
Sang pemuda tampan menyapa Tuan Arnold dan Nyonya Moura dengan ramah, setelah itu dia menatap seorang gadis yang berpenampilan santai dengan mengenakan t-shirt dengan celana jeans serta jaket jeans yang senada dengan celananya.
Rambut sang gadis di ikat asal ke belakang membuat gadis itu terkesan cuek dengan penampilan berbeda dengan gadis lainnya pada zaman sekarang.
"Perkenalkan, Tian. Ini putri saya," ujar Tuan Arnold menunjuk putrinya.
Arumi dan sang pemuda kini beradu pandang. Mereka membeku tak menyangka akan berjumpa di tempat dan situasi yang tidak memungkinkan bagi mereka bertemu.
"Ternyata dia putri pengusaha terkenal dan terhebat di ibu kota, wajar saja dia sanggup mengganti rugi mobilku yang rusak," gumam sang pemuda.
"What's? Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia jadi ada di mana-mana, enggak di sekolah, di jalanan dan sekarang dia sudah menjadi rekan kerja papi," gumam Arumi di dalam hati.
Sang pemuda menatap Arumi dengan dalam, dia melempar sebuah senyuman yang menawan menutupi apa yang terjadi di antara mereka.
"Putri Tuan cantik juga," puji Tian.
Mereka pun duduk, setelah itu mereka memesan menu makanan yang tersedia.
Arumi memasang wajah datar saat mendengar pujian dari pria yang dibencinya itu.
Dia sama sekali tidak respect pada sosok pria tampan yang sejak bertemu selalu memandangi dirinya.
"Mi, Arum permisi ke toilet dulu, ya," ujar Arumi.
Gadis itu jengah melihat Tian sejak tadi tidak berhenti memandanginya, oleh karena itu dia memilih untuk menghindari pria yang dibencinya itu.
"Iya, Sayang, tapi jangan lama-lama, ya," ujar Nyonya Moura.
"Iya, Mi." Arumi berdiri lalu melangkah menuju toilet.
"Tuh orang nyebelin banget sih sejak tadi tidak berhenti mandangin gue," gumam Arumi di dalam hati.
"Arumi anaknya memang cuek banget," ujar Nyonya Moura pada Tian saat Arumi sudah menjauh dari posisi mereka.
"Eh, iya, Nyonya," ujar Tian.
"Arumi itu anak yang mandiri, meskipun dia kurang kasih sayang dari kami," ujar Tuan Arnold jujur.
Entah mengapa Tuan Arnold merasa nyaman menceritakan kehidupannya pada Tian, padahal mereka baru saja saling mengenal.
Pertemuan di antara mereka baru terjadi beberapa kali, tapi Tuan Arnold merasa sudah sangat dekat dan percaya pada sosok Tian.
__ADS_1
Arnold kagum dengan kesuksesan Tian yang sanggup mengembangkan bisnis keluarganya dalam usia yang terbilang masih sangat muda.
Tian hanya mengangguk menanggapi ucapan dari Tuan Arnold.
"Nak Tian, saya berharap anda dan putri saya bisa berteman dengan baik, agar Arumi bisa belajar dari Nak Tian ilmu berbisnis," ujar Tian Arnold penuh harap pada Tian.
"Ah, tuan Arnold. Anda terlalu berlebihan, saya juga masih belajar, saya tidak berjalan sendiri dalam mengembangkan bisnis keluarga ini. Papa masih membantu saya jika saya menghadapi kesulitan," ujar Tian menanggapi pujian dari Tuan Arnold.
"Tapi, kalau Arumi mau, saya tidak akan keberatan untuk membantu,' ujar Tian menyanggupi permintaan tuan Arnold dengan senang hati.
Tuan Arnold terus menceritakan sosok putrinya pada Tian. Pemuda tampan itu sangat senang mendengarkan berbagai cerita mengenai wanita yang sempat dibencinya. Dia mulai tertarik dengan kepribadian yang dimiliki oleh gadis tengil yang menyebalkan itu.
"Tuan, saya permisi ke toilet sebentar," ujar Tian setelah Tuan Arnold selesai bercerita.
"Oh, iya," ujar Tuan Arnold.
