Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 88


__ADS_3

Usai shalat subuh, Arumi langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.


Ini hari pertamanya berangkat ke kantor dengan penampilan yang sempurna.


Arumi melihat penampilannya di pantulan cermin meja riasnya.


"Perfecto, Alhamdulillah," seru Arumi bersemangat.


Setelah selesai berkemas, dan memastikan penampilannya sempurna, Arumi keluar dari kamarnya lalu melangkah menuju ruang makan.


"Pagi, Mi. Pagi, Pi." Arumi menyapa kedua orang tuanya dengan hati yang riang.


Arumi menciumi pipi Mami dan Papinya secara bergantian, setelah itu dia mengambil posisi duduk di kursi meja makan.


"Pagi, Sayang. Kelihatannya kamu ceria sekali hari ini," ujar Nyonya Moura ikut senang melihat keceriaan sang putri.


"Alhamdulillah, Mi. Ini hari pertama Arumi masuk kantor dengan penampilan yang berbeda. Arumi senang sekali dan bersemangat sekali untuk menjalani aktifitas hari ini," ujar Arumi panjang lebar.


Raut wajahnya yang bahagia membuat hati Nyonya Moura dan Tuan Arnold ikut bahagia.


"Bi Nah, sini makan," ajak Arumi saat melihat Bi Nah sedang merapikan peralatan dapur bekas masak.


"Eh, Nona. Nanti aja," ujar Bi Nah menolak dengan halus tawaran Arumi.


"Bi, ayo dong, aku mau makan bareng bi Nah kali ini," ujar Arumi.


"Aku bersyukur dengan apa yang sudah ditakdirkan Tuhan sama aku, makanya aku mau Bi Nah ikut makan bareng aku," ajak Arumi memaksa Bi Nah untuk ikut makan dengannya.


"Ya udah, Bi. Ayo ikut sarapan bareng, nanti aja beres-beresnya," ujar Nyonya Moura ikut meminta Bi Nah untuk bergabung sarapan dengan mereka.


Mau tak mau Bi Nah pun mengikuti apa dikatakan oleh majikannya.


Mereka pun menyantap sarapan pagi bersama, tak ada jarak antara majikan dan pelayan. Begitulah yang diinginkan Arumi, dia sudah menganggap Bi Nah sebagai keluarga, karena selama ini Bi Nah adalah orang yang selalu menemani Arumi di setiap waktu.


"Oh, iya, Nya, Tuan. bagaimana kita mengadakan acara syukuran dalam rangka mengungkapkan rasa syukur kita atas nikmat yang sudah diberikan tuhan kepada Nona Arumi," usul Bi Nah sebelum dia ikut menikmati sarapan bersama keluarga majikannya.


"Eh, iya. Usul Bi Nah bagus juga itu, dalam acara syukuran ini kita akan undang beberapa panti asuhan dan anak yatim agar nikmat yang diberikan tuhan berkah buat kita," fajar Arumi setuju dengan usulan yang diberikan oleh BI Nah.


Tuan Arnold dan nyonya Moura saling berpandangan, lalu mereka mengangguk setuju dengan usulan yang baru saja diberikan oleh Bi Nah.


"Lalu kapan kita adakan acara ini?" tanya Tian Arnold.

__ADS_1


"Tergantung papi, kalau seandainya minggu ini Papi tidak terlalu sibuk kita adakan saja dalam minggu ini," ujar Nyonya Moura setuju dengan usulan dari Bi Nah.


Tuan Arnold terlihat tengah berpikir, dia mencoba mengingat-ingat jadwal perjalanan bisnisnya di minggu ini.


"Ya udah, kalau begitu bagaimana kita adakan pada hari Jumat besok?" ujar Tuan Arnold setuju dengan usulan dari Bi Nah.


"Ya udah, Mami juga setuju." Nyonya Moura juga setuju.


Setelah mereka selesai menikmati sarapan pagi, terdengar suara mobil masuk ke dalam kawasan mansion keluarga tuan Arnold.


"Sepertinya itu Laras sudah datang, kalau begitu aku berangkat dulu ya, Mi, Pi, Bi," ujar Arumi.


Gadis itu melangkah keluar dari ruang makan menuju teras mansion. benar saja sesuai prediksinya sang sahabat sudah berada di depan mansion miliknya.


