
"Pa, apakah ini tidak salah?" tanya Tian pada ayah mertuanya.
"Tidak, saya percaya kamu bisa menghandle perusahaan ini, papa sudah bicarakan ini semua dengan pengacara papa," ujar Tuan Basuki.
Tuan Basuki sudah sangat percaya dengan menantunya itu. Dia memilih menyerahkan perusahaannya pada Tian, karena dia tahu bahwa putrinya tidak akan sanggup mengurus perusahaan.
Tuan Basuki takut jika putrinya akan menghancurkan perusahaan, padahal dia sudah susah payah mendapatkan perusahaan tersebut meskipun dengan cara menipu.
Tian menggenggam erat berkas yang di tangannya.
"Pa, sekarang Piramids Group sudah kembali ke tanganku, tanpa harus berbuat kotor. Inilah cara Tuhan mengembalikan hak kita," gumam Tian di dalam hati.
Setelah mengobrol dengan Tuan Basuki, Tian langsung masuk ke dalam kamar yang biasa mereka gunakan saat berada di kediaman Basuki.
Di sana Tian melihat istrinya tengah melakukan video call dengan seorang pria, sang istri berbicara dengan sangat lembut dan manja berbeda dengan cara bicaranya pada Tian.
Istri Tian sangat mencintai teman pria yang kini menjadi lawan bicaranya, sehingga sama sekali dia tidak pernah mengacuhkan Tian.
Dia akan berbicara dengan Tian jika dia butuh saja. Kyomi tidak pernah menghormati Tian sedikitpun. Sehingga sama sekali Tian tidak pernah tertarik pada sang istri.
Tian mengabaikan apa yang tengah dilakukan oleh istrinya, dia pun mengambil selimut dan bantal lalu melangkah menuju sofa yang tersedia di kamar itu, lalu dia pun bersiap untuk tidur.
Keesokan harinya.
Pembantu rumah tangga di kediaman Basuki melangkah menuju kamar majikannya untuk membersihkan kamar karena matahari sudah naik tinggi.
Dia membuka pintu Tuan Basuki.
"Permisi, Tuan. Saya akan membersihkan kamar ini," ujar sang PRT minta izin pada majikannya.
Tuan Basuki tidak menjawab, lalu si PRT tetap masuk ke dalam kamar tersebut.
"Tuan nyenyak sekali tidurnya," gumam si PRT saat melihat Tian Basuki masih tidur dengan pulas.
PRT itu pun melaksanakan tugasnya, dia membuka tirai jendela agar cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
Dia mulai beres-beres di kamar tersebut. PRT di kediaman Tuan Basuki sudah biasa membersihkan kamar tersebut di saat Tuan Basuki masih terlelap di sana.
Di mulai dengan membersihkan kamar mandi dan merapikan barang-barang yang berserakan.
Di saat si PRT hendak menyapu kamar, terdengar ponsel tuan Basuki berdering.
Dia melihat ponsel tersebut, tapi tidak berani mengangkatnya.
Satu kali dua kali ponsel tuan Basuki berdering, tapi tuan Basuki masih saja tertidur.
__ADS_1
"Tuan, tuan," panggil sang PRT berusaha membangunkan tuan Basuki.
Si PRT sudah membangunkan berkali-kali, tapi sang majikan masih saja terlelap dengan pulasnya.
Si PRT keluar dari kamar lalu memanggil tukang kebun yang sedang bekerja.
"Mang, Mang Maman." Si PRT memangil tukang kebun yang berada di taman belakang.
"Ada apa sih, Bi?" tanya Mang Maman yang sedang mencabut rumput.
"Itu, itu Tuan Basuki dibangunkan tidak bangun-bangun. Coba mang cek dulu mana tahu tuan Basuki sakit," ujar Si PRT panik.
Mang Maman pun langsung melangkah menuju kamar tuan Basuki. Dia ikut mencoba memastikan keadaan majikannya.
Mang Maman memegang tangan Tian Basuki untuk memeriksa nadinya.
"Bi, sepertinya Tuan Basuki sudah meninggal," ujar Mang Maman panik.
"Apa? Kamu jangan bercanda, Mang," ujar Si PRT kesal dengan ucapan Man Maman.
