
Laras merasa dapat keberuntungan yang tak terduga, mendapatkan tawaran dari pria tampan seperti ini merupakan mimpi setiap wanita.
"Eh, enggak usah. Aku bisa sendiri kok, nanti aku pesan ojek online lagi aja,," ujar Laras berpura-pura menolak meskipun di hatinya mengiyakan.
Dia berusaha berbasa-basi dengan pria tampan yang sejak awal memang sudah menarik perhatiannya.
"Ayolah," ajak Nick sedikit memaksa.
"Tidak usah, nanti aku malah merepotkanmu," ujar Laras basa-basi.
"Sama sekali tidak merepotkan, aku senang bisa jalan sama kamu," ujar Nick sambil tersenyum menawan pada Laras.
"Ya ampun, cowok ini tampan banget. Apa benar dia senang jalan sama gue? Apa gue enggak salah dengar?" gumam Laras di dalam hati terus memuji sosok Nick.
"Ya udah, yuk." Nick meraih tangan Laras.
Dia hendak menarik tangan Laras, dan membawanya ke mobilnya yang terparkir di depan super market.
"Eh, tapi a-aku mau be,--" Laras mengurungkan niatnya untuk membeli minuman.
Nick menghentikan langkahnya. Dia menautkan kedua alisnya.
"Kamu mau apa?" tanya Nick heran.
"Eh, tidak jadi," jawab Laras.
"Ya udah, yuk. Aku antar," ajak Nick pada Laras lagi.
Dengan senang hati Laras mengikuti langkah pria yang dikenalnya sebagai teman media sosial sahabatnya.
Arumi yang sudah memberikan akun sosialnya pada Laras berarti sudah mendapatkan lampu hijau untuknya, jika dia ingin mendekati Arnold.
Sementara itu, Nick sudah memiliki kesepakatan dengan Tian. Jika di kemudian hari terjadi hal yang tidak diinginkan maka bukanlah salah Nick yang sudah mulai menyukai gadis yang dikenalnya sebagai Wilona itu.
Tian berhak melakukan pedekate dengan Wilona, jika dia menginginkan hal itu.
Nick membukakan pintu mobilnya untuk Laras.
"Silakan masuk," ucap Nick memperlakukan Laras bagaikan seorang putri.
Laras merasa tersanjung dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Nick, dia terbang membawa angan-angan panjang bersama pria yang baru saja dikenalnya.
Laras masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman di sana, sedangkan Nick melangkah mengitari mobil menuju pintu kemudi.
Laras sudah memasang sabuk pengaman.
Nick tersenyum lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran super market.
"Mhm, siapa yang sakit?" tanya Nick membuka topik pembicaraan agar tidak ada kecanggungan di antara mereka.
"Mhm, sahabatku," jawab Laras jujur.
__ADS_1
"Sakit apa?" tanya Nick lagi.
"Mhm, dia masuk rumah sakit gara-gara alergi pedas. Kemarin tidak sengaja dia memakan makanan pedas," jawab Laras.
"Oh begitu," lirih Nick.
Dia masih fokus mengendarai mobilnya, membelah jalanan raya yang tidak terlalu padat.
"Maaf, aku sudah merepotkanmu," lirih Laras merasa tidak enak.
"It's okay, santai aja lagi, kebetulan aku juga mau ke kantor yang satu arah sama rumah sakit," ujar Nick.
Mereka pun kembali asyik mengobrol membahas berbagai hal. Keakraban dengan mudah timbul di antara mereka sehingga mereka terlihat sangat dekat.
Rasa canggung yang awalnya terbesit di hati Laras karena Arnold tak kunjung menghubungi sosial media Wilona lagi.
"Mungkin s lama ini dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia tidak sempat chatting lagi dengan Wilona," gumam Laras di dalam hati meyakini bahwa pria yang berada di sampingnya tak lagi enggan berkomunikasi dengan wanita di dunia mayanya.
"Sudah sampai," ujar Nick saat dia menghentikan mobilnya tepat di lobi rumah sakit.
"Eh, iya. Terima kasih, ya. Ayo masuk dulu," ajak Laras pada Nick.
