Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 51


__ADS_3

Laras terbangun saat mendengar tangisan Arumi.


"Rum, bangun." Laras berusaha membangunkan Arumi yang masih memejamkan matanya.


Kejadian tadi malam membuat dia shock dan masih saja terlintas di dalam benaknya.


Ketakutannya membawa kejadian itu kembali masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


"Jangan, jangan sakiti aku! Hiks hiks." Arumi masih saja menggigau.


"Rum, Arum, bangun!" Laras menaikkan nada suaranya.


Arumi membuka matanya, dia menatap langit-langit kamar. Tatapannya kosong.


"Rum, ini gue. Lu kenapa? Cerita dong," lirih Laras sedih melihat sahabatnya yang ceria berubah.


Laras memeluk sahabatnya.


"Rum, kalau ada apa-apa, cerita ke gue. Gue di sini buat lu, gue enggak sanggup liat lu seperti ini," lirih Laras.


Laras pun mulai menangis, dia tidak bisa melihat sahabatnya terluka dan bersedih.


"Rum, lu itu gadis kuat. Lu gadis pemberani, lu enggak boleh seperti ini," ujar Laras terus membujuk Arumi agar bersemangat kembali.


Berkali-kali Laras menyadarkan Arumi, dia masih saja terdiam dengan tatapan yang kosong.


"Ras, ada apa?" terdengar suara Nick dari ponsel yang masih menyala.


Nick dapat mendengarkan apa yang terjadi.


Laras menoleh ke arah ponselnya yang masih menyala. Dia meraih ponsel tersebut lalu menceritakan apa yang terjadi pada Arumi di tengah malam ini.


"Ya udah, kamu tenang dulu, ya." Nick memutuskan sambungan telponnya.


Nick pun menghubungi Tian, dan memberitahukan kondisi Arumi saat ini pada Tian.


Tak berapa lama terdengar seseorang mengetuk pintu kamar dua gadis itu.


Laras berdiri dan melangkah menuju pintu untuk membukakan pintu.


Laras kaget saat melihat Tian sudah berada di depan kamarnya, Laras juga kaget melihat 4 orang pria bertubuh tegap dengan jas hitam berdiri di depan kamar.


"Masuklah dan tutup pintu kamar itu," perintah Tian pada Laras.


Laras memperhatikan apa yang dilakukan oleh Tian.

__ADS_1


"Rum, kamu tenang, ya. Aku sudah di sini, aku akan menjagamu," bisik Tian.


Laras terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Tian. Gurunya itu memeluk sahabatnya dengan erat. Laras juga tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh sang sahabat. Arumi membalas pelukan Tian dengan erat.


Sekilas terlihat mereka bagaikan dua insan yang memiliki hubungan khusus.


Tian menyadari tatapan Laras.


"Tidurlah di tempat tidurmu, aku tidak akan berbuat macam-macam pada Arumi," ujar Tian pada Laras.


Dia menyuruh Laras untuk tidur di atas tempat tidurnya. Kebetulan kamar yang ditempati Arumi dan Laras memiliki double bed.


Laras pun mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang lain. Dia mencoba memejamkan matanya meskipun ada rasa khawatir terhadap sahabatnya.


Tian mencoba membaringkan tubuh Arumi di atas kasur, dia masih mendekap erat tubuh Arumi.


Sekilas Laras dapat melihat perhatian dan kasih sayang yang diberikan Tian pada sahabatnya.


"Sepertinya pak Tian menyukai Arumi, terlihat dengan jelas dia memberi perhatian lebih pada Arumi," gumam Laras di dalam hati.


Melihat perhatian Tian pada Arumi, Laras merasa tenang dan akhirnya dia pun dapat tidur dengan nyenyak.


Tian melepaskan dekapannya setelah memastikan Arumi tidur dengan nyenyak. Dia mengganti tubuhnya dengan sebuah guling.


Tian memilih tidur di atas sofa yang tersedia di kamar itu karena dia tidak dapat menahan hasrat yang mulai menggelora di jiwanya saat berada di samping gadis yang dicintainya.


