Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 26


__ADS_3

Laras berkali-kali melirik ke jam tangan yang menghiasi pergelangan tangannya.


Dia belum juga melihat kedatangan sahabatnya, 5 menit lagi bel masuk kelas akan berbunyi, tapi sang sahabat belum juga memperlihatkan batang hidungnya.


"Arumi ke mana, ya? Jam segini belum datang juga," gumam Laras mulai mengkhawatirkan sahabatnya.


"Lu kenapa, Ras? Kelihatannya panik gitu?" tanya Aldo pada Laras.


"Iya nih, Al. Gue khawatir sama Arumi, jam segini belum datang juga. Gue takut dia terlambat lagi, mana hari ini pelajaran olahraga lagi," jawab Laras risau.


"Iya, ya, enggak biasanya tuh anak telat gini," ujar Aldo menanggapi.


"Iya, Al. Gue takut dia dihukum lagi sama Pak Tian," ujar Laras cemas.


"Iya, ya, kasihan dia," ujar Aldo ikut cemas.


Teeeetth.


Terdengar dengan jelas bel masuk kelas, keduanya saling berpandangan setelah itu mereka memilih duduk di tempat masing-masing.


Tak berapa lama, Tian pun masuk ke dalam kelas. Dia membaca absen terlebih dahulu sebelum dia menyuruh siswanya untuk mengganti pakaian.


"Arumi, Arumi," panggil Tian saat membaca nama gadis yang dibencinya tak menyahut sama sekali.


Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Arumi di dalam kelas.


"Mana Arumi?" tanya Tian pada siswanya yang lain.


Semua siswa yang ada di dalam kelas menoleh ke arah Laras, karena gadis itu merupakan sahabat Arumi.


"Ras, Arum mana?" tanya Bunga mengulangi pertanyaan dari sang guru tampan.


Laras terdiam, dia sendiri tak mendapat kabar tentang keberadaan Arumi saat ini.


Laras juga sudah mencoba menghubungi nomor ponsel Arumi, tapi ponsel sang sahabat tidak aktif sama sekali.


"Maaf, Pak. Saya tidak tahu keberadaan Arumi. Sejak tadi saya menghubunginya ponselnya tidak aktif," jawab Laras.


Tian mengangguk paham, dia langsung menuliskan huruf A di absen tersebut.


"Dasar gadis tengil, pasti dia mencari-cari alasan untuk tidak masuk mata pelajaranku," gumam Tian di dalam hati.


Dia pun kembali melanjutkan membaca absen.


"Silakan keluar untuk mengganti pakaian, saya tunggu kalian di lapangan basket," ujar Tian memerintahkan siswa dan siswinya.

__ADS_1


Dia keluar dari kelas lalu melangkah menuju lapangan.


Di tempat lain, Arumi terlihat tengah terbaring lemah di atas tempat tidur di ruangan berwarna putih di sekelilingnya.


Di sampingnya tengah duduk Bi Nah dengan penuh kekhawatiran.


"Non, bangun. Non Arum, kenapa?" lirih Bi Nah menatap sedih pada gadis malang itu.


Dia hidup dengan kekayaan yang berlimpah, tapi di saat seperti ini dia hanya sendiri. Kedua orang tua Arumi kini tengah berada di luar kota melakukan perjalanan bisnis.


"Bi," lirih Arumi.


Dia baru saja sadar dari pingsannya, dia membuka matanya perlahan.


"A-aku di di mana?" lirih Arumi lemah.


"Non Arum, Nona sudah sadar. Alhamdulillah," lirih Bi Masih senang.


Bi Nah menekan tombol panggil perawat yang ada di dinding dekat tempat tidur Arumi.


"Aku di mana?" tanya Arumi lirih.


"Nona sedang di rumah sakit, Non." Bi Nah menjawab pertanyaan dari putri majikannya.


"Kenapa aku bisa berada di sini, Bi?" tanya Arumi bingung.


Arumi pun mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya tadi malam.


"Ya ampun, Bi. Tadi malam itu aku tidak henti-hentinya ke kamar mandi, perut Arum mules gitu, Bi," tutur Arumi menceritakan apa yang dialaminya sejak tadi malam.