Dian berdiri lalu melangkah menuju toilet, dia mengernyitkan dahinya saat melihat Arumi tengah asyik mainkan ponselnya di sebuah meja yang berada tak jauh dari toilet.
"Gadis itu ngapain di sana?" gumam Tian di dalam hati.
Dia pun melangkah menghampiri Arumi yang masih asyik berbalas pesan dengan Laras.
Laras mulai menceritakan sosok Nick pada sahabatnya, Laras minta izin pada sang sahabat untuk mendekati teman dunia maya sahabatnya itu karena Laras sudah mulai tertarik dengan sosok Nick yang akhir-akhir ini mereka saling bertemu.
Sejak awal Arumi mang sengaja melupakan pria dunia mayanya itu karena dia sudah melihat mata Laras yang berbinar menceritakan awal pertemuan mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tian pada Arumi.
Arumi kaget melihat Tian kini sudah berada di hadapannya.
"Lu ngapain ikutin gue?" bentak Arumi kesal.
Arumi merasa Tian sengaja mengikuti dirinya.
"Gue enggak ngikutin lu, jangan kepedean, deh. Jadi anak jangan keluyuran, nanti nyokap dan bokap lu cariin," nasehat Tian.
Arumi yang memang sengaja memilih menghindari Tian, semakin kesal dengan sikap Tian yang terlihat selalu ikut campur.
"Berisik!" bentak Arumi.
Setelah itu, Arumi berdiri dan melangkah meninggalkan Tian yang hanya terpaku memandang punggung gadis yang mulai disukainya.
__ADS_1
Makan malam pun berakhir, Tuan Arnold dan keluarga kembali ke rumah mereka, begitu juga dengan Tian.
Sepanjang jalan, Tian terus mengingat sosok Arumi. Rasa kagum di hatinya kini pun mulai bertambah.
****
Pertandingan demi pertandingan sudah dilewati oleh tim basket SMA Cendekia sehingga SMA Cendikia lolos menuju babak final.
"Alhamdulillah, kita bisa lolos di bapak Final, kalian harus mempersiapkan diri untuk pertandingan berikutnya," ujar Tian menasehati tim nya
"Siap, Pak," seru semua peserta didik dengan bahagia.
Sementara itu, di tempat lain Arumi dan Laras tengah berjuang memperebutkan juara dalam kompetisi Sains.
Kompetisi kali ini berupa cerdas cermat, Arumi dan Laras bersaing untuk memperoleh juara 1.
Mereka langsung diadu kecerdasan masing-masing sehingga Arumi lolos sebagai juara 1 dan Laras sebagai juara 2 dengan jumlah nilai yang sangat beda tipis.
"Selamat, Rum," ucap Laras pada sahabatnya.
"Mhm, lu juga selamat," ujar Arumi sambil tersenyum.
Mereka sangat bahagia dengan apa yang sudah mereka raih, selama ini Arumi dan Laras selalu bertukar posisi dalam prestasi antara juara 1 dan 2.
Meskipun mereka selalu bersaing, tapi mereka sedikitpun tidak pernah berselisih karena siapapun yang terdepan di antara mereka berarti dialah yang beruntung.
Usai kompetisi, Ridho menghampiri Arumi dan Laras.
"Selamat, Rum, Ras. Kalian memang siswi kebanggaan SMA Cendikia," ucap Ridho bangga memiliki peserta didik yang cerdas dan jenius.
"Terima kasih, Pak. Semua ini berkat kerja keras bapak sebagai pembimbing kami," ujar Laras.
"Iya, Pak. Tanpa bapak kamu bukan apa-apa," ujar Arumi pada guru pembimbing mereka.
"Asyik, Go Korea!" seru Ridho pada kedua siswinya.
"Yeay," teriak Arumi dan Laras bahagia.
Sesuai janji yang sudah disepakati, juara Sains akan menjadi utusan negara dalam kompetisi antar negara-negara Asia yang diadakan di Korea Selatan.
"Ya udah, kita langsung ke lapangan basket, yuk. Mana tahu, tim basket kita juga menang," ajak Ridho yang penasaran dengan hasil kompetisi basket.
__ADS_1
"Yuk, Pak," sahut Arumi dan Laras.
Bersambung...