
Arumi dan Laras melihat seorang yang dikenalnya tergeletak di aspal dengan sepeda butut yang sudah hancur terpental dua meter dari posisinya.
"Kasihan pria itu!"
"Ada korban tabrak lari."
"Sepertinya korban masih muda."
Orang-orang yang berada di tempat kejadian itu sibuk berujar tanpa ada niat untuk membantu Tian.
"Hei, apa yang kalian lakukan? Ayo cepat bantu korban!" bentak Arumi pada beberapa orang pria yang hanya berdiri menyaksikan korban kecelakaan dalam keadaan kritis.
Arumi menggeser kerumunan orang-orang itu, lalu mencari sebuah.obil yang kira-kira bisa mengantarkan korban ke rumah sakit.
"Pak, bisa bantu mengantarkan korban kecelakaan itu?" tanya Arumi pada salah seorang supir yang berhenti tak jauh dari tempat kejadian.
"Bisa, Nona," sahut sang supir.
"Ayo kita bawa korban ke rumah sakit," perintah Arumi pada beberapa orang pria yang ada di sana.
"Ta-tapi." Mereka ragu untuk membantu korban kecelakaan karena mereka takut terlibat dengan pihak berwajib.
Mereka juga takut akan bertanggung jawab atas biaya rumah sakit nantinya.
"Jangan ada tapi-tapian, ayo bantuin!" bentak Arumi pada beberapa orang pria yang ada di hadapannya.
Akhirnya mereka pun bergerak lalu mengangkat tubuh korban kecelakaan ke atas mobil yang ditunjuk oleh Arumi.
"Ras, lu ikut mereka ke dalam mobil, gue ikutin dari belakang," pinta Arumi pada sahabatnya.
"Iya." Laras mengangguk lalu dia pun masuk ke dalam mobil yang akan membawa korban kecelakaan menuju rumah sakit.
Si pemilik mobil pun melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata diiringi oleh Arumi dengan sepeda motornya dari belakang dengan kecepatan menyeimbangi kecepatan mobil tersebut.
Sesampai di rumah sakit, Arumi langsung memarkirkan sepeda motornya, dia berlari masuk ke dalam ruang IGD.
"Perawat tolong kami, ada korban kecelakaan," teriak Arumi memanggil petugas kesehatan yang ada di rumah sakit itu.
Dua orang perawat laki-laki datang membawa brangkar pasien keluar, mereka membantu si pemilik mobil untuk mengangkat tubuh korban kecelakaan itu mereka membawa ke ruang pemeriksaan.
"Terima kasih, Pak. sudah mau menolong," ujar Arumi pada si pemilik mobil yang sudah membantu mengantarkan korban kecelakaan menuju rumah sakit.
"Sama-sama, Dek. Sebagai sesama manusia kita harus saling tolong-menolong," ujar si pemilik mobil.
"Ini, Pak. Sebagai ucapan terima kasih dari saya," ujar Arumi mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribu.
"Tidak usah, Dek," ujar si pemilik mobil menolak pemberian Arumi.
__ADS_1
"Tidak, Pak. Hitung-hitung buat isi bensin," ujar Arumi.
"Tidak, Dek. Ini sudah kewajiban saya, biar Allah yang membalas semua yang saya lakukan," ujar si pemilik mobil.
Dia merasa salut dengan jiwa sosial yang tertanam pada diri gadis yang masih mengenakan seragam SMA nya.
"Ya, sudah, kalau begitu sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas bantuan bapak," ujar Arumi sungkan kepada si pemilik mobil.
"Ya, Dek Kalau begitu saya pamit duluan, ya," ujar si pemilik mobil.
Dia pun pergi meninggalkan Arumi dan Laras.
Setelah itu Arumi dan Laras duduk di bangku ruang tunggu hasil pemeriksaan dokter terhadap korban kecelakaan itu.
"Rum, kamu kenapa bantuin dia, sih?" tanya Laras heran pada sahabatnya.
Laras tak menyangka Arumi akan membantu pria yang sangat dibencinya di saat mengalami kecelakaan.
"Ras, untuk saat ini siapapun orangnya gue akan melakukan hal yang sama," jawab Arumi.