Saat pagi datang, Laras terbangun dari tidurnya. Dia melihat Tian tidur di atas sofa.


"Lho, pak Tian kok tidur di sofa?" gumam Laras.


Awalnya Laras berpikir Tian akan tidur di atas kasur bersama Arumi untuk menjaga Arumi. Melihat sikap Tian yang tidak mau tidur satu ranjang dengan sahabatnya membuat Laras mulai respect pada gurunya itu.


Walaupun dia sempat memandang miring terhadap gurunya itu.


"Ras," lirih Arumi.


Arumi membuka matanya, Laras menoleh ke arah sahabatnya lalu melangkah menghampirinya.


"Arum, lu udah bangun?" tanya Laras pada sahabatnya.


"Gue di mana, Ras?" tanya Arumi.


Arumi mulai tenang dan stabil. Dia hanya masih bingung dimana dia saat ini berada.


"Di kamar hotel, Rum." Laras duduk di atas tempat tidur Arumi.

__ADS_1


Arumi berusaha bangun dari posisi berbaringnya.


"Kamu udah baikan, Rum. Kalau kamu masih pusing kamu istirahat saja dulu," ujar Laras.


Arumi melihat seseorang tidur di atas sofa, dia membutuhkan dahinya.


"Ras, itu siapa yang tidur di atas sofa?" tanya Arumi heran melihat seorang pria berada di dalam kamar mereka.


"Mhm, itu Pak Tian, Dia menjaga kita semalaman ini. dia takut ada orang jahat mengganggu kita," jawab Laras.


"Ras, gue mau mandi duluan, ya," pinta Arumi pada Laras.


"Oh, ya udah kalau kamu mau duluan," ujar Laras.


Laras membantu Arumi berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Tian terbangun saat mendengar langkah kaki seseorang.


Dia mencermati langkah dua gadis itu.


"Arum sudah sadar, Ras?" tanya Tian pada Laras saat Laras hendak kembali ke atas tempat tidur.


"Sudah, Pak," jawab Laras.


"Bagaimana keadaannya, apakah dia masih shock?" tanya Tian mengkhawatirkan Arumi.


"Kelihatannya, dia sudah mulai membaik, Pak. Semoga saja kondisi Arumi bisa semakin membaik," ujar Arumi penuh harap.


"Aamiin, semoga dia baik-baik saja, dan semoga dia bisa ikut dalam kompetisi nanti," ujar Tian.


"Kalau begitu, saya kembali ke kamar dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku," ujar Tian lagi.


Tian berdiri dan melangkah keluar dari kamar dia siswinya itu. Dia yakin saat ini Arumi sudah mulai tenang.


Pada pukul 07.00 mereka semua sudah berkumpul di restoran hotel.


Tian sudah menjelaskan apa yang menimpa Arumi tadi malam pada semua teman-temannya, dia meminta teman-teman Arumi untuk tidak membahas hal itu lagi dan anggap kejadian tersebut tidak pernah terjadi.


Teman-teman Arumi bersikap seperti biasanya pada Arumi sehingga dengan mudah Arumi melupakan kejadian itu, dia menganggap kejadian yang menimpanya tadi malam adalah sebuah mimpi buruk.


Dia mengira hal itu hanyalah sebuah mimpi yang lebih baik dilupakan.


Arumi bersikap seperti biasanya dia sudah siap untuk mengikuti lomba, pada pukul 09.00 nanti, sementara itu tim basket akan bertanding di gelombang ke-6 yang akan berlangsung pada pukul 14.00 siang nanti, jadi mereka masih memiliki kesempatan untuk menyaksikan Arumi dan Laras tampil dalam kompetisi sains di aula Universitas Yonsei.


Semua teman-teman Arumi ikut senang dengan kembalinya Arumi seperti biasa.

__ADS_1


Tian juga ikut senang dengan perubahan sikap Arumi yang tadi malam terlihat trauma, kini dia seakan melupakan apa yang sudah terjadi.


Bersambung...


__ADS_2