"Ya ampun, kenapa Non Arum tidak panggil bibi saja," ujar Bi Nah merasa bersalah.


"Enggak sempat, Bi. Saat baru saja aku keluar dari kamar mandi, rasa mules itu datang terus" jawab Arumi memberi alasan.


"Tadi dokter bilang, Non Arumi dehidrasi dan kurang istirahat, makanya dirawat dulu satu hari atau dua hari ini," jelas Bi Nah.


"Mhm," gumam Arumi.


"Arum." Mami Moura masuk ke dalam ruang rawat putrinya diikuti oleh sang suami.


Saat dia mendapat kabar keadaan putrinya, dia langsung meminta sang suami untuk berangkat ke Jakarta.


Arumi tersenyum melihat kedatangan Maminya yang sudah 3 hari berada di luar kota.


"Mami, Arum kangen," lirih Arumi merentangkan tangannya.

__ADS_1


Moura langsung memeluk putri semata wayangnya.


"Kenapa bisa begini, Bi?" tanya Moura pada Bi Nah setelah dia melepaskan pelukannya pada sang putri.


"Enggak tahu, Nya. Bi Nah mau liat Non Arum ke atas karena enggak turun- turun saat sarapan pagi, eh taunya Non Arum udah pingsan gitu," jawab Bi Nah menjelaskan kronologi kejadian pada sang majikan.


Baru saja Moura dan Arnold berada di dalam ruang rawat putrinya, Dokter yang menangani Arumi masuk ke dalam ruang rawat Arumi.


"Selamat siang, Pak, Bu. Permisi saya boleh periksa pasien sebentar?" ujar Sang Dokter meminta izin keluarga untuk memeriksa Arumi.


"Oh, iya. Silakan, Dok," ujar Arnold.


Sang Dokter mulai melakukan pekerjaannya memeriksa sang pasien.


"Kemarin apakah ada makanan yang aneh kamu makan?" tanya sang dokter pada Arumi untuk memastikan analisanya.


"Mhm," gumam Arumi.


Dia terlihat berpikir, makanan apa yang sudah dimakannya sehingga dia mengalami sakit perut yang menyebabkan dia harus dirawat di rumah sakit.


"Ya ampun, jangan-jangan aku sakit perut seperti ini gara-gara makan makanan yang kemarin," gumam Arumi di dalam hati.


Arumi tampak berpikir keras, dia tengah bimbang menjawab pertanyaan dari sang dokter, karena Arumi sangat mengenal kedua orang tuanya yang tidak akan terima dengan apa yang kini dialami oleh putrinya.


Arumi tidak mungkin jujur dengan apa yang sudah dilakukan oleh Tian pada dirinya, lagian itu hanya praduga Arumi saja.


"Mhm, saya lupa, Dok. Saya tidak ingat sudah makan apa hingga saya mengalami hal ini," jawab Arumi berbohong.


"Mhm, menurut analisa saya, Nona Arumi sudah memakan makanan yang tidak biasa Nona konsumsi karena hal itu menyebabkan usus Non Arumi tidak menerima makanan tersebut," jelas dokter.


"Kamu makan makanan pedas, Rum?" tebak Moura.


Moura tahu betul dengan kelemahan putrinya, sejak kecil dia mang tidak terbiasa mengkonsumsi makanan yang pedas berlebihan.


"Hah?" Arumi bingung.


"Kamu kan tidak bisa makan pedas, Sayang, apakah kamu makan yang pedas-pedas?" tanya Naomi cemas.


"Mhm, iya, Mi. Kemarin aku selera makan mi pedas," jawab Arumi bohong.


Hal ini menyebabkan Arumi yakin bahwa Sang guru songong itu yang sudah mengerjainya.


"Lihat saja kamu, pria jahat yang tidak punya hati nurani, gue bakal balas dendam atas apa yang sudah lu perbuat," gumam Arumi di dalam hati sambil membayangkan wajah tampan sang guru yang sangat dibencinya.


Sorot mata kebencian terpancar jelas di mata Arumi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2