkin kunjungan hari ini cukup sampai di sini," ujar Arumi.
Arumi menarik tangan Tian dari tempat itu l, dia membawa Tian keluar dari kawasan proyek.
__ADS_1
Dari kejauhan ada salah satu pekerja terlihat tengah menghubungi seseorang.
"Usaha kali ini gagal," lirihnya berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"Si*l! Kenapa bisa gagal?" bentak lawan bicara pekerja itu.
"Dia diselamatkan oleh seorang wanita yang menggunakan tongkat," jawabnya.
"Sh*it," bentaknya.
Setelah itu panggilan telepon pun terputus.
Tak sengaja, Nick melihat pekerja yang tengah menelpon itu. Nick menyadari gerak-gerik pria itu.
"Pak." Tian memanggil sang mandor.
Sementara itu, Tian dan yang lainnya langsung menuju mobil.
"Ada apa, Tuan?" tanya sang mandor pada Nick.
"Saya mau pecat, pekerja yang mengenakan baju kuning," perintah Nick.
"Saya tidak mau dia masih berada di sini saat kami datang berkunjung lagi," ujar Nick tanpa pikir panjang.
Sejak kejadia 4 tahun silam, Nick selalu berhati-hati. Apalah setelah dia mengetahui kecelakaan yang menimpa Arumi saat itu ditujukan pada Tian, tapi sayang si pengendara mobil truk waktu itu salah mengira mobil yang ditumpangi Arumi adalah mobil yang ditumpangi oleh Tian.
Hingga saat ini Nick belum dapat mengetahui siapa dalang di balik itu semua.
Dari peristiwa hari ini, Nick harus selalu waspada menjaga sahabatnya, karena saat ini ada seseorang yang tengah mengincar nyawa Tian.
"Ba-baik, Tuan," ujar si Mandor menerima perintah dari Nick.
"Baiklah, Pak. Kami permisi dulu," ujar Nick berpamitan pada sang mandor mewakilinya semua orang.
Setelah itu mereka saling berjabat tangan lalu masuk ke dalam mobil.
Nick melajukan mobilnya meninggalkan area proyek setelah memastikan semua orang duduk dengan nyaman di dalam mobil.
"Nick, lu ngomong apa sama si mandor itu?" tanya Tian penasaran.
"Mhm, gue nyuruh si mandor memecat salah satu pekerjanya yang ceroboh," jawab Nick santai.
"Lho? Kenapa di pecat? Kalau seandainya dia memiliki keluarga yang membutuhkan biaya hidup, kasihan keluarganya," ujar Arumi protes dengan apa yang dilakukan oleh Nick.
Arumi tidak setuju dengan keputusan Nick tanpa berunding terlebih dahulu dengannya.
"Dia pantas mendapatkan hal itu," ujar Nick lagi santai.
Laras mengernyitkan dahinya heran melihat pria yang dicintainya tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun.
"Tapi kenapa, Sayang?" tanya Laras tidak bisa menahan rasa penasaran yang bergejolak di hatinya.
"Karena dia ingin membunuh Tian," jawab Nick.
Seketika suasana hening setelah mendengar jawaban dari Nick.
"Apa maksud, Lu?" tanya Tian ikut penasaran.
"Gue rasa ini orang yang sama dengan orang yang ingin membunuh lu 4 tahun yang lalu," ujar Nick memberitahu praduga yang ada di benaknya.
"Maksud Lu, orang yang sudah merencanakan tabrakan yang menimpa Arumi?" tanya Tian lagi tak percaya.
__ADS_1
"Iya," jawab Nick.
Arumi dan Laras bingung mendengar apa yang dibicarakan oleh dua pria yang bersama mereka saat ini.
"Apa maksud kalian?" tanya Arumi.
Arumi menatap Tian, dia meminta penjelasan dari apa yang baru saja mereka bicarakan.
"Lain kali aku jelaskan padamu," lirih Tian sambil mengelus lembut kepala Arumi.
"Nick kita cari makan siang dulu, ya. Gue udah lapar," ujar Tian mengalihkan pembicaraan.
"Siap, Bos," sahut Nick.
Arumi dan Laras terpaksa diam, mereka tidak lagi mempertanyakan apa yang dibahas oleh Nick dan Tian tadi.
Nick terus melajukan mobilnya membelah keramaian jalanan kota Bandung yang mulai padat oleh para karyawan yang tengah beristirahat.
Nick mengarahkan laju mobil ke sebuah Resti ternama di kota Bandung. Mereka akan menikmati santap makan siang di restoran tersebut.
Nick memarkirkan mobilnya di depan resto, setelah itu mereka keluar dari mobil.
Lalu mereka melangkah masuk ke dalam resto sambil menggandeng pasangan masing-masing.
Terlihat mereka berempat sangat bahagia, mereka merupakan dua pasang insan yang sangat serasi.
"Kita duduk di sana aja," ujar Arumi sambil menunjuk posisi tempat duduk di bagian pojok.
"Ayo," sahut Tian.
Mereka melangkah menuju tempat yang ditunjuk oleh Arumi.
Tak berapa lama mereka duduk di tempat tersebut, seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Permisi, Tuan, Nona. Silakan, mau pesan apa?" tanya si pelayan dengan ramah.
Pelayan itu menyodorkan buku menu pada mereka semua.
"Saya pesan yang ini, dan minumnya ini," ujar Arumi sambil menunjuk menu yang diinginkannya.
"Saya sama dengannya," ujar Laras.
Laras sudah terbiasa mengikuti selera sahabatnya.
"Baik, Nona," ujar si pelayan.
"Saya pesan yang ini saja, minumnya ini," ujar Tian menunjuk menu yang terpampang di buku menu.
"Kalau saya, mau ini," ujar Nick.
"Baiklah, mohon di tunggu sebentar, ya," ujar si pelayan.
Pelayan itu pun meninggalkan mereka.
Setelah itu, mereka pun mengobrol sambil menunggu pesanan.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka.
"Jadi ini alasan kamu tidak bisa makan siang denganku?" hardik Kyomi pada Tian di depan banyak orang.
Bersambung...
__ADS_1