Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta
Bab 31


__ADS_3

Tian langsung menuduh Arumi yang melakukan hal itu karena seingatnya hanya Arumi yang memiliki dendam kesumat pada dirinya.


"Pak, bagaimana kalau saya panggil teman buat memperbaiki sepeda motor bapak," tawar Aldo dengan senang hati.


"Mhm, tidak usah. Nanti akan merepotkanmu, nanti bapak telpon mekanik langganan bapak saja," ujar Tian menolak tawaran Aldo dengan cara halus.


"Oh, baiklah kalau begitu saya pulang duluan ya, Pak," ujar Aldo berpamitan pada sang Guru.


Tian langsung menghubungi Nick, dia meminta Nick mengurus sepeda motornya lalu meminta supir untuk menjemputnya.


Seperti biasa, Arumi mengantarkan Laras ke rumahnya terlebih dahulu, setelah itu Arumi pun pulang ke rumahnya.


Di perempatan jalan, Arumi tak sengaja hampir menabrak mobil sedan mewah berwarna silver.


Dia menekan rem secepat kilat berharap bisa menghindari tabrakan itu tapi sayang, Arumi menabrak kap mobil sedan mewah itu.


"Ya ampun, s**l banget," umpat Arumi.


Arumi yang mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan lumayan tinggi tak dapat mengelakkan kecelakaan itu.


Dia memarkirkan sepeda motornya, lalu dia turun dari sepeda motornya. Arumi melangkah menghampiri mobil sedan itu.


"Maaf, Pak, saya salah," ujar Arumi pada si sopir yang sudah membuka jendela mobilnya.


"Biar saya yang urus, Pak," ujar penumpang mobil sedan itu.


Seorang pria yang mengenakan kostum olah raga dengan rambut yang berantakan keluar dari mobil sedan mewah itu.


Tian yang awalnya tidak ingin mempermasalahkan kecelakaan kecil itu, tapi saat dia melihat gadis yang menghampiri mobil mewah miliknya dia tertarik untuk mencari masalah dengan gadis tengil menyebalkan itu.


"Lu?" lirih Arumi kaget saat melihat musuh bebuyutannya keluar dari mobil yang baru saja ditabraknya.


"Kenapa dia bisa naik mobil mewah ini? Siapa dia sebenarnya?" gumam Arumi bertanya-tanya di dalam hati.


"Iya, memangnya kenapa? Apa lu pikir gue sedang mendorong sepeda motor gue yang lu kempesin bannya?" tuduh Tian yakin bahwa Arumi satu-satunya orang yang bisa melakukan hal itu terhadap darinya.


"Hah? Kenapa dia bisa tahu kalau gue yang kempesin ban sepeda motornya?" gumam Arumi di dalam hati.


"Ternyata memang lu orang yang sudah berniat jahat sama gue," tuduh Tian lagi.


"Sayang, rencana lu tidak berhasil," ejek Tian pada Arumi.


"Iya, memang benar gue yang kempesin ban sepeda motor butut lu, kenapa? Ini sebagai pembalasan buat lu yang sudah memasukkan bubuk cabe di dalam makanan gue." Arumi tidak mau kalah.


Tian terdiam mendengar perkataan Arumi.

__ADS_1


"Asal lu tahu, lu adalah cowok breng**k yang tidak punya sopan santun, tidak punya hati, cowok egois. Apa yang sudah gue lakukan tidak sesuai dengan apa yang sudah lu lakuin ke gue, lu mang cowok jahat!" Arumi memaki-maki Tian.


Dia meruncingkan telunjuknya tepat di depan wajah sang pria tampan yang sombong dan angkuh itu.


Tian hanya bisa diam mendengar ucapan Arumi.


Arumi pun melangkah meninggalkan Tian begitu saja, dia yang awalnya hendak bertanggungjawab atas apa yang sudah dilakukannya, kini malah enggan untuk meminta maaf pada pria jahat di matanya itu.


Arumi menaiki sepeda motornya, lalu dia melajukan sepeda motornya meninggalkan Tian yang masih mematung memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh gadis tengil yang sangat dibencinya.


"Tuan," panggil supir pribadi keluarga Atmaja.


Tian menoleh, dia tersadar dari lamunannya.