"Maaf, aku tidak bisa ikut menemanimu masuk ke dalam, mungkin lain kali kita bisa ketemuan lagi," ujar Nick.
"Oh, ya udah kalau begitu. Aku turun, ya, terima kasih," ujar Laras.
"Mhm, iya," lirih Nick.
"Eh, Wilona," panggil Nick.
Laras mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Dia membalikkan tubuhnya menghadap Nick.
"Ada apa?" tanya Laras.
"Mhm, aku boleh minta nomor ponselmu?" tanya Nick ragu.
Laras mengernyitkan dahinya.
"Oh, nanti aku kirim lewat chat, ya," ujar Laras.
"Jangan, sekarang aja." Nick mendesak Laras.
Nick tidak mungkin bisa berkirim pesan dengan Wilona karena hal itu hanya bisa dilakukan oleh Tian.
Ada sesuatu yang mengganjal di hati Laras tapi dia mengabaikannya.
Laras pun membuka barcode di ponselnya, sehingga Nick kini sudah memiliki nomor ponsel gadis yang mulai menarik perhatiannya.
"Terima kasih," ucap Nick senang.
"Ya udah, aku turun dulu, ya," ujar Laras.
__ADS_1
Gadis itu pun turun dari mobil Nick, setelah itu dia berdiri di lobi sambil melambaikan tangan melepas kepergian Nick.
Rasa hatinya enggan untuk berpisah dengan pria tampan itu, tapi sekadar bertemu dan mengobrol saja sudah membuat dia merasa senang.
Laras berbalik badan setelah dia tak lagi melihat mobil yang dikendarai oleh Nick di kawasan rumah sakit.
Laras melangkah masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang rawat Arumi. Sahabatnya itu sudah mengirimkan kamar rawatnya melalui pesan di aplikasi hijau.
"Assalamu'alaikum," ucap Laras saat dia membuka pintu ruang rawat sang sahabat.
"Wa'alaikummussalam," jawab Nyonya Moura.
"Mami, papi, di sini?" tanya Laras kaget melihat kedua orang tua sahabatnya berada di ruang rawat itu.
"Iya, Sayang," jawab Nyonya Moura.
"Mami dan papi apa kabar?" tanya Laras sambil menyalami kedua orang tua sahabatnya.
"Alhamdulillah, Mami sama Papi sehat, Nak." Moura membelai lembut kepala gadis yang sudah dianggapnya sebagai putrinya.
Setelah menyalami kedua orang tua sahabatnya, Laras menoleh ke arah sahabatnya.
"Kok bisa sih, Rum?" tanya Laras tidak percaya saat melihat sahabatnya berbaring di atas tempat tidur rumah sakit.
"Mungkin gara-gara kita makan mie pedas kemarin," ujar Arumi.
Laras mengernyitkan dahinya bingung.
"Mie,--"
Arumi memberi kode pada sahabatnya untuk tidak mengungkap kejadian sebenarnya.
"Oh, iya," ujar Laras.
"Ras, lain kali kalau mau makan pedas kamu harus ingatkan Arumi kalau dia tidak boleh makan pedas," ujar Nyonya Moura memohon.
"Iya, Mi. maafkan waras yang sudah lupa mengingatkan Arumi," lirih Laras menunduk.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mami minta kamu jagain pola makan Arum kalau kalian sedang makan di luar," ujar Nyonya Moura.
"Iya, Mi. Insya Allah setelah ini, aku akan jagain makanan yang dikonsumsi oleh sahabatku yang satu ini," ujar Laras.
"Makasih ya, Sayang. Mami percaya kamu akan menjaga Arumi seperti saudara kamu sendiri," ujar Nyonya Moura penuh harap.
"Siap, Mi," sahut Laras sambil memasang gaya hormat bendera.
Nyonya Moura dan Tuan Arnold tersenyum melihat gaya Laras.
"Ras, Lu enggak belajar tambahan?" tanya Arumi ingat bahwa hari ini ada jadwal belajar dengan Pak Ridho.
"Gue minta izin, kan enggak seru belajarnya tanpa kamu, malas tahu belajar cuma berduaan sama guru tampan itu," jawab Laras.
__ADS_1
Bersambung...