Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 61


__ADS_3

Arumi mengernyitkan dahinya saat melihat sahabatnya hanya diam tak bergeming.


Tiba-tiba, Laras mengusap air mata yang sempat membasahi pipinya.


Dia yang tadi ceria dan bersemangat mengajari sahabatnya, kini keceriaan itu sirna seketika.


"Ada apa, Ras?" tanya Arumi heran melihat sikap Laras.


"Mhm, tidak ada apa-apa," lirih Laras.


"Ras, katakan apa sebenarnya yang enggak gue ketahui," pinta Arumi memaksa sahabatnya mengungkapkan apa yang sudah terjadi.


Laras masih diam, wajahnya ikut sedih. Semua masalah yang selama ini sengaja ditutupinya dari sahabatnya kini mulai dipertanyakan oleh sahabatnya itu.


"Apa yang tidak gue ketahui, Ras. Ayo katakan sama gue." Arumi memaksa Laras untuk menceritakan apa yang sebenarnya tengah terjadi.


Arumi dapat menebak bahwa saat ini sahabatnya tengah menyembunyikan sesuatu.


"Eng-enggak ada apa-apa, Rum. Kita main ke taman, yuk," ajak Laras pada Arumi.


Laras pun bersiap hendak mendorong kursi roda sahabatnya itu.


Arumi menekan tombol rem di kursi rodanya sehingga Laras tidak bisa menjalankan kursi roda tersebut.


"Ras, gue mohon apa yang lu sembunyikan dari gue?" tanya Arumi lagi.


Kali ini Arumi menatap Laras dengan penuh permohonan.


"Tidak apa-apa, Ras." Laras masih saja bertahan untuk tidak menceritakan masalah itu pada Arumi.


"Gue tahu, saat ini lu menyembunyikan sesuatu dari gue," tuduh Arumi.


Akhirnya Laras pun tidak lagi dapat mengelak untuk menceritakan masalah yang tengah terjadi.


Tiba-tiba Nyonya Moura keluar dari kamar, dia melangkah menghampiri dua sahabat itu.


"Kalian sudah selesai belajarnya?" tanya Nyonya Moura pada Laras dan Arumi yang baru saja akan berbicara serius.


"Iya, Mi. Kami baru saja selesai belajar. Laras mau bawa Arum main ke taman," jawab Laras.


"Mhm, terima kasih ya, Laras. Kamu satu-satunya teman Arumi yang selalu ada menemani Arumi dalam situasi apa pun," ujar Nyonya Moura bersyukur putrinya memiliki sahabat yang selalu menemani putrinya dalam keadaan apapun.


"Sama-sama, Mi. aku sudah menganggap Arumi sebagai saudaraku sendiri, apapun yang terjadi dengan Arumi aku akan selalu ada untuknya," ujar Laras sambil tersenyum pada Nyonya Moura.

__ADS_1


"Ya udah, kamu makan malamnya di sini saja ya, Ras. Nanti biar mang Ujang saja yang mengantarkan pulang," ujar Nyonya Moura agar Laras tetap berada di rumahnya.


Nyonya Moura ingin sekali meminta Laras untuk menemani Arumi di rumah, karena Nyonya Moura dapat melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Arumi saat Laras berada di rumah mereka.


Arumi dan Laras seperti dua orang sahabat yang saling pengertian, mereka saling memahami satu sama lainnya.


"Baiklah, Mi. Nanti Laras makan malam di sini," sahut Laras menanggapi permintaan Nyonya Moura.


"Syukurlah, hari ini aku masih bisa menghindari pertanyaan Arumi." Laras menghela napas panjang.


Setelah itu, Arumi dan Laras ditemani Nyonya Moura mengobrol di taman belakang.


Mereka bercanda untuk menghilangkan rasa jenuh Arumi yang bosan selalu berada di dalam rumah.


Sejak kecelakaan itu terjadi, Arumi belum masuk ke sekolah sama sekali, beberapa kali kedua orang tua Arumi meminta Arumi untuk homeschooling tapi dia menolaknya.


Arumi masih ingin menjadi siswa di SMA Cendikia karena dia masih ingin tetap melakukan kegiatan seperti teman-temanya yang lain.


Saat ini, Arumi dibantu Laras dalam belajar dan mengerjakan tugas, Laras selalu membawakan catatan yang dibutuhkan Laras, dia juga tidak lupa memberitahukan tugas yang harus dikerjakan.