"Benaran, Bi. Lebih baik kamu coba panggil tuan Tian," ujar Mang Maman meminta Si PRT memanggil menantu majikannya.
Si PRT pun bergegas keluar dari kamar tersebut. Dia hendak melangkah ke kamar Kyomi, tapi di saat yang bersamaan, Tian tengah melangkah menuruni anak tangga.
"Ada apa dengan papa, Bi?" tanya Tian ikut panik.
Tanpa menunggu jawaban dari si PRT, Tian langsung berlari menuju kamar ayah mertuanya, begitu juga dengan Kyomi, dia melihat Tian bergegas menuruni anak tangga, dia juga ikut mempercepat langkah kakinya.
Tian menghampiri tuan Basuki yang terbaring di atas tempat tidur,dia mencoba mengecek denyut nadi sang ayah mertua.
"Bi, cepat hubungi dokter!" perintah Tian pada si PRT.
Wanita itu langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi dokter.
"Pa, papa." Kyomi berusaha membangunkan papanya.
"Pa, ini Kyo." Kyomi cemas dengan keadaan Tuan Basuki.
Tian memegangi pundak istrinya.
"Kyo, papa sudah meninggal," lirih Tian pada istrinya.
"Tidak! Kamu bohong," bentak Kyomi tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Tak berapa lama, dokter sampai di kediaman Tuan Basuki.
__ADS_1
"Dokter, tolong periksa papa. Sepertinya beliau sudah tiada," ujar Tian pada Dokter untuk memastikan Tian Basuki sudah meninggal.
Dokter pun memeriksa keadaan Tuan Basuki, sementara itu Tian memegangi tangan istrinya sementara dokter melakukan tugasnya.
"Tidak mungkin, papa jangan tinggalkan Kyo," teriak Kyomi histeris.
Kyomi shock saat Tian mengatakan bahwa papanya sudah tiada, selama ini Kyomi hanya memiliki sang papa karena mamanya sudah lebih dahulu meninggalkannya sewaktu dia masih berumur 10 tahun.
"Kyo, tenanglah," lirih Tian merasa kasihan pada istrinya.
Tian memeluk istrinya, ini pertama kalinya Tian memeluk istrinya yang sama sekali tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang suami.
Kyomi merasakan kehangatan saat sang suami memeluk tubuhnya, dia merasa nyaman di saat berada dalam pelukan tubuh kekar pria yang selama ini selalu dibentak dan dimakinya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Tian setelah dokter memeriksa kondisi Tuan Basuki.
"Tuan Basuki sudah tiada, diperkirakan beliau meninggal pada pukul 02.00-03.00," jawab sang dokter.
"Inna lillahi wa Inna ilaihi raji'un," ucap Tian.
"Tidak!" teriak Kyomi.
Kyomi menghambur memeluk papanya, dia menangis histeris dengan berita yang disampaikan oleh dokter.
Setahu Kyomi, papanya tidak pernah memiliki penyakit yang serius.
Kyomi terus menangis, Tian menyuruh Mang Maman dan si PRT untuk memberitahukan berita ini pada ketua RT.
Tian tak menyangka, papa mertuanya akan meninggal setelah mengembalikan semua haknya ke tangannya.
"Terima kasih, Tuan. Anda telah mengembalikan apa yangs seharusnya menjadi milikku ke tanganku kembali tanpa aku harus mengotori tanganku," gumam Tian di dalam hati penuh syukur.
"Dari analisanya, tuan Basuki memiliki sakit jantung yang selama ini disembunyikannya dari Tian dan Kyomi.
Tuan Basuki sengaja tidak memberitahukan penyakitnya pada putri dan menantunya karena dia tidak ingin membuat putri dan menantunya repot.
Di saat seperti ini, Tian tidak mementingkan perasaan atau perlakuan istrinya yang tidak pernah menghormatinya, dia memberikan pundaknya sebagai tumpuan melampiaskan rasa sedih yang saat ini dirasakannya.
"Kenapa papa secepat ini meninggalkan aku?" isak Kyomi sangat sedih.
Wanita itu merasa terpukul dengan kepergian sang ayah.
Saat ini hanya Tian yang dimilik di dunia ini.
Bersambung...
__ADS_1