
"Hahaha, ada yang ngiri nih. Makanya buka hati lu." Laras balik meledek Arumi.
"Basi," ketus Arumi.
Tuan Arnold tersenyum melihat dua gadis yang saling meledek di hadapannya.
"Liat tuh, Pi. Laras udah punya gebetan, bentar lagi dia mau minta nikah itu," ujar Arumi saat melihat papinya tersenyum melihat tingkah laku mereka.
"Patah hati itu boleh, tapi jangan kelamaan," ujar Laras memanas-manasi sahabatnya.
"Gue memang belum menemukan yang lebih baik aja," balas Arumi.
"Sudah, sudah, menurut papi Laras juga ada benarnya, sebaiknya kamu coba kasih peluang untuk Tian menjelaskan alasan dari apa yang sudah dilakukannya." Tuan Arnold mulai mengeluarkan pendapatnya.
Laras mencibir ke arah Arumi saat mendapat pembelaan dari Tuan Arnold.
"Ih, Papi nyebelin. Pake belain Laras lagi," ujar Arumi kesal.
"Papi bukannya belain, Laras. Tapi hanya menyampaikan pendapat saja," ujar Arnold.
"Ish," lirih Arumi.
Dia pun terlihat cemberut.
"Ya udah, jangan cemberut gitu. Hari ini penampilan Putri papi keren banget. Bagaimana kita rayakan keberhasilan Arum dengan makan di luar," ajak Tuan Arnold.
Arumi melirik Laras.
"Ayo, Pi," sahut Laras bersemangat.
Laras sudah menganggap orang tua Arumi sebagai orang tuanya sendiri, sejak Arumi mengalami musibah, kedekatan antara Laras dan kedua orang tua Arumi semakin dekat.
Bahkan kedua orang tua Arumi, tidak lagi membedakan mereka berdua.
Mereka sudah merasa memiliki 2 orang putri, oleh karena itu Tuan Arnold meminta Laras menjadi asisten pribadi Arumi agar mereka tidak terpisahkan.
"Gimana, Rum? Kamu mau ikut sama papi dan Laras?" tanya tuan Arnold.
"Ya udah aku ikut," ujar Arumi masih dengan wajah yang ditekuk karena kesal.
Niatnya, dia mau meledek Laras justru dia yang tersudutkan, meskipun apa yang dikatakan Laras dan papinya itu ada benarnya.
Laras dan Tuan Arnold tersenyum melihat tingkah Arumi.
Mereka sudah kenal betul bagaimana sifat Arumi, meskipun Laras dan Arumi sering beradu mulut tapi mereka tidak pernah bertengkar sama sekali, karena di antar mereka selalu terbuka, dan pengertian.
__ADS_1
Di saat Laras menutupi sesuatu, Arumi mengerti karena Laras pasti memiliki alasan tersendiri melakukan hal itu.
Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan Tuan Arnold, mereka melangkah keluar dari gedung Rumy's Group.
Sesampai di parkiran, mereka masuk mobil. Laras melajukan mobilnya meninggalkan gedung perusahaan menuju sebuah resto yang sering mereka kunjungi di saat makan siang.
Di dalam resto, mereka memilih tempat di bagian pojok agar jauh dari keramaian pengunjung resto.
Setelah mendapatkan posisi yang nyaman Tuan Arnold memanggil pelayan lalu mereka memesan makanan yang mereka inginkan.
Mereka mengobrol membahas berbagai hal tentang pekerjaan sambil menunggu pesanan mereka datang.
Di saat mereka sedang asyik mengobrol pembicaraan mereka terpotong karena mendengar sebuah keributan.
"Kamu bagaimana sih? aku sudah menunggu kamu di sini lebih 30 menit, teman-teman aku sudah pulang, aku kan malas di sini sendirian," bentak seorang wanita pada pria yang ada dihadapannya.
Tuan Arnold Arumi dan Laras menoleh ke arah keributan tersebut, mereka mencermati seorang pria yang berada di hadapan wanita yang kini sedang marah-marah.
Mereka merasa mengenali sosok pria yang dibentak oleh si wanita itu.
"Maaf aku terlambat karena aku baru saja meeting," ujar si pria membela diri.
