
"Diam, lu. Ini bukan urusan lu, gue harap lu pergi dari tempat ini atau jauh-jauh dari gue," pinta Laras.
Laras mulai emosi dengan sikap Bunga yang tidak tahu malu sama sekali.
Kedatangan Bunga membuat suasana menjadi runyam. Obrolan hangat yang terjadi di antara Laras dan Nick kita ambyar begitu saja.
"Ih, Laras. Segitunya, iya deh, gue pergi dari sini," ujar Bunga.
Bunga pun mengajak teman-temannya keluar dari kafe, mereka yang berencana ingin makan di kafe itu akhirnya milih tempat lain.
Laras menghela napas panjang, dia pun melangkah menghampiri meja tempat Nick berada.
"Ma-maaf," lirih Laras.
Saat ini jantung Laras berdebar sangat kencang karena dia takut Nick mengira bahwa dirinya telah membohonginya.
"Duduklah," ujar Nick dengan wajah yang sangat serius.
Laras semakin tegang saat melihat wajah Nick.
"Apakah aku harus jujur semuanya padanya?" gumam Laras dalam hati.
Laras mulai nimbang.
"Mungkin lebih baik aku jujur, apa pun yang terjadi setelah ini aku pasrah," gumam Laras lagi.
"Ma-maafkan aku," lirih Laras lagi sambil menundukkan kepala.
"Mhm," gumam Nick.
"Maaf, sebenarnya aku bukanlah Wilona. Aku bukan teman kamu di dunia Maya," tutur Laras jujur.
Nick mengernyitkan dahinya. Dia terlihat semakin heran dan bingung.
"Apa maksudnya?" tanya Nick.
"Maaf, sebenarnya aku bukan cewek yang selama ini kamu hubungi di media sosial. Aku hanya disuruh teman untuk menggantikan dirinya menjumpaimu hari itu," tutur Laras jujur.
Akhirnya Laras mulai menceritakan yang sebenarnya pada Nick. Laras memilih untuk jujur dan memberitahukan segalanya pada pria yang sudah mulai mengisi hatinya.
Laras berpikir lebih baik dia jujur daripada menjalin hubungan di atas sebuah kebohongan.
"Maaf, jika kamu marah dengan apa yang aku lakukan. Aku bisa terima konsekuensi yang harus aku terima dengan apa yang sudah terjadi," ujar Laras.
Seorang pelayan datang membawakan makanan yang mereka pesan di saat suasana tegang terjadi di antara keduanya.
"Gadis ini berani jujur dan berbicara apa adanya. Aku juga harus jujur padanya. Setelah itu aku akan mengungkapkan perasaanku padanya. Lebih baik mengawali suatu hubungan dengan sebuah kejujuran." Nick berbicara di dalam hati.
"Mhm, udah? Sudah selesai ngomongnya?" tanya Nick dengan gaya cueknya setelah si pelayan meletakkan makanan yang mereka pesan di atas meja.
__ADS_1
Nick menatap Laras, gadis itu tidak bisa mengartikan tatapan yang dilayangkan Nick terhadap dirinya.
Laras menganggukkan kepala, lalu menunduk.
"Ehem, sebenarnya posisi kita saat ini sama, kita sama-sama tokoh pengganti," ujar Nick jujur.
Laras mengangkat kepalanya, dia menatap pada Nick, dia tidak percaya d Ngan apa yang dikatakan oleh Nick. Kini pandangannya tertuju pada Nick.
Dia pun meminta penjelasan apa yang sudah terjadi sebenarnya.
Tidak menunggu lama Nick langsung menjelaskan dan menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi antara dia dan tuannya.
Sama dengan Laras, Nick menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupinya.
Akhirnya tokoh sang pengganti yang ada pada dirinya terbongkar sudah, tak ada lagi kebohongan yang terjadi antara mereka berdua.
"Lalu siapa namamu yang sebenarnya?" tanya Nick penasaran.
"Aku Laras, aku siswi di SMA Cendekia," jawab Laras.
"Lalu nama kamu yang sebenarnya siapa?" Laras juga penasaran dengan identitas pria tampan yang kini mulai masuk ke dalam hatinya itu.
