Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 71


__ADS_3

Malam semakin larut, Tian merasa sedih melihat mamanya yang kini membaringkan tubuh di bangku panjang yang tersedia di depan ruang operasi.


Mamanya hampir tertidur dengan posisi meringkuk karena menahan hawa dingin yang menusuk tulangnya.


Tian merasa kasihan pada wanita yang kini sudah mulai renta dengan usia yang semakin lanjut.


Lalu Tian membuka kemeja yang dikenakannya lalu dia menyelimuti tubuh tua wanita yang sudah melahirkannya dengan kemeja itu agar mamanya tidak kedinginan.


Nick juga melakukan hal yang sama untuk Nyonya Sarah, bagi Nick Sarah sudah sama seperti ibunya sendiri karena Nyonya Sarah sudah membesarkannya dan memberikan kasih sayang yang sama dengan Tian.


Angin malam terasa semakin dingin, dua pria itu menahan rasa dingin yang menusuk tulang di lorong rumah sakit sambil menunggu tuan Farhan yang masih di dalam ruang operasi.


Pada pukul 00.15 dokter keluar dari ruang operasi.


Tian langsung berdiri dan melangkah menghampiri dokter yang sudah menangani tuan Farhan.


"Bagaimana, Dok?" tanya Tian.


Perasaan Tian saat ini sangat cemas, dia belum siap untuk kehilangan pria yang selalu memberinya semangat untuk bangkit dalam keterpurukannya saat ini.


Meskipun kebangkrutan yang dialami perusahaan Piramids Group bukan di saat masa jabatannya, tapi Tian merasa bersalah tidak bisa melakukan apa-apa di saat hal itu terjadi.


Mereka terpaksa menyingkir dan memulai hidup baru di tempat yang baru.


"Alhamdulillah, Tuan Farhan dapat diselamatkan. Untuk saat ini kita sudah mengatasi kebocoran yang terjadi pada jantungnya, tapi kita juga harus tetap waspada apa pun yang akan terjadi," jelas Dokter untuk tetap menjaga kesehatan tuan Farhan.


"Baiklah, Dokter. Terima kasih," ucap Tian.


"Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat sebentar lagi, kalian bisa beristirahat di ruangan tersebut." Dokter pun melangkah meninggalkan Tian dan keluarganya.


Nyonya Sarah mulai tenang saat mendengar penjelasan dari dokter.


Dia langsung memeluk putranya, dia bersyukur masih bisa hidup bersama suami yang dicintainya.


Setelah itu mereka berpindah ke ruang rawat, di ruangan itu terdapat satu sofa panjang dan dua kursi.


Tuan Farhan masih belum sadar karena obat bius. Mereka pun mulai memejamkan mata dengan posisi masing-masing.


Nyonya Sarah berbaring di sofa, sedangkan Tian dan Nick memposisikan diri senyaman mungkin agar mereka dapat beristirahat.


Keesokan harinya, seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Tuan Farhan saat ini.


Tian dan Nick masih terlelap di atas kursi dengan merebahkan kepala mereka di atas brangkar tempat tuan Farhan berbaring.


"Permisi, Tuan," lirih si perawat yang juga berasal dari Indonesia.

__ADS_1


Kebetulan rumah sakit itu milik salah satu warga Indonesia yang sudah menetap di negara tersebut.


Tian mengerjapkan matanya mencoba membuka perlahan, rasa kantuk masih menyerang Tian, tapi suara si perawat membuat Tian bangun dan berdiri.


"Saya akan memeriksa pasien dan membersihkan tubuh pasien," ujar si perawat tersebut.


"Oh, iya, silakan, Sus," ujar Tian.


Si perawat pun melakukan tugasnya, setelah itu dia pun keluar dari ruang rawat itu.


Tian beralih ke atas sofa duduk di samping mamanya yang kini masih terlelap.


Tian melihat Nick juga masih terlelap di posisinya.


Perasaan Tian kembali larut dalam kesedihan dan penyesalan.


Tuan Farhan mulai membuka matanya, dia mencoba mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, dia dapat melihat semua yang ada di ruangan itu berwarna putih.


