Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 68


__ADS_3

Nick terdiam sejenak. Dia pun mengingat kejadian 4 tahun lalu.


Flash back on.


Tian datang ke rumah sakit di Singapura, dia hendak mengunjungi Arumi. Dengan bahagia dia membuka pintu ruang rawat Arumi karena di lorong rumah sakit ada seorang perawat yang mengatakan bahwa Arumi sudah sadar.


Namun, kebahagiaan itu sirna seketika di saat Tian mendengar kabar bahwa kekasihnya itu mengalami kelumpuhan.


Tian tidak tahu harus berbuat apa, dia menunduk lalu melangkah mundur keluar dari ruang rumah sakit.


Dia tak menyadari di saat itu Arumi melihat Tian yang melangkah mundur.


Tian terduduk di bangku panjang yang ada di luar ruang rawat Arumi. Dia tengah berpikir harus berbuat apa di saat Arumi yang rapuh d Ngan kondisinya saat itu.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


Ponsel Tian bergetar, panggilan masuk dari Nick.


Dia langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo," ujar Tian saat panggilan sudah tersambung.


"Lu di mana? Apakah sudah sampai di Singapura?" tanya Nick.


"Iya, gue sudah berada di rumah sakit," jawab Tian.


"Lu harus balik sekarang juga," ujar Nick dengan tegas.


Tian mengernyitkan dahinya heran dengan suara sahabatnya itu terdengar panik.


"Baiklah, gue balik sekarang." Tanpa pikir panjang Tian langsung meninggalkan rumah sakit.


Saat pikirannya yang kacau, Tian langsung pergi. Dia memilih mencari waktu lain untuk bertemu dengan Arumi lagi. Tian harus menenangkan pikirannya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Arumi.


Jika Nick sudah berbicara serius, itu artinya ada masalah genting yang tengah mereka hadapi.


Sepanjang perjalanan Tian tidak tenang, hatinya resah tak menentu.


****


"Ada apa?" tanya Tian langsung saat dia sudah sampai di gedung Piramids Group.


Saat dia masuk ke dalam ruangannya Nick sudah duduk di sofa yang ada di ruangannya dengan wajah yang serius.


Dia pun melangkah masuk dan duduk di sofa yang berada tepat di hadapan Nick.


Nick memberikan sebuah map yang berisi berkas penting.

__ADS_1


Wajah Nick yang tegang membuat Tian takut untuk membuka map itu.


Tian menautkan kedua alisnya, dia penasaran dengan apa isi map tersebut.


"Map apa ini?" tanya Tian pada Nick, dia berharap Nick akan menjelaskan isi map tersebut tanpa dia harus membuka map itu.


"Bukalah," lirih Nick dengan wajah seriusnya.


Perlahan Tian pun membuka map itu, dia membaca berkas penting yang ada di tangannya.


"Apa? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Tian pada Nick.


Tian langsung berdiri panik.


"Tidak mungkin, berkas ini pasti salah!" bentak Tian.


Tian pun mengambil berkas tersebut, lalu dia melangkah keluar dari gedung perusahaan Piramids Group.


Melihat ekspresi Tian, Nick langsung berdiri mengejar Tian. Dia khawatir Tian mengendarai mobil dalam keadaan emosi.


Sesampai di lobi perusahaan, Tian hendak masuk ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di sana.


"Duduklah di belakang, biarkan aku yang mengendarai mobil," ujar Nick.


Akhirnya Tian pun membuka pintu mobil bagian belakang, dia masuk dan duduk dengan hati yang penuh emosi.


Saat ini dia harus mempertanyakan semua ini pada kedua orang tuanya.


Nick mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, beruntung jalanan di siang hari itu sedikit sepi, sehingga mereka dapat sampai di mansion keluarga Atmaja setelah menempuh 20 menit perjalanan yang biasanya mereka membutuhkan waktu lebih setengah jam untuk pulang.


