
Arumi berusaha menutupi amarahnya saat mendengar pertanyaan Betrand.
“Mhm,” gumam Laras bingung harus menjawab apa.
“Menurut gue, lebih asyik Pak Tian yang mengajarkan kita olah raga, tapi neggak tahu kenapa, Pak Tian berhenti begitu saja,” ujar Betrand menyampaikan pendapatnya.
Laras dan Arumi masih diam, karena saat ini lebih baik mereka diam dari pada membahas Tian yang mana akan membuat Arumi kembali mengingat sosok pria yang sudah menyakitinya.
“Betrand, nanti gue turun di rumah Arumi saja,” ujar Laras mengalihkan pembicaraan.
Laras tidak ingin Betrand terus-terusan membahas Tian karena hal itu sudah pasti akan membuat dirinya dan Laras terluka.
“Lho? Kenapa begitu? Gue bisa kok langsung anterin lu pulang,” ujar Betrand.
“Enggak apa-apa. Gue mau belajar sama Arumi di rumahnya,” ujar Laras mencari alasan.
“Oh, ya udah kalau gitu,” ujar Betrand.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di depan mansion keluarga Arnold.
Betrand memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Arumi.
“Sudah sampai,” ujar Betrand.
Betrand pun keluar dari mobil lalu dia mengeluarkan kursi roda Arumi dan menggendong Arumi keluar dari mobil. Dia pun membantu Arumi masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh Larsa dari belakang.
“Arum, kamu sudah pulang?” tanya Nyonya Moura menyambut kedatangan putrinya.
Nyonya Moura mengernyitkan dahinya saat melihat Betrand mendorong kursi roda putrinya.
“Kenalkan, Mi. Ini teman sekelas Arum,” ujar Arumi melihat ibunya yang penasaran dengan sosok Betrand yang mengantarkannya pulang.
“Oh, Betrand,” lirih Nyonya Moura.
Betrand pun langsung menyalami Nyonya Moura.
“Iya, Tante. Saya teman Arumi,” ujar Betrand.
“Tadi Mang Ujang menelpon aku, dia ngasih tahu Arum kalau dia sednag berada di bengkel karena ban mobil bocor. Jadinya, Betrand mengantrakan Arum pulang, Mu,” jelas Arumi pada Maminya.
“Oh gitu, terima kasih ya, Nak Betrand. Tante bersyukur Arumi memiliki teman-teman yang baik,” ujar Nyonya Arumi.
“Sama-sama, Tante. Saya senang bisa bantu Arumi,” ujar Betrand.
“Mhm, oh iya, sudah siang, kalian pasti belum makan siang, kan? Ayo, kita makan siang dulu,” ajak Nyonya Moura.
“Eh, tidak usah, Tante. Saya masih ada urusan, lain kali saya main lagi ke sini,” ujar Betrand menolak tawaran Nyonya Moura engan halus.
__ADS_1
“Mhm, ya udah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih, ya,” ujar Nyonya Moura.
Betrand pun berpamitan lalu dia keluar dari mansion megah milik keluarga Arnold.
Arumi dan Laras mengantarkan Betrand hingga teras rumah.
“Terima kasih, ya,” seru Laras sambil melambaikan tangannya pada temannya itu.
Setelah itu, Arumi mengajak Laras masuk ke dalam kamarnya. Sejak Arumi mengalami kecelakaan mansion itu pun diberi lift agar Arumi tidak kesulitan untuk naik turun tangga.
Arumi mengganti pakaiannya, Arumi memberikan baju kaosnya untuk dikenakan Laras agar Laras tidak langsung pulang. Keberadaan Laras di rumah membuat Arumi merasa senang. Setelah mengganti pakaian, Arumi meminta Bi Nah untuk mengantarkan makan siang ke kamarnya karena Arumi malas keluar dari kamar.
“Ini makan siangnya, Nona,” ujar Bi Nah tak berapa lama setelah Arumi memutusakn panggilannya.
“Terima kasih, Bi. Oh iya, Bi. Aku minta tolong sampaikan sama Mang Ujang kalau aku sudah di rumah,” ujar Arumi.
Gadis itu hampir saja lupa memberitahu supir baru di keluarga Arnold bahwa dia sudah berada di rumah.
