
"Aku akan mengantarmu ke ruang dosen," ujar Tian saat dia sudah memarkirkan mobilnya di depan gedung fakultas Arumi.
"Tidak perlu," bantah Arumi.
Arumi berusaha keluar dari mobil. Dia pun hendak melangkah meninggalkan Tian tanpa mengucapkan terima kasih sedikitpun pada pria yang sudah menyakiti dirinya.
"Arumi," panggil Tian.
Arumi tidak menghiraukan panggilan Tian, dia masih melangkah dengan bantuan tongkatnya.
"Aku akan membantumu," ujar Tian.
"Tidak!" bentak Tian.
Arumi kini menatap tajam pada Tian.
"Selama ini aku bisa hidup tanpa bantuan mu!" bentak Arumi pada Tian.
Tian langsung memeluk tubuh wanita yang sangat dicintainya.
"Maafkan aku," lirih Tian.
"Lepaskan gue!" bentak Arumi.
Di saat yang bersamaan Betrand baru saja memarkirkan sepeda motornya.
Dia langsung memukul pria yang sudah berani memeluk tubuh gadis yang selama ini dicintainya.
Tian langsung terjatuh dan tersungkur ke tanah, wajahnya tertutup oleh rambutnya yang sedikit gondrong.
"Apa yang lu lakukan padanya?" teriak Betrand tidak terima Arumi disentuh oleh pria lain.
Tian berusaha berdiri, lalu merapikan penampilannya yang sudah berantakan.
Betrand kaget saat mengetahui pria yang baru saja memeluk Arumi adalah mantan guru olahraganya.
"Pak Tian," lirih Betrand tak percaya.
Tian menatap ke arah Betrand yang kini berdiri di samping Arumi, dia tidak percaya Betrand berani memukul dirinya.
"Apa yang Bapak lakukan terhadap Arumi?" tanya Betrand pada Tian.
Tian tidak bisa menjawab apa-apa, karena dia tahu selama ini hubungannya dan Arumi selalu disembunyikan dari seluruh siswa yang ada di SMA Cendikia.
"Pergilah, Betrand akan menjagaku," lirih Arumi pada Tian.
Arumi pun melangkah meninggalkan Tian, sedangkan Betrand masih bingung dengan keberadaan Tian di kampusnya.
"Ngapain Pak Tian di sini?" tanya Betrand setelah dia bisa berjalan beriringan dengan Arumi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kok, udah ah gue ke ruangan dosen dulu," ujar Arumi menghindari pertanyaan dari Betrand.
Sementara itu Dian masih berdiri di parkiran, dia merasa sedih saat melihat tatapan Arumi yang sangat membencinya.
"Apakah kamu akan membenciku seumur hidupmu, akankah tidak ada kata maaf untuk diriku si pengecut ini. Mungkin aku memang tidak pantas dimaafkan, aku terlalu pengecut untuk menyelesaikan masalah yang saat itu aku hadapi," gumam Tian di dalam hati.
Dia terus menyesali apa yang sudah dilakukannya terhadap Arumi.
Setelah itu Tian pun pergi meninggalkan kampus Arumi, dia langsung menuju perusahaan.
"Terima kasih," ucap Laras pada Nick setelah Nick membantu Laras menyalakan mobilnya.
"Iya, Sayang. Aku tadi tidak sengaja melihat mobilmu," ujar Nick sambil mengusap kepala Laras.
Laras tersenyum, dia bahagia mendapatkan perhatian dari kekasihnya.
Saat ini hubungan Laras dan Nick semakin membaik. Bahkan Nick sudah berencana akan menikahi gadis yang dicintainya itu setelah masalah Arumi dan Tian selesai.
"Bagaimana dengan Arumi, ya?" tanya Laras mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.
"Tenanglah, dia pasti baik-baik saja," ujar Nick menenangkan Laras.
"Ya sudah, aku langsung ke kampus saja, aku takut terjadi apa-apa dengannya," ujar Laras.
"Baiklah, kamu hati-hati di jalan, ya," ujar Tian.
Tian pun mengecup puncak kepala Laras sebelum Laras masuk ke dalam mobil.