"Namaku, Nick. Aku bukan mahasiswa lagi, aku seorang karyawan di sebuah perusahaan," jawab Nick jujur.
"Mhm," gumam Laras.
Laras menjadi canggung dengan Nick saat mendengar Nick merupakan seorang karyawan. Itu artinya umur mereka terpaut jauh.
Nick ingin mengungkapkan rasa yang ada di hatinya.
Laras menatap Nick. Dia merasa ada yang aneh dengan tatapan sang pria yang kini ada di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Laras penasaran.
"Sekarang kita sudah saling mengenal satu sama lain. Di antara kita tidak ada lagi kebohongan, apakah kamu mau menjadi kekasihku?" ungkap Nick terus terang.
Nick tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendekati Laras, entah mengapa dia merasa nyaman dengan gadis yang masih duduk di bangku SMA.
Dia merasa cocok dengan kepribadian Laras yang supel, dan bersikap apa adanya.
Laras terdiam lama mendengar ucapan Nick, dia tak percaya seorang pria yang sudah mapan menyatakan cinta padanya.
"Apakah kamu mau?" tanya Nick lagi tidak sabar.
"Mhm, haruskah aku menjawabnya sekarang juga?" tanya Laras.
Laras merasa belum siap untuk menjawab pertanyaan Nick saat itu juga, dia ingin memikirkan matang-matang masalah kedekatannya dengan pria mapan dihadapannya.
"Kalau kamu belum siap menjawabnya aku akan beri waktu untukmu berpikir," ujar Nick.
__ADS_1
"Baiklah, aku mohon berikan aku waktu untuk berpikir," ujar Laras.
"Oke, fine. Ya udah, kita makan, yuk. Nanti keburu dingin enggak enak lagi," ajak Nick.
Nick berusaha bersikap seperti biasa, seketika suasana canggung di antara mereka pun hilang dan kembali menghangat seperti biasanya.
Melihat sikap Laras, Nick semakin yakin menjadikan gadis itu sebagai kekasihnya dan berharap Laras bisa menjadi pendamping hidupnya nanti.
Mereka pun menikmati makanan yang terhidang di atas meja dengan lahap sambil mengobrol santai.
Saking asyiknya mereka mengobrol, mereka lupa waktu bahwa mereka sudah 3 jam berada di kafe itu.
Jam di pergelangan Nick sudah menunjukkan pukul 14.15.
"Eh, udah lewat jam 2 siang. Kita cabut dari sini, yuk," ajak Nick.
Laras pun mengangguk. Nick manggil pelayan meminta bill pesanan mereka.
Mereka berdiri dan melangkah keluar dari kafe setelah Nick membayar tagihan makanan mereka.
"Kamu mau ke mana?" tanya Nick pada Laras.
"Hah?" Laras bingung harus jawab apa.
"Ya udah kita ke mall aja gimana?" tanya Nick.
"Mhm, boleh." Laras setuju dengan ajakan Nick.
Nick membukakan pintu mobil untuk Laras, dia memperlakukan Laras bagaikan seorang putri.
"Terima kasih," lirih Laras.
Dia merasa tersanjung dengan perlakuan pria tampan yang baru saja mengungkapkan perasaannya pada dirinya.
Hati Laras kini berbunga-bunga, dia tak menyangka akan tertarik pada pria yang mapan dan dewasa. Yang mana umur mereka terpaut lumayan jauh.
Nick menutup pintu mobil lalu melangkah mengitari mobil dan masuk mobil melalui pintu kemudi.
Dia melajukan mobilnya meninggalkan kafe menuju sebuah mall terbesar di Jakarta.
Sesampai mereka di mall, Nick mengajak Laras masuk ke sebuah toko perhiasan. Dia ingin membelikan Laras sebuah kalung sebagai ungkapan perasaannya.
"Kita ngapain ke sini?" tanya Laras heran.
"Menurut kamu kalau ke toko perhiasan kita mau beli apa?" tanya Nick balik.
"Mhm," gumam Laras enggan masuk ke dalam toko perhiasan itu.
"Kamu suka yang mana?" tanya Nick terus terang.
__ADS_1
Laras mengernyitkan dahinya, lalu dia menarik lengan Nick keluar dari toko perhiasan itu.
Bersambung...