“Baik, Nona. Nanti bibi hubungi Man Ujang,” ujar Bi Nah.
“Makasih ya, Bi,” ucap Arumi tersenyum.
“Apa ada yang nona butuhnkan lagi?” tanya Bi Nah pada Arumi.
“Mhm, enggak ada, Bi. Nanti kalau aku butuh apa-apa aku hubungi bibi lagi,” jawab Arumi.
“Ya sudah, bibi balik ke dapur lagi ya, Non,” ujar Bi nAh.
Mereka berdua menyantap menu makan siang itu dengan lahapnya sambil bersenda gurau.
“Ras,” lirih Arumi terlihat sendu.
Laras mengernyitkan dahinya.
“Ada apa, Rum?” tanya Laras.
“Mhm, lu belum jawab pertanyaan gue kemarin,” ujar Arumi.
Arumi kembali mempertanyakan perihal yang disembunyikan Laras darinya. Laras terdiam sejenak. Dia menatap lurus ke depan meningat kejadian satu bulan yang lalu.
Flash back on.
Laras baru saja pulang sekolah, saat dia berdiri di depan gerbang sekolah. Mobil yang biasa dipakai Nick datang menghampirinya, Laras tersenyum melihat pria yang sudah menjadi kekasihnya datang menemuinya.
“Ayo, masuk!” ajak Nick.
Laras mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Ke mana?” tanya Laras.
“Ayo, ikut saja,” ujar Nick lagi.
“Aku sudah memesan ojek online,” ujar Laras sebelum dia masuk ke dalam mobil.
“Nona Laras?” tanya seorang pengemudi ojek online menghampiri Laras.
Laras menoleh pada Nick, dia bingung harus menjawab apa.
Melihat tukang ojek online menghampiri Laras, Nick keluar dari mobil, dia memberikan selembar uang seratus ribu dan meminta tukang ojek itu pergi.
“Terima kasih, Tuan,” ucap sang tukang ojek.
Setelah itu Nick membukakan pintu mobil untuk kekasihnya, Laras pun masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Nick. Lalu dia pun melajukan mobilnya meninggalkan kawasan sekolah.
“Kita mau ke mana?” tanya Laras pada Nick saat melihat arah laju mobil Nick tidak menuju ke rumahnya.
“Aku tidak akan menculikmu,” ujar Nick sambil tersenyum.
Laras pun ikut tersenyum mendapatkan sneyuman manis dari pria yang dicintainya.
Nick membawa Laras ke sebuah taman yang mana di sana terdapat danau buatan, dia memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil itu.
Nick mengajak Laras menuju sebuah bangku taman yang menghadap pada danau buatan, mereka duduk sambil menatap pada keindahan danau buatan tersebut.
Hampir satu jam mereka duduk di sana, Nick masih diam. Dia terlihat sednag bingung.
“Mhm, ada apa kamu membawaku ke sini?” tanya Laras memberanikan diri karena sejak tadi Nick hanya diam saja.
Nick menatap dalam pada Laras. Sorotan matanya membuat detak jantung Laras berpacu lebih cepat. Laras merasa ada sesuatu yang membuat Nick terlihat sangat sedih. Laras hanya diam menunggu Nick mulai berbicara.
“Ras,” lirih Nick.
Bola mata Nick kini mulai berklaca-kaca dia tidak sanggup untuk menyampaikan apa yang kini menjadi beban pikirannya.
“Mhm,” gumam Laras memberi respon.
“Jika setelah ini kamu tidak lagi bertemu dneganku, aku mohon kamu jangan bersedih, dan jangan membenciku,” pinta Nick pada Laras.
Laras mengernyitkan dahinya, dia sama sekali tidak paham dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Nick.
“A-apa yang kamu katakan?” tanya Laras.
Laras mulai takut Nick akan meninggalkannya di saat dia benar-benar sudah menetapkan hatinya untuk Nick.
“Saat ini aku tidak bisa mengungkapkan apa yang sedang terjadi, satu hal yang harus kamu ketahui, aku akan pergi dan belum tahu entah kapan akan kembali,” lirih Nick.
__ADS_1
Air mata Nick pun jatuh membasahi pipinya.
Bersambung…