"Di-dimana aku?" lirih Tuan Farhan


Tuan Farhan juga dapat melihat istrinya yang sedang tidur di atas sofa, dia juga melihat Tian yang kini sedang sibuk dengan ponselnya di samping sang istri.


"Papa," lirih Nick saat dia merasakan tangan lemah milik pria yang sudah membesarkan dirinya membelai lembut kepalanya.


Tian menghampiri tuan Farhan yang kini sudah sadarkan diri.


"Papa sudah bangun?" tanya Tian pada sang papa.


Tuan Farhan tersenyum mendengarnya pertanyaan putranya.


"Syukurlah, papa sudah sadarkan diri," ujar Tian senang.


Nyonya Sarah juga terbangun mendengar bahwa suaminya sudah sadar.


Dua hari berlalu, tuan Farhan terlihat semakin sehat. Kesehatannya semakin membaik, sehingga Tian dan Nick bisa meninggalkan Tian Farhan untuk bekerja karena ada pesanan mereka yang harus diselesaikan hari ini juga.


Nick dan Tian pun berpacu dalam mengerjakan job mereka, saat hasil pekerjaannya tinggal sedikit lagi. Terdengar ponsel Tian berdering.


Tian mengambil ponselnya yang terletak di atas meja, lal menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan yang ada di ponselnya.


"Halo," lirih Tian saat panggilan sudah tersambung.


"Maaf, Tuan. Anda harus ke rumah sakit sekarang!" terdengar suara dari seberang sana dengan nada panik.


Jantung Tian langsung berdegup kencang, pikiran buruk kini melintas di benaknya.

__ADS_1


Tian langsung memutuskan panggilan tersebut.


"Bro, kita harus ke rumah sakit sekarang juga," ujar Tian pada Nick.


"Ada apa?" tanya Nick penasaran.


"Tidak tahu," sahut Tian.


Akhirnya Nick dan Tian pun bersiap untuk menutup bengkel las milik mereka.


Nick langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Saat ini jantung Nick dan Tian sama-sama berdegup kencang. Pikiran mereka sudah melayang ke mana-mana, mereka memikirkan keadaan Tuan Farhan yang saat ini masih berada di rumah sakit.


20 menit perjalan yang mereka tempuh terasa begitu lama karena hati dan pikiran mereka yangs Edang kacau.


Mereka sampai di rumah sakit, Tian dan Nick langsung melangkah cepat menuju ruang rawat tuan Farhan untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.


Di depan ruang rawat itu terlihat Nyonya Sarah yang sedang berdiri cemas memastikan keadaan Tuan Farhan.


"Ma, apa yang terjadi?" tanya Tian mengkhawatirkan keadaan papanya.


"Mama tidak tahu," isak Nyonya Sarah menggelengkan kepalanya.


Dia mulai menangis di dalam pelukan tubuh kekar milik putranya yang kini menjadi tempat yang paling nyaman bagi dirinya untuk menumpahkan segala keluh kesahnya.


Tian pun memeluk erat tubuh renta wanita yang selalu menyayangi dirinya.


"Mama harus kuat, ya. Semoga papa baik-baik saja," lirih Tian berusaha menenangkan mamanya yang kini risau dan cemas.


Tangis Nyonya Sarah semakin keras saat mendengar ucapan putranya. Nyonya Sarah mengingat kembali keadaan suaminya yang tadi tiba-tiba kejang-kejang.


Nyonya Sarah melihat dengan jelas tatapan sang suami yang tidak normal melihat ke atas.


Dia membayangkan saat itu suami tengah berhadapan dengan malaikat maut.


Dia terus menangis, hingga pintu ruang rawat itu terbuka.


Dokter keluar dari ruangan itu, dengan dua perawat berdiri di sampingnya.


Tian dan Nyonya Sarah pun menoleh pada sang dokter dan menunggu kabar dari sang dokter.


"Bagaimana keadaan papa saya, Dok?" tanya Tian pada Dokter yang sudah menangani papanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2