Nick memarkirkan mobil di depan mansion megah dengan desain modern dipadu dengan desain klasik yang membuat mata mengagumi keindahan bangunan tersebut.


Tian langsung keluar dari mobil dia langsung masuk ke dalam rumah.


"Pa, Ma," panggil Tian mencari kedua orang tuanya di rumah.


Tian langsung melangkah menuju kamar kedua orang tuanya berharap orang yang dicarinya berada di dalam kamar itu.


"Papa, Mama," Tian terus memanggil-manggil kedua orang tuanya.


Tian membuka pintu kamar, tapi dia tidak dapat menemukan kedua orang tuanya di sana, akhirnya Tian melangkah menuju ruang makan berharap mereka ada di sana.


Di saat dia juga tidak menemukan kedua orang tuanya di ruang makan, Tian pun melangkah berkeliling mansion yang besar sambil berteriak memanggil kedua orang tuanya.


"Mama sama Papa ke mana, ya?" tanya Tian di dalam hati.


Tian semakin heran, di saat seperti ini satu orang pun IRT yang bekerja di mansionnya juga tidak ada yang keluar menemuinya.

__ADS_1


Mansion megah itu terlihat kosong, tak berpenghuni. Selama ini Tian tidak tahu kondisi rumah pada siang hari karena dia selalu sibuk bekerja di luar rumah.


Tian jarang pulang ke rumah di siang hari, karena dia selalu menghabiskan waktu makan siangnya bersama Nick di kantin perusahaan atau di resto bersama kliennya.


"Ke mana orang yang ada di rumah ini?" teriak Tian mulai kesal.


Tian tampak semakin emosi.


"Sebentar, gue coba hubungi Mam dan Papa dulu," ujar Nick yang sejak tadi ikut mencari kedua orang tua Tian di mansion megah itu .


Nick membuka ponselnya lalu mencari nama Papa Farhan di kontak ponselnya.


Berkali-kali Nick menekan tombol panggil tapi tidak satu pun panggilan yang tersambung.


Nick pun mencoba menghubungi nomor kontak Mama Sarah.


"Apa sebenarnya yang sedang terjadi? gumam Nick mulai khawatir.


Melihat tak satu orang pun yang ada di rumah, Nick mulai mengkhawatirkan keselamatan kedua orang tua angkatnya itu.


"Tak ada satu pun yang bisa tersambung," ujar Nick sambil menggelengkan kepalanya.


Tian mengernyitkan dahinya.


"Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Tian pada Nick.


"Apa jangan-jangan, Mama dan papa dalam keadaan bahaya?" tanya Tian semakin panik.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Tian lagi pada Nick.


Dia semakin panik.


"Duduklah, terlebih dahulu. Lu tenangkan diri dulu." Nick meminta Tian untuk duduk di sofa yang ada tepat di samping Tian berdiri.


Tian pun duduk sesuai arahan dari sahabatnya.


Tian duduk di atas sofa, dia mengusap wajahnya kasar, lalu menumpu dahinya dengan tangannya. Dia mulai memikirkan jalan apa yang harus dia lakukan saat ini.


Dia juga mulai memikirkan hal-hal buruk sudah menimpa kedua orang tuanya.


"Nick kita tidak bisa tenang begini saja, kita harus mencari jalan untuk bisa menghubungi mama dan papa," ujar Tian mulai risau.


Dia mencemaskan keselamatan kedua orang tuanya saat ini. Tian berpikir bahwa seseorang sudah menculik kedua orang tuanya.


Seketika Nick teringat sesuatu, dia berdiri lalu melangkah menuju ruang kerja Tuan Farhan.


"Hei, lu mau ke mana?" tanya Tian pada Nick.

__ADS_1


"Ayo, ikuti gue. Gue ada cara untuk mengetahui keberadaan Papa dan Mama," ujar Nick.


Bersambung...


__ADS_2