Laras mengganggu dia memang sudah tahu pribadi sang sahabat tapi dia tidak menyangka Arumi akan membantu pria yang tidak punya hati dan perasaan terhadap dirinya yang sudah membuat Arumi tersiksa, mulai dari lari lapangan hingga akhirnya Arumi terpaksa masuk rumah sakit akibat bubuk cabe yang dimasukkan oleh pria itu ke dalam makanannya.
Korban kecelakaan itu tak lain dan tidak bukan adalah Tian.
Tak berapa lama mereka menunggu dokter yang memeriksa keadaan Tian keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan korban kecelakaan itu, Dok?" tanya Arumi pada sang dokter.
"Alhamdulillah, pasien baik-baik saja. Pasien hanya mengalami syock saja," jawab sang Dokter.
"Sebentar lagi pasien akan sadar," ujar sang dokter.
Arumi lega mendengar penjelasan dari dokter. Dia sempat berpikir Tian akan mengalami luka yang sangat parah, mengingat sepeda motor milik Tian yang hancur.
"Baiklah, Dok. Terima kasih," ucap Arumi dengan ramah.
"Sama-sama, saya permisi dulu," ujar sang dokter.
Lalu pria berjas putih itu pun meninggalkan Arumi.
Arumi masuk ke dalam ruang pemeriksaan tempat Tian berada sementara itu Laras memilih untuk menunggu di luar.
Arumi duduk di sebuah kursi yang ada di samping brangkar tempat Tian berada.
Arumi menunggu pria yang dibencinya itu sadar sambil mengotak Atik ponselnya.
Tian perlahan membuka bola matanya, dia melihat sosok Arumi tengah duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Gadis ini memiliki kepribadian yang berbeda," gumam Tian di dalam hati.
Sebenarnya Tian sudah sadar saat Arumi membentak beberapa orang pria yang tidak berani membantunya tadi.
Tian berpura-pura tak sadarkan diri, dia ingin mengenali sosok Arumi lebih dalam lagi.
Arumi mengangkat kepalanya, dia dapat melihat Tian yang sudah membuka matanya.
"Lu sudah sadar?" tanya Arumi dingin pada Tian.
Tian tersenyum pada Arumi.
"Enggak usah senyum-senyum sama gue, berhubung lu sudah sadarkan diri itu artinya gue sudah bisa meninggalkan lu," ujar Arumi.
Arumi pun membalikkan tubuhnya hendak melangkah keluar dan meninggalkan Tian.
Sebelum Arumi melangkah, Tian menggapai tangan gadis tengil yang selama ini dibencinya.
Arumi terhenti, dia kembali membalikkan tubuhnya dan menatap dingin pada Tian.
Perlahan Arumi melepaskan tangan Tian yang masih menggenggam erat tangan, perlahan Arumi menyingkirkan tangan Tian dari tangannya.
"Tolong jangan pernah sentuh gue," ujar Arumi dingin.
"Terima kasih," lirih Tian.
Hanya dua patah kata itu yang keluar dari mulut Tian, dia bingung harus berkata apa pada gadis tengil itu.
"Tidak perlu berterima kasih," ujar Arumi datar.
Dia pun kembali melangkah meninggalkan Tian yang kini menatap punggung Arumi hingga menghilang dari balik pintu ruang pemeriksaan tempat Tian kini berada.
"Benar apa yang dikatakan oleh Ridho, gadis itu memiliki kepribadian yang jauh berbeda dengan yang lainnya." Tian terus bermonolog seorang diri.
Pikirannya terus tertuju pada sosok Arumi.
"Permisi," sapa seorang perawat yang baru saja masuk ke dalam ruang.
Kedatangan perawat itu membuyarkan lamunan Tian.
"Iya, Sus." Tian tersenyum.
"Maaf, Tuan. Anak SMA yang tadi membawa bapak ke sini, dia sudah pulang, mungkin bapak ada keluarga yang bisa mengurusi administrasi?" tanya sang perawat.
"Eh, ada, Sus. Saya akan menghubungi keluarga saya," jawab Tian.
Bersambung...
__ADS_1