Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 65


__ADS_3

Pukul 07.15. Arumi sudah berada di ruang makan.


Dia sedang menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh Bi Nah.


"Sayang, apakah hari ini kamu akan ke rumah sakit?" tanya Nyonya Moura pada putrinya.


"Iya, Mi, hari ini Arum akan terapi, emangnya kenapa, Mi?" jawab Arumi.


"Tidak, Sayang. Hari ini papi ada undangan makan siang, mami mau menemani papi dalam acara itu," ujar Nyonya Moura merasa tidak enak hati pada putrinya.


"Mhm, enggak apa-apa, Mi. Mami ikut aja sama papi, aku terapi ditemani Laras dan Betrand, kok," ujar Arumi mengerti.


"Kamu yakin?" tanya Nyonya Moura pada putrinya.


"Iya, aku yakin," jawab Arumi.


Arumi merasa bersalah, sejak dirinya mengalami kecelakaan Maminya jarang keluar rumah dan selalu menjaganya.


Nyonya Moura benar-benar fokus memperhatikan kesehatan Arumi. Dia ingin putrinya kembali sehat seperti biasanya.


"Ya udah, kalau begitu nanti mami antar sampai rumah sakit, ya," ujar Nyonya Moura.


"Tidak usah, Mi. Betrand sudah berjanji akan mengantar Arum ke rumah sakit, jadi Arumi berangkat ke rumah sakit dengan mobil Betrand," ujar Arumi.


Arumi tidak ingin merepotkan maminya yang kini terlihat lelah mengurusi dirinya.


Sejak Arumi sakit, Nyonya Moura meminimalisir kegiatannya di luar rumah.


Kini saat Arumi pergi sekolah,. Nyonya Moura menyibukkan diri dengan mengelola taman bunganya atau menonton film drama Korea atau drama China.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


Ponsel Arumi bergetar pertanda panggilan masuk.


Arumi melihat nama Laras tertera di ponselnya, dia pun menaikkan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Halo," ujar Arumi saat panggilan sudah tersambung.


"Halo, Rum. Hari ini lu jadi Terapy?" tanya Laras pada sahabatnya.


"Iya," jawab Arumi.


Arumi mengernyitkan dahinya, dia heran mendengar pertanyaan dari sahabatnya.


"Mhm," gumam Laras bingung memikirkan cara untuk menyampaikan sesuatu.


"Ada apa, Ras?" tanya Arumi heran.


"Mhm, kayaknya hari ini gue enggak bisa temani lu pergi terapy deh, soalnya di rumah lagi kedatangan keluarga besar bunda." Laras menyampaikan hal yang membuat dia tidak bisa ikut mengantarkan Arumi ke rumah sakit.

__ADS_1


"Oh, ya udah. Enggak apa-apa, kok. Nanti gue biar berangkat sama Betrand saja," ujar Arumi.


"Lu, yakin?" tanya Laras merasa tidak enak hati.


"Iya, Ras. Gue enggak apa-apa, kok," ujar Arumi.


Arumi selalu seperti itu, dia selalu tidak ingin merepotkan orang lain meskipun itu sahabatnya maupun kedua orang tuanya.


"Kenapa, Rum?" tanya Nyonya Moura penasaran.


"Laras enggak bisa antar aku ke rumah sakit, Mi. Dia ada acara keluarga,"jawab Arumi.


"Ya udah, kalau gitu mami batalkan saja ikut sama papimu. Mami aja yang temani kamu terapy," ujar Nyonya Moura menawarkan diri.


"Enggak usah, Mi. Aku bisa pergi dengan Betrand. Lagian, mami juga udah lama tidak keluar rumah," ujar Arumi.


Arumi tidak mau maminya membatalkan acaranya dengan papinya.


Nyonya Moura tersenyum, dia merasa terharu memiliki putri yang benar-benar memiliki rasa pengertian.


"Sejak kecil kami selalu seperti ini, Nak. Kami tidak pernah memaksakan kehendaknya, mami yang tidak bisa menjadi ibu terbaik untukmu," gumam Nyonya Moura di dalam hati.


Pada pukul 09.00 mobil Betrand masuk ke dalam pekarangan mansion keluarga Arnold.