"Bukankah itu,--" Tuan Arnold menggantung ucapannya.
Dia tidak menyangka seorang Tian bisa tunduk di hadapan seorang wanita.
"Ras, kamu tolong cari tahu siapa yang berani membentak Tian di hadapan umum ini," ujar Tuan Arnold memberi tugas pada Laras.
"Baik, Pi. Aku akan mencari tahu siapa wanita yang bersama Tian saat ini," ujar Laras menyanggupi pemerintah dari tuan Arnold.
Dengan mudah Laras menerima perintah tersebut, karena dia sudah tahu siapa wanita bersama Tian saat ini.
Tian tidak mengetahui keberadaan Tuan Arnold bersama Arumi dan Laras.
Setelah keributan kecil di antara keduanya selesai, akhirnya mereka pun keluar dari restoran tersebut.
"Siapa ya wanita yang tadi bersama Tian?" gumam tuan Arnold di dalam hati.
Tuan Arnold benar-benar penasaran dengan sosok wanita yang bersama Tian tadi.
Tak berapa lama setelah kepergian Tian dan wanita itu, makanan yang mereka pesan pun datang.
Mereka mulai menikmati makanan yang terhidang di hadapan mereka.
"Siapa wanita itu, selama ini dia selalu bersikap sombong dan angkuh. Kenapa di hadapan wanita itu dia selalu tunduk dan diam begitu saja," gumam Arumi di dalam hati.
__ADS_1
Arumi mulai bertanya-tanya di dalam hatinya tentang apa sebenarnya yang terjadi pada pria yang selama ini dicintai dan dibencinya.
"Semoga masalahmu cepat selesai, agar kamu bisa menjadi dirimu sendiri dan tidak ditekan lagi oleh wanita itu," gumam Laras merasa kasihan pada Tian.
"Apa pun masalah yang sedang kamu hadapi, semoga cepat selesai," gumam Tuan Arnold ikut prihatin dengan apa yang di hadapi oleh Tian saat ini.
Meskipun Tuan Arnold sama sekali tidak tahu apa yang dialami oleh Tian, tapi dia yakin Tian meninggalkan Arumi saat itu karena dia tengah menghadapi masalah.
Di saat mereka menikmati makanan mereka masing-masing, ternyata pikiran mereka tertuju pada Tian.
Tak ada lagi pembicaraan yang terjadi di antara mereka.
****
"Tian, kamu ke ruang kerja papa sebentar," ujar Tuan Basuki pada Tian saat mereka baru saja menyelesaikan makan malam.
Malam ini Tuan Basuki meminta Tian dan putrinya untuk menginap di rumahnya, karena dia ingin membicarakan sesuatu dengan menantunya.
"Baik, Pa," lirih Tian.
setelah itu Tian pun berdiri melangkah mengikuti langkah sang mertua, sementara itu Kyomi langsung masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Pa?" tanya Tian pada Tuan Basuki saat dia sudah berada di ruang kerja ayah mertuanya.
"Ada hal yang ingin Papa bicarakan denganmu," Tuan Basuki.
Tian menautkan kedua alisnya, dia mulai penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh ayah mertuanya.
"Papa senang dengan pekerjaan mu saat ini, kamu sudah memajukan perusahaan sebaik mungkin," ujar Tuhan Basuki.
Di mata Tuan Basuki Tian merupakan menantu yang baik bagi putrinya, karena selama pernikahan mereka, Tian selalu peduli dengan perkembangan perusahaan.
Tuan Basuki memberikan sebuah map kepada Tian.
"Bacalah dan cermatilah apa isi dari berkas ini," perintah Tuan Basuki.
"Apa ini, Pa?" tanya Tian pada ayah mertuanya.
"Bacalah." Tuan Basuki menyuruh Tian untuk membaca berkas penting yang kini sudah berada di tangannya.
Perlahan Tian membuka berkas itu. Dia melebarkan bola matanya karena tidak percaya apa yang tengah dibacanya.
Tuan Basuki, Tian pantas menggantikan dirinya sebagai CEO di perusahaan Global group.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk mengangkat Tian sebagai CEO di perusahaan Global group.
__ADS_1
Bersambung...