Sejak Arumi sakit, Nyonya Moura fokus memberi waktunya untuk Arumi, dia tak lagi ikut suaminya ke mana pun dia pergi dalam tugas bisnisnya.


Saat gelap mulai datang menghampiri, mereka masuk ke dalam rumah dan mereka pun bersiap untuk menikmati makan malam.


****


Satu bulan berlalu, Arumi mulai terbiasa dengan kondisi yang tengah dijalaninya. Saat ini Arumi pun sudah mulai berangkat sekolah.


Di pagi hari yang cerah, Arumi turun dari mobilnya dibantu oleh mang Ujang yang mengeluarkan kursi roda dari bagasi mobil.


Setelah itu mang Ujang pun menolong Arumi untuk duduk di atas kursi rodanya.


Setelah itu Arumi pun mendorong kursi rodanya dengan tombol otomatis.


Saat Arumi berada di lorong sekolah, Betrand menghampirinya.


"Aku bantuin kamu ya, Rum," ujar Betrand.


Tanpa menunggu jawaban dari Arumi, meteran langsung mendorong kursi roda yang ditempati oleh Arumi menuju kelas mereka.


Teman-teman Arumi menyambut kedatangannya dengan sukacita. mereka bahagia karena teman mereka sudah bisa kembali belajar di kelas mereka setelah apa yang menimpa dirinya.


"Selamat datang, Rum," seru Rendy ikut senang.

__ADS_1


"Terima kasih, Ren. Lu tambah ganteng aja," ujar Arumi sambil menggoda teman sekelasnya itu.


"Ah, lu biasa aja kali," ujar Rendy.


Teman-teman Arumi menyambut kedatangan Arumi dengan baik,


mereka berbaur dengan mudah.


Tak berapa lama mereka mengobrol menanyakan kabar Arumi. Beberapa menit mereka mengobrol bel pun berbunyi.


Sesuai jadwal pelajaran jam pertama akan diisi oleh guru olahraga. Jantung Arumi berdebar dengan kencang, saat ini Dia mengira akan bertemu dengan Tian Sang Guru olahraga, pria breng*ek yang sudah meninggalkannya begitu saja di saat kondisinya dalam keadaan rapuh.


Tian pergi di saat Arumi benar-benar membutuhkan dukungan dari pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya. Namun, kekasihnya itu meninggalkannya di saat dia mengetahui keadaan Arumi yang lumpuh.


Baru saja bel berbunyi, semua siswa yang berada di kelas 11 IPA 1 sudah duduk di bangku mereka masing-masing, setelah itu seorang pria berpostur tubuh kekar dengan penampilannya tak kalah tampan dari Tian masuk ke dalam kelas.


"Ras, guru baru, ya?" tanya Arumi penasaran dengan sosok yang baru saja masuk ke dalam kelasnya.


"Iya," lirih Laras.


"Lalu, guru bren*sek itu di mana?" tanya Arumi mulai penasaran.


"Mhm, gue juga enggak tahu dia di mana," jawab Laras sambil mengangkat bahunya.


"Rum, ganti pakaian olahraga dulu ya," ujar Laras.


Laras bergegas berdiri mengikuti langkah teman-temannya yang sudah terlebih dahulu keluar kelas untuk mengganti pakaian.


Laras sengaja meninggalkan Arumi begitu saja, karena dia sendiri belum siap memberitahukan semua yang terjadi pada Arumi.


"Apa sebenarnya yang tengah terjadi? mengapa dia menghilang tiba-tiba bahkan dia juga menghilang dari sekolah ini," gumam Arumi di dalam hati mulai mempertanyakan keberadaan kekasihnya.


Kekasih yang sudah memberikan janji-janji, tapi tidak ditepatinya sama sekali bahkan saat ini dia tidak lagi menunjukkan wajahnya di hadapan Arumi setelah Arumi mengalami musibah.


Hati Arumi semakin membenci pria yang sudah mempermainkan hatinya selama ini.


"Gue yakin saat ini Laras menghindari pertanyaan dari gue tentang si guru brengsek itu," gumam Arumi di dalam hati menebak apa yang sudah terjadi.


Melihat teman-temannya sudah tidak ada lagi yang berada di dalam kelas, akhirnya Arumi pun memilih untuk keluar dari kelas.


Dia menatap teman-temannya yang tengah melaksanakan kegiatan berlari.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2