Bi Nah yang sedang menjemur pakaian langsung membukakan pintu rumah untuk Betrand.


"Pagi, Bi," sapa Betrand dengan ramah.


Betrand masuk ke dalam mansion lalu dia duduk di ruang tamu.


"Aden, mau minum apa? Biar bibi ambilkan," tanya Bi Nah pada Betrand.


"Enggak usah repot-repot, Bi. Aku mau minta segelas jus alpukat saja," ujar Betrand sambil tersenyum.


Betrand sudah mulai dekat dengan keluarga Arumi karena dia sudah sering datang berkunjung ke rumah Arumi. Semua yang ada di rumah itu sudah mengenali Betrand.


Bagi mereka Betrand merupakan pria yang unik dan lucu, Betrand selalu ramah bergaul dengan keluarga Arumi sehingga semua orang menyukai Betrand


"Siap, Den. Aden, tunggu sebentar, ya. Biar bibi siapkan dulu jus alpukatnya," ujar Bi Nah.


Setelah itu bi Nah pun melangkah menuju dapur untuk membuatkan segelas jus alpukat untuk Betrand.


Tak berapa lama, Bi Nah datang membawakan jus yang diminta oleh Betrand, Bi Nah juga tak lupa membawakan sepiring bolu kukus sebagai cemilan teman pria majikannya sambil menunggu Arumi.


"Wah, terima kasih ya, Bi," ujar Betrand.


Sembari Betrand menikmati jus dan bolu kukus buatan Bi Nah, Arumi datang menghampiri mereka.


Arumi menggunakan kursi roda miliknya.

__ADS_1


"Sudah, siap?" tanya Betrand pada Arumi.


Arumi mengangguk sambil tersenyum.


"Ya udah, yuk berangkat," ajak Betrand.


"Habisin dulu jusnya, mubazir, lho." Arumi menunjuk ke gelas Betrand yang masih berisi setengah gelas.


"Eh, iya ya," lirih Betrand mengambil gelas berisi jus itu, lalu menenggak semua jus sampai habis.


Setelah itu mereka pun berangkat ke rumah sakit, Betrand mengangkat tubuh Arumi di saat mereka sudah berada di dekat mobil.


Betrand mendudukkan Arumi di dalam mobilnya bagian depan, setelah itu dia menyimpan kursi roda Arumi di bagi mobil.


Betrand seakan sudah terbiasa dengan apa yang dilakukannya saat ini.


Setelah itu, Betrand pun masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Dengan jelas Betrand memperlihatkan bentuk perhatiannya pada Arumi.


Sesampai di rumah sakit, Betrand menggendong Arumi keluar dari mobil, setelah itu Betrand mendorong kursi roda Arumi menuju tempat terapi.


Dokter yang biasa menangani Arumi sudah menunggu Arumi di ruangannya karena Arumi sudah membuat janji dengan dokter tersebut.


Kali ini Betrand bisa leluasa mendekati Arumi karena tidak ada Laras.


Betrand menggenggam tangan Arumi dengan erat, perlahan dia terus membantu Arumi untuk melangkah secara perlahan.


Terlihat Arumi mulai bisa menginjakkan kakinya selangkah demi selangkah.


Itu dilakukannya dengan menguras tenaganya.


"Huhft." Arumi menghela napas panjang.


Di saat dia hendak melangkah lagi, Arumi merasakan sakit di kakinya. Sehingga dia terjatuh, untung Betrand menyambut tubuh Arumi sehingga dia tidak jatuh ke lantai.


Di saat itu, pandangan mereka saling beradu. Betrand menatap dalam gadis yang dicintainya itu.


Arumi juga menatap bola mata Betrand, gadis itu dapat merasakan cinta yang diberikan Betrand terhadap dirinya.


Aroma mint dari napas Betrand membuat Arumi mengingat sosok Tian.


"Eh," lirih Arumi tersadar dari lamunannya.


Betrand juga tersadar saat Arumi tersentak, dia langsung menggendong Arumi lalu membawa Arumi menuju sofa yang tersedia di ruangan itu.


"Minumlah, lu pasti haus," ujar Betrand sambil mengulurkan sebotol air mineral pada Arumi.


"Thanks ya, Bet." Arumi mengambil botol minum yang diberikan oleh Betrand.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2