"Semoga, hubungan ini akan baik-baik saja hingga akhir hayat kita, aamiin," gumam Laras dalam hati sebelum dia melajukan mobilnya.
Nick menunggu Laras melajukan mobilnya, dia melambaikan tangannya saat dia mobil Laras mulai meninggalkan dirinya.
Sesampai di kampus Laras langsung mencari Arumi, dia berkeliling mencari Arumi.
Setelah berkeliling mencari Arumi di gedung Fakultas, Laras mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Arumi.
Tak biasanya Arumi jauh-jauh dari gedung Fakultas, karena dia pasti merasa kesulitan untuk melangkah dengan kondisinya saat ini.
"Kenapa ponsel Arumi tidak aktif?" gumam Laras semakin panik.
Dia kembali mencoba mendial nomor Arumi lagi, tapi sama saja panggilan tersebut tidak tersambung.
"Rum, lu di mana, sih?" Laras mulai cemas.
Dia juga tidak menemukan Betrand di gedung Fakultas, akhirnya Laras pun menghubungi Betrand.
"Halo," ujar Betrand saat panggilan sudah tersambung.
"Betrand, Arumi bareng lu, enggak?" tanya Laras langsung.
__ADS_1
"Enggak, tadi memang sama gue tapi dia masuk ruang dosen bimbingan sama Bu Rahma," jawab Betrand.
"Lu serius?" tanya Laras semakin panik.
"Iya," jawab Betrand.
"Lu sekarang di mana?" tanya Laras.
"Gue sudah di rumah, tadi ke kampus cuma nganter skripsi saja," jawab Betrand.
"Ya ampun Arumi lu di mana?" keluh Laras yang masih terdengar oleh Betrand.
"Gue langsung ke kampus sekarang juga," seru Betrand.
Betrand pun ikut mencemaskan keadaan Arumi saat ini.
Dia mulai berpikiran buruk terhadap Tian, dia merasa Arumi saat ini tengah diculik oleh Tian.
Betrand yakin Tian akan berbuat yang tidak-tidak pada Arumi.
Betrand langsung keluar dari rumah. Dia menaiki sepeda motor gede miliknya, lalu melakukannya dengan kecepatan tinggi.
Dia tidak bisa membayangkan hal-hal buruk terjadi pada Arumi.
Sementara itu, di sebuah gang sempit yang terdapat di belakang gedung fakultas, Arumi berjalan seorang diri.
Di tangannya terdapat sebuah buku, dia hendak mencari tempat foto copy yang biasanya ada di belakang gedung Fakultas.
Arumi disuruh Bu Rahma untuk memfoto copy buk tersebut sebagai tambahan referensi bagi Arumi dalam menulis skripsinya.
Awalnya Arumi akan pergi ke tempat Poto copy yang terdapat di depan gedung Fakultas, saat dia sudah ke sana ternya kedai foto copy di sana sedang tutup.
Arumi tampak berpikir, dia harus ke mana di saat seperti ini. Dia teringat pernah memfoto copy di sebuah foto copy yang ada berada di belakang gedung fakultas.
Akhirnya Arumi mengambil keputusan untuk melangkah menuju tempat fotocopy yang ada di belakang fakultas tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa tempat fotocopy di sini juga tutup?" keluar Arumi menghilangkan napas panjang.
Dia merasa lelah sudah melangkah menuju tempat foto copy tersebut, Arumi duduk di sebuah batu yang terdapat di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak.
Kawasan tersebut terlihat sepi, tak ada siapapun yang melintas di sana.
Di saat Arumi tengah beristirahat, dia melihat plank foto copy yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.
"Di sana ada foto copy, mungkin lebih baik aku coba ke sana," gumam Arumi di dalam hati.
Dia pun berdiri dan melangkah di gang kecil itu, baru saja Arumi melangkah beberapa langkah, terlihat 4 orang preman datang menghampirinya.
Arumi mulai cemas saat keempat pria itu semakin mendekati dirinya.
__ADS_1
Dia pun berusaha melangkah lebih cepat lagi, tapi apalah daya Arumi yang tidak bisa melangkah lebih cepat sehingga salah satu mereka menangkap tangan Arumi.
Bersambung...