Arumi melangkah menghampiri Laras di sisi mobil bagian sopir.


"Ras, lu turun dong, kali ini gue mau coba nyetir mobil sendiri," ujar Arumi.


Dia sudah tidak sabar untuk mengendarai mobil, karena setelah beberapa tahun ini dia tidak pernah lagi mengendarai mobil sendiri.


"Ah, enggak bisa, lu baru aja sembuh. Gue enggak izinin lu nyetir sendiri," tolak Laras.


"Ras, lu tenang aja gue akan hati-hati, kok." Arumi terus memaksa Laras untuk mengizinkannya mengendarai mobil kali ini.


"Tidak, Rum. keselamatan lu itu nomor satu bagi gue, jadi gue tidak bisa kasih izin buat lo nyetir sendiri ya. Selagi masih ada gue lu tidak akan pernah nyetir sendiri," ujar Laras menolak permintaan sang sahabat.


"Please, gue cuma mau melenturkan tubuh gue yang udah lama kaku," ujar Arumi terus memaksa Laras untuk mengizinkannya mengendarai mobil.


"Ya ampun, Rum.--"


"Udah ayo lu turun, gue yang nyetir mobil." Arumi tidak patah semangat memaksa sang sahabat.


Akhirnya Laras pun terpaksa memberi izin kepada sahabatnya.


"Tapi lu harus janji sama gue, Lu bawa mobilnya hati-hati kalau memang lu nggak sanggup bilang sama gue, biar gue gantiin lagi," ujar Laras pasrah.


Rara tidak bisa menolak rengekan sang sahabat, Dia turun dari mobil lalu berpindah ke bangku penumpang bagian depan.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga kaki gue nggak kaku, udah lama gue nggak nyetir lagi. Lu tahu kan bagaimana perasaan gue saat ini, gue seneng banget tau, Ras," ujar Arumi Riang.


"Iya, iya, tapi lu harus hati-hati. Gue masih mau hidup, " ujar Laras khawatir.

__ADS_1


"Hehehe." Arumi terkekeh.


"Lu ingat nggak, sih? Sebelum gue kecelakaan gue yang selalu nyetirin lu," ujar Arumi.


"Iya gue tahu tapi kan itu sebelum lu kecelakaan, gue takut terjadi apa-apa saat lo mengendarai mobil," ujar Laras masih saja cemas.


"Ya udah bismillah ya, lu duduk diem di sana biar gue bisa fokus ngelajuin mobilnya," ujar Arumi menenangkan Laras yang terlihat sangat cemas.


Arumi tersenyum lalu dia pun mulai melajukan mobil meninggalkan mansion kediaman keluarga Tuan Arnold.


"Bismillah, ya Alah lindungi hamba," lirih Laras mulai berzikir.


Awalnya Arumi mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, semakin lama Arumi semakin mempercepat laju mobilnya.


"Arum, pelan-pelan," ujar Laras mengingatkan sahabatnya untuk berhati-hati.


"Ras, rem. Remnya," ujar Arumi panik.


Dia mulai sulit mengendalikan mobilnya, hingga dia pun menabrak sebuah mobil yang ada di depannya.


PRANK BUAARR


Terdengar suara hantaman yang lumayan keras, mobil Arumi berhenti mendadak.


Arumi tidak sengaja menabrak mobil yang melintas di hadapannya.


Arumi dan Laras pun langsung keluar dari mobil, beruntung jalanan tempat kecelakaan itu sedang sepi.


"Mampus gue, Ras. Setelah sekian lama enggak bawa mobil, eh ye malah nyerempet mobil orang," lirih Arumi panik.


"Lagian dari tadi udah gue bilang, gue aja yang bawa mobilnya, lu pake acara maksa, sih," gerutu Laras ikut panik.


"Gue cuma kangen aja bawa mobil, enggak lebih dari itu," ujar Arumi mencari alasan.


"Nah, itu sekarang lu kena dampaknya sendiri, coba tadi dengerin apa yang gue bilang," keluh Arumi.


Saat mereka asyik berdebat seseorang keluar dari mobil yang baru saja ditabrak oleh Arumi.


Arumi terdiam melihat siapa yang keluar dari mobil itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2