"Eh, iya, Pak," lirih Tian.


Dia menyadari bahwa sang sopir tengah menunggu dirinya.


Dia pun masuk ke dalam mobil tanpa suara.


"Jalan, Pak," titah Tian.


Sang sopir mulai melajukan mobil meninggalkan tempat itu.


di sepanjang perjalanan Tian sedikitpun tidak mengeluarkan suaranya hingga akhirnya mereka sampai di mansion keluarga Atmaja.


Tian turun dari mobil lalu dia langsung melangkah menuju kamarnya.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Sarah pada putranya.


Tian hanya mengangguk lalu dia mengabaikan wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Ada apa dengan anak itu?" tanya Sarah pada dirinya sendiri.


Sarah hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat sang putra datang dengan wajah yang murung.


Sarah masuk ke dalam kamarnya, dia langsung mengambil handuk dan melangkah ke kamar mandi.


Dia menyalakan keran shower lalu dia membiarkan guyuran shower membasahi tubuhnya.


Di benak Tian masih terngiang semua yang diucapkan oleh Arumi.


"Sebegitu bejadnya aku di matamu?" gumam Tian menyesali apa yang sudah dilakukannya selama ini.


"Aku memang kesal padanya karena dia berani membawa bola basket kesayanganku, apakah apa yang sudah aku lakukan benar-benar tidak memiliki perasaan?" gumam Tian di dalam hati.

__ADS_1


Jiwa dan pikiran Tian kini berkecamuk antara ego dan hati kecilnya, dia menganggap semua yang dilakukannya adalah balasan dari perbuatan Arumi pada dirinya, tapi dia juga merasa perbuatannya itu melewati batas untuk ditujukan pada seorang wanita.


Satu jam telah berlalu dia mengurung diri di dalam kamar mandi merenungi semua yang dikatakan oleh Arumi.


Tok tok tok.


"Tian sayang," panggil Nyonya Sarah memastikan sang putra tengah berada di dalam kamar mandi.


Dia mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali karena putranya masih belum menggubris panggilannya.


"Tian, apakah kamu ada di dalam?" tanya Nyonya Sarah dengan nada yang lebih tinggi karena sejak tadi dia memanggil Tian belum menggubris.


"Eh, iya, Ma," jawab Tian saat dia tersadar dari lamunannya.


"Kamu masih lama, Nak?" tanya Nyonya Sarah pada putranya.


Sarah memang sudah tahu kebiasaan putranya yang hobi menghabiskan waktu berjam-jam berada di alam kamar mandi.


"Ada apa, Ma?" tanya Tian pada wanita yang sudah membesarkannya.


"Tidak ada apa-apa, nanti kalau sudah kamu langsung turun ke ruang makan untuk makan malam ya, Nak," ujar Nyonya Sarah mengkhawatirkan keadaan putranya.


Sarah merasa gundah saat melihat putranya pulang dengan wajah yang murung.


"Iya, Ma. Aku baru saja memulai mandi," ujar Tian pada mamanya agar sang mama tidak menunggunya di dalam kamar.


Setelah itu Tian pun mulai melakukan kegiatan mandinya.


Saat waktu makan malam tiba, Tian keluar dari kamarnya lalu dia melangkah menuruni anak tangga menuju lantai satu.


"Malam, Ma, Pa," sapa Tian pada kedua orang tuanya saat dia sudah masuk ke dalam ruang makan.


Meskipun dia sudah berusaha menenangkan dirinya, tapi kedua orang tua Tian masih menangkap raut murung di wajah sang putra.


Nyonya Sarah dan Tuan Farhan saling melempar pandangan.


Nyonya Sarah langsung mengambilkan Masi beserta lauk untu sang suami, setelah itu Nyonya Sarah pun mengambilkan makanan untuk putra semata wayangnya.


"Yuk, makan," ajak Nyonya Sarah setelah dia juga mengambil makanan untuk dirinya.


Mereka pun mulai menyantap hidangan makan malam, Tian terlihat tidak berselera menghabiskan makanannya.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Sarah pada putranya setelah mereka menyelesaikan kegiatan makan mereka.


"Gadis itu, Ma,--" Tian menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Gadis?" tanya Nyonya Sarah dan Tuan Farhan serentak.


Bersambung...


__ADS_2